
Naina membereskan semua barang-barang nya dan datang ketempat klinik kecantikan yang akan dibuka, sebenarnya masih banyak yang harus dia kerjakan tetapi dia meminta izin pada Saras untuk pulang terlebih dahulu ke Indonesia karena keluarga nya sakit.
"Maaf kak, ayah yang telah menyelamatkan aku sedang sakit parah, maaf sekali aku harus pergi lebih dulu, saat semua kondisi sudah membaik, aku akan segera kembali"
"Baiklah, tapi ingat untuk cepat kembali"
Naina bergegas pergi ke bandara, untung saja dia tadi langsung memesan tiket secara online saat Endra baru pergi dari kamarnya, Naina terlihat tergesa-gesa karena penerbangannya sudah sangat mepet waktu.
Naina langsung duduk di kursinya dan memasang penutup matanya, dia selalu takut saat lepas landas, Naina kembali membuka penutup matanya saat pesawat sudah stabil.
"Hhaahhhh!!" Naina kaget saat menoleh karena melihat Endra ada disampingnya.
"Bukankah kamu sudah berangkat dari tadi?" Naina heran.
"Aku tidak dapat kursi di penerbangan sebelum ini, lalu kamu mau kemana? kenapa tidak mau bareng aku,, iiisstttt,, aku harus duduk ditempat ini" Endra menggerutu karena merasa tidak bebas duduk disana, sebenarnya dia sudah memesan tiket pesawat first class,, tetapi saat tiba dia melihat Naina yang berlarian di bandara, dia tersenyum karena sadar Naina khawatir dengan ayahnya, hanya saja Naina tidak mau pergi bersamanya, Endra menukar kursi pesawat nya dengan penumpang disebelah Naina yang tentu saja tidak menolak karena penumpang itu untung berkali lipat.
"Siapa juga yang menyuruh mu duduk disini, lebih baik kamu pergi saja ke kursimu sendiri" Naina malas dan kesal karena rencananya gagal, dia sengaja menghindari Endra tetapi malah harus duduk bersebelahan.
"Perjalanan yang lama ini pasti akan membosankan dan terasa di neraka karena ada dia" Naina menggerutu dalam hati lalu kembali memakai penutup matanya, lebih baik dia mencoba untuk tidur daripada harus melihat Endra yang berada disampingnya.
Endra tersenyum melihat tingkah Naina, bibirnya yang terlihat manyun selalu membuat Endra gemas, Endra mencium bibir Naina dan tentu hal itu membuat Naina kaget dan hampir berteriak, tetapi Endra langsung menutup bibir Naina dengan tangannya.
"Jangan berisik atau orang akan terbangun dan kita akan diusir dari sini" Endra merapikan rambut Naina, Endra lalu duduk bersandar pada kursinya dan membawa kepala Naina bersandar pada bahunya sebagai penopang supaya Naina lebih nyaman untuk tidur, Naina sempat berontak dan menolak, tetapi Endra lebih kuat memegangi kepala Naina.
Mereka langsung bergegas untuk menuju ruangan rawat Rayhan, Endra langsung bertanya pada dokter yang merawat ayahnya bagaimana kondisi ayahnya, sementara itu Naina langsung memasuki ruangan rawat inap Rayhan, terlihat Suseno yang sedang menjaga Rayhan sambil melihat ke arah laptop nya, sepertinya dia sedang bekerja.
"Apa ayah belum sadar sama sekali?" tanya Naina yang dijawab anggukan kepala oleh Suseno.
Naina lalu duduk di kursi sebelah ranjang dimana Rayhan masih belum sadar, Naina menggenggam tangan Rayhan dan mencoba mengajaknya berbicara.
"Ayah sadarlah, apa ayah tau kalau Endra sudah sembuh? cepatlah bangun karena pasti tidak lama lagi ayah akan mendapatkan cucu seperti yang ayah inginkan"
Suseno menjatuhkan ponsel yang sedang dia pegang saat mendengar ucapan Naina, Suseno terlihat tersenyum lebar sambil mengambil kembali ponselnya.
"Kenapa tersenyum?" Naina yang kaget dengan suara barang jatuh langsung menoleh ke asal suara, tetapi dia merasa aneh dengan Suseno yang tersenyum, Suseno tidak bisa menghilangkan senyumannya dan hanya menggelengkan kepalanya, Naina meletakkan kembali tangan Rayhan lalu dia mendekati Suseno.
"Tuan, bolehkah aku meminta nomor ponsel nyonya Intan?"
"Untuk apa?" tanya Suseno heran.
"Ada berita yang sangat bagus yang harus segera aku sampaikan, cepat berikan nomor ponselnya"
"Tidak"
"Dasar pelit" Naina kesal lalu kembali duduk di dekat Rayhan.
"Apa yang kamu rencanakan Naina, jangan membuat ku atau Endra kerepotan lagi karena ulah mu" Suseno membatin sambil terus melihat kearah Naina, berbarengan dengan itu pintu terbuka dan masuklah Endra, melihat Suseno yang sedang memandangi wajah Naina membuat Endra kesal dan langsung mendekati Suseno.
"Apa yang kamu lihat?"
"Masalah" jawab Suseno asal lalu kembali focus pada laptopnya, Endra bingung dengan jawaban Suseno lalu berjalan mendekati Naina.
__ADS_1
"Ayah akan segera sadar, kamu makan dulu saja, tadi di pesawat kamu hanya makan sedikit, atau mau aku bawakan kesini? kamu mau makan apa?" Endra membelai rambut Naina tetapi tangannya langsung ditangkis oleh Naina.
"Tidak perlu berlebihan, kita tidak sedekat itu,, jangan sok akrab" Naina lalu melihat ponselnya dan dan kembali mengganti nomor ponsel nya pada nomor yang biasanya.
Naina melihat pengumuman dari tempat sekolah anak-anaknya yang akan diadakan pentas seni dan pengambilan raport, Naina menghubungi mama Nimah dan mengabarkan bahwa dia sudah kembali jadi dia yang akan datang ke sekolah anak-anaknya.
"Biarkan mama saja Nai,, karena itu harus datang bersama ayahnya, jadi lebih baik mama yang datang kesana bersama ayahmu, kamu tidak mungkin datang bersama mantan suami mu, dan kenapa begitu cepat kamu kembali? apa ada sesuatu yang terjadi?" pesan dari mamanya tapi Naina tidak sempat membalas pesan itu karena Rayhan terlihat membuka matanya, Naina kembali menyimpan ponselnya, Endra memanggil dokter untuk segera memeriksa kondisi Rayhan.
"Naina,, kamu kembali?" Rayhan menggerakkan tangannya mencoba menggapai Naina.
"Iya ayah, aku pergi hanya untuk bekerja" Naina menggenggam tangan Rayhan, dia tidak sepenuhnya berbohong, karena memang dia pergi untuk bekerja walau sebenarnya kepergiannya untuk menghindar dari Endra, tapi hal itu tidak berguna, karena dengan mudah Endra bisa menemukannya.
"Suseno" Rayhan memanggil asisten anaknya yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri.
"Iya ayah" Suseno mendekat dan gantian menggenggam tangan Rayhan, Suseno meminta pada Suseno untuk tidak terlalu bekerja keras untuk membuka perusahaan kembali, lakukan secara perlahan tetapi selalu nikmati kehidupan.
"Kamu dan Endra focus lah pada kebahagiaan kalian, jangan hanya selalu memikirkan tentang pekerjaan, Endra sudah dewasa, dia bisa menjaga dirinya sendiri, kamu jangan selalu berusaha untuk menjaganya, ayah lepaskan janjimu yang dulu ayah minta, janji supaya kamu selalu menjaga Endra, sekarang kalian hiduplah rukun selayaknya saudara, tidak perlu selalu menjaga Endra bahkan melebihi kepentingan dirimu sendiri,,, kalian harus saling menjaga" Rayhan mengatur nafasnya karena terlalu banyak berbicara saat dia baru sadar.
"Endra" sekarang Rayhan memanggil Endra tetapi yang dipanggil hanya diam, Endra sepertinya menahan perasaannya, dia merasakan sesuatu yang aneh pada ayahnya, dia merasakan suatu firasat buruk.
Rayhan menyadari anaknya sedang berusaha menahan tangisannya, Rayhan beralih pada Naina dan mengatakan sesuatu pada Naina, mengatakan permohonan yang bagi Naina sudah seperti hukuman mati.
"Ap, apa maksud ayah?? tidak ayah, bukan aku tapi ayah yang akan selalu menjaganya, sudah dulu,, ayah jangan banyak bicara, lebih baik ayah beristirahat dahulu"
"Tidak Nai,,, ayah takut tidak mempunyai banyak waktu lagi,, ayah mohon kamu berjanji untuk menikah dengan Endra"
Perkataan Rayhan membuat Naina kaget dan reflek langsung melepaskan genggaman tangan Rayhan, hingga membuat kondisi Rayhan memburuk karena tekanan jantungnya meningkat karena perasaannya yang tidak stabil sebab kaget karena Rayhan pikir Naina telah menolak keinginannya.
Dokter mendekati Endra dan menenangkan nya begitu juga Endra yang langsung mendekati ayahnya, tetapi Rayhan hanya terus menatap kearah Naina, membuat Naina kebingungan, Suseno berlutut di depan Naina dan kedua tangannya dia satukan di atas kepalanya, mencoba memohon pada Naina.
"Aku mohon, kabulkan permintaan ayah, aku mohon" Suseno sangat menyayangi Rayhan, sosok ayah yang telah pergi meninggalkan dirinya, dia temukan lagi di sosok Rayhan.
"Aku tidak bisa, maafkan aku,, aku tidak bisa mengucapkan hal yang tidak bisa aku tepati"
Rayhan kembali kritis dan pingsan, Endra yang panik segera mundur karena dihalangi oleh perawat dan dokter yang akan segera melakukan pertolongan kepada Rayhan, Endra menatap tajam kearah Naina, Endra menarik Naina dan membawanya ke luar ruangan dan memojokkan tubuh Naina ke tembok.
"Kalau sampai terjadi sesuatu pada ayah, kamu harus bertanggung jawab!" Endra seperti melayangkan tangannya seolah ingin memukul Naina, tetapi saat melihat Naina ketakutan dan memejamkan matanya, Endra memegangi wajah Naina dan dengan kalap mencium bibir Naina tidak peduli banyak yang melihat mereka, Endra melepaskan ciumannya lalu langsung pergi kedalam ruangan ayahnya, sepertinya dia sangat marah dan kecewa pada Naina.
__ADS_1
"Sebenarnya dalam hal ini bukan sepenuhnya salah Naina, dia juga pasti sangat kaget dengan permintaan ayah" Suseno mencoba menenangkan Endra yang terlihat sangat marah.
Naina tidak berani masuk kembali kedalam ruangan Rayhan, Naina pulang kerumahnya untuk sekedar menenangkan diri, dia sangat tertekan dengan semuanya, dia tidak menyangka kalau bukan hanya Endra yang memintanya untuk menikah tetapi Rayhan juga meminta hal yang sama.
"Kenapa harus seperti ini, dulu aku menikah juga karena dipaksa, lalu apa sekarang aku juga harus menikah karena keterpaksaan" Naina berendam di dalam bathtub, setelah mandi dia pergi ke salon kecantikannya untuk memeriksa semua pekerjaannya.
"Kenapa ibu sudah kembali lagi? apa ada yang salah Bu?" tanya salah satu karyawannya.
"Tidak ada apa-apa, hanya ada sedikit masalah keluarga"
Setelah Naina selesai dengan pekerjaannya, Naina datang kembali ke rumah sakit untuk melihat kondisi Rayhan.
"Naina,, apa yang kamu lakukan disini sayang?" mantan ibu mertuanya menyapanya, Naina masih tetap sopan kepada mantan ibu mertuanya, karena bagaimanapun mereka pernah menjadi keluarga.
"Roni terluka Nai, dia harus seorang diri mengurus bayi tidak berguna itu,,," mantan ibu mertuanya tidak menyelesaikan ucapannya karena melihat tatapan tidak suka dari Naina karena ucapannya.
"Maksudnya begini Nai,, Sindi sangat keterlaluan dengan melukaimu, dia pantas mendapatkan hukumannya, Roni kecelakaan tadi siang karena dia mendengar kabar kamu sudah pulang dari luar negeri, dia sangat antusias untuk menemui dirimu sampai tidak memperhatikan jalan, tetapi tidak apa-apa, itu adalah bukti cintanya padamu, sepertinya kalian masih berjodoh, buktinya kamu datang kesini"
"Maaf, disini saya ada keperluan dan kepentingan lain, dan juga saya dan Roni sudah tidak ada hubungan apapun, kami sudah hidup masing-masing, tolong untuk tidak saling mengganggu atau mencampuri urusan pribadi, kalau ada yang perlu dibicarakan itu hanya masalah anak-anak, sekarang saya mohon izin undur diri" Naina tidak mau terlalu lama berurusan dengan mantan mertuanya yang dulunya sering menyiksa batinnya karena dia tidak bisa melahirkan anak laki-laki.
Naina melihat situasi tetapi dia masih ragu untuk masuk kedalam ruangan rawat Rayhan, dia masih canggung untuk bertemu dengan Endra, dia masih ingat dengan kemarahan Endra.
"Masuk saja, Endra sedang pulang kerumah untuk mandi dan berganti baju" Suseno yang entah dari mana tiba-tiba muncul dibelakang Naina, Suseno masuk terlebih dahulu dan diikuti oleh Naina.
"Lebih baik kamu pergi saja dan tidak usah memberikan harapan pada ayah, dia pasti kuat dan bisa menerima kenyataan bahwa kamu tidak mau menikahi Endra" Suseno berdiri disamping Naina yang sedang duduk di kursi sebelah ranjang Rayhan.
"Bagaimana bisa aku menikah dengan suami orang,, itu hal pertama yang harus dipikirkan, selain semua kesalahannya padaku, aku sadar mungkin aku sudah celaka dari dulu dan mungkin sudah tidak ada di dunia ini lagi tanpa Endra maupun ayah, tetapi apa demi membalas semua kebaikan mereka, aku harus menikah dengan suami orang??" Naina bisa saja memaksakan diri dan hatinya untuk menikah karena dia sudah pernah melakukan hal itu, tetapi sekarang berbeda kondisinya.
"Endra dan Intan sudah berpisah sejak lama, mungkin perceraian mereka di pengadilan belum sepenuhnya selesai tetapi hanya tinggal menunggu waktu, kalau hanya itu yang kamu permasalahkan maka semua akan segera selesai"
"Kenapa mereka berpisah, apa segitu rendahnya kesetiaan seseorang?? nyonya Intan begitu mencintai suaminya sehingga rela menggunakan wanita lain untuk mengobati suaminya, lalu sekarang saat suaminya sudah sembuh, dia dicampakkan begitu saja??" Naina tidak mengerti apa yang terjadi.
"Kamu tidak tau apa yang sebenarnya terjadi, Intan tidak seperti yang kamu pikirkan, dia yang dari awal menghianati Endra terlebih dahulu, dia terus berusaha mendapatkan keturunan dari Endra karena ingin menguasai seluruh harta Endra, walau pada akhirnya Endra tetap harus kehilangan semuanya karena sesuatu" Suseno tidak mengatakan apapun pada Naina masalah akuisisi perusahaan yang dimenangkan oleh pihak keluarga Intan karena Endra meninggalkan rapat untuk menyelamatkan Naina.
Saat Naina akan bertanya lebih lanjut, terdengar bunyi pintu terbuka dan terlihat Endra yang datang, Endra sedikit terkejut dengan keberadaan Naina begitu juga dengan Naina yang kaget melihat kedatangan Endra.
"Aku pergi dulu, tolong kabari kalau ayah sudah sadar" Naina pamit pada Suseno dan pergi dari sana, dia tidak mau satu ruangan dengan Endra, karena dia tidak tau apa yang akan dia katakan.
__ADS_1
Endra juga tidak menahan kepergian Naina, tetapi setelah beberapa saat Endra langsung berlari untuk mengejar Naina, dan betapa kagetnya dia saat melihat Naina berada dalam pelukan orang lain"