
Endra terus menciumi Naina, lalu memeluk tubuh Naina saat dia sudah semakin tidak bisa menguasai nafsunya, dia tidak ingin menyakiti Naina, dia hanya ingin tidur berpelukan dengan Naina.
"Aku akan melakukan nya saat kamu juga mau melakukannya, aku akan melakukannya saat kamu menginginkan diriku, sebelum itu, aku hanya akan seperti ini dan terus seperti ini" Endra turun dari tubuh Naina lalu memeluknya, sebelum dia terpejam karena kelelahan terus mencari keberadaan Naina dipusat perbelanjaan tadi dari toko ke toko, Naina yang berada dalam pelukan Endra juga tertidur karena memang malam sudah semakin larut.
Endra mendapat telepon dari ayahnya yang meminta dirinya untuk datang tanda tangan supaya dia bisa keluar dari rumah sakit, karena tanpa tanda tangan dari Endra yang merupakan keluarga maka Rayhan tidak bisa pulang.
"Ayah, menginap saja dulu satu malam ini disana, aku tidak mau menganggu Naina yang sedang tertidur"
"Dasar bocah kurang asam,, baiklah lanjutkan saja kalau begitu, kalau bisa jangan biarkan dia tidur supaya ayah cepat punya cucu" Endra tidak menjawab lagi karena melihat Naina yang merasa terganggu dengan suaranya.
Endra menciumi wajah Naina yang tertidur, entah kenapa itu menjadi candu baginya, bibir Naina yang terasa sangat manis membuatnya selalu ingin menciumnya, Naina membuka matanya karena merasakan ciuman Endra tetapi entah kenapa kali ini Naina membalas nya tanpa melawan sedikitpun, Endra menjadi semakin berani karena merasa mendapatkan lampu hijau.
"Tidaakk,,!!" Naina mendorong kepala Endra yang sudah bersarang di bagian dadanya dan menyesap manisnya buah kembar Naina, mata Endra sudah sangat berkabut, dia harus mendapatkan pelepasannya, tetapi melihat Naina yang terus menggelengkan kepala menolak nya, membuat nya berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan semua nafsunya bersama sabun mandi.
"Sebenarnya pria mesum itu maunya apa?? bukankah kata ayah Rayhan dia mau menikah dengan Ningsih, dasar sungguh pria gila, lalu kenapa juga dengan diriku, kenapa tadi menerima nya,, sepertinya aku mulai ketularan virus gila darinya" gumam Naina sambil membenarkan bajunya dan membalut tubuhnya dengan selimut, lalu tidur miring dan melingkar memeluk lututnya, berusaha melindungi tubuhnya dari Endra, Naina mencoba menahan matanya yang terasa sangat berat karena mengantuk, tetapi Endra tidak juga kunjung keluar dari kamar mandi, akhirnya Naina kembali ketiduran.
Endra keluar kamar mandi dengan menahan pegal dan sakit ditangannya, lengannya masih terluka dan sepertinya bertambah parah karena tidak diobati, ditambah dengan barusan tangannya harus bekerja keras untuk menenangkan pedang kebanggaannya yang terbangun.
__ADS_1
Melihat Naina yang sudah tidur, Endra tersenyum melihat posisinya, Endra sadar kalau Naina mencoba melindungi tubuhnya dari sentuhan dirinya, Endra mendekati Naina dan tidur dibelakang nya lalu memeluknya.
"Aku akan terus melakukan ini, sampai kamu sadar bahwa cintaku padamu yang membuat aku seperti ini, tidak apa-apa sekarang aku memaksamu tetapi aku yakin suatu saat nanti kamu akan menyadari bahwa aku sangat tulus padamu, aku mencintaimu Naina sayang" Endra mencium kepala Naina lalu dia ikut terlelap dan menyusul Naina ke alam mimpi.
Naina membuka matanya di pagi hari yang sebenarnya sudah siang, dengan tangan kekar Endra yang berada di perutnya, Naina tidak terlalu kaget karena dia mulai terbiasa, dia sudah mengira bahwa Endra pasti akan seperti ini, Naina bangun dan melihat ke arah Endra, Naina melihat sejenak pada wajah Endra yang tertidur pulas, tanpa sadar Naina tersenyum.
"Kalau tidur seperti ini, tidak akan ada yang mengira bahwa dia adalah pria gila yang sangat mesum" gumam Naina pelan, tetapi kemudian pandangan matanya tertuju pada lengan kekar Endra yang lukanya semakin terbuka, Naina merasa kasihan karena pasti itu menyakitkan, dengan bergerak perlahan Naina turun dari ranjang untuk mengambil kotak PPPK.
Saat kembali lagi, terlihat Endra yang masih tertidur pulas, Naina tidak mau membangunkannya karena dia bisa dalam bahaya kalau sampai membangunkan singa tidur itu, Naina mengurungkan niatnya untuk mengobati lengan Endra dan memilih membawa keluar kotak PPPK yang dia bawa.
Naina meletakkan kotak PPPK di meja makan lalu dia membuat sarapan sederhana, Endra yang sudah bangun lalu mendekati Naina dan memeluknya dari belakang.
"Drakor?? setua ini dan seorang pria nonton Drakor?? ahahahaha!!" tidak bisa menahan rasa gelinya, Naina tertawa terbahak-bahak membuat Endra tersenyum lebar karena bisa membuat Naina tertawa.
"Seno yang menyuruhku, dia bilang wanita suka diperlakukan seperti yang ada didalam Drakor itu"
"Sungguh tidak disangka, lagipula kamu itu pasti sudah sangat berpengalaman dalam bidang seperti ini, kenapa juga harus menonton drama Korea"
__ADS_1
"Aku tidak tau, aku tidak mengerti cara untuk mendekati wanita, karena yang aku tau, wanita itu hanya ingin sentuhan, tapi kenapa kamu tidak suka sentuhan ku?" Endra menatap intens kearah Naina yang menjadi canggung mendengar ucapan Endra.
Naina melihat kejujuran di wajah Endra tetapi dia masih tidak terlalu percaya dengan ucapannya karena Endra yang bisa dengan mudah selalu menyentuhnya pasti itu karena Endra yang sudah sangat berpengalaman menghadapi wanita, setidaknya itulah yang dipikirkan oleh Naina.
"Ini akan segera selesai, kamu duduk saja dulu" untuk mengusir kecanggungan Naina berusaha menjauhkan diri dari Endra tetapi itu tidak akan semudah itu, Endra mencium Naina dan mengangkatnya ke atas meja didekat kompor dan mematikan kompor yang masih menyala, Naina yang kaget melingkarkan tangannya pada leher Endra untuk berpegangan.
Entah kenapa Naina semakin susah mengontrol tubuhnya untuk menolak apa yang dilakukan oleh Endra, matanya juga mulai berkabut karena ciuman dari Endra dan dengan sentuhan tangan Endra yang sudah menjelajahi gunung kembarnya, Naina mengumpulkan kembali akal sehatnya.
"Sudah cukup, bukankah kamu akan menikah dengan adikku, ini tidak bisa dilanjutkan, tolong sudahi" Naina melepaskan ciuman Endra dan menyembunyikan wajahnya di dada Endra, dia malu karena dia kembali menerima dan membalas sentuhan Endra.
"Aku tidak akan menikah dengan siapapun kecuali kamu, ayah hanya bercanda dengan ucapannya, itu semua hanya rencana Suseno untuk menganggu mu" Endra memeluk Naina, dan membelai rambutnya, Naina semakin malu mendengarnya.
"Apa benar aku cemburu? bukankah kemarin aku tidak merasakannya, kenapa sekarang aku seperti ini" batin Naina masih terus menyembunyikan wajahnya di dada Endra dan terus memegang erat baju Endra, Naina mengingat Yaya yang kemarin sepertinya sangat akrab dengan Endra, Yaya terlihat ceria didepan Endra tidak seperti didepan Roni yang merupakan ayahnya sendiri, Yaya malah sangat tidak menyukai ayah kandungnya.
"Kamu mau merobek bajuku? ternyata kamu juga tidak sabaran ya" Endra menjahili Naina yang terlihat imut dengan tingkah malu-malunya.
"Kamu mau ikut kerumah sakit atau tidak? ayah ingin segera pulang jadi aku harus menandatangani pernyataan dokter"
__ADS_1
"Aku tidak akan ikut, nanti atau besok kalau ada waktu aku akan menjenguknya dirumah" Naina melepaskan pegangannya pada Endra lalu mencoba turun tetapi tubuhnya masih dihalangi tubuh Endra.
"Aku mencintaimu" ucap Endra saat mereka berpandangan, membuat Naina terdiam sesaat merasakan hatinya yang entah kenapa tiba-tiba menjadi berdebar kencang tidak karuan.