Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Tragedi


__ADS_3

"Ayah!!" teriak mereka berdua bersamaan dan langsung bergegas menuju Rayhan, Endra langsung memanggil dokter dan Naina membenarkan gelas yang dijatuhkan tanpa sengaja oleh Rayhan.


"Ayah, apa ayah haus??" tanya Naina,, tetapi sebelum Naina memberikan minum pada Rayhan, serombongan dokter dan para perawat datang untuk memeriksa kondisi Rayhan, Naina mundur untuk memberi ruang pada para dokter dan perawat yang baru datang itu.


"Kondisinya sudah lebih baik, tolong jangan membicarakan sesuatu yang berat atau membebani pikiran pasien" ucap dokter pada Endra dan Naina, setelah kepergian para dokter Endra dan Naina kembali mendekati Rayhan.


"Ayah, maafkan aku karena tadi tidak menyadari ayah yang telah bangun" ucap Naina lalu menggenggam tangan Rayhan dan meletakkannya di keningnya seperti seorang anak pada ayahnya yang baru datang.


"Kalian begitu sibuk sampai tidak menyadarinya, seharusnya ayah bisa lebih menahan rasa haus ayah supaya kalian tidak kaget"


Naina malu mendengar jawaban dari Rayhan lalu memandang ke arah Endra, dan memintanya untuk menyapa ayahnya yang baru siuman.


"Endra itu tidak terlalu banyak berbicara, tapi ayah sangat paham bagaimana hatinya, tetapi setelah mengenal dirimu, dia menjadi lebih terbuka dan bisa mengekspresikan diri nya dengan lebih baik, terimakasih karena telah merubah dia, selama ini ayah hanya melihatnya, bekerja, dan tidak pernah ada ekspresi apapun di wajahnya, sekarang ayah bisa melihat, wajah sedihnya, wajah marahnya dan juga kebahagiaannya, terimakasih Naina" ujar Rayhan panjang lebar yang membuat Naina tersentuh.


"Tolong jaga terus Endra, ayah tau hanya kamu yang sanggup melakukan hal itu, ayah sangat bahagia"


"Tidak ayah, Endra lah yang selalu menjagaku" Naina lalu bangkit dari duduknya dan menarik tangan Endra untuk mendekati ayahnya, Endra duduk di kursi tempat tadi Naina duduk, Endra mengikuti kode dari Naina yang melihat ke arah tangannya, Endra lalu menggenggam tangan Rayhan tetapi tangan satunya dia pakai untuk menarik tangan Naina.


"Ayah, kami akan segera menikah, jadi ayah harus cepat sembuh, ayah menginginkan cucu kan?? aku akan memberikannya segera, asalkan ayah harus cepat sembuh" Rayhan tersenyum lebar mendengar ucapan dari anak semata wayangnya.


"Hamil dan melahirkan itu harus dengan persetujuan ibu yang akan mengandung, kamu jangan terlalu memaksakan kehendak dirimu sendiri, sepertinya kamu sendiri yang sudah tidak sabar untuk membuatnya"


"Iya benar" jawab Endra singkat tapi mendapat cubitan di pipinya oleh Naina.


Mereka tertawa bersama lalu Suseno datang bersama Ningsih dan menyapa Rayhan, Suseno tidak bisa menahan air matanya karena lega melihat orang yang dia anggap ayah, telah sadar kembali.


"Kenapa kalian bisa bersama?" tanya Naina lalu mendekati Ningsih dan mengambil Alfin dari gendongan Ningsih.


"Iya,,," jawab Ningsih singkat, dipojokkan ruangan ada sepasang mata yang melihat kearah Ningsih dengan tatapan yang tidak bisa diartikan, tanpa sadar Naina melihat kearah orang itu, Naina menyadari sesuatu dan tersenyum.


"Semoga tebakan ku tidak salah, aku ingin saat aku menikah nanti, adikku juga menemukan kebahagiaannya, sudah cukup dendam di hati kami, Putra dan ayahnya telah mendapatkan pembalasan yang setimpal, begitu juga dengan Roni, semoga kedepannya tidak ada rasa dendam lagi di hati kami" batin Naina lalu focus ke Alfin lalu menggendongnya.


"Sayang sudahlah, bukankah lengan kamu masih sakit" Ningsih sepertinya sadar kalau Endra tidak menyukainya, mungkin karena tingkahnya dulu yang sempat menggodanya, Ningsih tersenyum mengingat hal itu, dia memang sempat ingin menggoda Endra, karena dia pikir kakaknya tidak akan pernah menyukai Endra.


Tetapi setelah tau begitu besar cinta Endra pada kakaknya dan begitu banyak juga pengorbanan untuk Endra mendapatkan kakaknya akhirnya Ningsih sadar kalau dia tidak akan pernah sanggup untuk meraih Endra, lagipula kakaknya juga akhirnya menerima Endra.


Ningsih tidak terlalu memusingkan hal itu, yang penting saat ini kakaknya sudah menemukan kebahagiaannya.


"Ning,, apa kamu mempunyai hubungan spesial dengan Seno?" tanya Naina mencoba memancing adiknya.


"Tidak kakak, aku hanya mempunyai nomor kontak ponselnya saat dia mengantarku saat malam kejadian rumor itu beredar, kan dia mengantarkan ku pulang kerumah, aku terus menghubungi kakak dari semalam tapi nomor kakak tidak aktif, jadi aku menghubunginya"


Naina manggut-manggut mendengar penjelasan adiknya, dia melirik kearah orang yang ada dipojok ruangan itu, Naina tersenyum melihatnya karena terlihat orang itu tersenyum samar mendengar penjelasan dari Ningsih.


Naina lalu mendekati Rayhan bersama dengan Alfin, Naina meletakkan tangan Alfin ke tangan Rayhan yang masih lemah.


"Kakek, cepat sembuh" ucap Naina seolah Alfin yang berbicara.


"Kenapa dia cucu ayah?!" ujar Endra tidak suka mendengarnya.

__ADS_1


"Kenapa memangnya? anak ayah bukan hanya kamu, ada aku, ada Suseno dan juga ada Reynolds,, anak kami berarti cucu ayah juga" ujar Naina lalu melihat ke arah Reynolds, sementara yang dilihat langsung menundukkan kepalanya.


"Naina, kamu ini pintar sekali menggoda orang lain, tentu saja Alfin juga cucu ayah, terlepas ayahnya adalah Suseno atau Reynolds nantinya, tapi yang jelas ayah ingin cucu dari Endra, setelah itu baru cucu dari Seno atau Reynolds, karena ayah tidak mau serakah dengan banyaknya keinginan"


Jawaban Rayhan menjadi pukulan telak untuk Naina yang mendapatkan sorakan dari semua yang ada di ruangan itu.


"Diam, jangan berisik" ujar Naina yang langsung menoleh kesemua yang menyorakinya.


"Galak amat, tapi aku suka, ayo cepat bikin" ucap Endra yang sudah mendekati Naina dan berdiri di belakang nya dengan tangganya yang mengelus rambut Naina.


"Naina, apa kamu sudah menerima perasaan Endra sepenuhnya" tanya Rayhan, dengan mantap Naina mengangguk sambil tersenyum, Endra dan Rayhan tersenyum lega melihatnya.


"Cepatlah urus pernikahan kalian, jangan menunggu waktu lebih lama lagi"


Endra sangat senang begitu juga dengan Naina, walaupun ada perasaan yang sebenarnya belum siap 100% bagi Naina, tetapi dia sudah berjanji akan membuat Endra bahagia, sudah banyak penderitaan yang dialami oleh Endra, dan terlalu banyak pengorbanan yang telah diberikan oleh Endra untuknya.


Ini bukan semata karena Naina ingin membalas budi Endra tetapi karena dia memang sudah mencintai Endra sepenuhnya hanya saja pernikahan itu berbeda, ada tanggung jawab yang besar yang harus dipikul, lagipula Naina masih merasa trauma dengan pernikahan apalagi berhubungan badan, tetapi dia harus menutupi itu semua, dia tidak mau kembali membuat kecewa Rayhan dan terutama Endra.


Sebelum pulang Naina mendekati Reynolds dan meminta Reynolds untuk menggendong Alfin.


"Rey, coba gendong Alfin, dia dari tadi melihat ke arah mu, kamu mau kan?"


Mendengar permintaan dari Naina, tentu saja Reynolds menurutinya, dia memang merasa kangen dengan Alfin walau dia hanya sekali menggendongnya tetapi dia sudah merasa menyayangi Ningsih.


Reynolds tidak tau masa lalu Ningsih, yang dia tau hanya bahwa Ningsih tidak mempunyai suami walau mempunyai anak bayi, entah kenapa Reynolds begitu tertarik pada Ningsih dari awal bertemu saat Ningsih masih mengandung, dia beranggapan bahwa Ningsih adalah wanita yang kuat.


"Sayang, apa kamu tau sesuatu tentang Reynolds?" tanya Endra saat mereka sudah diperjalanan dan berada di dalam mobil.


"Jangan bilang kalau kamu menyukai Reynolds" tambah Endra dengan tidak melupakan wajah datarnya kalau sedang cemburu.


"Reynolds tinggi, besar dan kekar, mana ada wanita yang tidak menyukainya" jawaban Naina sukses membuat Endra marah, padahal Naina hanya mencoba bercanda, Endra langsung menepikan mobilnya.


"Aaaakkkhhhh!!" Naina berteriak karena Endra dengan cepat telah melahap habis bibirnya dan memaksanya untuk membuka mulutnya, Naina hanya bisa pasrah mengikuti keinginan kekasihnya itu, entah sejak kapan hatinya selalu berdebar kencang saat Endra menyentuh nya.


Dengan nafas yang masih memburu karena ciuman mereka yang cukup lama, Endra memegangi pipi Naina dengan kedua tangannya, matanya menatap tajam mata Naina.


"Sayang,,, bukan seperti apa yang kamu pikirkan, aku tidak termasuk dalam jajaran wanita-wanita itu, karena aku sudah memiliki kekasih yang lebih dari sekedar tampan, didunia ini hanya kamu yang aku cintai, apa kamu keberatan?"


Endra tersenyum mendengar ucapan Naina, dia tadi sudah berfikir Naina menyukai Reynolds, Endra memeluk erat tubuh Naina sebelum melepaskannya kembali karena harus segera melanjutkan perjalanan.


"Aku merasa kalau Reynolds menyukai Ningsih" ujar Naina menjawab rasa penasaran Endra.


"Sudahlah sayang, jangan dulu sibuk memikirkan percintaan orang lain, kita harus focus ke acara pernikahan kita"


Endra membawa Naina ke sebuah hotel yang sangat mewah dan megah, Naina sempat tidak masuk karena menurut dia itu terlalu berlebihan.


"Tidak perlu seperti ini, kita lakukan dirumah saja,, ini hanya pemborosan, aku tidak mau, ayo kita kembali" Naina menarik tangan Endra dan mengajaknya untuk kembali masuk kedalam mobil.


"Sayang, kamu jangan memikirkan apapun, kamu hanya harus berdiri di sampingku diatas pelaminan nanti" Endra menggenggam tangan Naina dan menariknya masuk kedalam hotel itu.

__ADS_1


Endra langsung pada intinya dan meminta kepada WO untuk memperlihatkan paket pernikahan yang berada di hotel itu, Endra tidak memperdulikan Naina yang terus saja mengajaknya pergi dari sana dan memilih untuk terus menggenggam tangan Naina.



Dekorasi pernikahan pilihan Endra adalah full bunga mawar putih, dan bunga lain yang juga berwarna senada, Naina merasa kalau itu terlalu berlebihan, ini adalah pernikahan kedua bagi mereka, jadi bagi Naina lebih baik yang biasa-biasa saja.


"Siapa bilang ini yang kedua? ini yang pertama dan terakhir untuk kita, jadi harus ditempat terbaik, aku mohon kita pilih sesuai gambar ini" ujar Endra pada Naina.


"Tidak sayang, sudahlah,,, kita lakukan dirumah saja,, pernikahan itu tidak perlu mewah yang penting kesakralannya"


"Sayang,, ini tidak akan mengurangi kesakralan pernikahan kita nanti, karena yang kita undang juga hanya keluarga dan relasi dekatku saja, kamu juga boleh mengundang teman-teman mu atau siapapun yang kamu mau, tetapi tidak lebih dari 100 orang, kita bagi dua,, aku mengundang 100 tamu, kamu juga sama"


"Tidak sayang, aku tidak perlu mengundang sebanyak itu, hanya keluarga ku saja"


"Naina,, sayang,,,, kamu tidak malu menikah denganku kan? kenapa kamu ingin menyembunyikan pernikahan ini?"


"Bukan seperti itu, aku hanya merasa kalau ini terlalu berlebihan, aku juga tau kalau ini pasti,,,"


"Nai,,,, dengarkan aku sayang,,, aku ingin mempersembahkan yang terbaik untuk mu, dalam hal apapun itu termasuk pernikahan kita, jadi tolong jangan menolak, kamu jangan memikirkan tentang apapun, termasuk biayanya, karena ini adalah impianku,, aku mohon kabulkan impian ku" Endra terus menggenggam erat tangan Naina untuk meyakinkan nya.


"Apa ini tidak berlebihan?"


"Tidak sayang, ini tidak berlebihan, ini sangat pas untuk kita, terutama untuk kamu, cinta ku yang suci layaknya mawar putih itu"


Naina tertawa, merasa aneh dengan gombalan maut dari Endra, sementara Endra sendiri bingung karena kekasihnya tertawa.


"Kenapa kamu mentertawakan diri ku? sepertinya kamu tidak ingin pulang, malam ini kita menginap disini ya?" Endra mendekati wajah Naina dan ingin menciumnya tetapi Naina menolak karena crew WO kembali datang setelah memberi waktu kepada Endra dan Naina untuk memilih dekorasi dan paket pernikahan di hotel itu.


"Apakah gaunnya juga akan dipilih hari ini? untuk paket yang tuan pilih sudah lengkap dengan gaun pengantin" ucap salah satu crew WO, dan untuk menghemat waktu, Endra dan Naina memilih untuk sekalian memilih gaun, jadi tinggal menyiapkan undangan dan cincin pernikahan.



Endra kaget dan terpesona melihat Naina, kekasihnya itu terlihat sangat mempesona walau belum memakai riasan pengantin, baju pengantin yang dipilih Naina sangat simple, tapi tetap memancarkan kecantikan dan keanggunan Naina, sangat sesuai dengan kepribadian Naina yang tidak ribet.


"Sepertinya ada yang kurang?" ucap Endra, crew WO lalu mengatakan bahwa itu karena Naina belum memakai perhiasan apapun, saat ditambah dengan perhiasan yang juga simple pasti Naina akan semakin tampak mempesona.


"Baiklah, kita pilih yang ini untuk acara agama, nanti kita akan beli lagi untuk resepsinya ditempat lain" ujar Endra mantap, dia sendiri sudah memilih setelah jas pengantin yang cocok dengan gaun pilihan Naina.


"Sayang, kamu pasti capek kan? bagaimana kalau kita tidak perlu pulang untuk malam ini, kita menginap disini untuk mencari tau apakah kamarnya nyaman atau tidak" sepertinya buaya yang ada didalam hati Endra sudah mulai tidak bisa dikendalikan lagi.


"Mau dikamar hotel mewah ini, mau dimana pun,, asalkan itu bersamamu,, itu sudah cukup buatku" bisik Naina dan sedikit menggigit telinga Endra.


"Aku tidak akan membiarkan dirimu pulang" ujar Endra lalu memeluk tubuh Naina dengan erat saat Naina hendak berbalik untuk segera pergi dari sana, karena hari sudah malam.


"Sayang, masih banyak yang harus kita lakukan, terutama kita juga harus focus lebih dulu pada kesembuhan ayah dulu, sekarang kamu tolong antarkan aku pulang, lalu kamu segera ke rumah sakit lagi, aku akan datang besok pagi seperti tadi lagi"


"Baiklah ratuku" jawab Endra lalu menggandeng tangan Naina untuk keluar dari hotel itu setelah mereka mengucapkan terimakasih kepada semua crew WO.


Dalam perjalanan mengantarkan Naina, mereka mengobrol santai tetapi Endra merasakan ada yang tidak beres dengan mobilnya, dan benar saja, Endra tidak bisa mengendalikan mobilnya, bahkan rem mobilnya juga tidak berfungsi, Endra panik begitu juga dengan Naina lalu beberapa detik kemudian, jeritan Naina terdengar.

__ADS_1


__ADS_2