Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Reynolds VS Suseno


__ADS_3

"Apa??!" Ningsih kaget mendapatkan kabar bahwa kakaknya telah menghilang, karena jelas-jelas tadi kakaknya masih datang untuk menemuinya.


"Tetapi kakak memang sangat aneh karena menitipkan salon kecantikannya padaku" ujar Ningsih pada Suseno yang memberi tahu padanya tentang Naina.


"Jangan dulu panik dan membicarakan ini dengan kedua orang tuamu, aku hanya meminta tolong padamu, carikan cincin pernikahan Naina, sepertinya kakakmu menyimpan cincin nya di suatu tempat di dalam rumahmu"


Setelah menyudahi panggilan telepon nya, Ningsih langsung mencari keberadaan cincin pernikahan kakaknya, dan setelah lama mencari, ternyata cincin itu ada di sebuah kotak perhiasan milik kakaknya yang memang sebagian perhiasan kakaknya disimpan dirumah itu.


Ningsih lalu memberitahukan hal itu kepada Suseno,


"Simpan saja dulu disana, besok pagi aku akan mengambilnya" ucap Suseno lalu kembali menutup panggilan teleponnya, Ningsih sedikit sedih, karena mereka tidak lama lagi akan menikah, tetapi tidak ada percakapan layaknya pasangan pada hubungan mereka.


"Kenapa aku harus bersedih, dia bahkan telah mengatakan dari awal bahwa dia setuju untuk menikah hanya karena ayah Rayhan" batin Ningsih lalu menyimpan ponselnya lalu memeriksa Alfin yang sudah tidur, melihat anaknya yang telah nyenyak, Ningsih juga lalu mencoba untuk tidur, dia sangat yakin dengan kekuatan dan kekuasaan Suseno dan Endra serta Rayhan, kakaknya pasti akan segera ditemukan.


Pagi harinya Suseno datang untuk mengambil cincin itu, sebelum Suseno pergi, Ningsih menahan tangan Suseno.


"Bisakah kakak luangkan waktu untuk ku? bukankah kita akan menikah, tapi kita belum mengenal pribadi masing-masing, bukankah kita seperti orang asing walaupun sebentar lagi kita akan menikah?"


"Tidak ada yang perlu aku tau darimu, sudah cukup semua yang aku tau, bahkan apa yang pernah kamu lakukan aku juga sudah tau, asal kamu tau saja, aku benar-benar melakukan ini hanya karena ayah Rayhan, jadi aku tidak perduli akan masa lalu mu"


Ningsih menelan ludah mendengar jawaban dari Suseno, dia tidak menyangka kalau Suseno akan bersikap sangat tegas dan formal, Ningsih berharap setidaknya mereka bisa lebih dekat, tetapi sepertinya tidak bisa, pernikahan nya seperti nya hanya seperti sebuah pekerjaan.


"Apa hanya untuk sekedar makan siang bersama, kakak juga tidak mau?" tanya Ningsih masih terus berharap.


"Bukan tidak mau, tapi tidak perlu" jawab Suseno dengan berpaling dari wajah Ningsih, karena dari tadi mereka berpandangan.


Ningsih melepaskan tangan Suseno dan tidak berharap apapun lagi setelah mendengar jawaban jelas dari Suseno, tetapi keraguannya semakin menjadi karena mendapatkan sikap seperti itu dari calon suaminya.


Ningsih kembali masuk kedalam rumahnya, dia terus bimbang, setelah memandikan Alfin dan memberinya sarapan, Ningsih berpamitan pada mama Nimah untuk menengok Rayhan.


"Sudah lama aku tidak berkunjung kesana, mungkin kakak juga jarang kesana karena kakak pasti sedang sibuk dengan kak Endra, mereka pengantin baru, jadi pasti melupakan dunia ini dan hanya terus berada di dalam dunia mereka" ucap Ningsih sembari mengajak mama Nimah bercanda, dia tidak mau kelepasan dengan mengatakan kalau kakaknya menghilang.


Mama Nimah mengizinkan Ningsih untuk pergi asalkan tidak terlalu lama, karena ditakutkan Alfin akan rewel dan mencari mamanya, setelah mendapat izin dari mama Nimah, Ningsih lalu segera bergegas pergi menuju rumah Rayhan menggunankan ojek online.


Dirumah Rayhan terlihat sangat serius dengan perintah-perintah dari Rayhan kepada para pengawalnya dalam strategi mencari keberadaan Naina, sementara Endra tidak terlihat, sepertinya Endra sedang mencari Naina.


"Ningsih, apa kamu sudah tau tentang kakakmu?" tanya Rayhan yang dijawab anggukan kepala oleh Ningsih.


Sebenarnya selain ingin mencari tau tentang kakaknya, Ningsih juga ingin berbicara serius dengan Rayhan, tetapi melihat Rayhan yang sibuk, membuat Ningsih mengurungkan niatnya, Reynolds kembali lagi setelah pencariannya gagal di area pantai di kota ini, mereka tau kalau Naina menyukai pantai, jadi sudah pasti mereka mencari ke pantai-pantai didalam kota dan kota-kota terdekat.


Reynolds dan Ningsih tanpa sengaja saling melihat, mereka canggung satu sama lain, Ningsih merasa malu saat bertemu dengan Reynolds karena penolakan Reynolds terhadap perjodohan mereka, Ningsih merasa rendah diri karena merasa Reynolds pasti membencinya.


Sementara Reynolds malu saat melihat Ningsih, karena hatinya berdebar-debar tidak karuan setiap melihat wajah Ningsih, mereka lalu saling membuang pandangan.


Reynolds memberikan laporan kepada Rayhan, setelah mendengar apa yang harus dia lakukan selanjutnya, Reynolds lalu membersihkan diri terlebih dahulu, karena dari kemarin dia tidak mandi, baru setelah itu dia harus kembali mencari keberadaan Naina.


"Ningsih, apa kamu tau kemana biasanya kakakmu pergi?" tanya Rayhan.


"Tidak ayah, kakak sangat jarang bepergian, tetapi bukankah ini hari minggu kedua pada bulan ini? mungkin kakak akan mengunjungi Deva dan Yaya"


"Sudah ada pengawal yang terus menjaga disana, tetapi sampai saat ini belum terlihat kalau Naina kesana"


Rayhan terus berfikir, dimana kemungkinan Naina bersembunyi, sementara itu Reynolds telah kembali bersiap untuk menjalankan tugas.


"Bolehkah aku menumpang?" tanya Ningsih begitu melihat Reynolds yang akan bergegas untuk pergi.

__ADS_1


"Kita tidak searah" jawab Reynolds dengan suaranya yang berat, Ningsih terlihat kecewa, setelah berpamitan dengan Rayhan, Ningsih lalu berusaha mencari angkutan umum karena baterai ponsel nya habis jadi tidak bisa memesan angkutan online.


Reynolds memperhatikan Ningsih dari jauh, dia menjadi tidak tega melihatnya dan menawarkan untuk mengantarkan.


"Tidak perlu, kita tidak searah" jawab Ningsih sewot, Reynolds menahan senyumnya melihat reaksi Ningsih yang terlihat lucu karena ngambek.


"Disini tidak ada angkutan umum lewat, kamu mau menunggu sampai kapan?" tanya Reynolds sambil terus mengikuti Ningsih dengan pelan menjalankan mobilnya.


"Sudah sana pergi cari kakakku, kamu tidak perlu perduli kan aku, buat apa kamu mengantarkan aku, bukankah kamu membenciku??"


"Iya memang benar aku membencimu, tetapi nona Naina pasti akan memarahiku kalau sampai dia tau aku menelantarkan adiknya di pinggir jalan, cepatlah masuk ke mobil, aku sudah semakin terlambat"


Ningsih tidak punya pilihan lain, karena dia sudah cukup lama berjalan tetapi tidak juga menemukan angkutan umum, awalnya Ningsih ingin masuk mobil di kursi belakang, tetapi Reynolds menguncinya.


"Buka kuncinya!!" teriak Ningsih kesal karena merasa dipermainkan.


"Duduklah di depan, aku ini bukan pengawal mu?" jawab Reynolds lalu membukakan pintu depan dari dalam.


Ningsih masuk kedalam mobil dan dengan cepat memakai sabuk pengaman, Reynolds langsung melakukan mobil dengan perlahan, mereka saling diam tanpa berbicara sepatah katapun, tetapi Ningsih gatal ingin menanyakan sesuatu, karena dia begitu penasaran.


"Kenapa kamu menolak perjodohan itu?? apa aku sangat jelek bagimu?"


"Iya" jawab Reynolds singkat tanpa melihat kearah Ningsih karena dia focus menyetir.


Mendengar jawaban dari Reynolds membuat Ningsih kesal, padahal dia sendiri yang memulainya, Ningsih lalu mengambil bedak dan lipstik di dalam tas nya lalu mempertebal makeup nya.


"Kamu semakin jelek kalau seperti itu,, sebelum kamu bertanya, aku sudah menjawabnya terlebih dahulu" ujar Reynolds dengan tenang.


Ningsih semakin kesal tetapi kemudian dia menghembuskan nafasnya, dia selalu sibuk mengurusi Alfin, dia sekarang tidak mempunyai teman, kakaknya juga sudah mempunyai suami, jadi tidak mudah untuk menemuinya, bahkan sekarang kakaknya menghilang.


"Setidaknya kamu masih mau berbicara" ucap Ningsih lalu menghembuskan nafasnya di kaca jendela mobil, lalu menggambar bentuk hati tetapi hanya setengah, mobil tiba-tiba berhenti disebuah kedai minuman, Reynolds turun tanpa mengajak Ningsih, tetapi Ningsih tetap keluar juga dari dalam mobil dan mengikuti Reynolds.


"Dompetku ada didalam tas di mobil, aku buru-buru mengikuti mu jadi tidak membawanya, bolehkah belikan dahulu, aku berjanji akan menggantinya nanti, kalau aku kembali mengambil dompet ku dulu, aku yakin kamu akan meninggalkan diriku"


Reynolds hanya diam saja tetapi kemudian menyerahkan satu lembar uang seratus ribu pada Ningsih, tentu saja dengan senang hati Ningsih langsung mengambilnya dan segera memesan minuman yang dia inginkan.


Reynolds menunggu Ningsih di pintu keluar kedai, mereka lalu masuk kedalam mobil bersamaan, Ningsih mengambil uang didalam dompetnya dan mengganti uang Reynolds.


"Ini aku kembalikan" ucap Ningsih menyodorkan uang pada Reynolds tetapi Reynolds menolaknya.


"Tidak perlu"


"Kenapa? apa kamu pikir karena aku pengangguran lalu aku tidak mempunyai uang? sekarang aku mulai bekerja di salon kecantikan milik kakak walaupun tidak setiap hari bekerja, jadi aku mempunyai uang, ini ambil saja, aku tidak mau berhutang, apalagi dengan orang seperti dirimu" ujar Ningsih dengan lalu menyesap minuman nya, yang diatasnya penuh dengan es krim, sementara uang yang dia pegang, dia simpan di atas dasboard mobil.


"Aaagghhhh!" Ningsih kaget karena tiba-tiba mobil berhenti, es krim nya belepotan di mulut dan hidungnya.


Reynolds tidak bisa menahan tertawa nya melihat Ningsih lalu memberikan tisu pada Ningsih, Ningsih yang kesal lalu mencolek es krim yang masih tersisa di gelas minumannya dan mengoleskan pada pipi Reynolds untuk membalas dendam karena Reynolds tadi berhenti mendadak.


"Apa yang kamu lakukan?!" teriak Reynolds.


"Itu balasan untukmu karena berhenti mendadak" jawab Ningsih sambil membersihkan es krim yang belepotan di bibir dan hidungnya, ternyata Reynolds berhenti mendadak karena mendapatkan telepon dari Endra.


"Iya tuan muda, saya akan menuju tempat itu segera, sekarang saya dalam perjalanan" Suseno lalu menyimpan kembali ponselnya kedalam saku bajunya.


Saat akan mengambil selembar tisu yang kotak nya masih dipangkuan Ningsih, tanpa sengaja tangan mereka bersentuhan, sontak saja hal itu membuat mereka menjadi salah tingkah.

__ADS_1


Reynolds lalu dengan cepat membersihkan pipinya setelah Ningsih menyerahkan kotak tisu, dan segera bergegas mengantarkan Ningsih, karena dia sudah mendapatkan perintah untuk mencari Naina disuatu tempat.


Setelah sampai didepan rumah Ningsih, Reynolds lalu dengan cepat berputar arah, dia tidak lagi melihat kearah Ningsih, bahkan saat Ningsih mengucapkan terima kasih kepada dirinya, dia merasa canggung dengan sentuhan mereka tadi.


"Aku bukan remaja, dan aku bahkan pernah melakukan hal diluar batas dengan Intan karena melaksanakan tugas, tetapi saat itu aku tidak merasakan apapun dan hanya rasa jijik, tapi sekarang kenapa aku seperti ini, bahkan hanya tanpa sengaja bersentuhan dengannya" gumam Reynolds setelah jauh dari rumah Ningsih.


Sementara Ningsih semakin menyadari bahwa Reynolds sangat tidak menyukainya, dengan langkah gontai, Ningsih masuk kedalam rumah, tetapi karena rumah terlihat sangat sepi dan tidak ada orang, Ningsih menyadari kalau mama Nimah pasti pergi dan membawa Alfin, Ningsih lalu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.


"Dia pasti semakin membenci diriku" gumam Ningsih lalu kembali bangun karena mengingat ponselnya yang harus segera di isi daya.



"Arah GPS mobil Endra tadi menuju rumah Ningsih, apa kamu tadi bersamanya?" tanya Suseno pada Reynolds dalam panggilan telepon.



"Iya, tadi aku mengantarkannya karena dia tidak mendapatkan angkutan umum setelah dari rumah tuan Rayhan"



"Kamu dengan jelas menolaknya, jadi jagalah sikapmu, karena dia adalah calon istriku" ujar Suseno.



"Calon istri katamu?? calon istri apanya yang kamu telantarkan, dia sepertinya tidak menyukaimu, aku tidak mengerti, kenapa kalian yang tidak saling mencintai bisa berfikiran untuk menikah"



"Kamu juga tau kalau aku melakukan ini karena ayah"



"Apa kamu pikir ayah akan bahagia saat melihat dirimu ataupun nona Ningsih tidak bahagia?,, ayah mengajukan perjodohan ini hanya karena ayah ingin orang-orang seperti kita yang telah dianggapnya anak hidup bahagia, sudah dulu,, aku harus focus menyetir karena memasuki kawasan padat merayap"



Reynolds lalu mematikan panggilan telepon dari Suseno dan kembali fokus menyetir.



"Kenapa sekarang aku perduli pada urusan mereka, seharusnya aku tidak banyak berbicara dan hanya menuruti apa keinginan dari Suseno" batin Reynolds lalu memasuki sebuah kawasan pantai buatan yang ada di tengah kota itu.



"Nona Naina memang sangat menyukai pantai, tetapi apakah mungkin kalau nona akan mendatangi tempat yang bisa ditebak oleh semua orang?? nona pasti bersembunyi ditempat dimana tidak ada yang bisa menebaknya" gumam Reynolds sesaat sebelum keluar dari dalam mobilnya, pada akhirnya dia hanya bisa mengikuti perintah yang diberikan kepada dirinya.



Suseno termenung di dalam kantor nya, dia tidak pulang kerumahnya dan terus berusaha mencari keberadaan Naina lewat kamera CCTV di jalanan yang bisa dilihat secara online, dia berharap bisa menemukan Naina disuatu tempat, tetapi sepertinya dia sedikit merasa terganggu mengetahui bahwa Reynolds mengantarkan Ningsih pulang kerumahnya.


"Kenapa ada yang mengganjal dihatiku, bukankah aku tidak mempunyai perasaan apapun pada Ningsih?" batin Suseno bertanya kepada dirinya sendiri, dia lalu mengingat wajah ceria Ningsih saat tadi mengajaknya untuk makan bersama, dan mengingat juga wajah kecewa wanita itu.


"Seharusnya aku tidak melukai perasaannya, bukankah aku harus lebih baik pada calon istriku sendiri?" batin Suseno, dia mengingat perjuangan Ningsih dalam mengurus anaknya, sebenarnya Ningsih adalah wanita yang kuat, hanya saja mungkin pernah tersesat.


Suseno tentu saja tau tentang semua hal yang terjadi pada Ningsih, karena saat itu dia menyelidiki semua anggota keluarga Naina karena Endra begitu mencintai Naina, Suseno dan Rayhan tidak ingin kecolongan lagi jadi sebelum mengizinkan Endra mempunyai perasaan lebih jauh lagi pada Naina, mereka sudah tau kalau Naina sangat pantas untuk Endra jadi membiarkan Endra melakukan apapun keinginannya, karena untuk masalah perasaan cinta, mereka sangat tau kalau hal itu baru bagi Endra yang tidak pernah merasakan cinta.

__ADS_1


Jadi sikap Endra memang sangat kekanakan seperti remaja pada umumnya dalam merasakan cinta, seperti saat ini Endra kembali kehilangan arah, jadi Suseno harus bekerja lebih keras untuk segera menemukan Naina, karena seperti yang sudah-sudah, Endra menjadi kacau saat Naina menghilang.


Itulah yang membuat Suseno tadi pagi tidak terlalu memperdulikan keinginan Ningsih, karena dia ingin terus focus mencari Naina, Suseno memang menerima perjodohan itu hanya karena ingin membuat bahagia Rayhan, tetapi entah kenapa dia merasa terancam dengan Reynolds setelah mengetahui Reynolds yang begitu baik pada Ningsih, karena Suseno sangat tau dengan pasti kalau Reynolds tidak pernah mau bertindak tanpa perintah.


__ADS_2