Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Pengantin Baru


__ADS_3

"Sudahlah sayang, kamu jangan terlalu ikut campur dalam urusan mereka, aku yakin Seno pria baik, kamu jangan tidak perlu ragu padanya" ujar Endra lalu tanpa malu mencium pipi Naina, tidak perduli dengan banyaknya orang disana.


"Bukan karena aku tidak yakin,, tapi aku merasa ini sedikit membingungkan, kenapa Seno langsung mau,, memang nya dia tidak punya kekasih selama ini?" tanya Naina pada suaminya.


"Aku tidak tau, untuk apa aku tau juga" jawab Endra mulai bosan dengan pembicaraan yang menurutnya tidak penting, Endra lalu mengajak Naina untuk makan siang karena mereka belum makan, sementara karena Endra dan Naina datang nya terlambat, seluruh keluarga sudah makan siang terlebih dahulu.


"Tolong buatkan aku telur hancur seperti waktu itu" pinta Endra pada Naina saat mereka sampai di dapur, Naina heran karena di atas meja makan masih terdapat banyak sekali makanan, tetapi karena suaminya yang meminta jadi dia hanya bisa menurut.


Naina masuk ke dapur dan didekati oleh bi Wulan yang ingin membantunya, tetapi Naina menolak dengan halus karena dia hanya akan membuat telur orak-arik sederhana.


"Nona,,, selain cantik nona juga pintar memasak?"


"Tidak bibi, aku hanya membuat makanan seadanya, makanan sederhana yang selama ini aku makan, masakan bibi lebih enak, mirip sama masakan bi Yeni"


"Kami dulunya lulusan sekolah menengah atas yang sama, sudah lama aku tidak bertemu dengannya, kemarin kami akhirnya bertemu saat pernikahan nona"


"Waaahh, asyiikkk yang baru ketemu teman lama" Naina terus menjawab dengan antusias dengan apa yang dibicarakan oleh bi Wulan, Naina sangat menghargai siapapun, dan tidak pernah membeda-bedakan status seseorang.


"Maaf nona, aku terlalu banyak berbicara" ujar bi Wulan yang menyadari dia telah mengobrol santai dengan nona nya sendiri.


"Tidak apa-apa bibi, aku senang karena bibi menemaniku" jawab Naina sambil menyelesaikan memotong cabai dan tomat yang akan dia campurkan kedalam telur orak-arik buatannya, tercium bau harum semerbak dari aroma telur orak-arik dan membuat Endra masuk ke dapur.


"Sangat harum, apa sudah matang?" tanya Endra lalu mendekati Naina yang sedang mengambil piring untuk mengambil telur yang sebentar lagi akan matang.


"Sudah sebentar lagi, tunggu dimeja saja, aku akan segera kesana" Naina lalu berjalan ke ruang makan.


Endra makan dengan lahap, dia seperti tidak tergoda dengan makanan-makanan lezat yang ada di depannya, dia hanya terfokus pada telur buatan Naina, sesaat sebelum Endra menyelesaikan makannya, Suseno datang untuk memberikan laporan, tetapi Endra ingin menghabiskan dulu makanannya dan meminta Suseno untuk menunggunya di ruang kerja.


"Sayang, boleh aku duluan?" ujar Endra mengecup bibir Naina yang terdapat sisa saos, karena istrinya sedang makan sosis goreng yang dicocol dengan saos, Naina membelalakkan matanya karena kaget dengan gerakan tiba-tiba dari suaminya dan hanya mengangguk, Endra tersenyum melihat tingkah Naina yang masih terlihat malu-malu padanya.


"Kamu sangat menggemaskan, cepat habiskan makanan mu, aku juga akan cepat menyelesaikan urusanku dengan Seno, setelah itu kita harus istirahat untuk tidur siang" ujar Endra lalu mengedipkan mata kanannya, Naina langsung melengos malas meladeni candaan dari suaminya dan meneruskan makannya.

__ADS_1


"Bibi,, kemari duduklah, temani aku makan, ajak juga yang lainnya, kalian semua pasti belum makan siang kan?" ajak Naina ramah saat melihat bi Wulan yang melewati meja makan setelah dari ruang tamu untuk mengambil beberapa piring camilan yang sudah kosong.


"Tidak nona terima kasih, kami akan makan setelah nona selesai, memang sudah seharusnya seperti itu" jawab bi Wulan, Naina sebenarnya ingin kembali mengucapkan sesuatu tetapi Ningsih datang mendekati nya.


"Kak, apa menurutmu aku tidak seharusnya menerima perjodohan ini?? apa kakak yakin kalau Putra tidak akan muncul lagi?"


"Ning,,, jangan pikirkan tentang pria itu, sekarang hanya kebahagiaan mu dan Alfin yang harus kamu pikirkan, kalau pria itu muncul lagi, aku pasti akan menghajarnya untuk mu"


"Aku tidak mempunyai perasaan apapun terhadap kak Seno, hanya saja sikap dan sifat nya membuat ku merasa tidak punya alasan untuk menolaknya, aku hanya sedikit merasa kotor dengan masalalu ku, tetapi kak Seno mengatakan dia tidak mempermasalahkan tentang masalalu ku, jadi sudah tidak ada hal yang perlu aku khawatirkan"


"Ning,, aku tidak bisa terlalu banyak memberi masukan, karena kamu juga tau sendiri kalau aku bahkan pernah gagal dalam berumah tangga, tetapi aku menyadari sesuatu,, bahwa cinta itu harus ada didalam membangun mahligai rumah tangga, karena tanpa itu, akan sangat mudah untuk goyah,,, memang benar cinta akan tumbuh seiring dengan berjalannya waktu, tetapi apa kamu siap untuk hidup bersama orang yang tidak kamu cintai??"


"Aku hanya berharap supaya Alfin bisa segera mempunyai seorang ayah" ujar Ningsih lesu lalu mengambil sosis yang ada di piring Naina dan memakannya.


"Apa kamu menyukai Reynolds" tanya Naina tiba-tiba hingga membuat Ningsih tersedak dan terbatuk-batuk, Naina mengambilnya minum untuk adiknya.


"Kakak ini apa-apaan,, membuatku kaget saja, dia mungkin membenciku walau aku tidak tau karena apa, didepan ayah Rayhan, dia langsung menolak dan bahkan tidak melihat kearah ku sedikitpun" ujar Ningsih manyun lalu kembali mengambil makanan di piring Naina.


"Kakak tau sendiri bagaimana masa lalu diriku, lalu kakak pikir siapa lagi yang mau menikahiku kedepannya, ini aku disodorkan lelaki mapan dan tajir, kenapa juga harus aku tolak" jawab Ningsih apa adanya juga seperti sikap kakaknya.


Mereka adalah kakak adik yang tidak saling jaga image, jadi lebih baik bagi mereka adalah berbicara apa adanya, mereka lalu tertawa bersama dan terus mengobrol santai sampai Endra dan Suseno datang kemeja makan.


"Ayo kita tidur siang sayang, ini waktunya kita istirahat" ujar Endra mendekati Naina dan mencium pucuk kepala istrinya yang sedang minum setelah menyelesaikan makannya.


Suseno juga mengajak Ningsih untuk segera bersiap untuk pulang karena Suseno harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan setelah mengantarkan Ningsih dan orang tuanya, Endra sepertinya masih ingin berlama-lama mengambil cuti.


Setelah mama Nimah, papa Yanto dan Ningsih pulang, Endra menggenggam tangan Naina dan berniat untuk mengajaknya masuk kedalam kamar untuk tidur siang, atau lebih tepatnya dia mau mengerjai istrinya karena sebenarnya waktu tidur siang sudah lewat, Rayhan hanya tersenyum melihat tingkah anaknya.


"Masuklah ke kamarmu Nai,, supaya cucu ayah segera hadir" ujar Rayhan lalu dia juga masuk kedalam kamar tamu.


"Lihatlah, ayah sangat memahaminya" ucap Endra, dan tanpa mengambil waktu lebih lama lagi, langsung menggendong istrinya kedalam kamar yang telah dihias sedemikian rupa seperti kamar pengantin, itu yang tadi membuat Naina kaget saat memasuki kamar.

__ADS_1


Naina pikir hiasan pengantin baru sudah cukup saat di hotel, dan sekarang dirumah juga sama, dia benar-benar yakin besok pagi tidak akan bisa turun dari ranjang atau bahkan mungkin dia tidak akan bisa bangun.


"Jangan melamun sayang, ayo kita mandi dahulu biar lebih segar" Endra kembali menggendong Naina, kali ini menuju kamar mandi, Naina dibuat seperti seorang ratu oleh Endra, bahkan untuk membuka bajunya, Endra tidak mengizinkan karena dia yang ingin melakukannya.


Mandi yang seharusnya singkat menjadi sangat lama karena Endra yang terus menerus mengambil kesempatan, Endra tidak membiarkan istrinya untuk istirahat sedikitpun, dan terus menggoyangnya, didalam bathtub saat berendam, di bawah shower air saat membersihkan diri bahkan didekat wastafel saat Naina mencoba mengeringkan rambutnya, terus saja Endra tidak berhenti menggoyang istrinya.


Saat keluar dari kamar, bukan hanya sangat bersih karena kelamaan mandi, tetapi Naina terlihat sangat kelelahan, Endra menggendongnya ke ranjang dan menyelimuti tubuh mereka dengan selimut tebal supaya hangat, tidak lupa Endra juga memeluk tubuh Naina dengan erat.


"Kamu begitu nikmat sayang, aku terus ingin melakukannya, maafkan aku sayang, apa kamu kesakitan?" ujar Endra sambil membelai rambut istrinya.


"Aku juga menikmatinya" jawab Naina malu, memang benar dia kecapean dengan ulah suaminya, tetapi tubuhnya juga terus mendapatkan kenikmatan yang luar biasa dari Endra jadi dia juga sangat bahagia, tubuhnya hanya harus menyesuaikan diri dengan kekuatan suaminya.


Naina menyembunyikan wajahnya di dada Endra, dan karena kelelahan, tidak lama akhirnya dia tertidur, Endra tersenyum bahagia melihat wajah polos istrinya, terlihat sangat damai dalam tidurnya, bibir Naina terlihat pucat, mungkin karena kelamaan mandi, bahkan sepertinya istrinya itu sampai lupa untuk skincarean, tetapi wajah istrinya yang polos itu, bagi Endra terlihat lebih cantik berkali lipat dibandingkan dengan biasanya.


"Beruntungnya aku, mempunyai istri secantik dan sebaik dirimu sayang,, aku tidak akan pernah mengecewakan dirimu, dan aku berjanji akan selalu menjagamu" bisik Endra lalu mencium kening Naina dan menyusul istrinya itu kedalam alam mimpi.




Sementara itu di rumah Ningsih, mama Nimah dan papa Yanto telah masuk kedalam rumah, dan Suseno juga sudah berpamitan karena akan segera kembali ke kantor.



"Kak, apa benar kita akan melakukan hal ini?? bukankah kakak tidak mencintaiku sama sekali?" tanya Ningsih pada Suseno saat dia mengantarkan ke mobil.



"Apa itu cinta?? selagi kamu mau,, ayo kita lanjutkan,, aku tidak mau mengecewakan ayah Rayhan, sudah dulu ya,, aku harus kembali bekerja" jawab Suseno lalu masuk ke dalam mobilnya.


__ADS_1


Ningsih menyadari bahwa Suseno melakukan hal ini hanya karena demi Rayhan.


__ADS_2