
"Bagaimana Rey, apa sudah ada berita tentang keberadaan Ningsih?" tanya Naina saat melihat Reynolds kembali ke rumah.
"Belum nona, kami tidak mempunyai petunjuk apapun"
"Kenapa dari kemarin aku tidak memikirkannya, sekarang apa yang harus kita lakukan?"
"Polisi akan memperluas pencarian" Reynolds terlihat lesu lalu izin pada Naina untuk menuju ke kamarnya.
"Dia pasti sangat menghawatirkan keadaan Ningsih, lalu apakah Seno juga sudah mengetahui hal ini? lebih baik aku bertanya kepada ayah Rayhan" batin Naina lalu mengetuk pintu ruangan kerja yang biasanya dipakai oleh Endra ataupun Rayhan.
Setelah mendengar suara ayah mertuanya yang mengizinkan untuk masuk, Naina lalu dengan perlahan membuka pintu, Rayhan sepertinya tahu apa yang akan ditanyakan oleh Naina, karena sebelum Naina bertanya, Rayhan sudah bercerita lebih dulu.
"Ayah sengaja tidak memberitahu pada Seno, biarkan saat ini Seno focus membantu Endra untuk terbebas dari hukuman, kalau dia mengetahui hal ini, tentu saja dia akan lebih memikirkan calon istrinya"
Naina kaget mendengar penjelasan dari ayah mertuanya itu, karena terlihat kalau Rayhan sangat egois, walaupun yang dia pikirkan adalah memang anak kandungnya sendiri, Naina sendiri dilanda kebingungan, karena Endra adalah suaminya, tetapi bagaimana bisa dia mengabaikan kebenaran.
"Ayah,, Endra adalah suamiku selain dia adalah anak ayah, sekarang coba ayah bayangkan, bagaimana rasa kecewa Seno karena terlambat mengetahui hal ini, dia akan kecewa dan bersedih,, lalu apa ayah pikir, nantinya Endra akan senang walaupun dia bisa segera bebas??"
"Nai,, kenapa kamu berfikiran seperti ini? seharusnya kamu lebih memikirkan tentang suamimu dibanding adikmu"
"Sungguh bukan itu maksudku ayah,, aku hanya tidak mau ada penyesalan dari siapapun dikemudian hari,, aku juga sangat merindukan Endra,, aku bahkan terus berkhayal melihat nya,,, apalagi aku tidak di izinkan sama sekali untuk datang melihatnya" Naina menahan air matanya yang hampir mengalir.
"Endra tidak mau kamu datang ke sarang penjahat,, Endra sangat menyayangimu, mungkin kalau bisa, dia ingin menyembunyikan dirimu dari dunia ini, dan hanya dia yang bisa melihat mu,, Naiii,,, kamu adalah kehidupan Endra, jaga dirimu dengan baik, itu sama saja dengan menjaga Endra"
"Ayah,, kenapa ayah melantur seperti ini?? apa yang sebenarnya sekarang terjadi pada Endra?!" Naina terlihat panik karena ada sesuatu yang terasa janggal.
Tiba-tiba Rayhan menangis tersedu-sedu, Naina semakin panik, dan walaupun dia belum tau apa kejadian yang sebenarnya, Naina juga ikut menangis.
"Ada apa ayah?,, jangan membuat ku takut" Naina berusaha menahan tangisannya dan menghapus air matanya.
"Endra kritis di rumah sakit, dia diracun seseorang saat kemarin selesai persidangan"
"Aaappaa??" Naina sangat terkejut dan langsung berlari ke luar ruangan dengan menangis, Naina melihat kunci mobil di atas meja dan langsung mengambilnya.
"Jangan Naiii,, jangan pergi sendirian,, dengarkan ayah dulu, dia melarangmu datang apapun yang terjadi, sesaat sebelum dia meminum racun itu, Endra berkata akan segera pulang dan tidak mau kamu mendatanginya, dia hanya mau kalau dialah yang akan mendatangi mu,, sepertinya dia sudah mempunyai firasat buruk, ayah mohon jangan pergi,, dengarkan apa yang Endra inginkan" Rayhan menghalangi mobil yang dinaiki Naina,
"Kenapa,, kenapa dia begitu jahat,, kenapa aku tidak boleh menemuinya,, apa dia tidak memikirkan perasaanku,, aku sangat merindukannya ayah,, biarkan aku menemuinya" Naina menangis dan meletakkan keningnya diatas stir mobil sambil terus menangis, dia tidak menyangka kalau suaminya sedang menderita.
"Ayah,, kami ini suami istri, seharusnya kami selalu bersama disaat susah maupun senang, apa Endra pikir aku wanita lemah yang akan meninggalkan nya disaat seperti ini" Naina semakin tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
"Naina,, datanglah kesana, tapi jangan sendirian, ayah akan meminta pada Reynolds untuk mengantarkan mu" Rayhan tidak tega melihat kesedihan Naina.
Sebelum di panggil oleh Rayhan, Reynolds telah keluar dari rumah karena mendengar suara tangisan Naina.
"Antarkan nona ke rumah sakit dimana Endra dirawat, setelahnya kamu bisa langsung pergi lagi mencari keberadaan Ningsih"
"Baik ayah" Reynolds lalu meminta pada Naina untuk pindah dari kursi kemudi, Naina menurut dan pindah ke kursi belakang, mereka terdiam selama perjalanan hingga Reynolds mulai menanyakan sesuatu.
"Apa sekarang nona berpihak pada Seno?"
"Apa maksudmu?" tanya Naina tidak mengerti.
"Sepertinya mengetahui kalau Seno juga mencintai Ningsih, membuat nona dan tuan lebih berpihak padanya"
"Kenapa kamu bisa berfikir seperti itu?"
"Aku selalu merasa kalau aku tetaplah pesuruh ayah Rayhan, sementara Seno sudah diterima dengan baik oleh kalian semua"
"Itu hanya perasaan mu saja, kami semua sudah menerima dirimu"
Hening lagi, untuk saat seperti ini memang sepertinya tidak cocok untuk membicarakan masalah ini, Reynolds menyadari kesalahannya, dan tidak berbicara lebih lanjut, apalagi saat dari kaca spion mobil, Naina terlihat begitu sedih karena baru tau kondisi suaminya.
"Nona Naina,, kita sudah sampai"
"Endra ada diruangan apa, dan kamar berapa?,, kamu tidak perlu mengantarkan ku, aku bisa sendiri, langsung saja kamu mencari keberadaan Ningsih,, terimakasih untuk semuanya ya Rey"
"Tapi kata ayah Rayhan, aku harus mengantarkan nona terlebih dahulu, mari ikuti saya"
"Bersikaplah lebih santai padaku, sepertinya umur kita tidak terlalu berbeda jauh, dan panggil saja dengan namaku, jangan ada tambahan lain, seperti Seno memanggilku,, kalau kamu ingin lebih dekat dengan kami,, kamu jangan sungkan, karena kalau kamu sungkan, kamu sendiri yang nantinya akan merasa kalau kami jauh" Naina berbicara sambil berjalan mengikuti Reynolds, dia tau kalau pria yang ada didepannya ini merasa tidak dibedakan, jadi Naina mencoba untuk memberi nya saran.
"Itu tidak sopan?" jawab Reynolds pelan sambil membuka sebuah lift.
__ADS_1
Didalam lift ada banyak orang, termasuk seorang nenek yang tiba-tiba mendekati Naina, Reynolds tentu saja menjadi waspada, karena saat ini Naina berada dalam pengawasan nya, nenek itu bertanya pada Naina tentang Reynolds.
"Dia adalah saudara ku nek, ada apa?"
"Dia tampan, bolehkah kenalkan padaku?"
"Boleh saja, namanya Rey"
Naina memberikan kode pada Reynolds untuk bersalaman dengan sang nenek, awalnya Reynolds ragu tetapi karena Naina terus menyuruhnya akhirnya dia hanya bisa menurut.
"Kamu sangat tampan sekali, nenek punya cucu yang sangat nakal tapi dia sangat cantik, melihatmu sepertinya dia cocok untukmu, kamu pasti bisa membuat nya menjadi anak yang baik lagi"
Bersamaan dengan itu, lift terbuka, Reynolds meminta Naina untuk keluar terlebih dahulu, setelahnya dia mengikuti dibelakangnya.
"Kami pergi dulu nek, oh iya maaf nek, adikku Rey ini sudah mempunyai orang yang dia sukai, hanya saja sebelum janur melengkung apapun bisa terjadi, semoga cucu nenek cepat kembali menjadi anak penurut ya nek" Naina tersenyum lalu keluar dari lift.
"Kenapa nona berkata seperti itu?" tanya Reynolds.
"Yang mana? kamu tidak suka aku panggil adikku?"
"Bukan tidak suka, tapi aku yakin itu tidak serius,, jadi jangan bercanda dengan perasaan orang lain"
Naina tersenyum mendengar ungkapan hati Reynolds, sepertinya pria ini juga sangat kesepian karena tidak mempunyai saudara.
"Mulai sekarang panggil aku Naina saja, sudah biasa bagi seorang adik memanggil nama saja pada kakak kakaknya, jadi atau tidaknya kamu dengan adikku, walaupun kalian tidak berjodoh nantinya, aku akan tetap akan menganggap bahwa dirimu adalah adikku, kamu adalah saudara kami semua, terimakasih atas bantuannya selama ini"
"Apa nona yakin kalau aku tidak akan berjodoh dengan Ningsih?"
"Dengarkan aku Rey,, aku tidak pernah tau siapa jodoh adikku Ningsih,, mungkin saja dia bukan jodoh mu ataupun Seno, kalian hanya harus berusaha dulu, aku tidak lebih mendukung salah satu dari kalian, karena saat ini perasaan kalian sama, yang aku harapkan hanya kebahagiaan kalian semua"
Reynolds berhenti sebelum sampai di sebuah pintu ruangan dengan banyak penjagaan, Naina yakin kalau disanalah suaminya berada.
"Terimakasih Naina"
"Sama-sama,, cepat lah pergi, aku bisa masuk kesana sendiri"
Reynolds lalu berbalik dan pergi setelah melihat Naina dengan mudah masuk kedalam ruangan, walau polisi sempat menanyakan siapa dirinya, tetapi pengawal Endra yang beberapa juga ada disana, memberi tahu siapa Naina.
Naina tidak kuasa menahan air matanya melihat suaminya yang biasanya sangat kuat itu, sekarang harus terbaring tidak sadarkan diri, Naina berjalan pelan mendekati Endra lalu duduk di kursi yang ada di samping ranjang, Naina menggenggam tangan suaminya lalu menciumnya.
"Sayang,, kenapa kamu ada disini sendirian? kenapa kamu tidak membawaku,, kamu begitu jahat tidak membiarkan ku menemui mu, apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi, kenapa membiarkan ku merindukanmu" Naina menangis terisak.
⭐ Flashback ⭐ Saat persidangan kasus Endra ⭐
Sebelum sidang selesai, pengacara Anton meminta waktu untuk beristirahat, Endra tanpa sengaja melihat gerak-gerik mencurigakan dari seseorang yang hadir dalam persidangan itu, tapi karena apa yang bisa dia lakukan sebagai terdakwa menjadi sedikit tidak leluasa untuk memberikan perintah pada para pengawal nya ataupun Suseno yang juga ada di ruangan itu.
Karena waktu nya istirahat, jadi Suseno bisa mendekati Endra, dan menanyakan apa yang dipikirkan oleh Endra, sepertinya Suseno paham dengan apa yang dipikirkan oleh Endra.
"Kalau terjadi apapun padaku,, jangan pernah biarkan Naina melihat ku, jangan pernah juga biarkan dia melihat ku dalam keadaan seperti ini,, setelah selesai semuanya, aku yang akan segera pulang, jaga dia lebih ketat lagi"
"Kenapa itu yang kamu pikirkan, seharusnya kamu focus pada persidangan ini, sekarang Naina aman dirumah ayah"
"Ingat dengan apa yang aku katakan, pengacara yang kamu pilih memang yang terbaik, tetapi kita juga tau kalau Anton mempunyai banyak orang dalam di kepolisian" ucap Endra sambil berbisik.
Endra mencari minum karena dia merasa haus, tetapi Suseno dilarang oleh polisi untuk memberikan minuman pada Endra, hingga ada polisi yang datang membawakan minum untuk Endra, tanpa pikir panjang, Endra langsung meminumnya.
__ADS_1
Setelah menghabiskan satu botol minum, karena dia benar-benar sangat kehausan, tidak lama kemudian, Endra kejang dan mengeluarkan banyak busa di mulutnya.
Persidangan menjadi terhenti karena hal itu, pelayanan kesehatan di tahanan tidak sanggup menangani kondisi Endra, disaat genting karena Endra semakin kritis, datang dokter pribadi Endra yang sebelumnya sudah di minta untuk bersiap dengan kemungkinan apapun.
"Kenapa aku begitu kecolongan, aku pikir mereka akan melakukan ini di luar persidangan, dan aku sangat ingat kalau yang memberikan minuman pada Endra adalah seorang polisi, berarti benar kecurigaan Endra tadi, disini semua polisi sudah terlibat" batin Suseno geram.
Untung saja nyawa Endra masih bisa diselamatkan, dengan kondisi Endra, dia mendapatkan izin untuk dirawat diluar Lapas, walau dengan banyak polisi yang harus selalu mengawasinya.
"Aku harus mencari cara untuk mengungkapkan ini semua, polisi penghianat negara, dengan membela yang salah dan menerima suap, harus segera di musnahkan" Suseno terlihat sangat marah melihat kondisi Endra.
⭐ Flashback End ⭐
Naina terus mengajak suaminya untuk berbicara, walau dia tau suaminya tidak akan merespon, tetapi dia berusaha untuk terus menyadarkan Endra.
Saat Naina sedang berbicara mengingat masa lalunya dengan Endra dan meletakkan telapak tangan Endra ke pipinya, Naina di kagetkan dengan kedatangan Atika yang tiba-tiba ada diruangan itu, saat pintu terbuka lebar Naina melihat semua pengawal Endra yang berada diluar telah dikalahkan semua, tapi anehnya para polisi hanya diam.
"Hallo nona Naina sayang, cantikku sayangku,, kamu sangat mencintai nya ya sepertinya? tapi Naina,, aku ingin bertanya sesuatu,, bagaimana caramu membangunkan burung besar itu?? bolehkah aku mencobanya sekali saja"
"Apa kamu gila?!" Naina tanpa sadar berteriak.
"Iya sayang, aku ini sudah gila, aku terus mengingat rintihan dari bibir mu setiap malam, aku juga ingin merasakannya, aku belum pernah bercinta sampai seperti dirimu, aku sangat ingin seperti itu, tolonglah sayangku" Atika sepertinya sudah sangat tidak waras, Naina mencoba menghalangi Atika yang mencoba mendekati suaminya.
"Jangan mendekat pada suamiku,, menjauhlah!!"
"Kamu sepertinya sudah sangat bersemangat sayang, aku sangat suka itu" Atika sudah mulai membuka bajunya lalu menoleh ke arah para pengawal nya.
"Tutup pintu dengan rapat, aku tidak mau gagal lagi kali ini" Atika memberikan perintah kepada para pengawalnya, lalu kembali melihat kearah Naina.
"Karena hanya kamu yang bisa membangunkan burung besar itu, coba bangunkan untukku sayang, atau kalau kamu melawan,, aku akan memberikan tubuh mulus dan cantik mu pada para pengawal ku yang pasti akan memakan mu dengan lahap, pantas saja Anton begitu terobsesi padamu,,, kalau dilihat dari dekat seperti ini, kamu memang sangat cantik dan mulus"
Naina ketakutan dan menggenggam tangan suaminya, apalagi Atika yang semakin mendekat padanya, Naina melihat ke sekeliling nya, begitu banyak pengawal Atika kali ini, lebih banyak dari saat datang menghancurkan toko bunganya.
"Menjauh dari suamiku!!" Naina berteriak dan menendang dada Atika.
"Kurang ajar,, Aldo pegang wanita ini dan lucuti pakaiannya!" Atika memberikan perintah kepada salah satu pengawalnya, tapi belum juga pengawal itu mendekati Naina, Endra bangun dan langsung melindungi Naina.
"Angkat tangan kalian dan tiarap,, kalian sudah terkepung" polisi keluar dari kamar mandi dan pintu juga didobrak dan masuklah banyak polisi.
"Aapppaa ini? apa yang sebenarnya terjadi?" Atika kaget dengan situasi yang jauh berbeda dengan rencananya.
Atika tau kalau Endra tidak begitu parah terkena racun itu, karena itu dosis rendah yang hanya akan membuatnya pingsan sementara karena dialah yang menyiapkannya dan meminta kepada salah satu polisi yang merupakan orang dalam nya Anton untuk memberikan minuman itu untuk Endra.
Atika tau kalau Endra pasti akan dibawa keluar Rutan, dia sengaja merencanakan ini semua, dia juga mudah melakukan rencananya, dibantu para polisi korup yang selama ini membantu Anton.
Sudah dari pagi Atika menunggu kedatangan Naina, dia ingin melakukan hubungan bertiga dengan Naina dan Endra, karena dengan begitu dia pikir akan bisa merasakan milik Endra yang sangat dia idamkan selama ini.
Pengawal Atika tidak gentar dan langsung menyerang para polisi, karena para pengawal itu juga berbekal senjata tajam jadi mereka bisa mengimbangi para polisi, Endra melindungi Naina dari salah satu pengawal Atika yang mendekati nya.
Endra sebenarnya masih sangat lemah, jadi dia sedikit kewalahan, Atika mendekati Naina saat Endra lengah.
Kali ini kemarahan Naina begitu besar, dia mengingat kembali saat Atika mencumbui suaminya yang sedang tidak sadarkan diri, bahkan kali ini, wanita gila ini hendak melakukan hal sama lagi dan bahkan melibatkan nya.
"Beraninya kamu menyentuh suamiku!" Naina langsung menangkis tangan Atika yang hendak menampar nya, Naina memukuli Atika bertubi-tubi di beberapa bagian tubuhnya, hingga wanita itu meminta tolong.
"Maaf kan aku, maafkan aku,, tolong ampuni aku!!"
"Waktu itu sepertinya aku terlalu lembut padamu, sekarang kamu akan tau akibatnya kalau berani mendekati suamiku atau bahkan berani menyentuhnya!" Naina menindih tubuh Atika dan terus menampar wajahnya, kedua tangan Atika dicengkeram erat oleh Naina sehingga wanita gila itu tidak bisa melawan.
"Naina tenang, lepaskan dia!" Suseno mendekati Naina, sementara Endra semakin terpojok, untung saja banyak polisi lain berdatangan untuk membantu, Naina langsung berlari mendekati suaminya setelah Atika dibekuk oleh polisi.
"Aku sudah bilang untuk tidak datang!" Endra sangat khawatir pada Naina dan langsung memeluknya erat, dari awal dia sudah tau kalau ada seseorang yang sedang melakukan suatu rencana untuk nya, dia tidak mau Naina terlibat.
__ADS_1
Para polisi yang dahulu bisa menyembunyikan kesalahannya dan tidak tertangkap karena membantu Anton, saat ini sudah ditangkap semua, dan Atika kali ini tidak bisa kabur lagi, Suseno meminta pada para petinggi kepolisian untuk menangani masalah ini, karena lagi-lagi polisi setempat telah berlaku tidak semestinya layaknya seorang polisi.