Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Akhirnya


__ADS_3

"Katakan kamu menginginkanku" Endra menciumi leher Naina, membuat Naina terpejam merasakan geli tetapi ada rasa yang tidak bisa ditolak oleh tubuhnya, Endra tadi langsung mengikuti Naina dan menahan tangan Naina yang akan membuka pintu.


Endra membalik tubuh Naina yang sedari tadi merapat di pintu, lalu Endra memegang wajah Naina dengan kedua tangannya, memaksa wanita yang dicintainya itu untuk memandang ke arahnya.


"Katakan kamu menginginkan diriku" ucap Endra dengan tatapan matanya yang sendu.


Naina hanya bisa menelan ludah, dia sebenarnya masih belum siap, tetapi mengingat kembali apa yang dikatakan oleh Rania, membuatnya merasa kalau dia sangat jahat pada Endra selama ini, lelaki yang sekarang sudah sah menjadi suaminya itu telah banyak menderita.


Saat Endra mulai melepaskan pegangan tangannya dari wajah Naina, terlihat guratan kecewa di wajah Endra, Naina tiba-tiba mencium Endra dan mengalungkan tangannya ke belakang leher Endra, mereka berciuman lama, Endra lalu mengangkat tubuh Naina dan membawanya berjalan pelan ke arah ranjang.



"Aku tidak akan membiarkan dirimu lepas dariku satu inci pun setelah ini" bisik Endra pada istrinya yang telah berada dalam kungkungannya, Endra begitu menghargai istrinya, dia melakukan penyatuan mereka untuk yang pertama kali dengan penuh kelembutan, setelah foreplay yang lama akhirnya Endra tidak tahan.


"Aaaakkkhhhh!!"


Naina menjerit dan mengeluarkan air mata, dia merasa kesakitan saat Endra memasuki bagian terdalam dirinya, sudah lama dia tidak melakukan hal ini, walau Endra melakukan dengan pelan tetapi entah kenapa tetap terasa sakit, Naina bahkan mencengkeram erat punggung Endra, Endra menciumi wajah istrinya dan menyeka air mata Naina dengan bibirnya.


Endra menjadi tidak tega melihat Naina yang terus menangis, akhirnya dia mencoba untuk melepaskan diri, saat Endra bergerak perlahan mengangkat pinggulnya, Naina menyadari sesuatu.


"Lanjutkan saja" ucap Naina walau matanya masih terpejam, cengkeraman tangannya pada punggung Endra semakin kuat, sebenarnya Endra merasa sakit dipunggung nya karena dia terus terkena cakaran dari kuku Naina, tapi dia menahannya, karena sadar kalau Naina juga merasakan sakit karena dirinya.


Gerakan pinggul Endra yang berputar dan maju mundur membuat Naina merem melek, sepertinya dia mulai menikmatinya, rasa sakit itu berangsur menghilang sedikit demi sedikit, bayangan Roni yang hadir juga terus memudar.


"Kamu yakin aku boleh melanjutkan nya?" bisik Endra ditelinga Naina yang terpejam, Naina membuka matanya dan mengangguk membuat Endra tersenyum senang, Endra langsung melahap bibir Naina dengan tetap menggoyangkan pinggulnya pelan.


"Aaaakkkhhhh,, aaaahhhhhh"


Naina terus merintih, dia merasakan kenikmatan yang semakin menjadi-jadi, Roni tidak pernah seperti Endra memperlakukan dirinya, Roni hanya memuaskan hasratnya sendiri tanpa memikirkan tentang perasaan dan kebutuhan biologis Naina, dulu hanya rasa sakit yang Naina rasakan saat berhubungan bersama Roni.


Berbeda dengan Endra yang terus menerus memberinya kepuasan sebelum Endra sendiri menggapai puncak kenikmatan nya sendiri, ******* dan rintihan Naina terus lolos dari bibir seksinya, membuat Endra semakin bergairah dan bersemangat, cengkeraman tangan Naina berangsur-angsur melemah dan berganti dengan pelukan erat.


"Eennnddrraaa,, Eennnddrraaa,, endrraaaa,, ssaayyyaaang,,, aaakkhhhhh!!" sepertinya Naina telah mencapai puncaknya, Endra menghentikan gerakannya untuk memberikan waktu pada istrinya mengatur nafasnya, dada istrinya terlihat sangat indah di mata Endra, gerakan nya naik turun seirama dengan nafasnya.


"Aaawwhhhh aahhhh!!" Naina membelalakkan matanya saat Endra mengulum buah kembarnya, Naina lalu meremas rambut suaminya untuk berpegangan dari terjangan rasa nikmat yang terus diberikan oleh suaminya, sementara bagian bawahnya sudah kembali digoyang oleh Endra, membuat Naina semakin kuat meremas rambut Endra.


Sudah bermacam-macam gaya dilakukan oleh Endra, dan Naina juga sudah beberapa kali menggapai puncak kenikmatan, tetapi Endra masih terus bertahan, ini adalah pertama kalinya Endra menggunakan pedangnya dengan benar setelah sekian lama, biasanya setelah pedangnya terbangun karena sentuhannya dengan Naina, Endra secara mandiri mengeluarkan nya di kamar mandi ditemani sabun mandi.


Sekarang dia sudah mempunyai tempat untuk mengasah pedangnya dengan lebih baik dan sudah tentu pada tempatnya, saat Endra melihat istrinya yang terlihat sangat kelelahan, Endra tersenyum dan berbisik.


"Katakan kamu menginginkan diriku sayang"


Naina sadar, suaminya butuh pengakuan darinya, Naina mendekap semakin erat tubuh Endra, bibir Naina menciumi telinga Endra dan melakukan gigitan-gigitan kecil yang membuat suaminya itu mempercepat gerakannya karena semakin bernafsu dengan apa yang dilakukan oleh Naina.


"Endra sayang,,,, aaaakkkhhhh,, aku mencintaimu suamiku, hheeemmmm,, aku ingin selalu bersamamu, aku sangat menginginkan dirimu, hanya aku yang boleh menyentuhmu, karena kamu hanya milikku" Naina menggigit pelan telinga suaminya, ucapannya diselingi dengan rintihan, tiba-tiba Naina menggigit sedikit keras telinga Endra, karena dia merasakan semburan hangat dari suaminya yang menyirami rahimnya.


"Aaaauuuuwwww aaakkhhhhh,, Nainnaaa!!!" kata-kata Naina dijawab dengan lenguhan panjang dari Endra.


"Aaagggghhhh,, Eennnddrraaa!!" begitu pula Naina yang mengakhiri kata-kata untuk suaminya dengan merintih panjang, tidak kuasa merasakan kenikmatan yang diberikan oleh suaminya.


Setelah kedua insan itu berteriak berbarengan, mereka masih saling mendekap erat dan saling berburu oksigen disekitar mereka, Endra tidak membiarkan Naina lepas dari dekapannya.


"Katakan lagi" pinta Endra pada Naina.

__ADS_1


"Apa?" tanya Naina tidak mengerti maksud dari ucapan suaminya, dia merasa sangat lemas.


"Katakan lagi atau aku akan melakukannya lagi saat ini juga" Endra lalu berguling dan membuat tubuh Naina berada di atas tubuhnya.


"Sudah sayang, biarkan aku tidur" pinta Naina memelas dan merebahkan kepalanya di dada Endra.


Endra gemas melihat istrinya, lalu menurunkan tubuh Naina kesamping nya,, Endra menyelimuti tubuh mereka lalu memeluk tubuh Naina dan membelai lembut rambutnya.


"Terimakasih sayang, terimakasih Naina sayang,, aku merasa ini mimpi,, atau ini memang hanya mimpi??" Endra menatap intens kearah istrinya yang mulai terpejam karena lelah dan mengantuk.


"Aawwwww!" Endra menjerit karena tiba-tiba Naina menggigit dadanya,, walau tetap terpejam tetapi bibir Naina tersenyum.


"Sakit kan?? itu berarti ini bukan mimpi,, lagipula mimpimu selama ini sepertinya sangat liar"


"Tentu saja, mimpiku setiap malam sangat liar dan selalu liar tetapi satu hal yang harus kamu tau, pemeran utamanya hanya kamu dan selalu kamu, serta selamanya harus kamu" Endra lalu mencium kening istrinya dan membelai rambutnya, mereka tertidur bersama walau hanya untuk sementara, karena Endra terus saja mengganggu tidur Naina.


"Saaayyanngg,, suuuddaahhh,," Naina merintih di pagi harinya karena Endra sudah kembali menindih tubuhnya, Endra gemas dengan wajah istrinya yang memajukan bibirnya.


"Iya sayang,, aku hanya membangunkan dirimu, ayo kita sarapan dahulu, sudah hampir siang, kamu mau sarapan apa?" tanya Endra sambil membenarkan rambut istrinya.


"Apa saja" jawab Naina singkat dengan matanya yang masih terpejam.


"Kamu tidak bertanya,, aku mau sarapan apa?"


"Tidak,, aku tidak mau tau,, ayo bangun" Naina berusaha mengangkat tubuhnya untuk bangun dan mendorong tubuh suaminya yang berada diatas nya, tetapi Endra kembali melahap dada Naina yang seolah disodorkan kepadanya, padahal Naina berusaha bangun, Naina memakai piyama kemeja yang terbuka kancing atasnya, jadi dengan mudahnya Endra kembali melahap buah kembar milik Naina.


"Aaaakkkhhhh!!" Naina kembali terlentang karena dorongan Endra pada dadanya.


"Sayang,,, kaaa,, kaatanya mau sarapan?" Naina sedikit tergagap karena merasakan lidah suaminya yang tidak mau lepas dari dadanya.


"Sehat sayang,, ayah sudah sangat tidak sabar bertemu denganmu" Endra menciumi perut istrinya setelah dia selesai menyirami kebun istrinya, Naina menggigit bibir bawahnya, dia merasa ragu karena dia sudah tidak muda lagi.


"Kenapa??" Endra melihat kearah Naina dan dia menyadari perubahan wajah istrinya.


"Aku sudah tidak muda lagi, aku tidak tau,, apakah aku masih bisa untuk mengandung lagi atau tidak"


"Nai sayang,,, kamu itu belum tua, kalau kamu orang Korea Selatan, kamu itu belum tentu sudah menikah walau sekalipun"


"Aku bukan orang Korea Selatan"


"Kita hanya harus terus berusaha, kita juga sudah mempunyai dua anak yang cantik-cantik, jadi kamu jangan terlalu memikirkan tentang hal ini, ayo bangun" Endra menggendong tubuh istrinya ke kamar mandi, Endra sadar kalau Naina pasti kesusahan berjalan, karena tadi hanya untuk duduk dan bergeser sudah terlihat kalau Naina menahan rasa sakit.


"Aku bisa sendiri" Naina menolak Endra yang kembali ingin menggendong nya keluar dari kamar mandi, tetapi Endra tidak memperdulikan penolakan istrinya, Endra yang sangat bahagia selalu berusaha untuk dekat dengan istrinya, bahkan saat Naina hanya menonton televisi untuk mengisi waktu, Endra tetap ada disisinya dengan terus menggerayangi tubuh Naina.


"Apa kamu bosan padaku? kenapa kamu lebih memilih menonton televisi daripada bermain denganku?" Endra merajuk karena dia merasa tidak diperhatikan.


"Sayang, kita baru melakukannya satu jam yang lalu, dan bahkan tadi malam juga kamu tidak membiarkan ku tidur,, apa kamu tidak capek? nanti kamu yang akan bosan kalau terus seperti ini" Naina meremas lembut rambut suaminya yang berada di pahanya karena sedang tiduran, Endra kemudian memiringkan tubuhnya dan menyembunyikan wajahnya di perut Naina lalu menciumi perut istrinya itu, Endra melakukan itu karena dia berharap akan segera hadir Endra dan Naina junior.


"Kenapa aku bosan, aku sangat menyukainya, aku sepertinya sudah ketagihan dengan tubuhmu"


"Hal yang berlebih selalu tidak baik, tetapi,,," Naina tidak melanjutkan ucapannya sehingga membuat Endra penasaran dan bangun untuk memandangi wajah Naina, mereka berpandangan, Naina lalu membelai lembut wajah suaminya.


"Terimakasih" hanya itu yang Naina ucapkan, dia bahagia karena bisa melupakan traumanya dan bisa sepenuhnya melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.

__ADS_1


"Maafkan aku karena kamu harus menunggu selama ini,, terimakasih membuatku melupakannya" Naina menitikkan air matanya.


Endra ingat dengan apa yang dikatakan oleh Rania sebelum kepulangannya ke rumah suaminya diluar negeri.



Flashback



"Buatlah dia nyaman, dan bersikap lembut lah,, Naina mengalami trauma saat berhubungan badan, dia mengalami kekerasan di pernikahan nya yang dulu, itu yang membuatnya seperti itu, kakak harus lebih bersabar lagi, yang jelas dia seperti itu karena masa lalunya, bukan karena dia tidak mencintai kakak, aku mendengar dari dokter yang menangani kakak,, sudah lama sekali kakak tidak berkunjung ke dokter itu tetapi sekalinya berkunjung kakak membawa masalah baru, kakak jangan lupa,, dokter itu adalah sahabat dekatku, jadi dia menceritakan nya padaku" bisik Rania yang mengambil kesempatan berbicara pada Endra saat Naina terlihat serius berbicara dengan salah satu tamu yang sepertinya klien penting nya atau mungkin pelanggan salon kecantikannya.



Endra memang dulu sering konsultasi tentang masalah impoten nya pada seorang dokter, tetapi karena dia sudah sembuh, dia tidak pernah mengunjungi dokter itu lagi, karena memang dia sangat sibuk, tetapi sebelum pernikahan kemarin, saat Endra tidak pulang kerumah, itu karena Endra melakukan konsultasi pada dokter dan dia menginap dikantornya memang untuk melakukan pekerjaan penting karena dia akan mengambil cuti panjang setelah pernikahan nya, walau dia berbohong mengatakan dia diluar kota, tetapi dia tidak bohong masalah bekerja, karena dia takut kalau Naina akan menyusul dan mencari nya kalau dia tidak berbohong.



Endra kembali berkonsultasi dengan dokter karena dia bingung dengan Naina yang terus saja menjerit dan menangis saat dia akan melakukan penyatuan.



Sebenarnya dokter juga bingung dengan kondisi Naina karena dokter tidak mengetahui kondisi Naina, untung saja Rania sebagai adik sepupu Endra yang sangat baik mencari solusi dan mencari tau penyebab Naina seperti itu.



"Kakak,, aku sangat beruntung sekali mempunyai kakak sepertimu, bahkan seumur hidup pun aku tidak akan bisa membalas semua kebaikan kakak, sekarang aku sudah hidup layak dan bahagia, tetapi aku tidak akan melupakan semua jasa dan kebaikan kakak, jadi kalau kakak ada masalah, segera hubungi aku" ujar Rania lalu mengusap bahu kakak sepupunya itu.



Rania lalu pamit karena pesawatnya sudah hampir berangkat saat acara pernikahan Endra selesai.



Flashback End



💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙💙


"Lupakan semuanya sayang, kamu hanya harus ingat padaku, hanya harus terfokus pada ku saja,, jangan lagi memikirkan tentang hal yang lainnya, aku juga sembuh karena dirimu, kita saling menyembuhkan dan saling melengkapi, aku sangat bergantung padamu, jadi aku mohon jangan menolak diriku lagi atau berniat pergi" Endra mendekap tubuh Naina dengan erat, mereka berpelukan seolah tidak memperdulikan bahwa hari sudah semakin siang.


"Ayo kita cari makan,, kita butuh tenaga untuk terus berada didalam kamar ini" ucap Endra kemudian lalu membelai lembut rambut istrinya.


"Kenapa kita akan terus berada dikamar, kita harus pergi keluar, apalagi sunset di pantai pasti sangat indah" Naina membuka matanya yang sedari tadi terpejam merasakan belaian lembut dari suaminya, hotel mewah yang mereka tempati dibelakangnya terdapat pantai yang indah.


"Tidak ada yang lebih indah dari dirimu" ucap Endra lalu mengecup bibir Naina, mereka berpandangan sebelum bangun.


"Aaaakkkhhhh!" Naina masih merasa sakit saat berjalan, Endra benar-benar sangat garang, melihat istrinya yang kesakitan, dengan tangan kekarnya Endra langsung menggendong Naina, dan bertanya istrinya itu mau kemana.


"Aku ingin ke balkon, melihat pemandangan"


Mendengar ucapan istrinya, Endra langsung menggendong Naina menuju balkon, mereka melihat pemandangan pantai yang sangat indah walau matahari masih terik, Endra memeluk Naina dari belakang, matanya menangkap pemandangan seorang anak kecil bermain pasir bersama ayahnya, dia tersenyum dan ingin segera bisa dikaruniai momongan supaya bisa bermain bersama anaknya secepatnya, Endra lalu terus mempererat pelukannya.

__ADS_1


"Aku harap tidak akan ada masalah apapun lagi" batin Endra lalu menciumi pucuk kepala Naina yang berada dalam pelukannya.


__ADS_2