Naina & Ningsih

Naina & Ningsih
Sekertaris Baru Endra


__ADS_3

"Sayang, kenapa sangat lama??" Endra kembali masuk kedalam kamar saat Naina tidak kunjung keluar dari kamar, tetapi betapa kagetnya Endra karena tidak menemukan istrinya didalam kamar, saat melihat di dalam kamar mandi, istrinya juga tidak ada disana.


"Bi, bibi,, apa bibi melihat Naina?" tanya Endra masuk kedalam dapur dan bertanya kepada bi Wulan.


"Tidak lihat den,, dari tadi bibi ada di dapur"


Endra langsung melihat kedalam ponselnya untuk melihat dimana Naina, terlihat sepuluh menit yang lalu Naina keluar dari dalam kamar dan terlihat sangat tergesa-gesa, Naina tidak memakai mobil baru yang dibelikan oleh Endra, tetapi terlihat berlari keluar dari pagar dan setelahnya tidak terlihat lagi.


"Ada apa ini sebenarnya?!" Endra langsung berlari keluar dan bertanya pada satpam dirumahnya, tetapi kedua satpamnya juga tidak mengetahui kemana perginya Naina karena Naina terlihat tidak seperti biasanya yang menyapa mereka tetapi Naina terlihat terlalu focus berjalan dengan cepat saat melewati para satpam itu.


"Seno, apa kamu tau siapa yang menjaga rumahku, cepat hubungi dia dan tanyakan apa Naina dalam penjagaannya?!" Endra panik dan langsung menelepon Suseno karena dia tidak mengetahui jadwal siapa saja pengawal yang bertugas menjaga kediaman mereka dari jauh.


"Ada apa" tanya Suseno


"Naina pergi, tanpa berpamitan, ini pertama kalinya dia pergi dari rumah ini, cepat cari tau!!" Endra langsung mengambil kunci mobilnya untuk segera menuju ke salon kecantikan milik Naina.


"Apa dia marah karena aku melarangnya bekerja, atau apa dia marah karena kekasaranku tadi?" gumam Endra dalam perjalanan, dia menyesal karena tadi tidak bisa menahan nafsunya dan sempat menyakiti Naina.


Endra sampai di salon kecantikan milik Naina tetapi istrinya tidak ada disana, Endra bertambah kebingungan dan panik, sementara Suseno tidak kunjung bisa menghubungi pengawal yang bertugas hari ini.


"Seno,, cepatlah!!" teriak Endra kembali menelfon Suseno.


"Tadi pagi terjadi kekosongan pengawal karena akan dilakukan pergantian pengawal, dan tepat saat itu sepertinya Naina pergi, kalian ini pengantin baru kenapa sudah seperti ini?" ujar Suseno.


Endra tidak menjawab hingga Rayhan menelepon nya, tadi saat Rayhan keluar dari kamarnya dan berniat sarapan bersama sebelum pulang kerumahnya, dia tidak menemukan Endra maupun Naina dan dia sangat kaget mendengar berita dari bi Wulan yang terlihat panik dan menjelaskan bahwa Naina menghilang.


"Endra, didalam cincin pernikahan yang dipakai Naina terdapat alat pelacak, ayah akan kirimkan alamat Naina sekarang padamu, maaf karena ayah baru mengatakannya, tadinya sebelum pulang kerumah ayah baru akan mengatakannya, dulu ayah menyimpan alat pelacak itu saat mamamu sering menghilang karena mengetahui kondisimu, untung ayah tidak membuangnya"


Endra lega mengetahui hal itu dan langsung bergegas mencari keberadaan Naina.




"Nona Naina,,, atau haruskah saya memanggil anda dengan nyonya Endra Prasetya yang terhormat?" ucap seorang wanita pada Naina disebuah kedai kopi.



"Tidak perlu basa-basi, apa maumu?" tanya Naina langsung pada intinya.



"Baiklah, sepertinya nona sangat tidak sabaran,,, nona pasti sudah melihat video itu kan? apa terlihat sangat panas?,,, apa nona begitu cemburu dan marah sehingga nona langsung berlari ketempat ini?"



"Itu video lama bahkan saat aku belum mengenalnya, untuk apa aku marah atau cemburu?? sekarang serahkan semua videonya" jawab Naina mencoba bersikap santai agar tidak terlihat perasaannya.



"Nona,,, nona,,, nona,, apakah nona juga salah satu dari kita? sepertinya nona tidak terlalu terkejut dengan video itu?" wanita itu kegirangan setelah menebak dan tertawa menyeramkan saat melihat reaksi Naina.



"Ahahaha, ternyata nona adalah salah satu dari kita semua, aku tidak perlu sungkan berarti, aku pikir kamu adalah nona terhormat yang tidak tau apapun,, bagaimana nona?? enak banget kan permainan jarinya??"



"Dasar menjijikkan!!" teriak Naina mendengarnya, dia kembali terngiang dengan video yang dikirimkan oleh wanita itu, dimana Endra terlihat sedang bermain dengan milik wanita itu yang terlihat berdiri di tembok menggunakan jarinya, sementara Intan sudah tentu sedang berusaha untuk membangunkan pedang milik Endra.



"Tidak perlu malu-malu,, walau miliknya tidak berfungsi, tetapi mulut dan jarinya sungguh sangat lihai, tetapi aku sadar itu tidak akan memuaskan, lihat saja Intan yang menjadi gila dan mencari pelampiasan nafsu diluar, kamu juga pasti akan segera melakukan hal yang sama"



"Aku tidak akan berbasa-basi, cepat serahkan video itu!!" Naina kembali berteriak dan sudah muak dengan omong kosong wanita itu, dia tadi segera datang karena pengirim video itu mengancam akan menyebarkan video itu kalau Naina tidak segera datang.



Sepertinya pada awalnya, wanita itu hanya ingin memeras Naina, tetapi dia tidak menyangka kalau Naina juga pernah masuk kedalam kamar gila.



"Suamimu itu memang sangat kaya raya, mungkin itulah yang membuat dirimu mau menikah dengannya walau tau kondisinya, aku hanya tidak menyangka kalau Endra memilihmu sebagai istrinya, kapan kamu berencana menguasai seluruh hartanya??"



"Apa maksud mu?!" Naina semakin tidak sabar mendengar ucapan dari wanita itu.



"Untuk apa lagi kamu menikahinya kalau bukan untuk itu, tidak perlu menutupinya, tetapi karena sekarang aku sudah mengetahuinya maka kamu harus berbagi denganku"



Sepertinya wanita itu merubah rencananya, yang awalnya hanya ingin memeras Naina tetapi sekarang ingin lebih.



"Jangan kuasai sendiri, kita berasal dari dunia yang sama, kamu hanya beruntung mendapatkan nya hanya kamu lebih cantik sedikit dariku, lain kali kita bisa bermain bersama dengan nya supaya lebih nikmat" bisik wanita itu yang telah mendekati Naina dan berusaha menjilat telinga Naina.


__ADS_1


"Dasar menjijikkan" Naina mendorong wanita itu karena sangat risih dan tidak suka tindakan dari wanita itu.



"Sekarang katakan berapa yang kamu mau, biar semua segera selesai!!" Naina sudah tidak sabar lagi dan bangkit dari duduknya, tetapi tiba-tiba datang wanita-wanita lain yang berpakaian seperti wanita itu, berpakaian seksi dipagi hari yang dingin ini.



"Kami bekerja membanting tulang setiap malam, sementara wanita seperti dirimu yang berasal dari dunia yang sama bisa enak-enakan tidur dirumah mewah dan bergelimang harta,,, ini sungguh tidak adil, jadi aku sudah menganti rencana ku,, awalnya aku hanya ingin memeras mu tetapi sekarang kita harus bekerja sama menguasai seluruh hartanya, sesama teman kita harus saling membantu bukan?" ujar wanita itu dan kembali mendekati Naina.



"Ini jalan yang kalian pilih sendiri, dan asal kamu tau,, aku bukan salah satu dari kalian" jawab Naina.



Mendengar jawaban dari Naina membuat wanita itu tertawa dan diikuti oleh teman-temannya yang juga tertawa.



"Kamu sudah sangat sok sekali ya mentang-mentang sudah jadi nyonya, tetapi kamu harus ingat dari mana asalmu!!" wanita itu menampar Naina.



"Jangan tidak tau diri dengan mengatakan omong kosong itu, kita ini tetap saja dianggap sampah oleh masyarakat, walau mungkin sekarang kita berbeda nasib, tapi kita tetap berasal dari dunia yang sama, jadi jangan saling merendahkan" wanita itu mendorong tubuh Naina hingga membuat Naina sedikit terdorong, Naina masih mencoba untuk bersabar karena dia mengingat ancaman wanita itu yang akan menyebarkan video itu.



Naina tidak mau masalalu Endra harus terbuka secara tidak hormat, lagipula sekarang Endra sudah sembuh, tetapi apa orang akan percaya, dan lagipula zaman sekarang, orang-orang sangat menyukai berita yang diluar batas dan nalar manusia walau belum diketahui kebenarannya.



Naina tidak mau nama baik suaminya tercoreng, dia juga tidak mau kalau sampai Rayhan melihat hal itu, yang bisa saja mempengaruhi kesehatannya, walau Rayhan sudah mengetahui kondisi Endra tetapi pasti tidak tahan melihat video itu.



"Untuk saat ini berikan kami uang jajan saja terlebih dahulu, setelahnya aku akan menghubungi mu lagi untuk rencana selanjutnya" ucap wanita itu mendekati Naina dan memegang tangannya.



"Lepaskan!!" teriak Naina tidak suka disentuh oleh wanita itu yang dia bahkan tidak tau siapa namanya.



"Kurang ajar, kamu berani ya!" wanita itu marah lalu berniat kembali menampar Naina, tetapi kali ini Naina melawan dan memegangi tangan itu, dengan kuat Naina mendorong tubuh wanita itu dengan kuat, karena terjadi keributan pemilik kedai itu langsung mendekat dan mengatakan untuk tidak ribut karena bisa membuat pengunjung lain yang akan datang menjadi ketakutan.




Endra sudah sampai di dekat tempat Naina berada tetapi dia tidak melihat keberadaan Naina, karena pintu kedai sudah tertutup, hingga tiba-tiba dia mendengar suara barang pecah dan teriakan.



Endra langsung mendobrak pintu dimana terdengar keributan karena dia yang panik sudah tidak peduli salah tempat atau tidak, yang jelas dia sangat khawatir terhadap Naina, lagipula arah keberadaan Naina memang didalam kedai kopi yang tertutup itu.



Endra membelalakkan matanya saat melihat adegan didalam kedai kopi itu, Naina terlihat menarik rambut salah satu wanita, sementara wanita lain berada dibawahnya dan diduduki oleh Naina, tangan Naina mencekik leher wanita dibawah nya itu.



"Sayang,,,, apa yang terjadi?!!" Endra langsung berlari ke arah Naina, sementara para wanita itu langsung mundur saat Naina melepaskan mereka.



Naina merapikan rambut dan pakaiannya saat Endra semakin mendekati nya, Naina menyuruh Endra untuk keluar karena ini masalah wanita.



"Siapa mereka?? kenapa sepagi ini kamu sudah menjadi preman?" tanya Endra yang terus memeriksa Naina karena takut istrinya kenapa-napa.



"Apa kamu terluka?? apa mereka menagih hutang padamu? katakan padaku berapa hutangmu, aku akan membayar lunas, jangan pergi lagi tanpa sepengetahuan ku, kamu membuat ku begitu ketakutan" Endra langsung memeluk Naina dengan erat sambil melihat marah kearah para wanita yang sudah acak-acakan penampilannya dibuat oleh Naina.



"Katakan apa mau kalian dan jangan ganggu lagi istriku!!" teriak Endra pada para wanita itu, kelihatan nya Endra tidak mengenali mereka walaupun mereka pernah masuk kedalam kamar gila.



"Sayang, sungguh aku tidak berhutang apapun, aku akan segera menyelesaikannya, sekarang kamu tunggulah diluar" ucap Naina menenangkan Endra tetapi suaminya itu tentu saja tidak mendengarkan.



"Seno, urus mereka dan jangan biarkan mereka mengganggu Naina lagi" Endra lalu membawa Naina kedalam mobil.



"Apa kamu yakin tidak ada yang terluka?" tanya Endra kembali setelah memakaikan sabuk pengaman pada Naina.


__ADS_1


"Apa yang bisa terjadi padaku, mereka bukan lawan dariku, kamu juga lihat sendiri mereka yang aku habisi, kenapa kamu datang? kalau tidak aku pasti sudah menjadikan mereka perkedel"



"Seram sekali istriku ini,, tapi sayang,, tolong jangan lakukan hal seperti ini lagi, katakanlah padaku kalau ada masalah apapun itu, jangan bertindak sendirian,, kau membuatku ketakutan, aku mohon jangan pergi lagi tanpa sepengetahuan diriku" ucap Endra lalu mencium kening Naina, dia sangat lega karena istrinya sudah ditemukan dalam kondisi yang baik-baik saja.



Endra membawa Naina ke kantor perusahaannya karena dia sudah sedikit terlambat untuk melakukan meeting dengan klien penting, Naina sebenarnya menolak dan bisa pulang sendiri tapi Endra melarangnya karena tidak mau kalau sampai Naina pergi lagi.



"Tidak sayang, aku tidak akan pergi lagi kalau tidak ada kepentingan, atau biarkan aku pergi kesalon sebentar saja, aku tidak tau disini mau melakukan apa"



"Jadi sekertaris ku mulai sekarang, lagipula kamu belum menceritakan kenapa kamu tadi pergi tanpa berpamitan, dan sebenarnya siapa para wanita itu? atau mereka saingan bisnis mu?" ujar Endra lalu membenarkan rambut istrinya yang berantakan karena tadi selesai berantem.



"Aku tidak mau jadi sekertaris mu, dan mereka bukan saingan bisnis ku"



"Lalu siapa mereka?? jangan membahayakan dirimu, tadi kamu bisa menghadapi mereka, bagaimana kalau nanti nya mereka kembali lagi dengan lebih banyak bantuan? pokoknya mulai sekarang kamu hanya boleh pergi bersamaku"



Naina tidak mungkin menjelaskan siapa mereka pada Endra, karena Naina tau kalau suaminya pasti akan mengingat lagi kenangan buruknya bersama dengan Intan, Naina yang sudah mengerti kondisi Endra kenapa sampai melakukan hal itu, Naina tidak merasa benci ataupun cemburu, karena semuanya sudah lewat, Naina menerima Endra apa adanya karena Endra juga sanggup menerima dirinya apa adanya.



Naina hanya sempat melemparkan ponselnya karena jijik melihat adegan itu, dan juga merasa kasian dengan Endra, Naina menggigit bibir bawahnya dan tidak bisa menjawab apapun pertanyaan Endra, hingga tanpa sadar mereka sudah sampai ke perusahaan Endra.



Naina baru pertama kali datang kesana, perusahaan itu tidak kalah besar dengan perusahaan Endra sebelumnya, Naina melihat kesana-kemari untuk melihat situasi, para karyawan Endra membungkukkan badannya saat Endra melewati mereka.



"Aku tidak nyaman disini, izinkan aku pulang" ucap Naina saat mereka sudah masuk kedalam ruangan kantor Endra, tetapi suaminya itu tidak mendengarkan dan langsung menarik Naina kedalam pangkuannya.



"Aaakkkhh" Naina kaget karena tadi dia sedang serius melihat-lihat foto yang terpasang di dinding.



Naina melihat kearah meja kerja Endra, disana ada foto pernikahan mereka dan fotonya saat sedang tertidur, persis seperti foto dalam wallpaper ponsel Endra, Naina mengambilnya dan memintanya untuk diganti.



"Aku tidak mau, aku sangat suka melihatnya saat aku bekerja, itu membuatku bersemangat untuk segera menyelesaikan pekerjaan untuk segera bisa tidur denganmu" bisik Endra sensual dan langsung \*\*\*\*\*\*\* bibir Naina.



"Tuan,, rapat akan sege,,," Suseno kaget melihat adegan yang dia lihat dan langsung kembali menutup pintu, Suseno sudah biasa tanpa mengetuk pintu ruangan Endra tetapi dia tidak tau bahwa kali ini kondisinya sudah berbeda, apalagi saat Naina sedang bersama Endra.



"Sayang, Seno memanggil mu" ujar Naina setelah melepaskan ciuman Endra.



Endra menarik tangan Naina untuk mengikutinya keluar dari ruangannya untuk menuju ruang rapat, Endra mengambil berkas laporan di mejanya lalu memberikan pada Naina.



"Bawa ini sekertaris cantikku, pulang bekerja aku akan memberikan bonus padamu" bisik Endra sesaat sebelum membuka pintu ruangan rapat.



Naina sedikit canggung dengan situasi yang ada didalam ruangan, semua tidak dia kenali kecuali Endra dan Suseno, Naina lalu duduk di kursi pojok ruangan karena semua kursi sudah terisi, dan tidak lupa sebelumnya dia menyerahkan berkas yang sedang dia pegang pada suaminya.



Rapat dimulai, klien Endra sepertinya sangat mengagumi Endra karena terus saja memperhatikan Endra saat sedang berbicara, hingga tidak terasa rapat telah selesai.



"Sekertaris tuan kenapa dari tadi hanya diam? dia sangat cantik,, apakah tuan sengaja tidak memberinya banyak pekerjaan karena hal itu?? aku dengan anda sudah menikah,, tetapi tetap saja ya,, wanita cantik harus selalu menemani,, tapi aku juga cukup cantik,, bisakah kita makan siang bersama?" ujar klien Endra sambil membereskan berkas-berkas nya, dan dengan sengaja sedikit menurunkan belahan baju di dadanya.



Naina menutupi keterkejutannya dengan membuka ponselnya karena dia tidak mau mengacaukan kerja sama suaminya.



"Maaf nyonya, ini sekertaris baru saya, jadi dia belum paham apa yang harus dia lakukan" jawab Endra dan sedikit menganggukkan kepalanya untuk memberi hormat dan berniat untuk berpamitan tanpa menerima ataupun menolak tawaran makan siang bersama.



"Apakah tuan yang akan menentukan dimana kita akan makan siang? baiklah tuan Endra,, kali ini aku membiarkan tuan yang mengaturnya" ucap wanita itu yang merasa Endra menyetujui ajakannya karena Endra tidak menolak.

__ADS_1


__ADS_2