
Mayong mengangkat tubuh istrinya. Penampilan sudah tidak dia perhatikan lagi. Mayong menuju kamar atas, melewati aula resepsi. Ayah Abraham yang melihatnya segera menyusul Mayong ke lift. "Maya kenapa?" Ayah Abraham ikut cemas. "Pingsan di toilet Yah. Padahal aku tadi bersamanya, tapi cuma menunggunya di depan toilet" jelas Mayong. "Dia bilang, mual sekali perutnya. Tapi tak tau kenapa kok terus pingsan" Mayong dengan kecemasannya. Maya diletakkan di atas tempat tidurnya. Mayong mengambil minyak angin dan mengoleskan ke hidung, dan telapak kaki istrinya Maya. "Ayolah sayang, jangan buat aku cemas" Mayong memijat-mijat kaki istrinya. Terlihat sedikit pergerakan kaki Maya, "Di mana ini?" ucap Maya lirih. "Apa yang kau rasakan nak?" ucap Abraham dengan penuh kesabaran. "Mual banget Yah, tadi rasanya pusing banget waktu di toilet" jelas Maya. "Sudah makan tadi?" Abraham memperjelas. "Sudah tapi keluar semua Yah".
Abraham yang melihat putrinya nampak pucat, "Mayong, tolong ambilkan tas kecil di kamar ayah" pinta Abraham. "Kamu bawa ke sini ya" lanjut Abraham. "Tapi Maya nggak kenapa-napa kan Yah?" Mayong belum reda rasa cemasnya. "Nggak apa-apa, cuma sedikit dehidrasi aja dia" jelas ayah Abraham. Mayong berlalu mengambil barang yang diminta mertua. Sekembalinya Mayong ke kamar, "Mayong tolong kau pegang lengan kiri Maya ini" ulas ayah Abraham. "Seperti ini" Abraham mencontohkan posisi menggenggam. "Kau siap nak?" Abraham menoleh ke Maya. Maya mengangguk. "Ayah mau ngapain?" selidik Mayong. Tangan Mayong yang sedang menggenggam lengan istrinya dipukul pelan ayah Abraham. "Mau ku infus. Sudah ikut saja apa kataku" tukas ayah Abraham sedikit gregetan. Maya hanya tersenyum melihat interaksi ayah dan suaminya itu. Infus sudah tertancap di lengan kiri Maya. "Sudah biarkan istrimu istirahat. Ayo barengan aja turun" ajak Ayah Abraham turun. "Nggak, aku nungguin istriku saja" tolak Mayong. "Nak, terapi seperti biasa ya. Ayah turun dulu" Ayah Abraham berlalu keluar. "Sayang, kamu susul ayah sana gih. Raja takutnya rewel" pinta Maya. "Beneran nggak kenapa-napa? Aku takut kamu pingsan lagi" tolak Mayong. "Kasihan Raja yank, aku sudah nggak apa-apa kok" ucap Maya. "Baiklah, aku turun ke aula dulu. Kalau ada apa-apa cepat telpon ya" Mayong mengecup kening istrinya. Bumil sedang butuh istirahat, hari-hari terakhir ini walau tak banyak Maya juga membantu mama Clara mempersiapkan acara buat Bara. Ditambah gempuran Mayong semalam. Mayong hanya terkekeh mengingatnya, sebenarnya Mayong juga merasa bersalah untuk saat ini terlalu memforsir istrinya. Kalau ayah tau, mungkin aku sudah ditimpuknya dari tadi. Pikir Mayong.
__ADS_1
Mayong berjalan di aula mencari keberadaan Raja. "Mayong sini" panggil papa Suryo. "Maya ke mana?" tanyanya. "Istirahat Pa, tadi sempat pingsan di toilet sebelah sana. Papa tau Raja di mana. Mamanya dari tadi suruh nyariin tuh?" "Raja tadi sama mama mu dan Rani. Nggak tau juga sekarang. Tak sengaja netra Mayong melihat singgasana Bara dan Yasmin. Raja sedang duduk santai di belakang Bara dan Yasmin yang sedang menyalami tamu. Raja asyik makan snack yang biasanya Rani kasih. "Pa, lihat tuh yang di belakang Bara" tunjuk Mayong ke papa Suryo. Papa Suryo terbahak melihatnya. "Persis kamu Mayong, saat ayahmu menikah dulu dengan mama Gayatri" Papa Suryo terbahak. "Really Pa???" Mayong tak percaya.
Mayong naik ke atas pelaminan menyusul Raja. "Nak, ayo ikut papa" Mayong berjongkok di depan kursi tempat duduk Bara dan Yasmin mencoba merayu Raja. Raja menggeleng, menolak ajakan papanya. "Biar di sini aja kak" tukas Yasmin. Sementara perhatian para tamu undangan beralih ke pelaminan, di mana Mayong sedang heboh merayu anaknya supaya turun dari singgasana Bara. Semua tertawa melihat kelucuan penerus Suryolaksono itu. "Sudahlah kak, biarin aja Raja di sini. Lagian Raja juga nyaman" cegah Bara. "Kalau dia rewel, ntar kamu tanggung jawab ya" Mayong turun dari pelaminan. Mama Clara tertawa melihat ulah sang cucu. "Benar-benar buah jatuh tak akan jauh dari pohonnya" gumam mama Clara. Raja malah ikut berjoged mengikuti alunan musik di gedung itu. Opa Abraham dan opa Suryo yang sedang bersama sibuk merekam ulah sang cucu sambil tertawa melihat kelucuan cucunya. Mayong pun mengirimkan aksi Raja ke Maya yang tengah beristirahat dengan caption 'bocah tengil memulai aksinya' ditambah emoji love di belakangnya. Maya terbahak melihat rekaman video Raja.
__ADS_1
Raja menangis saat terjatuh hendak menggapai Bara. Mayong dengan sigap mengambil Raja dari gendongan Bara. "Makasih ya pengantin, sudah mau digangguin Raja" bisik Mayong. "Awas saja kalau ntar malam ganti papanya Raja yang gangguin" celetuk Bara. Mayong menatap usil ke adiknya. Sejenak kemudian Mayong turun sambil menggendong Rajap"Sayang papa capek ya? Ayo istirahat dulu ya sama mama" ajak Mayong. "Aaammmaaa....aammmaaa" teriak Raja. "Iya, ayo nyusul mama" Raja pun mengangguk. Mayong keluar aula resepsi, menuju lift hendak naik ke lantai teratas. Raja yang masih memakai blangkon lengkap, semakin menambah gemas orang-orang yang berada di lift. "Cakep banget tuan putranya" Mayong hanya sedikit mangangkat sudut bibirnya. Raja yang mulai mengantuk sedikit rewel. Mayong mengelus pelan punggung Raja. Tak tahunya sampai di kamar Raja sudah tertidur. "Sayang, Raja sudah tidur tuh" celetuk Maya. "Benarkah? Dia capek mungkin yank" balas Mayong. Maya yang masih rebahan hendak bangkit mau mengganti baju Raja. "Kamu di situ aja, biar aku gantiin" cegah Mayong sebelum Maya duduk. "Skalian dibersihkan kaki dan tangan Raja ya yank" pinta Maya. "Siap tuan putri, titah dilaksanakan" tukas Mayong dengan sabar. Mana tega Mayong membiarkan istrinya repot dengan jarum infus masih menancap di tangannya.
Acara resepsi selesai dengan lancar. Bara dan Yasmin tetap menginap di hotel. Hal itu juga atas saran pak Santoso, karena keadaan rumah masih berantakan. Pak Santoso sungkan karena belum bisa menyediakan tempat layak untuk menantunya. Papa Suryo yang menyadari ucapan besannya, "Pak Santoso, Bara sekarang juga sudah menjadi anakmu. Jangan sungkan untuk menyuruh-nyuruhnya. Kalau perlu ajaklah Bara ke sawah pak" ujar papa Suryo hendak menggoda Bara. "Dia pernah bilang pak, kalau tak mau bantu kakaknya meneruskan perusahaan. Kalau nggak jadi dokter, dia maunya jadi petani" tambah papa Suryo.
__ADS_1