Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 121


__ADS_3

Bara belum melanjutkan kata-katanya. Mayong yang penasaran tiba-tiba nyeletuk, "Hawa-hawanya Raja mau punya adik sepupu nih".


"Kayaknya benar itu yank" Maya melanjutkan ucapan Mayong. "Benar itu Bara????" sela papa Suryo. Dan Bara pun mengangguk bahagia. "Wah...wah....tambah ramai aja nanti keluarga Suryolaksono. Selamat ya kalian" ucap papa Suryo. Mama Clara memeluk menantunya, Yasmin.


"Kapan kalian tau kalau positif???" celetuk Maya. "Iya May, aku menyadari telat haid sesaat setelah menjengukmu di rumah sakit dengan baby triplet. Keesokan harinya aku dibelikan tes pack oleh pak dokter itu, ternyata garisnya dua" cerita Yasmin dengan berbinar. "Selamat ya cin, akhirnya punya keponakan juga" Maya pun menghampiri Yasmin dan memeluknya.


"Sudah belum pelukannya? Lanjutin makannya dulu dong" tukas Mayong. "Baik tuan, siap laksanakan perintah" ujar Maya tertawa. Yasmin pun sama, melanjutkan makannya.

__ADS_1


"Cin, janji ya kalau periksa harus ke aku" ujar Maya. "Terus tadi yang bilang mau cuti dulu, buat ngerawat Raja dan baby 3G sapa hayo?" sela Mayong. "He...he...khususon buat adikku yank. Janji dech, nggak pegang pasien lain" tukas Maya berikutnya. "Nggak ah, aku mau om Abraham aja yang meriksa" Bara ikutan nimbrung. Maya manyun aja mendengar ucapan Bara. "Oke..oke....ke ayah aja. Lagian ayah kan juga konsultan fetomaternal" lanjut Maya. "Iya, kamu fokus dulu aja sama Raja dan baby 3G. Papa keempat cucuku kayaknya juga butuh perhatianmu loh May" saran mama Clara. Mayong menunjuk dirinya sendiri, "Aku Mah? Nampak banget ya Mah, kalau aku kurang perhatiannya istriku" seloroh Mayong. Semua tertawa.


Hari-hari pertama di rumah. Maya masih kuat menjaga ketiga baby-nya di malam hari dengan bantuan Mayong. Menginjak hari kedelapan, kantung mata Maya dan Mayong benar-benar nampak nyata. Baby 3G benar-benar mengajak ronda tiap malam. Menjelang subuh baru ketiganya tidur nyenyak. Maya yang mulai kelelahan tertidur di samping box bayi. "Yank, ayo pindah ke kamar dulu aja. Mumpung mereka nyenyak tidurnya" ajak Mayong. Bahkan Maya tak mampu membuka matanya. Maya berjalan dengan digandeng Mayong. "Terus mereka dengan sapa yank?" tukas Maya dengan mata masih terpejam. "Mbaknya sudah pada kupanggil tadi" seloroh Mayong. Saat membuka pintu kamar Mayong dan Maya berpapasan dengan ketiga baby sitter yang merawat baby 3G. "Titip dulu ya mba, tolong jagain dulu" ucap Maya. "Iya nyonya" jawab mereka serempak.


Sampai di kamar, Mayong yang baru selesai menunaikan ibadahnya, segera menyusul istrinya yang sudah terlelap duluan. Tanpa menunggu lama Mayong sudah menyusul Maya ke nirwana. Seminggu ini benar-benar mereka berdua diuji kesabarannya untuk ronda tiap malam bersama baby 3G. Siang harinya Maya tetap membagi waktunya antara baby G dengan Raja. Belum lagi pagi hari Mayong sudah berangkat ke kantor. Doni sering melihat sang tuan besar tertidur di sela-sela rapatnya.Tuan Mayong benar-benar terlihat letih, batin Doni.


Sementara di mansion, Maya merasakan kepalanya sedikit pening. Maya yang sedang menemani Raja bermain, tiba-tiba pingsan. Semua yang ada di mansion panik melihat keadaan nyonyanya. Pak Amin yang diberitahu oleh bi Inem segera menelpon tuan Mayong, namun tidak tersambung. Bahkan sampai puluhan kali pak Amin menelpon. Pak Amin memutuskan memberi kabar tuan Abraham dan tuan Suryo terlebih dahulu. Tak sampai lima belas menit, papa Suryo beserta mama Clara sudah datang di mansion, disusul ayah Abraham di belakangnya.

__ADS_1


Ayah Abraham segera memeriksa keadaan putrinya. Papa Suryo dan mama Clara nampak memperhatikan dengan seksama menantunya yang masih belum tersadar itu. "Sebaiknya kita bawa saja Maya ke rumah sakit" ajak Ayah Abraham. "Maya kenapa? Gimana keadaannya?" ujar mama Clara yang mulai cemas. "Kita ke rumah sakit aja dulu, sampai sana baru kita tahu keadaannya" jelas ayah Abraham. "Pak Amin, Mayong di mana?" Papa Suryo memanggil pak Amin, karena sedari datang belum melihat putranya. "Tuan Mayong belum bisa dihubungi sampai sekarang tuan" jawab pak Amin. Papa Suryo segera mendial nomer Doni. Doni yang sedang menerima tamu Dirgantara, minta ijin ke tamu untuk mengangkat telpon. Mana berani Doni menolak panggilan tuan besarnya. "Selamat siang tuan" sapa Doni. "Don, Mayong di mana. Kita telpon dari tadi nggak bisa? Segera kau beritau Mayong untuk menyusul kita ke rumah sakit" jelas papa Suryo. "Terus siapa yang sakit tuan?" Doni masih melanjutkan pertanyaannya. "Nyonya Mayong. Lekas kau kabari Mayong" perintah papa Suryo di telepon dan segera menutupnya. Doni pun terpaksa ijin meninggalkan tamu Dirgantara itu dan langsung menuju lantai teratas di mana tuannya sedang istirahat.


Doni mengetuk pintu kamar yang berada di ruangan CEO itu. "Tuan...tuan...anda dicari tuan Suryo barusan" ucap Doni sedikit berteriak. Karena setelah beberapa kali mengetuk pintu tidak terdengar jawaban dari dalam ruangan. "Tuan..... Tuan.... Tuan Mayong" ulang Doni menambah kekuatan panggilannya. Saat tangannya hendak mengetuk pintu lagi, tiba-tiba pintu kamar terbuka. "Berisik banget sih Don?" kata Mayong sedikit ketus. "Tuan, barusan tuan besar Suryo telpon. Memberi kabar kalau nyonya Maya dibawa ke rumah sakit" beritahu Doni. "Beneran Don? Kenapa nggak memberi kabar padaku langsung aja?" tanya Mayong. "Tuan besar Suryo bilang kalau ponsel anda susah dihubungi tuan" lanjut Doni. Mayong memeriksa ponselnya, dan benar saja ada puluhan kali panggilan tak terjawab di ponselnya.


"Kalau gitu, ayo lekas ke rumah sakit!!!" ajak Mayong. Doni mengangguk. "Sin, tolong tamu-tamu yang sedang menungguku bilangin kalau aku akan merescedule pertemuan lagi. Maaf karena ada hal urgen yang tak bisa kita tinggalin" Doni berseloroh ketika melewati meja sekretaris itu. Sinta pun mengiyakan dan mengangguk hormat ke tuan Mayong yang berjalan dengan sedikit terburu-buru. Mayong menuju rumah sakit yang ditunjuk oleh ayah Abraham. "Cepetan Don, lekas dikit!!!" ucap Mayong dengan sedikit tak sabar karena cemas memikirkan keadaan istrinya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


to be continued, happy reading 🤗


__ADS_2