
Mobil jungkir balik beberapa kali.
Mayong melihat cahaya menyilaukan, sayup-sayup terdengar suara mama Clara, "Mayong sadarlah, ada apa denganmu?" Mama Clara mulai terisak..
"Mayong, ayolah..kamu laki-laki kuat, ngapain kau lama-lama disini?" papa Suryo menimpali. Mayong yang belum pulih benar kesadarannya, mencoba menggerakkan jari-jarinya.
"Pa, jari Mayong bergerak" Mama Clara yang menggenggam tangan Mayong, jelas-jelas merasakannya.
Mayong mencoba membuka matanya yang terasa berat.
"Ma....Pa...." bisik suara Mayong. Mama Clara yang menyadari itu meneteskan air matanya. "Kamu sudah sadar Mayong?" Mama Clara menghambur memeluk Mayong. Mayong mencoba duduk, tapi kepalanya masih terasa berputar-putar.
"Jangan bergerak dulu Mayong, tiduran saja dulu" cegah papa Suryo. "Perusahaan biar aku urus, kamu istirahat saja dulu". Mama Clara memukul lengan suaminya, "Anak lagi sakit, sudah mbahas perusahaan saja. Anakku nggak boleh kerja sebelum sembuh".
"Ma....Pa...di mana Maya?" Mayong baru ingat kalau mobilnya jungkir balik dengan Maya duduk disampingnya. Mayong hanya luka lecet di pelipisnya, dan beberapa luka lebam akibat benturan.
"Maya istirahat di kamar sebelah. Mendingan kamu istirahat aja dulu. Maya sudah sama Om Abraham" jelas papa Suryo. Mayong merasa bersalah karena belum bisa menjaga Maya.
"Kalau aku tidak mengajak Maya, kecelakaan ini tak kan terjadi Pa" ucap Mayong dengan nada menyesal.
"Semua sudah terjadi, tak ada yang perlu disesali. Istirahat saja dulu, biar lekas membaik kondisimu" papa Suryo merebahkan badannya di sofa penunggu rumah sakit.
"Tidurlah Mayong, mama ke tempat Maya dulu" Mama beranjak dari duduknya. Mayong mengangguk kemudian mulai memejamkan matanya.
Maya yang berada di kamar sebelah belum sadar karena benturan belakang kepalanya. Luka luarnya juga tidak seberapa parah.
Mama Clara masuk ke ruangan Maya, "Abraham, gimana Maya?"
Abraham sambil menghela nafas panjang "Belum sadar". Mama Clara mendekati Maya, "Maya ayo sadarlah, maafkan Mayong".
__ADS_1
"Doakan saja, Maya tidak kenapa-napa kok hanya menunggu sadar saja. Semua hasil pemeriksaan dalamnya baik semua" jelas Abraham. Mama Clara mengelus-ngelus punggung tangan Maya yang tertancap infus. Papa Suryo, Mama Clara dan Ayah Abraham semua menginap di rumah sakit.
Bagaimana ketiga orang tua itu tahu kecelakaan Mayong dan Maya, tanya papa Suryo dan ayah Abraham semua pasti ada jawabannya..he..he... Papa Suryo sebenarnya mempunyai pasukan bayangan, yang akan melindungi keluarga terdekatnya. Kejadian kecelakaan itu bahkan masih diselidiki Papa Suryo.
Papa Suryo dan Om Abraham yang sedari awal mendirikan perusahaan sudah waspada terhadap rival-rival bisnis. Itu saja masih kecolongan dengan kejadian Gayatri. Sejak ditemukannya Maya, papa Suryo menambah anggota untuk pasukan bayangannya. Semua itu diketuai Doni, asisten Mayong sekarang. Papa Suryo yang di depan keluarga dan anak-anaknya adalah sosok penyayang, tapi akan berbeda bila berhadapan dengan musuh-musuhnya.
Bahkan kejadian Mayong kecelakaan, Bara baru mengetahui keesokan harinya. Pagi-pagi Bara sudah datang di rumah sakit itu.
"Tega sekali Mama sama Papa, tidak memberitahu keadaan Kakak dan Maya", Bara mendekati Mayong. Melihat pasien monitor, Bara terlihat tersenyum. Ternyata kakaknya baik-baik saja. Pasti ada alasan papa dan mama tidak memberitahunya.
"Sudah jelas???? Papa tidak perlu menjelaskan lagi kan?" Papa Suryo keluar dari kamar VVIP itu. Bara hanya mengangguk saja.
"Ma, kamar Maya di mana? Mau aku tengok?" Mama Clara menunjuk kamar sebelah.
"Kak..ayolah bangun. Latihan akrobatnya gimana? Sukses? Kak, aku tahu kakak baik-baik saja??" ujar Bara menoel-noel punggung tangan Mayong.
Mayong yang baru bangun, menimpuk lengan Bara.
"Ma, katanya kakak sakit? Tapi timbukannya bisa buat lengan merah nih. Kufoto ah..bisa jadi barang bukti..he..he..."
"Kalau ke sini cuma buat kacau, mendingan kamu kerja sana ke rumah sakit Suryo Husada" perintah Mayong.
"Tuh Ma, sakit aja masih membuli diriku. Mendingan ke Maya aja..." Bara hendak berdiri tapi ditahan Mayong, "Aku ikut, ambilin kursi roda!!!" perintah Mayong.
"Hadech....pusing kepalaku" Bara mengerutu. Kursi roda yang berada di sampingnya didekatkan ke Mayong. Bara memapah Mayong, "Pegangin kursi rodanya aja, aku bisa sendiri" Mayong menepis tangan Bara. Bara hanya menjulurkan lidahnya. Mama Clara yang duduk di sofa hanya bisa geleng-geleng kepala. Bagaimana mau punya cucu, melihat tingkah kekanakan dari Mayong dan Bara aja kadang bikin mules, batin Mama Clara. CEO versus dokter spesialis anesthesi.
Mayong masuk ruangan Maya. "Pagi Om" sapa Mayong mendekati Abraham.
"Gimana kabar kamu Mayong, bukannya istirahat malah ke sini" Abraham menyambut Mayong.
__ADS_1
"Aku ingin melihat kondisi Maya. Maafkan aku Om, yang tidak bisa menjaga Maya" Mayong memeluk Abraham.
"Keadaan Maya baik, hanya masih menunggu sadar saja" Abraham yang seorang dokter tentu saja lebih tau keadaan putrinya. Maya menggerakkan tangannya, meringis memegang kepalanya "pusing kak", ucap Maya lirih. Mayong yang melihat itu mendekatkan kursi roda ke arah bed tempat Maya terbaring. Bara mendorong kursi roda ketika melihat Mayong kesulitan.
"Maya...Maya...apa yang sakit? Kepalamu sakitkah? Om...Bara....ayo tolongin Maya, jangan diam aja!!!" Mayong menoleh ke keduanya bergantian. Abraham yang melihat Maya tersenyum, putrinya sudah mulai sadar. Melihat respon nyeri yang dilihatnya barusan.
Bara menekan tombol yang ada di samping bed. Beberapa saat kemudian perawat jaga datang, "Mba kayaknya Maya sudah sadar, kalau lihat pasien monitor itu semua stabil. Laporin aja ke dokter yang merawat Maya ya. Terima kasih" ujar Bara.
"Kak...Kak....Kak Mayong" suara Maya terbata-bata. Mayong yang sudah di dekat Maya menggenggam telapak tangannya.
"Kakak ada di sini May, bangunlah... Maafkan kakak".
Maya mendengar suara Mayong dekat sekali, "Apa aku berhalusinasi, kenapa suara kak Mayong jelas sekali?" lirih Maya masih memejamkan matanya.
"May, bukalah mata. Semua menunggumu bangun. Jadi ke panti tidak? Kamu sama Kak Mayong kok malah main akrobat?" Bara mencoba menghibur.
"Becandamu nggak lucu...garing....."Mayong mulai mengangkat tangannya.
"Apa...mau menimpukku lagi...nggak kena...wek..."Bara menjauh menghindari timpukan Mayong.
Maya mulai membuka mata perlahan, "Aku di mana? Loh..kok ada Ayah? Bukannya aku pergi sama kak Mayong doang?" Maya belum sadar penuh.
"Kamu di rumah sakit, sudah tenang saja. Semua baik-baik saja" Abraham mengelus kepala putrinya dengan lembut.
"Semalam kamu sama kak Mayong tidur nyenyak sekali May, ketiga orang tua itu malah gantian yang jaga kalian. Awas ntar kualat kalian" Bara tertawa.
"Nikahin aja mereka Om" tambahnya. Om Abraham sudah terlalu biasa dengan kekonyolan mereka.
"Malah Om sudah panggilin penghulu lho Bar" Abraham menimpali kekonyolan Bara.
__ADS_1
Mayong dan Maya yang belum penuh kesadarannya, hanya terperangah dan saling pandang.