
Probe USG bergerak di perut bagian bawah Maya. Maya nampak serius memperhatikan monitor USG. "Mana bayinya yah?" sela Mayong. Maya yang mendengarnya hanya bisa menepuk jidat. Gemes sekali dengar pertanyaan suaminya.
"Usia kehamilannya sesuai kok May, 5-6 minggu. Baru kelihatan kantongnya" terang Abraham. Maya sudah paham dengan hal itu. Papa Suryo dan Mama Clara mengangguk saja di balik tirai pemeriksaan. Sementara Mayong, "Sayang kok belum kelihatan bayinya???" dia beralih ke istrinya, karena tidak mendapat jawaban dari ayah Abraham. Maya tersenyum menanggapi. "Sayang, usia kehamilanku baru satu bulan lebih sedikit, mana mungkin langsung jadi bayi. Semua butuh proses kurang lebih sembilan bulan lebih sepuluh hari. Sekarang tugas ayahnya memenuhi kebutuhan nutrisi mama dan bayinya" terang Maya. Mayong menciumi istrinya, bahagialah yang dirasakan.
Abraham berdehem, "Hhmmmmm. Oh ya Mayong, karena kehamilan istrimu belum dua belas minggu, jangan sering-sering kau tengok ya. Masih rawan" pesan Abraham. Mayong hanya melongo, tidak boleh sering-sering???? batinnya. Padahal sehari tiga kali aja nggak cukup, ini nggak boleh sering-sering? Bisa pusing kepalaku.
Papa Suryo dan Mama Clara terbahak melihat ekspresi anaknya. "Oh ya May, jangan lupa asam folatnya ya" Abraham menambahkan. "Oke Yah, sipppp" tukas Maya. Maya yang seorang dokter kandungan tetap menghargai apa yang disampaikan ayahnya itu.
"Yah, Pa, Ma...dua hari ke depan aku ada perjalanan bisnis ke Jepang " seru Mayong masih di ruangan tadi. "Kok mendadak" tukas Papa Suryo.
"Aku harus segera menyelesaikan urusanku dengan Samudera Group. Mereka sudah berani mengajak bermain dengan Dirgantara" tegas Mayong. Papa Suryo dan ayah Abraham mengangguk kompak.
"Maya biar di rumah ayah saja kalau gitu" saran Abraham.
"Di mansion aja" sela Mama Clara. Mayong dan Maya saling menatap mendengar perdebatan orang tua nya. Ayah Abraham dan mama Clara tidak mau kalah. Papa Suryo menengahi, "Cucu belum lahir. Kenapa musti berebut?" tanyanya.
"Begini saja, Mayong perginya berapa hari. Kita bagi dua waktunya" saran papa Suryo. Ayah Abraham dan Mama Clara mengangguk.
__ADS_1
Di Apartemen, semalam sebelum kepergian Mayong. Maya mengalami mual muntah. Semua yang dimakan kembali keluar. Mayong nampak mencemaskan keadaan istrinya.
"Sayang, apa aku cancel saja ya pertemuanku dengan perusahaan Nayaka?" Mayong tak sampai hati meninggalkan istrinya yang terlihat emas itu.
"Pergi aja sayang, aku nggak kenapa-napa. Mual muntah selama awal kehamilan itu respon tubuh terhadap peningkatan hormon kehamilan. Lagian aku juga sudah sedia obat mual kok. Sayang pergi saja, kasihan Doni yang harus tiap saat merescedule jadwalmu" terang Maya. "Malah Doni yang diperhatikan" Mayong bersungut. Mayong menciumi perut Maya, "Papa pergi ya Nak, jaga mama baik-baik. Jangan buat mama repot ya". Anehnya mual yang dirasakan Maya mereda setelah perutnya dicium Mayong. Melihat istrinya yang masih lemas, Mayong yang sekiranya mau minta jatah jadi berpikir ulang.
Maya tau maksud suaminya, "Boleh nengok, asal pelan" bisiknya. Mayong yang serasa mendapat durian runtuh mendengar ucapan istrinya tersenyum lebar, "Istriku the best". Dan terjadilah pergumulan itu.
Mayong mengantar Maya ke rumah sakit, sebelum meluncur ke bandara. "Hati-hati sayang, jangan terlalu capek, banyak istirahat..bla...bla...." Maya hanya menanggapi dengan senyuman mendengarnya. "Siap komandan" jawabnya. Mayong menciumi perut istrinya seakan tak puas, mencium pipi dan kening. "Sayang juga hati-hati. Love you" Maya mencium tangan suami. "Love you too". Mayong meluncur bersama Doni ke bandara.
Selesai visite, Maya ke toilet untuk.memuntahkan isi perutnya. Mualnya mulai datang lagi. "Baik-baik ya nak di dalam. Jangan rewel, papa lagi pergi" ucapnya mengelus perut yang bahkan belum kelihatan itu.
Maya nampak pucat selepas keluar dari toilet. Bidan Anik melihatnya, "Sakit dok, kok pucat sekali". Maya menggeleng, "Boleh minta tolong mba, buatkan teh manis hangat". Bidan Anik mengangguk. Maya meneguk teh hangat itu untuk mengurangi mualnya. "Dok, jangan-jangan hamil?" ujar bidan Anik penasaran. Maya hanya menanggapi dengan senyuman. "Wah..selamat ya dok. Sehat selalu mama dan bayinya" doanya. Maya mengaminkan.
Selepas visite, Maya menuju ke komite medik. Hari ini memang ada jadwal rapat bulanan. Maya menyapa dokter Anita yang datang lebih dulu dan duduk di sampingnya. Bara dengan santai duduk menyusul di samping Maya. "Eh, bumil apa kabar? serunya. Maya pun mencubit lengan Bara. "Galak amat sama calon paman?" Bara tergelak. Dokter Anita yang mendengar, segera memberi selamat ke Maya.
"Nanti pulang ke mansion apa ke rumah Om?" bisik Bara. "Kak Mayong emang nggak pengertian, istri hamil malah ke luar negeri". Maya melotot ke arah Bara. Bara semakin tergelak. Senang sekali menggoda kakak iparnya.
__ADS_1
Setelah berkumpul rapat bulanan komite medik itu dimulai. Ada beberapa arahan dari direktur untuk kemajuan Suryo Husada. Tentu semua itu tak lepas dari perintah Mayong.
Selepas lepas landas, Mayong melakukan video call. "Assalamualaikum sayang". Maya berada di kediaman Abraham, "Waalaikumsalam. Sudah sampai?" Maya melihat Mayong baru sampai bandara. Maya berlari menuju ke kamar mandi, mualnya dirasakan kembali. Mayong yang melihat istrinya meninggalkan panggilannya hanya menatap aneh layar ponselnya. "Apa mual lagi?" batin Mayong.
Mayong mengulangi panggilannya setelah sampai hotel "Sayang" panggilnya. Maya nampak tiduran di kamarnya.
"Hemmmm" Maya menatap suaminya. "Mual lagi kah, sudah makan belum, vitaminnya bagaimana sudah diminum?" Mayong yang berada jauh dari istrinya nampak cemas.
"Sudah fokus dulu saja sama kerjaan, biar bisa pulang cepat. Aku nggak papa, ini tadi barusan minum obat pereda mual. Sayang lupa ya kalau aku dokter kandungan" Maya terkekeh.
"Dokter juga manusia" sergah Mayong. Maya tertawa. Obrolan dengan suami sedikit banyak bisa mengurangi mualnya. Obrolan yang berlangsung lama itu, diakhiri dengan Maya yang sudah tertidur pulas. Mayong tersenyum melihat istrinya dan menutup panggilannya. Mayong membuka kembali berkas-berkas yang sudah disiapkan Doni sang asisten. "Perfecto, kamu memang asisten yang bisa diandalkan Don" gumam Mayong. Mayong akhirnya istirahat, menyiapkan fisik untuk jadwal padat selama di Jepang.
Pagi hari waktu Jepang, Mayong dan Doni sudah berada di ruang Direksi perusahaan Nayaka. Perusahaan yang bergerak di bidang otomotif terbesar di Jepang. Direktur Utama perusahaan Nayaka, Tuan Akio mengangguk hormat menyambut Mayong. Mayong pemilik sebenarnya perusahaan Nayaka. Mayong tersenyum.
To be continued
💝💝💝
__ADS_1