
Maya mulai menjelaskan ke Yasmin pelan-pelan supaya mudah dipahami olehnya. "Cin, beneran ini minta dijelaskan olehku? Bukannya kak Bara sudah ngejelasin semua?" tanya Maya untuk mempertegas. "Jelaskan saja May, mungkin denganmu membuat nyaman istriku" sela Bara yang baru memasuki ruangan. "Baiklah" Maya menanggapi.
Yasmin mulai menyimak apa yang diucapkan sahabatnya itu. "Begini cin, awal terjadi kehamilan kan karena pertemuan antara sel ****** dan sel telur. Setelah bertemu dan terjadi pembuahan, maka sel itu akan membelah. Jadilah zygot calon bayi. Karena pembuahan yang tidak sempurna, jadilah sel-sel yang abnormal. Bisa menyebabkan keguguran langsung ataupun kehamilan mola seperti yang kami hadapi" Maya menjeda ucapannya. "Apa aku yang memang punya kelainan May, sehingga bisa terjadi hal itu?" Yasmin mulai insecure. "Penyebabnya bukan karena ada kelainan salah satu pihak ataupun keduanya, tapi karena proses pembuahan yang mungkin ada sesuatu yang tidak sempurna" lanjut Maya. Yasmin masih mendengarkan Maya. "Habis ini lanjut konsul ke ayah aja. Ayah lebih kompeten dalam kasusmu ini" Maya memberi saran.
"Kalau untuk proses tindakan selanjutnya gimana?" Yasmin masih penasaran. "Kalau untuk itu kamu harus santai Cin, jangan banyak pikiran. Nanti bulan depan pasti ayah nyaranin untuk cek darah lagi buat evaluasi" ujar Maya. "Untuk apa?" Yasmin belum memahami. "Kan sudah kujelasin buat evaluasi, apakah kadar hormon kehamilanmu sudah turun, stagnan atau malah naik" urai Maya. "Semoga aja cukup sekali kamu perlu tindakan itu Cin" harap Maya. "Amiin, dan semoga ku segera menyusulmu mendapat momongan" Yasmin mengaminkan.
Yasmin cukup lega setelah mendengarkan penjelasan Maya. Saat mereka terdiam, masuklah Anita untuk visite. "Wah, lagi ngumpul ternyata" ujarnya sambil memeriksa Yasmin. "Hai, gimana kabarmu Anita? Sudah isi belum?" tanya Maya. "Alhamdulillah kabar baik kak dan sudah jalan tiga bulan ini" Anita mengelus perutnya. "Dan semoga Yasmin juga lekas nyusul" lanjut Anita. "Aamiin, tapi luka pasca curretnya biar sembuh dulu lah" tukas Maya. Mereka bertiga tertawa. Bara yang barusan keluar dari kamar mandi menyapa Anita. "Dok, istriku sudah boleh diijinkan pulang belum? tanya Bara ke Anita. "Melihat kondisinya sekarang, harusnya sudah boleh pulang" tukas Anita. "Oke, makasih" jawab Bara.
__ADS_1
Selesai visite Anita tidak lekas keluar ruangan. Tapi ruangan Yasmin sekarang sebagai ajang reuni kedua dokter obgyn itu. "Kak, apa kesibukan sekarang?" tanya Anita. "Ibu rumah tangga. Lagi seneng-senangnya ngikuti pertumbuhan dan perkembangan bocil-bocil" jawab Maya. "Pasti repot ya kak?" tanya Anita lanjut. "Tinggal kita nikmatinya gimana" ulas Maya. "Jangan tanya repot tidak ke Maya. Asisten yang megang Raja dan baby 3G aja di shift sama suaminya. Maya tinggal ongkang kaki aja tuh" ledek Bara. "Wah, jangan sebar rahasiaku dong kak" tukas Maya dan tertawa. "Istri sultan dilawan" Yasmin menimpali. Semua terbahak meledek Maya. Sementara Maya hanya manyun menanggapi semuanya.
Anita pamit saat Alex mencarinya. "Hei, aku pamit ya. Makasih atas obrolannya..he..he.." Anita beranjak dari duduknya. "Wah, kalau kita semua longgar boleh nih hangout bareng" usul Maya. "Boleh juga tuh" celetuk Yasmin dan Anita hampir berbarengan. Bara dan Alex hanya bisa saling pandang. "Sembuh dulu baru mikirin hangout" celetuk Bara. "Kamu juga lahiran dulu baru hangout" ucap Alex. "Wah satpam kalian nggak ngijinin nih?" Maya tertawa menanggapi. "Kalau ngedate bareng-bareng nggak mau juga?" Maya kembali menawari. "Kok pada diam. Nggak jadi deh kalau gitu. Padahal suamiku rela mentraktir kalian loh" urai Maya. "Setuju..setuju..." ujar Alex dan Bara bersamaan. Maya tertawa mendengarnya.
Yasmin dan Bara yang diperbolehkan pulang tengah bersiap. Sementara Maya sedang menerima telpon dari Mayong suaminya. "Iya sayang, ini Bara dan Yasmin bersiap pulang. Aku juga sudah nelpon pak Amin untuk menjemput" jelas Maya. Panggilan itu pun berakhir. "Kak, pulang ke apartemen atau ke mansion?" tanya Maya. "Pulang ke mansion aja May, biar Yasmin juga bisa istirahat" jelas Bara. "Istirahat dari gangguanmu ya kak?" sarkas Maya. Bara tersenyum devil, "Tau aja kamu May". "Istirahat dulu kak, rahim Yasmin belum sehat" Maya menimpali. "Itu aku juga tau May" seloroh Bara.
Bulan berganti, Yasmin kembali kontrol ke om Abraham dengan diantar Bara suaminya sambil membawa hasil tes darah yang telah dilakukan. "Om, ini hasil tes darahnya" Bara menyerahkan amplop saat duduk di hadapan om Abraham. Abraham mulai membuka amplop hasil pemeriksaan laboratorium itu. Sementara Yasmin harap-harap cemas menanti penjelasan om Abraham. Abraham menghela nafas panjang dan mulai berkata, "Kadar hormonnya masih lumayan tinggi Bara. Tapi tidak jauh banget dari batas normal" jelas Om Abraham. "Jadi musti dibersihkan lagi ya Om?" tanya Bara. Om Abraham pun mengangguk. Yasmin terduduk lemas di kursinya. Bara mencoba menggenggam tangannya erat. "Sabar bee, semoga ini untuk kali terakhir" harap Bara. Yasmin masih syok mendengarnya. "Apa baiknya tindakannya dengan om saja ya" pinta Bara. "Semua ku kembalikan ke kalian, mau ambil tindakan di mana. Saya rasa dimanapun tempatnya, prosedurnya juga sama" imbuh Abraham. "Gimana bee, kalau dengan om Abraham saja" ujar Bara meminta persetujuan istrinya. Yasmin yang masih kalut pun mengangguk tanda menyetujui.
__ADS_1
Karena jarak makan dan minum Yasmin sudah mumpuni untuk dilakukan tindakan, selesai pemeriksaan itu Yasmin langsung disiapkan untuk tindakan yang kedua kalinya. "Sebaiknya kau yang persiapkan obat biusnya Bara" perintah om Abraham. "Om, aku di sini suami pasien loh. Main perintah aja" seru Bara. "Lah, mau diambil tindakan sekarang atau besok?" seloroh Abraham tanpa rasa bersalah. Bara hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Om nya itu memang kadang sukar ditebak, sama seperti putri tunggalnya. "Dokter anesthesi di sini lagi di luar kota. Aku tadi juga sudah bilang ke dia. Dia acc untuk kau wakilkan" jelas Om Abraham. Bara akhirnya hanya bisa menyetujuinya.
Prosen tindakan kali ini berjalan lancar. Setelah Bara memasukkan obat anesthesi. Tidak lebih lima belas menit, om Abraham telah menyelesaikannya. "Bar, kalau lihat ini kayaknya sudah bersih" ucap om Abraham sambil menunjuk ke arah jaringan yang berhasil dikeluarkannya. "Semoga aja Om. Aku kasihan sama istriku" tutur Bara. "Sudah jangan sedih, namanya juga ikhtiar. Semoga diberikan yang terbaik untuk kalian" harap Om Abraham.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
to be continued
__ADS_1