
"Sayang, mendingan nggak usah memasak aja. Pake istirahat. Operasimu tadi sulit kan?" larang Mayong di ujung telpon. "Atau gini aja, ntar malam dinner yuk!!!!" ajak Mayong. "Padahal aku sudah semangat empat lima lho buat masak...he..he...."gurau Maya. "Nggak usah masak. Aku yakin tanganmu masih tremor karena operasimu yang sulit tadi" tawa Mayong. Mayong paham, operasi yang sulit pasti membutuhkan ekstra pikiran dan juga tenaga. Makanya Mayong tidak pernah menuntut istrinya bisa melakukan kegiatan rumah tangga, seperti ibu rumah tangga pada umumnya. "Ya yank, dinner aja ntar malam???" ulang Mayong menunggu persetujuan Maya. "Oke yank, lama juga nggak jalan sama kamu dan Raja" Maya menyetujui ajakan suaminya.
"Bi, ntar sore nggak usah nyiapin makan malam ya. Kita makan di luar aja" suruh Maya. "Oke, nyonya" seru bi Inem sambil membereskan dapur. "Skalian dicatat ya bik, semua keperluan yang stoknya tinggal dikit. Ntar belanja sekalian aja" lanjut Maya. Bi Inem mengangguk. "Yang lain juga bilangin ya bik, suruh siap-siap" Maya beralih mendekati Raja. "Anak mama yang ganteng, sudah makan belum nih. Aduhhhh emes, pipinya tambah embul aja" Maya merayuk Raja ke gendongan. Bau khas bayi anaknya sungguh membuat candu bagi Maya untuk menciumnya.
Kalau Mayong ngajak dinner, orang semansion ikut semua..he..he...karena Raja juga ikut. Dinner khusus ala Mayong dan Maya.
"Sayang...sayang...kamu di mana?" teriak Mayong sesaat setelah memasuki mansion. "Nyonya kayaknya berada di kamar tuan muda Raja, Tuan. Mulai tadi siang nyonya berada di sana" jelas bi Inem. Mayong membelok ke arah kamar Raja. "Sayang.." panggilnya dari luar pintu dan langsung masuk ke kamar Raja. Dilihatnya istri dan putranya tidur nyenyak saling memeluk. Sungguh pemandangan yang indah menurut Mayong.
__ADS_1
"Kok nggak jadi Tuan???" tanya bi Inem melihat Mayong keluar dari kamar putranya. "Nggak papa bik, biar mereka istirahat dulu. Aku ke kamar dulu bik" Mayong masuk ke kamar utama. Mayong membersihkan badan dan segera berganti kaos dan celana pendek. Meski begitu, tidak mengurangi kadar ketampanan suami Maya itu. "Sayang" bisik Mayong di belakang telinga Maya. Tangannya pun memeluk posesif pinggul sang istri. Maya menggeliat, "Lho kok sudah sampai?? Sudah sore ya?" Maya melihat jam dinding yang terpasang di kamar Raja. "Hah, jam empat yank. Raja belum mandi ni tadi" Maya terduduk di samping Mayong. "Sudah biarin, kasihan kalau dibangunin" sergah Mayong.
"Kalau gitu, tolong Raja ditungguin ya. Gantian aku mandi dulu" bilang Maya. "Oke tuan putri..he...he..." Mayong menunjuk pipinya minta dicium sang istri. Maya tersenyum, dan langsung cipika cipiki ke Mayong. "Lha yang ini!!!" tunjuk Mayong ke bibirnya. "Aku bau yank, belum mandi" elak Maya. "Bau ilermu tuh sudah kuhafal May" Mayong tertawa, dan meraih kepala Maya. Dia kecup bibir Maya. "Oke mandi sana" tandas Mayong setelah dapat apa yang dia mau. Sepeninggal Maya, Mayong mulai menggoda Raja. Menciumi pipi Raja yang lagi nyenyak tidurnya. Padahal tadi Mayong sendiri yang melarang Maya untuk tidak membangunkan Raja. "Mayong kecil, sudah sore. Ayo bangun" Mayong mencubit cubit gemas badan putranya yang hanya menggeliat tanpa membuka matanya.
Saat berada di jalan, ponsel Maya berdering. "Kak Bara, ada apaan ya yank?" ujar Maya melihat layar ponselnya. "Sini Raja ikut papa, tuh Om lagi nelpon mama" Mayong mengambil Raja dari pangkuan sang istri. "Halo Kak, ada apa? Pasien yang tadi kah?" tebak Maya. "Iya May, kesadaran pasien menurun. Produksi urin juga kosong, sementara ini kusuruh cek laborat untuk faal ginjal. Sudah ku intubasi dan pasang ventilator. Infus vena sentral juga terpasang" Bara memberi kabar. "Ya Kak, tolong kabari aku perkembangan pasien itu ya" pinta Maya. Wajah Maya mulai menekuk, saat Bara menutup telponnya. "Sudah jangan sedih, yang penting kamu sudah berusaha maksimal untuk pasien itu" Mayong menepuk bahu Maya.
Mayong dan Maya menikmati makan malamnya dengan ditemani Raja. Sementara anggota mansion yang lain berkeliling mall. Bi Inem dan yang lain tidak mau mengganggu acara makan malam bosnya. Raja mulai meraih-raih minuman yang ada di meja. "Wah tuan kecil mau yaa???" Mayong sedikit kewalahan dengan ulah Raja yang sangat aktif. "Sini ikut mama dulu, papa biar makan dulu ya nak gantengnya mama" Maya gantian mengambil Raja dari pangkuan Mayong.
__ADS_1
Seminggu pasca kontrol. "Yank, hari ini bukannya waktu kamu lepas perban operasimu ya?" celetuk Maya di pagi hari. "Sini dulu, pasangin dasiku dong yank" rajuk Mayong sedikit manja. "Jangan dipasang dulu, aku lepas dulu perbannya" Maya mulai membuka kancing atas kemeja Mayong. "Eh...eh...mau apaan. Bentar...bentar...aku menata hati dulu" gurau Mayong. "Hadeh, kayak mau diapain aja. Buka perbannya sambil berdiri aja ya" ungkap Maya. "Nggak ada pasien diperiksa dengan posisi berdiri bu dokter" tukas Mayong. "Jadi pasien itu yang nurut dong yank" Maya menarik lengan suaminya, dan meminta Mayong dudul di sofa kamarnya. Mayong hanya terkekeh. Kadang obrolan-obrolan kosong juga diperlukan sebagai bumbu rumah tangga.
Maya membuka perban di dada Mayong, "Yank, tambah indah nih dadamu. Ada tambahan garis di sini. Nggak sembarang orang lho punya ini" gurau Maya menunjuk bekas luka Mayong. "Sudah kering ya Tuan, jadi tidak perlu ditutup lagi" tambah Maya. "Baik bu dokter, terima kasih" Mayong tersenyum ramah. Mereka berdua bagai dua anak kecil yang bermain dokter-dokteran.
Pasien Maya pun telah membaik kondisinya. Dan sekarang sudah berada di ruang rawat inap biasa. "Terima kasih dokter Maya, atas pertolongannya. Hanya Allah yang bisa membalasnya" ungkap tulus suami nyonya "B". Maya mengangguk, "Saya hanya sebagai lantaran aja pak. Hidup mati manusia sudah ada yang mengatur". "Tolong sampaikan juga ke bapak pemilik rumah sakit ini dokter. Entah apa jadinya keadaan istri saya, tanpa bantuan dari beliau" suami pasien terharu. Pak Bambang juga sudah mendengar tentang kondisi pasien ini. Setelah mendapat notif dari Mayong, pak Bambang segera bertindak. "Baik pak saya undur diri dulu. Semoga ibu lekas membaik ya" Maya keluar ruang perawatan. "Dokter Maya, tuan Mayong memang is the best. Beliau membebaskan biaya pasien itu" cerita bidan yang mengikuti Maya visite. "Lah, kok aku malah nggak dikasih tau ya mba" Maya dan bidan itu tertawa.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
to be continued, happy reading.