Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 69


__ADS_3

"Sayang, kamu kah yang menyuruh pak Bambang menambah obgyn baru di rumah sakit?" Maya menatap suaminya yang baru selesai mandi.


"Iya memang kenapa?" Mayong mengeringkan rambut, Maya mendekat membantunya.


"Kan sudah ada aku, dokter Budi dan dokter Anita. Bukannya itu sudah mencukupi sayang?" Maya mengusap-usap rambut suaminya dengan handuk. "Bener ingin tau alasannya????" tatap Mayong lewat kaca rias. Dijawab anggukan Maya.


"Satu, aku nggak mau kesibukanmu membuat kamu capek. Dua, kesibukanmu membuat kamu melupakanku. Tiga, kesibukanmu membuatmu melupakan Raja. Keempat, kesibukanku membuat kita jarang ketemu. Kelima, kegiatan enak-enak kita sering terganggu dengan panggilan IGD mu" senyum puas tersungging di bibir Mayong.


"Alasan macam apa itu?" sungut Maya. Mayong terbahak berhasil mengerjai istrinya.


"Sini duduk!!!" Mayong menepuk kursi kosong di sebelahnya. Maya duduk di samping suaminya. "Mau jawaban jujur nggak?" Mayong melihat istrinya yang masih manyun. Maya menoleh.


"Aku awalnya hanya mengusulkan pak Bambang untuk menambah obgyn baru. Beliau menyetujui karena punya alasan kuat, pasien di bagian kebidanan memang meningkat sayang. Tapi bisa juga karena pak Bambang tak berani menolakku sih...he...he...."tutur Mayong. "Daripada kamu kusuruh berhenti kerja, ayo pilih yang mana?" Mayong mulai serius.


"Iya...iya...yang penting aku kau ijinkan tetep kerja sayang. Lagian ilmu yang kupelajari kalau tidak diamalkan ntar bisa lupa. Akan kuusahakan sebaik mungkin membagi waktu untuk kamu dan Raja" janji Maya.


"Bener ya? Bukan janji palsu kan?" Mayong kembali tertawa. Maya menggeleng.


"Sini peluk suami kamu kalau memang bukan janji palsu!!!" seru Mayong. Maya pun memeluk sang suami seperti anak-anak yang menuruti perintah orang tuanya. Mayong kembali tertawa.


Mayong menyiapkan keperluan pindah rumah. Tentu Doni lah yang lebih repot menyiapkan semua. Mayong tinggal perintah aja. Semua perabot rumah pun sudah lengkap. Alat dapur yang diminta istrinya, sudah tersedia. Bahkan Mayong menyiapkan tenda untuk acara syukuran pindah rumah itu. Selain adik-adik Maya dari panti Asih, Mayong juga mengundang anak-anak panti yang lokasinya ada di dekat mansionnya.


Semua keluarga lengkap sudah hadir. "Pak, Buk ayo duduk sini" ujar Maya sambil menyalami kedua orang tua angkatnya. Bu Marsinah hendak menggendong Raja. Mama Clara pun menyerahkan sang cucu ke neneknya. "Apa kabar bu?" sapa mama Clara. "Alhamdulillah kabar baik nyonya" tukas bu Warsinah. Acara dimulai tausiyah ustad kondang, dilanjutkan acara makan bersama. Acara syukuran itu berjalan lancar.

__ADS_1


"Mayong, tanggung jawabmu semakin besar. Jadikanlah keluargamu tujuan terakhirmu" pesan papa Suryo. Ayah Abraham menepuk pundak sang menantu "Kebahagiaan anak dan istrimu semua kupercayakan padamu Mayong. Ayah yakin hanya kamulah yang bisa ayah percaya" ayah Abraham menambahi nasehat papa Suryo.


Raja yang berumur enam bulan semakin embul menggemaskan. Semua keluarga yang ada di acara itu saling berganti menggendongnya. Saat tiba di tangan Bara meledaklah tangisan Raja.


"Eh...eh...Om belum juga menciummu. Kenapa menangis sayang?" Bara kebingungan.


"Kau apakan anakku?" Mayong menepuk bahu Bara sedikit keras. "Baru aja gendong, Raja sudah nangis duluan".


Mayong mengambil sang anak dari gendongan Bara. Karena sudah hafal dengan wajah sang papa, Raja terdiam bahkan tersenyum ke arah Mayong. "Om kamu bau ya nak? Makanya Rajaku ini tidak mau digendong sama Om. Iya kan?" suara Mayong terdengar tidak enak di telinga Bara. "Enak aja, sebotol parfum ni tadi kupakai" alasan Bara.


"Sayang, ajak Raja ke sini" suara panggilan Maya dari belakang Mayong. Mayong dan Raja menghampiri. "Sini biar Raja bersamaku. Sekarang waktunya Raja minum ASI dan bobok" lanjut Maya. Maya menggendong Raja masuk ke dalam mansion. Mayong kembali menemui tamu-tamunya. Sejak saat itu Mayong dan Maya tinggal di mansionnya. Dibantu Bi Inem, pak Amin dan juga Rani. Ditambah penjaga-penjaga yang bergantian di depan.


"Sayang...sayang...kamu di mana?" Mayong sedikit berteriak melihat sang istri tidak berada di sampingnya saat pagi-pagi buta. Raja yang tengkurap di samping Mayong malah tertawa mendengar suara papanya. "Oh, anak papa sudah bangun ya? Raja bangunin papa?" Mayong dengan mimik dibuat selucu mungkin di depan sang putra. Suara tawa Raja malah semakin menggemaskan.


"Mencoba buat bubur susu untuk Raja. Kan Raja sudah enam bulan. Waktunya mulai belajar makan sayang" jelas Maya.


"Untuk suamiku, roti tawar dengan selai aja ya" Maya tersenyum dibuat semanis mungkin karena belum sempat masak untuk Mayong. "Makasih, meski hanya dengan roti dan selai aku tetap cinta sama kamu" kekeh Mayong. Maya pun tertawa. Suaminya memang pengertian, batinnya.


Maya dan Mayong memulai kesibukan seperti biasanya. "Sayang, nanti jadwal polikilinik aja kan?" sesaat sebelum Mayong memasuki mobil.


"Kutunggu makan siang di Dirgantara" pesan Mayong. "Tidak janji" Maya mencium tangan sang suami, tak lupa Mayong cium kening istrinya.


"Usahakan ya" Mayong memaksa. "Pak Amin istirahat siang antar nyonya ke Dirgantara ya!!!" perintah Mayong. Pak Amin, "Siap Tuan" mengangguk hormat. Mobil mereka beriringan keluar dari mansion. Maya dengan pak Amin, Mayong dengan Doni.

__ADS_1


"Pagi Nina, sudah siap dengan pasien hari ini???" sapa Maya ramah sambil memasukkan tas keluaran terbarunya hadiah spesial dari Mayong di rak sampingnya. Bukannya menjawab Nina malah memperhatikan tas sang dokter, "Woooowwwww, limited edition. Ijin pegang ya dokter?" Nina sumringah melihat tas Maya.


"Memang ini bener limited edition?" Maya tak percaya.


"Wah, gimana sih dokcan. Tas ini hanya diproduksi lima biji di seluruh dunia. Harganya fantastis" Nina membeo.


"Really?????" Maya tak percaya.


"Dokter pasti tidak tau harganya?" ucap Nina lugas.


"Memang" Maya singkat menjawab.


"Tau nggak dokter, tas itu tembus dengan angka 5 dan dibelakangnya berjejer angka 0 sebanyak sembilan" terang Nina.


Maya mencerna ucapan Nina sang asisten, "Hah...5 milyar? Benarkah?" Maya masih tak percaya. Nina mengangguk. "Suamiku boros sekali" gerutu Maya.


"Bukan boros dokter, tapi suami anda itu memang sultan" jelas Nina. Mereka pun tertawa.


"Ayo dimulai, nanti nggak selesai-selesai" ajak Maya. "Siap dokcan" gurau Nina dan bersikap hormat layaknya upacara.


Selepas jadwal poliklinik, Maya meluncur ke Dirgantara. Setelah turun, Maya berjalan ke lobi. Para resepsionis tersenyum ramah di hadapan sang nyonya besar. Maya pun membalasnya dengan senyuman ramah. Sesampai di lantai paling atas, sesaat setelah keluar dari lift Maya melihat seorang wanita dengan make up tebal dan baju seksi tertutup sedang bicara dengan Sinta sekretaris suaminya. Siapa? pikir Maya.


#to be continued#happy reading#🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2