Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 111


__ADS_3

Pagi hari di mansion papa Suryo, "Sayang pas jam makan siang aku jemput ya??" Mayong memulai pembicaraan. "Mau ke mana? Pagi ini aku njadwalin curretage aja. Habis itu longgar. Hari ini biar Alex yang jaga ruangan rawat inap" tukas Maya. "Emang kalian mau ke mana? Ingat Raja tuh, tiap hari ditinggalin mulu" seloroh Bara nimbrung. "Suka-suka gue dong. Istri juga istriku sendiri..." Mayong dengan candaannya. "Lagian ya Bar, Oma sama Opa nya aja nggak keberatan" Mayong menambahkan. "Emang kalian mau ke mana Mayong?" sela mama Clara. Raja yang duduk di samping mamanya makan dengan belepotan. Balita itu memang sedang aktif-aktifnya. "Mayong itu mau mampir ke Abraham Mah. Bara kan semalam juga dengar" tukas Papa Suryo menengahi. Bara dengan Yasmin tetap melanjutkan acara sarapan paginya. "Bee, hari ini nggak usah ke butik dulu. Istirahat dulu aja" ujar Bara. "Iya, bener tuh kata kak Bara. Pulihkan tenaga dulu" gurau Maya. "Makanya Kak, jangan digempur melulu. Kasihan tau adik iparku ni" celetuk Maya berikutnya sambil tertawa. "Kayak kak Mayong nggak begitu aja May, gini-gini aku juga berguru sama kak Mayong loh" Bara menimpali. "Wah, kalau itu wajib Bar. Rasanya nggak ada yang ngalahin...luar biasaaaaaa. Bener kan Pah?" Mayong mulai melibatkan papa Suryo, sang guru besar yang paling ahli dalam urusan rumah tangga. Tawa di meja makan itu pun pecah. Kehadiran anak dan cucunya memang menambah meriah suasana mansion, benak papa Suryo.


"Sayang, kalau cuma bentar tindakannya. Aku tungguin aja. Abis itu kita meluncur ke ayah" jelas Mayong. "Emang ada apaan?" selidik Maya. "Ada dech" ucap Mayong membuat penasaran. "Ntar papa mama sama Raja nyusul Mayong" seloroh papa Suryo. "Iya Pah" Mayong meranjak dan mengajak Maya barengan. Disusul Bara. Sementara Yasmin hendak membantu mama Clara memberesi meja makan. "Yasmin, kamu panggil aja mbaknya di belakang. Biar meberesin semua. Kita ke taman aja, mainan sama Raja" ajak Mama Clara. Raja yang juga sudah selesai makan disuapi Maya, berceloteh tanpa arti. Menambah gemas Yasmin. "Raja biar kugendong aja Mah" pinta Yasmin. Mama Clara menyerahkan Raja yang berada di gendongannya, "Aku ke papa dulu ya, mau nyiapin perlengkapan tenisnya. Abis ke Ayah Abraham katanya mau main tenis bersama".

__ADS_1


Mayong dan Maya sudah sampai di Suryo Husada. "Yank, nungguin di mobil atau gimana?" tanya Maya saat hendak turun dari mobil. "Ikut ajalah, cuman bentar kan?" Mayong pun ikutan turun dari mobil. Mereka jalan beriringan menuju ruang bersalin. "Hei, tungguin!!!" terdengar suara Bara di belakang mereka. "Loh, sama Bara yank?" Mayong meninggikan sebelah alisnya. "He...he....siapa lagi?" Maya terkekeh. "Biasa aja, aku dikabari juga pas lagi otewe" tukas Bara saat melihat ekspresi sang kakak. Bara dan Maya memasuki ruang bersalin bersamaan. "Sebenarnya tindakan curret tidak perlu dirawat inapkan sih, tapi gimana lagi puasanya juga belum mencukupi dan rumah pasien jauh akhirnya kujadwalkan pagi ini kak" jelas Maya. "Bilang aja kalau kamu maunya aku yang mbius May...ha...ha..." ledek Bara. "Itu juga salah satu alasannya sih, biar kak Bara nggak nggempur sahabatku terus...ha...haa...." balas Maya tak mau kalah. Bidan yang jaga pagi sudah pada heboh nyiapin pasien dan alat steril yang diperlukan. "Sayang, tunggu aja di ruang dokter ya. Aku anterin" Maya mengajak sang suami untuk menunggunya di ruangan yang dimaksud. Saat Maya mengerjakan tindakan dengan Bara yang membiusnya, masuklah Alex ke ruangan istirahat itu. Dengan sedikit terkaget, Alex akhirnya menyapa Mayong. "Selamat pagi tuan...lagi nungguin dokter Maya?" sapa Alex ramah. Mayong hanya mengangguk. "Kalau gitu, permisi dulu tuan. Saya visite dulu" pamit Alex setelah meletakkan tas di loker kerjanya. "Bagaimana bisa, ruang kerja istrinya jadi satu dengan dokter lain????", batin Mayong. Mayong selanjutnya menelpon pak Bambang. Mayong menjelaskan ke pak Bambang apa yang menjadi permintaannya. Setelah pak Bambang menyanggupi, Mayong menutup panggilan ponselnya. Sementara pak Bambang yang sedang berada di ruang direktur hanya bisa menepuk jidatnya, ada-ada saja perintah tuannya itu. Pasti lagi cemburu dengan dokter yang se-grub jaga dengan dokter Maya, pikir pak Bambang.


Maya segera menghampiri suaminya setelah selesai tindakan. Sementara Bara menuju ruang bedah sentral. "Sayang, ayo. Sudah selesai nih" ajak Maya. Mayong pun beranjak dari duduknya. "Mba, nanti kalau ada pasien baru konsulkan dokter Alex aja ya. Hari ini jaganya dia kan?" ujar Maya saat mereka melewati ruang jaga. "Siap dok, dokter Alex juga sekarang sedang visite" jelas salah satu dari mereka. "Baiklah, aku pergi dulu ya" pamit Maya ke para bidannya.

__ADS_1


Maya masuk ke ruang pemeriksaan saat antrian pasien ayahnya sudah selesai. "Aku langsung naik ke bed periksa aja ya yah?" ucap Maya. "Naiklah !!!! Ayah juga mau tau keadaan cucu ayah. Masih emesis May?" tukas Ayah Abraham. "Lumayan berkurang sih Yah, apalagi kalau dipakai tindakan di ruang operasi rasa mual tidak ada sama sekali" jelas Maya. "Kalau lagi senggang, malah datang lagi mualnya" tambah Maya. "Lah, kok ada-ada saja. Obat mualnya harus berada di ruang operasi dong" sela papa Suryo. Semua tertawa. Tranducer USG oleh Abraham digerakkan di perut bawah Maya, "Bentar..bentar Yah..tolong stop" Maya memegang tangan ayahnya untuk menghentikan pergerakan probe USG itu. Semua yang ada di ruangan itu menatap serius monitor yang ada di ruangan. Maya juga seakan tak percaya dengan hasil di monitor itu. "Ada apaan sih? Buat takut aja" ujar Mayong dengan tak sabar. Sementara Maya dan ayah Abraham melakukan tosss dibatas perut Maya. "Hei, ada apa dengan menantu saya?" papa Suryo ikut menimpali. "Gimana May, kasih tau apa enggak?" goda ayah Abraham ke besannya.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


to be continued, happy reading 😊😊🤗


__ADS_2