
Selepas makan malam berdua, Mayong dan Maya menikmati televisi yang menayangkan drakor. "Nggak ada lagi kah yang lain? Drama melulu" keluh Mayong.
"Yeeiiii, cowok-cowoknya ganteng. Jangan salah yaa" seru Maya.
Mayong mengganti chanel TVnya. Nampaklah berita tentang David, perwakilan dari Samudera Group. "Eh.., bukannya itu yang ketemu kita waktu makan di mall sayang?" tanya Maya.
"Ooooo...dia pengusaha juga?" Maya mulai penasaran. Ada hubungan apa suaminya dengan tuan David dan wanitanya itu?, batin Maya.
Mayong merengkuh bahu istrinya, dan mulai menceritakan ada hubungan apa dirinya dengan David. Jelita pun tidak terlewatkan oleh Mayong.
"Sekarang sudah paham kan?" Maya mengangguk tanda mengerti. "Dokter harus pintar dong?" Mayong mengelus rambut istrinya. Maya hanya terkekeh.
Suaminya sudah menceritakan semua. Sebagai orang dewasa, tentu Maya menerima segala kekurangan dan kelebihan suami. Semua punya masa lalu, tanpa masa lalu tak kan ada masa sekarang dan masa depan. Yang penting bagaimana mereka berdua merengkuh masa depan untuk kebahagiaan.
Mayong pamit ke ruang kerja sebentar. Maya yang sudah mulai memahami kebiasaan suaminya, beranjak ke dapur membuatkan minuman hangat untuk Mayong.
"Yang, minumannya" tawar Maya. Mayong menoleh, "Duduk sini saja". Maya duduk di depan Mayong, dan melihat buku yang berjajar rapi di ruang kerja suaminya. Matanya berbinar ketika melihat buku tebal di tengah rak buku.
"Wooowwww, jurnal yang selama ini kucari" Maya bahagia bagai menemukan harta karun. Mayong tersenyum. Maya mencium pipi suaminya, "Makasih sayang".
"Lagi dong, masak cuma pipi sebelah. Nggak seimbang dong" seru Mayong.
__ADS_1
"Nanti aja, kalau sekarang jadinya nggak lanjut bacanya" Maya sudah tau ujungnya ke mana.
"Kok nggak jadi baca, emang mau apaan?" pura-pura Mayong. Dia senang sekali menggoda istrinya, yang nampak imut itu.
"Kutunggu janjinya...malam ini" sarkas Mayong tertawa. Maya memutar bola matanya malas. Sungguh absurd suaminya saat ini.
Di ruangan yang sama, dengan kesibukan berbeda. Maya sangat menikmati bacaannya, sampai lupa keberadaan suami...he...he.... Terdengar deheman Mayong. Maya menoleh dan terkekeh, "Maaf, jurnalnya bagus. Pinter sekali prof. Brahma menyusunnya" Maya mencari alasan karena terlalu fokus dengan jurnal di depannya. Sudah menjadi kebiasaan, kalau membaca sampai lupa waktu. Bahkan Maya tak sadar hampir satu jam Mayong memperhatikannya membaca. Mayong mencubit pipi Maya gemas, "Serius amat bacanya".
"Sekarang giliranku yang serius" Mayong mendekati Maya. "Serius apaan???" Maya meringsek sedikit manjauh. Mayong semakin mendekati wajah istrinya, "serius ngaduk adonan dong" bisik Mayong.
Dan terjadilah di sana di ruang kerja. Pengantin baru memang tidak mengenal tempat untuk berbagi peluh.
Dini hari Mayong mangangkat istrinya ke kamar. Mayong yang terjaga, tangannya mulai tak terkondisikan. Dia sibak atasan istrinya, dia sesap lagi buah ceri bagai orang kehausan. Maya menggeliat manja. "Sayang" desahnya. "Ayo kamu pimpin permainan!!!" pinta Mayong. Maya bangun dari tidurnya. Maya mengerti permainan yang diinginkan suaminya, dia jelajahi setiap jengkal badan tegap di depannya. Bahkan banyak jejak yang dia tinggalkan. Sampailah Maya ke benda tumpul yang sudah menegak itu. Maya sesap dan kulum seperti es krim. Mayong sudah merah padam. Tangannya mulai bergerak aktif di inti tubuh istrinya. Mereka sama-sama merah padam menahan. Maya duduk di atas paha suaminya, sehingga kedua bukit itu benar-benar memanjakan bibir Mayong. Maya bergerak ke atas bawah seirama dengan kedua bukitnya, semakin lama semakin cepat. Hisapan itu semakin kuat dirasakan Maya, Mayong bahkan semakin menenggelamkan bibirnya dan sukses mengulumnya. "Tahan sayang kita barengan" bisik Mayong. "Aaahhhhhhh teriak Maya, ambruk mendekap suaminya. Bahkan kedua bukit itu juga sukses mendarat tepat di dada Mayong. Mayong memeluk istrinya, seakan tak mau lepas. Malam ini Maya benar-benar dibuat terkulai lemas beberapa kalk oleh ulah suaminya.
"Mau lagi?" kerling nakal Mayong. Maya menarik selimut menutup kedua gundukan indah itu.
"Jangan ditutupin, aku sudah hafal setiap incinya bahkan rasanya sungguh wooowwwwww...." goda Mayong. Mayong tertawa senang menggoda istrinya. "Masih jam lima, masih cukuplah satu ronde lagi, lagian bi Inem sudah tau kode akses masuk sini. Kita nggak repot bukain pintu". Akhirnya satu ronde yang diinginkan Mayong terlaksana, Mayong tersenyum puas. "Makasih istriku" ucapnya. Maya tersenyum jengah. Inti tubuh dan kedua buah kembarnya bahkan sudah terasa kebas. Mayong menyusul istrinya berendam, Maya yang tertidur di bath up terlonjak kaget. "Sayang ngagetin aja" seru Maya. Mayong membersihkan tubuh Maya, sekali-kali masih mencuri kesempatan menjamah dengan nakal bagian-bagian favoritnya.
Tak terasa satu bulan sudah Mayong dan Maya mengarungi bahtera rumah tangga. Saat jam makan siang, Maya menelpon suaminya. Hari ini Maya hanya pelayanan di poliklinik. Setelah rehat siang, Maya sudah tidak ada kegiatan. Pak Bambang memang benar-benar menjalankan perintah atasannya. Bahkan operasi cito malam hari, selama sebulan ini Maya belum pernah dikonsuli.
"Iya Sayang, lima menit lagi ya aku telpon. Tinggal nutup rapat aja" Mayong menutup panggilan Maya. Maya bersungut, dia merasa bosan dengan kegiatan yang dikurangi suaminya. Nina yang melihatnya, tersenyum melihat kelakuan dokcannya itu.
__ADS_1
Tepat lima menit, perfect mengalun. "Halo sayang, siang ini jemput aku ya. Aku mau ke rumah ayah" rengek Maya tanpa memberi kesempatan Mayong menjawab. Maya yang biasanya mandiri, tidak tau kenapa beberapa hari ini hanya ingin diantar jemput suaminya. Maya tidak mau lagi diantar jemput pak Amin. Mayong yang sedikit kerepotan pun tetap menuruti kemauan istrinya. Mayong hanya tertegun di seberang. Jadwal rapat habis makan siang sudah menunggu. Tapi demi istrinya, apalah daya...he...he...
"Don, rapat siang ini kamu cancel dulu ya" Mayong keluar meninggalkan ruang rapat. Doni hanya tersenyum kecut. Memang gampang me-rescedule jadwal rekanan, batinnya. Tapi CEO mah bebas.
Mayong dan Maya berada di kediaman Abraham. Abraham yang kebetulan jadwalnya kosong, menunggu kedatangan putri satu-satunya itu.
Selepas makan siang, Maya duduk memeluk ayahnya dengan manja. "Aneh sekali kamu Nak, nggak biasanya manja begini?" seru Abraham.
"Iya Yah, beberapa hari ini aja Maya ngebiarin Pak Amin nganggur" sela Mayong. Abraham yang paham betul perubahan hormon wanita, mengernyitkan alisnya.
"HPHTmu kapan May?" potong Abraham. (HPHT\=Hari Pertama Haid Terakhir). Hal itu pasti ditanyakan oleh seorang dokter, saat curiga pasiennya hamil. Jadi sekarang Abraham curiga kalau putrinya tengah hamil he..he..
Maya menggaruk kepala, baru tersadar dengan pertanyaan ayahnya.
"He...he...kayaknya sudah lima mingguan Yah. Tapi masak langsung jadi ya Yah????" bego Maya.
Mayong bengong mendengar obrolan ayah dan istrinya itu. Sementara Abraham tertawa, "Kamu itu polos apa memang nggak ngeh dengan kondisimu sendiri May? Jangan hanya pintar dongeng ke pasien dong" cetus Abraham.
"Mayong, pulang dari sini jangan lupa beli tes pack di apotik" pesan Abraham.
"Buat?????" Mayong meminta penjelasan. Meski usianya sudah di atas 30, Mayong masih awam.
__ADS_1
Abraham gemas dengan Mayong, "Makanya jadi orang jangan hanya pintar ngaduk adonan dan ngocok telur doang". Mayong semakin tak mengerti. Maya yang gemas melihat ekspresi Mayong, akhirnya menciumnya. "Nanti di rumah aku ajari. Oke!!!" Maya mengerling nakal ke suaminya. Abraham hanya geleng kepala melihat keduanya.