Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Cari Cara


__ADS_3

Aku harus mencari cara secepatnya untuk melarikan diri.


"Bang... abang...bang... perutku mules nih bang, tolong dong" teriak Maya dengan suara memelas.


"Ayolah bang, buka pintunya!!!" Maya mencoba mencari kesempatan.


Pintu pun terbuka. "Ada apa, teriak-teriak aja kerjaanmu?" penculik dengan tampang sangar itu datang mendekati Maya.


Maya mencoba bersikap tenang. "Ayolah bang, perutku mules banget ni, bolehlah aku ke toilet" pinta Maya.


Malas dengan rengekan Maya, akhirnya orang itu melepas juga ikatan Maya, "jangan coba kabur kau!!!" menghardik Maya.


Maya ke toilet, penculik itupun tetap mengikuti Maya. "Ayolah bang, aku mau buang besar ini. Kalau kau tahan baunya tetaplah dekat sini" Maya mencoba mengalihkan perhatian. Sekitar 30 menit Maya berada dalam toilet. Maya berpikir mana bisa kabur dari sini. Akses untuk keluar hanya pintu depan. Itupun dijaga dua orang berbadan besar dan sangar itu. Ponselnya tak tau ada di mana sekarang. Seingatnya ponselnya masih dalam tas, sewaktu dianter Mayong pulang. Mau menelpon temannya pake ponsel siapa, begitu pikir Maya. Seumpama ada ponsel nomer kontakpun juga tidak ada yang dia hafal. Maya merogoh sakunya, tak sengaja menemukan sebuah kartu nama. "Apa ini" gumam Maya. Setelah dilihat ada kartu nama atas nama Mayong ,CEO Dirgantara Grup lengkap dengan nomor ponselnya.


"Hhmmmm" Maya menimang kartu nama itu. Maya ingat kartu nama itu diberikan Bara sewaktu selesai makan bersama Mayong di kantin. Maya juga sempat menanyakan ke Bara, ngapain ngasih nama kartu Mayong. Waktu itu Bara mengatakan simpan aja barangkali suatu saat diperlukan.


"Hei..kau yang di dalam. Lama sekali kau buang air. Kuhitung sampai tiga, kalau tidak keluar ku dobrak pintunya...satu.... dua....ti....Penculik bersiap mendobrak pintu tapi pintu terlanjur dibuka duluan sama Maya. Orang itupun kejedot tembok.


"Ati-ati bang, jaga baik-baik tu kepala, benjol kan?" Maya berlalu begitu saja sambil tersenyum. Dalam situasi seperti ini Maya berusaha tetap tenang.


"Hei, kembali" orang itu menyusul Maya sambil menodongkan senjata tajamnya. Maya berhenti.


"Ada apa bang, mau mengikatku lagi. Ikat aja" Maya menyodorkan tangannya ke depan. Setidaknya kalau diikat di depan dia agak lebih leluasa bergerak, daripada diikat di belakang. Maya berusaha membuat penjaga itu lengah.

__ADS_1


"Bang, sudah lama bekerja beginian? Jadi preman enaknya apa bang?" Maya mencoba mengajak ngobrol.


"Ngomong-ngomong teman abang ke mana? abang kok sendirian aja?"


Merasa jengah dengan pertanyaan-pertanyaan Maya, orang itu menyuruh Maya diam.


Susah juga membuat lengah orang ini. Aku harus bisa mendapatkan ponselnya, batin Maya.


"Bang, tega amat kau bang. Aku lapar ini" Maya mencoba mengajak bicara lagi.


"Tunggu, temanku masih cari makanan di luar" bentak orang itu.


Ketika hendak menutup pintu, ternyata pintu sudah dibuka dari luar. Orang yang menjaga Maya pun kejedot lagi, "Apes banget kepala gue" gumamnya. Mereka bertabrakan. Masing-masing tidak mau kalah dan berdebat. Tanpa mereka sadari ada yang terjatuh dari saku orang yang kejedot tadi. Maya terdiam, pucuk dicinta ulam pun tiba.


Dengan susah payah, Maya meraih barang yang terjatuh dari saku preman tadi. Pas banget...Maya menemukan ponsel orang itu. Maya mengambil kartu nama yang ada di sakunya. Coba kuhubungi tuan Mayong saja. Semoga keberuntungan memihakku, gumam Maya.


Maya mencoba nomer ponsel yang ada di kartu nama itu. Sudah beberapa kali tapi tidak terangkat. "Ayolah tuan, angkat telponku" harap Maya. Sudah lebih sepuluh kali Maya mencoba menelpon Mayong tetap tidak diangkat. Akhirnya Maya mencoba mengirim pesan "Tuan Mayong, tolong aku. Maya". Pesan itu terkirim. Sampai beberapa menit, belum ada balasan. Maya pasrah. Hanya itu jalan satu-satunya dia minta tolong. Sebelum para penculik itu menyadari ponselnya ketinggalan di dalam. Maya menghapus panggilan keluar yang telah dilakukannya. Pesan pun juga dihapus Maya, setelah yakin terkirim. Semoga tuan Mayong menerima pesanku, doa Maya. Orang yang kejedot pintu itu kembali lagi. Ternyata sudah menyadari kalau ponselnya terjatuh. Karena gelap, orang itu menyalakan senternya. "Ah..ketemu" gumamnya. Dia melihat Maya sekilas. Maya berpura-pura tertidur. Setelah orang itu keluar, Maya bernafas lega. Untungnya...


Di apartemen Mayong, terdengar panggilan masuk di ponsel Mayong. Bahkan panggilan masuk terdengar beberapa kali. Dilihatnya ponsel itu. Nomer tidak dikenal, ngapain malam malam nelpon. Mayong menaikkan alisnya. Biarkan sajalah, palingan juga orang iseng. Mayong meletakkan ponselnya di atas nakas tanpa tau kalau sesudah itu ada pesan masuk. Mayong tidur dengan nyenyaknya.


Bara dan Yasmin pun tetap mencari keberadaan Maya. Mereka mencari ke tempat-tempat yang kemungkinan disinggahi Maya. Sampai malam mereka juga belum menemukan keberadaan Maya.


"Kasihan Maya kak, sekarang pun kita belum menemukannya" Yasmin hampir menangis. Yasmin hampir putus asa mencari Maya. Bara berusaha menenangkan Yasmin, "Baiknya kita pulang dulu saja, mencari seseorang yang tidak tau keberadaannya pun butuh tenaga dan cukup istirahat. Besok pagi-pagi kita mulai pencarian lagi" ajak Bara.

__ADS_1


"Baiklah kak, kalau gitu langsung ke ruko ku aja" pinta Yasmin. Karena jalan yang dilalui sekarang searah ke rukonya.


Sesampai di ruko, Yasmin turun. " Besok pagi kujemput lagi. Aku tak ambil cuti besok dari rumah sakit" Bara berlalu pulang.


Keesokan hari. Maya terbangun dari tidur yang tidak nyenyak. Bagaimana bisa nyenyak, tidur dengan terduduk dan kedua tangan kakinya terikat. "Oh badanku terasa remuk semua, tulang-tulangku rasanya juga mau misah dari sendi-sendinya. Apalagi cacing-cacing di perut, kenapa kompak sekali pada demo?" keluh kesah Maya.


Tiba-tiba, orang yang dipanggil bos kemarin menerobos masuk ke ruangan Maya disekap. Orang itu tersenyum sinis, "Apa kamu menikmati tidur di tempat dingin dan pengap ini dokter?" Maya masih terdiam. "Bahkan saya sudah merasakan beberapa bulan berada di tempat seperti ini" orang itu berceloteh.


"Bahkan karena hasil visummu juga, hukumanku diperberat menjadi lima belas tahun penjara" begitu ujarnya.


Visum... visum..Maya mencoba mengingatnya.


"oh..oh...ternyata kamu.." Maya menghentikan perkataannya setelah dipotong oleh orang itu.


" Yaaaa...aku ayah tiri dari seorang anak yang bernama Maya. Yang bahkan karena keterangan visummu itu memberatkan hukumanku" wajah orang itu semakin merah padam.


"Lalu bagaimana bisa kamu di sini, sementara kamu harusnya di penjara?" tanya Maya.


"Pertanyaanmu sungguh bodoh dokter..jelas-jelas aku melarikan diri dari penjara" seringai licik terlihat di wajah orang itu.


Orang itu mendekati Maya. "Kalian berdua berjaga saja di luar" perintah orang itu ke anak buahnya.


Dagu Maya ditengadahkan dengan paksa, Maya meronta. "Kalau diperhatikan, wajahmu cantik juga dokter..ha...ha...., bagaimana kalau aku juga melakukan seperti yang kulakukan ke Maya anak tiriku. Bahkan kalian sama-sama bernama Maya dan ternyata nasib kalian sama...ha....ha...." tawanya semakin membahana di ruang pengap itu. Maya bergidik ngeri. Orang itu mengelus-ngelus pipi Maya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2