
Sementara itu di balik jeruji besi kantor polisi, tuan James nampak tergugu karena menyesali perbuatannya yang telah menembak adik kandungnya. "Maafkan aku Clara. Aku tidak sengaja" sesalnya. Tuan Akio yang berada satu sel dengan tuan James hanya mengamati saja.
"Apa yang kau lakukan tuan James, semua sudah terjadi. Bahkan tidak perlu ada yang disesali. Bahkan aku tidak membayangkan apa yang akan dilakukan tuan Mayong terhadapku. Yang telah berani mengkhianatinya" tuan Akio menghela nafas panjang.
"Bahkan mungkin aku akan sulit kembali ke negaraku. Bertemu dengan keluargaku" kata tuan Akio dengan wajah menunduk.
Tuan James semakin tergugu dalam tangis, "Seandainya bisa kuputar kembali, pasti aku akan merestui pernikahan adikku dengan orang yang dicintainya. Saat ini hanya dia lah saudaraku tuan Akio. Bahkan aku dengan tega menembaknya". Duo orang penuh penyesalan itu saling menguatkan dalam sel kecil penjara yang pengap itu.
Keesokan hari, sebelum bertolak ke RS Suryo Husada Mayong menyempatkan mengunjungi tuan James dan juga tuan Akio di kantor polisi. "Akan kupastikan kalian berdua menderita di sini. Setelah apa yang kalian perbuat terhadap mamaku" ucap Mayong dengan tatap mata tajam. "Maafkan aku Mayong. Maafkan pamanmu ini. Aku yang begitu kerdil selama ini. Bahkan telah tega membuat mama mu menderita" ujar tuan James terbata. Bahkan Mayong juga sedikit kaget dengan reaksi tuan James. "Saat ini hanya mama mu keluargaku Mayong, ijinkan pamanmu ini untuk menemuinya. Beri kesempatan aku minta maaf padanya Mayong" lanjut tuan James penuh penyesalan. "Untuk apa? Untuk mencabut laporan terhadapmu? Itu tidak akan pernah kulakukan tuan James" seru Mayong dengan suara datar. Belum nampak emosi di suara Mayong.
__ADS_1
"Dan untuk tuan Akio, terima kasih karena telah menunjukkan belangmu sendiri tanpa aku harus bersusah payah menyelidiki kebocoran yang telah kau lakukan di perusahaan. Aku pastikan kau akan mendapatkan hukuman yang setimpal. Dan jangan kuatir hak mu tetap akan kuberikan kepada istri dan anak-anakmu. Jangan harap lagi ada kerjasama antar perusahaan kita" tegas Mayong dan berlalu meninggalkan tempat itu. Tuan James dan tuan Akio hanya terdiam di tempat.
Sesampai di RS Mayong bergabung dengan papa Suryo yang sedang duduk selonjor di depan ruang ICU dengan wajah letihnya. "Pah, sebaiknya papa pulang dulu. Istirahatlah. Biar mama bersama aku dan Bara" ucap Mayong saat duduk di sebelah papa nya. "Mama mu belum sadar sampai sekarang, mana bisa aku tega ninggalin mama mu" jawab papa Suryo. "Pah, papa harus jaga kondisi juga. Sudahlah, percayakan padaku dan Bara" lanjut Mayong. Papa Suryo menarik nafas berat, "Bagaimana James dan Akio?" tanya papa. "Kupastikan mereka akan mendapatkan hukuman yang setimpal Pa" sahut Mayong. "Mayong, kurasa mama mu juga kangen dengan kakaknya itu" celetuk papa Suryo. "Maksudnya???" Mayong ingin mendapat penjelasan dari ucapan papa nya itu. "Semalam, mama mu beberapa kali memanggil James, meski mata masih terkatup rapat. Aku nggak tega pada mama mu Mayong" jelas papa Suryo. "Sekarang hanya tersisa James keluarga kandungnya. Meski sudah ada kita bersama, mungkin masih ada sisi ruang kosong yang mama mu sisakan di hati untuk kakaknya. Bagaimanapun hubungan darah tak bisa terputus begitu saja" imbuh papa Suryo.
Mayong nampak memikirkan hal itu. Papa Suryo beranjak, "Ya sudah papa ke mansion dulu. Jaga mama mu hari ini" perintah papa Suryo. Mayong pun mengangguk mengiyakan ucapan papa nya. Setelah papa Suryo beranjak dan pulang dengan sopir yang telah menjemputnya, Mayong memasuki ruang ICU di mana mama Clara berada. Berbagai macam selang masih tertancap di sana. "Mah, Mayong datang. Mama apa kabar? Maaafin Mayong ya Mah sudah buat mama seperti ini. Bangun dong Mah, Raja dan juga baby 3G sudah menunggu oma-nya" Mayong menggenggam erat tangan mamanya dan menciumi punggung tangan itu sambil terus mengajak ngobrol. Wajah mama Clara masih pias, meski bunyi denyut di monitor terdengar ritmik.
Terlihat pintu ICU terbuka, masuklah Bara ke sana. "Bara, gimana keadaan mama?" tanya Mayong. "Seperti yang kau lihat kak, saat ini mama lumayan stabil. Cuma aku cek pagi ini kadar hemoglobin darah masih kurang dari normal. Bisa karena efek perdarahan dari luka tembak itu. Itu makanya wajah mama masih pucat banget" jelas Bara. "Terus???" tanya Mayong berikutnya.
"Kok bisa begitu?" Mayong masih bertanya lagi.
__ADS_1
"Kak, usia mama sudah nggak muda lagi. Kalau darah kita gelontorkan langsung, aku yakin jantung mama nggak bakalan kuat" Bara duduk di seberang Mayong, di tepi sisi kiri mama nya. Mungkin jika mama Clara saat ini sadar, pasti akan merasa bangga karena kedua putra kebanggaannya sangat menyayanginya.
"Bar, kapan mama sadar?" Mayong mengecup lembut punggung tangan mama Clara yang mulai mengeriput. "Kalau itu aku juga nggak bisa mastikan kak. Sadar tidaknya seorang pasien tergantung yang di atas. Tapi setidaknya kita sebagai dokter harus mengupayakan penanganan pasien sebaik-baiknya" Bara menimpali. Mayong terdiam.
Mama Clara tersadar dari tidur panjangnya setelah terbaring di ICU selama tiga hari. "Pah, di mana ini?" tanya mama Clara yang begitu tersadar yanh dilihatnya pertama kali adalah suami tercintanya. "Di rumah sakit" jawab papa Suryo singkat. Mama Clara mulai mengingat kejadian sebelumnya. "Pah, boleh nanya sesuatu?" ucap mama Clara lirih. Papa Suryo mendekatkan wajahnya. Meski sudah tersadar, kondisi mama Clara lemah. "Hemmm" papa Suryo mengangguk. "Bagaimana kondisi Mayong Pah? Apa dia terluka?" tanya mama Clara. Papa Suryo memeluk istrinya. "Sudah jangan banyak bicara dulu, Mayong baik-baik saja. Bahkan kamu lah yang menyelamatkan putramu Mah" bisik papa Suryo. Tek sengaja air mata malah menetes di pipi mama Clara. "Ssstttt...sudah jangan menangis. Semua baik-baik saja. Untuk James, meski dia saudara kandungmu tapi proses hukum mesthi berlanjut" lanjut papa Suryo. "Sudahlah, jangan banyak pikiran dulu. Fokus saja ke kesembuhanmu Mah" ucap papa Suryo. Bara masuk ke ruangan dan melihat mamanya sudah sadar. Setelah memeriksa semuanya, "Saatnya pindah ruangan" celetuk Bara.
Bara meminta bantuan perawat untuk membantu mama Clara pindah ke ruangan VVIP yang memang disiapkan Mayong untuk keluarga Dirgantara. Mama Clara pun menuruti saran papa Suryo, dan sudah tidak banyak bertanya lagi. Ternyata di ruangan VVIP sudah menunggu Mayong, Maya, Raja dan baby 3 G lengkap beserta pasukannya..he..he... Ada juga istri Bara, Yasmine Melati Sukma. Raja yang tak mau duduk, berjalan ke sana sini dalam ruangan itu. Meski kadang ngobrol dengan Rani dengan bahasa yang hanya Raja dan Rani yang tahu.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
to be continued