Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 67


__ADS_3

Maya menyusul Mayong dan Raja selepas mandi ke ruang keluarga. Maya ambil alih sang anak ke pangkuannya. Maya menggelitiki sang putra, menciumi dengan gemas. Keluar suara tawa Raja yang menggemaskan. "Senang sekali kau nak, kangen mama kah??" Mayong mendekat ke mereka berdua.


"Makan malam dulu yuk!" ajak mama clara.


"Aku shalat dulu Ma" pamit Mayong diikuti papa Suryo. Maya yang sudah shalat duluan, berlalu ke meja makan sambil menggendong Raja. Makan malam dimulai setelah semuanya berkumpul.


Selepas makan malam, Mayong ngobrol dengan papa Suryo di ruang keluarga. Sementara Maya balik ke kamar Raja. "Mba...mba Rani..." panggil Maya. "Iya nyonya muda" jawab Rani. Rani gadis polos yang berasal dari desa, karena ketelatenan Maya mengajari cara-cara pengasuhan bayi. Rani sekarang lumayan cekatan untuk membantu mengasuh Raja.


"Kamu sudah makan?" Rani mengangguk.


"Nanti Raja biar tidur sama aku dan papanya aja. Kamu istirahat malam ini. Besok pagi waktunya kamu shift pagi, saat kutinggal kerja" pesan Maya. Rani pun balik ke kamarnya.


Maya juga tidak mau, putra semata wayangnya lebih banyak dengan baby sitter. Sebisa mungkin selama dia ada di rumah, Raja akan Maya pegang sendiri. Itu janjinya. Tapi janji kadang tinggal janji. Kalau ada operasi tengah malam, mau tak mau musti dititipin dong. Maya masih membayangkan hal itu.


Maya sedang menyusui Raja, ketika Mayong masuk kamar. "Raja bobok sini?" tanya Mayong.


"Iya lah, masak bobok dengan Rani. Aku kan mamanya" tegas Maya. "Tapi papanya juga ingin itu" arah mata Mayong menunjukkan yang diisap Raja.


"Mesum kamu sayang" Maya terkekeh. Mayong mendekat dan berbaring di belakang sang istri. Mayong peluk istrinya dengan posesif sambil melihat Raja yang menyusu dengan kuat.


"Jadi anak soleh ya Nak, semoga kau bisa menjadi kebanggaan papa dan mama" ucap Mayong mengelus-elus Raja yang mulai tidur. "Aamiin" sahut Maya.

__ADS_1


Melihat baby boy-nya sudah terlelap. Mayong membalikkan tubuh sang istri menghadap ke arahnya. "Sekarang giliranku sayang" Mayong menampakkan senyum nakalnya.


"Raja pindah dulu ke boxnya, aku nggak mau tidurnya ke ganggu gara-gara ulah papanya". Mayong pun memindahkan Raja ke box di samping ranjang mereka.


Maya sibuk menutupi area dadanya, selepas Mayong memindah Raja. "Jangan ditutup" ucap Mayong cepat. Mayong menghampiri sang istri, "Pipimu kenapa masih seperti tomat aja sayang? Malu ya?"Mayong terkekeh melihat yang sang istri yang sampai sekarang masih sering malu-malu kalau diajak mantab-mantab. Malu-malu tapi mau.


Mayong mulai menyerang Maya, "Aku kangen sayang, aku selalu kalah saing dengan Raja sekarang" keluh Mayong. Maya pun tertawa pelan melihat reaksi Mayong. "Husss, anak sendiri masak dicemburuin".


Maya pun mulai bergerak aktif memimpin permainan, agar suami nya tidak cemburu lagi. Maya jelajahi badan sang suami. Sementara tangan Mayong juga tak kalah aktif. Baju yang menempel di badan sudah tidak tahu ke mana perginya. Maya yang berada di atas dengan setengah membungkuk dia hadapkan bukit kembarnya yang menjuntai ke bibir Mayong. Secepat kilat dilahaplah buah ceri kemerahan itu. Mayong sesap dan sesap lagi bergantian. Tangan Maya sudah memposisikan pas di torpedo yang siap meluncur bertemu musuhnya. Maya hentakkan badannya saat torpedo menembak tepat sasaran. "Sayang...faster..." teriak Mayong sambil *******-***** bukit kembar yang bergerak aktif di depannya. Dan keluarlah ledakan torpedo yang akhir-akhir ini sering puasa.


Sesaat seteleh torpedo melepas tembakan, terlihat Raja menggeliat. Maya buru-buru memakai bajunya. Sedangkan Mayong yang sudah memakai bokser mendekati Raja. "Kenapa Nak, keganggu papa ya. Yuk tidur lagi" Mayong mengelus punggung anaknya pelan. Rajapun tidur kembali. Sekembali Maya dari kamar mandi membersihkan badannya, dia melihat sang suami sudah menyusul sang putra tertidur pulas dengan memeluk Raja posesif. Maya pun menyusul terbuai ke alam mimpi.


"Ntar jadwalku cuma visite aja kok di rawat inap. Dan cuma stanby kasus urgen aja" ujar Maya.


"Sayang, sini duduk dulu" Mayong menggeser supaya Maya bisa duduk di sampingnya. "Aku kemarin sudah ijin papa mama dan juga sudah nelpon ayah, bulan depan kita pindahan ke rumah kita ya!!" ajak Mayong. Maya menyetujuinya, "Oke sayang, aku siap saja kapan suami ngajak..he..he...".


"Kalau diajak yang enak-enak lagi sekarang, siap apa nggak?" gurau Mayong. Maya pun mencubit suaminya gemas. Mayong pun tertawa. Kadang gurauan-gurauan itu lah bumbu berkeluarga.


Ponsel Maya berdering, "Halo, dengan dokter Maya". Kalau sang istri menyebutkan nama beserta titelnya, Mayong sudah tahu itu pasti rumah sakit yang memanggil. Mayong hanya bisa menepuk jidatnya. Mayong longgar, Maya sebaliknya. Maya longgar gantian Mayong yang sibuk. Sekali-kali memang aku harus memaksamu sayang, batin Mayong.


"Sayang, aku buru-buru nih. Ada pasien distosia kala II" Maya buru-buru mengemasi perlengkapan pumpingnya dan segala perbekalan ke rumah sakit. "Jangan buru-buru. Aku antar aja. Tolong Raja kamu ajak turun dulu, aku tak siap-siap skalian" seloroh Mayong.

__ADS_1


"Nggak pakai lama ya" seru Maya sambil turun menggendong Raja.


"Mba Rani, tolong jagain Raja ya. ASI yang sudah siap, aku taruh di atas meja makan" seru Maya buru-buru. Mayong yang sudah turun membawakan alat pumping yang ketinggalan. "Nih, makanya nggak usah buru-buru. Jadi kelewatan semua kan" tutur Mayong. Maya hanya bisa tersenyum mendengarnya, karena memang terlupa. "Ayo berangkat!!!" ajak Mayong. Tak lupa Mayong dan Maya mencium kening sang anak yang berada di stroler. Raja malah tertawa senang.


Pak Amin sudah stay di depan, bersiap membukakan pintu mobil sang nyonya. "Pak Amin, biar aku saja yang ngantar Maya. Ntar pak Amin nyusul aja waktu pulang ya. Sarapan aja dulu pak di belakang" perintah Mayong. Pak Amin hanya mengangguk saja. Bos nya tau aja kalau pagi ini aku belum sarapan, batin pak Amin.


Mayong pun fokus menyetir, jalanan pagi biasanya macet. "Sayang, sudah ngubungi Doni belum kalau tidak perlu njemput?" Maya mengingatkan. "Tadi sudah kukirimi pesan sih, tapi nggak tau juga, Doni juga belum balas. Biarin aja, ngapain juga mikirin Doni" tukas Mayong.


"Ntar aku berangkat habis makan siang denganmu saja" lanjut Mayong.


"Lah, emang mau nungguin aku operasi gitu?" seloroh Maya tak percaya.


"Iya, hari ini akan kutunggui istriku yang sangat kucintai saat berkerja" tegas Mayong.


"Mana ada begitu, terus kerjaanmu gimana sayang?" tukas Maya.


"Hei, kamu lupa sayang kalau aku bosnya. Terserah aku dong. Lagian di rumah sakit aku juga bos nya lho" Maya sampai tepuk jidat mendengarnya. Bos mah bebas, suka-suka dia.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


to continued, happy reading bos-bosque 💝

__ADS_1


__ADS_2