
Maya mendekati Nina yang masih bengong dan menepuk bahunya, "Siapa?". Nina masih terdiam dan terpesona. Maya yang ikut penasaran siapa yang datang, melihat dari balik punggung Nina.
"Kak, siang-siang kok ke sini. Ada apa?" tanya Maya, menepuk lagi bahu Nina dengan sedikit keras. Nina tersadar dan sedikit menggeser badannya.
Mayong tersenyum, "Memang nggak boleh nengok calon istri". Maya tersenyum.
"Mau makan siang bersama kakak?" tanyanya.
"Tuh, aku sudah mau makan sama Nina" tunjuk Maya ke arah nasi pecel yang terlanjur dibuka di atas meja.
"Kakak mau?" tawar Maya. "Itu namanya nasi pecel Kak" jelas Maya lagi.
"Aku juga tau kalau itu pecel May, menu kesukaan papa Suryo tuh"
"Nin, tolong pesankan satu porsi lagi yaa" Maya meminta tolong Nina.
"Baik dok, aku pesan langsung ke kantin aja ya dok. Sekalian aku ngembalikan piring yang aku pakai kemarin" Nina ijin sengaja undur diri, tak mau dikacangin oleh dokter dan calon suaminya itu.
"Oke, makasih ya Nin. Aku tunggu" Maya melanjutkan makannya.
Mayong menatap Maya yang sedang makan, Maya yang terus dipandangi Mayong jadi rikuh sendiri. "Mau kusuapin? Sudah lapar banget yaa, sampai orang makan dipandangi terus?
"Mau lah...rejeki nggak boleh ditolak" Mayong menerima suapan Maya.
Jadilah menu sepiring buat berdua. "Kayak anak SMA aja kita Kak" celetuk Maya.
Pintu terbuka dan masuklah Bara. " Wah ternyata calon pengantin sedang latihan" Bara langsung duduk di samping Mayong.
"Ganggu aja, ngapain ke sini?" gerutu Mayong.
"Ha..ha...santai Kak. Aku ke sini cuma mau ngajak kakak ipar makan aja. Eh, yang mau diajak ternyata sudah makan duluan. Berdua lagi" Bara berdiri mau pergi ke kantin. Bersamaan dengan itu Nina masuk membawa seporsi nasi pecel dan segelas air jeruk.
"Buat siapa itu mba?" selidik Bara.
"Buat tamunya dokter Maya" jelas Nina. Bara menyerobotnya. "Tamunya dokter Maya sudah selesai makan kok mba, jadi nasi pecelnya buat aku saja" Bara mengambil alih nampan yang dibawa Nina sambil mengambil tempat duduk kembali di samping Mayong untuk makan.
Maya hanya tertawa saja, melihat kekonyolan kedua kakak adik itu.
__ADS_1
"Pulang kerja kita ke butik yuk May, fitting baju" ajak Mayong.
"Ke Yasmin Kak, ikut dong" Bara nimbrung.
"Yaelah, kamu dari tadi ngikut-ngikut terus" Mayong mulai kesal.
"Adik mau ikut kakaknya kan wajar..wek..wek..., jangan nimpuk lagi!" Bara mencegah Mayong yang sudah membawa buku resep di tangannya.
Nina merasa beruntung bisa ikut melihat kekonyolan dua cowok super itu. Maya yang berada dihadapan mereka hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Silahkan lanjutin ya...aku pamit visite duluan. Nin, kalau mereka berdua sudah pergi. Tolong beresin ya" Maya berdiri hendak meninggalkan tempat duduknya.
"Tunggu May, nanti sore kujemput" cegah Mayong.
"Bareng aku aja May, Kakak langsung ke tempat Yasmin saja" usul Bara.
"Halah itu hanya modusmu aja Kak, pingin ketemu Yasmin" Maya menimpali.
"Anda benar, seratus buat dokter Maya" dua jempolnya diacungkan.
Mayong berdiri mengikuti Maya berjalan keluar, meninggalkan Bara yang sedang makan. Bara acuh saja meski ada Nina.
Tertinggal Nina yang beres-beres perlengkapan makan ketiga orang tadi. Beruntung sekali dokter Maya, batinnya.
Maya berjalan di koridor rumah sakit menuju ruang rawat inap, setelah berpisah dengan Mayong. Maya memutuskan bareng dengan Bara selepas kerja ke butik Yasmin. Daripada Mayong musti bolak balik. Hemat energi, pikir Maya.
"Dok, pasien yang dilektifkan untuk histerektomi sudah dikirim ke kamar operasi jam duabelasan tadi" konfirmasi bidan jaga.
"Iya mba, itu pasien dengan mioma uteri itu kan? Memang aku acarakan jam empat belas pasien itu. Makasih ya". Selepas visite, Maya menuju ke instalasi bedah sentral rumah sakit Suryo Husada.
Operasi berjalan lancar, tanpa hambatan. Sewaktu durante operasi, "Kak, aku nanti ngikut kakak ya ke tempat Yasmin"
"Selesaikan dulu hectingmu, nanti bisa diaturlah" celetuk Bara. Maya melanjutkan proses hecting sampai kulit. Operasi selesai. Seperti biasa Maya melengkapi berkas dan menuliskan resep yang dibutuhkan pasien. Tidak lupa memberi pesan ke perawat recovery room, "Mas jangan lupa untuk cek hemoglobin dua jam pasca operasi yaa, jika hasilnya menurun. Transfusi masukkan aja. Jika ada yang kurang jelas silahkan menguhubungiku" pesan Maya. Perawat di depannya mengangguk tanda mengerti.
Maya sudah berada di mobil Bara menuju butik Yasmin. Yasmin memang sengaja memilih butik sahabatnya itu untuk membuatkan baju pengantin. Yasmin sudah hafal betul keinginan-keinginan Maya.
Maya turun diiringi Bara menuju butik Yasmin di mall Dirgantara.
__ADS_1
"Haaiiiiii, kalian sudah datang. Duduklah dulu, kuambilkan minum" sambut Yasmin. Maya masih celingukan mencari keberadaan Mayong.
"Tuan Mayong belum datang" Yasmin mengerti pikiran Maya.
"Bentar lagi dia datang, tadi sebelum ke sini kak Mayong ngirim pesan kalau masih menyelesaikan rapatnya" tambah Bara.
"Ooooooooo...." Maya hanya ber'o' ria.
"Baiknya kamu coba gaunmu dulu, Tuan Mayong bisa nyusul" usul Yasmin.
"Baiklah" Maya berjalan ruang ganti.
Maya ingin baju pengantin hijab, sederhana tapi terlihat elegan. Yasmin sangat mengerti keinginan sahabatnya itu. Yang bahkan keinginannya itu sering Maya ungkapkan sewaktu sekolah menengah atas dulu. Akhirnya sahabatnya itu bisa menemukan tambatan hati yang sangat menyayanginya, batin Yasmin. Yasmin ikut bahagia.
Mayong datang ketika Maya sudah selesai memakai baju pengantinnya. Mayong terpana tanpa berkedip. Sepasang mata coklat teduh di hadapannya bagai bidadari.
"Ilernya tuh...netes" celetuk Bara yang duduk sedari tadi. Mayong bahkan tidak menyadari kehadiran Bar di sana. Mayong mengelap bibirnya, dan pecahlah tawa Bara.
"Kak, ngapain dengerin Kak Bara" Maya gemes dengan Mayong.
"He...he...habis kamu cantik sekali May" gumam Mayong.
"Bagus nggak kak bajunya?" tanya Maya.
"Semua yang kau pakai bagus semua May. Bahkan kamu pakai baju kamar operasi pun kamu cantik" puji Mayong. Maya tersipu mendengarnya.
"Yasmin kita keluar aja yukkk, cari makan!!! Daripada di sini jadi nyamuk" ajak Bara.
"Hei...kita di sini sebagai customer lho. Costumer harus puas kalau usaha mau maju" ujar Mayong.
"Baiklah, jadi nyamuk pun nggak apa-apa asal costumer puas" Yasmin membantu Maya untuk berganti baju. Mayong tersenyum mengejek ke arah Bara.
Bara pun tersenyum kecut. Ucapan Mayong memang telak.
Hari berganti hari, kesibukan Maya dan Mayong tidak berubah. Foto prewed pun telah dilakukan. Semua persiapan pelaksanaan perhelatan pesta antara Dirgantara Grup dan Gayatri Grup oleh mama Clara sudah dipasrahkan wedding organizer yang sangat dipercaya.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
#kopi pahit tanpa gula# semoga kalian suka#
Happy reading