
Bara, Yasmin dan Maya terbengong melihatnya.
Mama Clara yang sadar siapa laki-laki itu, mendekat dan menjitaknya.
"Mayooooongggggg" teriak Mama Clara saking gemesnya. Ada saja kelakuan anak pertamanya itu.
"Pissssss Ma" Mayong menggangkat tangannya tanda menyerah.
"Siapa kalian, pergi sana ???!!!???? Anak saya sudah punya istri, tuh yang digandeng tangannya" Mama Clara melotot ke kedua wanita muda di depannya.
Kedua wanita itu pergi setelah diusir Mama Clara.
"Pegangannya dilepas atuh, penggodanya sudah pergi jauh" Bara meledek. Maya yang baru tersadar, menarik lengannya yang digandeng Mayong. Mayong terkekeh.
"May, tuh sudah dapat lampu hijau dari calon mertua" ledek Bara ke mama Clara yang menggandeng Maya tanpa dilepasnya.
"Kapan giliranku Ma, kau restui" wajah Bara ganti memelas.
"Ayo duduk dulu aja semua, makan dulu. Baru bahas restu merestui", ajak Mama Clara.
Baru mendudukkan pantatnya, Mayong sudah diinterogasi mamanya. "Kalian pesan dulu, aku ngikut aja pesanannya" Mama Clara memandang tajam Mayong.
"Yaelah Ma, aku nggak kenal sama wanita tadi. Barusan duduk di sini, mereka langsung mendekati. Terus apa salahku?" Mayong mencoba negosiasi dengan mama Clara. Wanita pertama yang dicintainya. Bahkan papa Suryopun akan tunduk dengannya.
"Mama kan tadi bilang suruh nyusul Mama, ngapain kamu duduk-duduk di sini. Nggak nyari Mama?" Mama tetap tak berkedip memandang Mayong.
Bukan Mayong namanya kalau tidak menemukan alasan, "Terus ponsel Mama disimpan di mana? Aku dari tadi telpon Mama, mau nanya posisi di mana? Ku kirim pesen juga nggak dibalas, emang aku disuruh muter ke seluruh mall...ogah.... Emang yang dibawa Mama ponsel apa remot?" Mayong manyun.
Mama Clara mencoba mengecek ponselnya, ternyata ada beberapa panggilan Mayong, dan juga ada pesan masuk, "Tapi kan kamu bisa telpon Maya, nanya posisi kami di mana" Mama Clara tetep tidak mau disalahkan.
"Emang tadi mama bilang ke Mayong kalau pergi sama Maya, enggak kan?????? Mama cuma nyuruh Mayong jemput Mama.
Bara, Yasmin, Maya menikmati makan sambil mendengarkan debat anak dan mamanya itu.
"Ma, sudah lapar belum? Ngomel juga butuh tenaga" Bara menyela. Mama Clara menjitak Bara yang duduk di sebelahnya.
Ponsel Mama berdering, "Halo Pa, Mayong sudah di sini. Sudah selesai tenisnya? Bentar lagi mama pulang".
"Mayong, sana bayar" perintah mama Clara ketika tau hidangan Mayong sudah tandas.
__ADS_1
"Siapa yang ngajak, siapa yang nraktir?" Mayong bergumam.
"Hello, mama denger lho" bersiap mendekat Mayong. Mayong menjauh dan berlalu menuju kasir. Yasmin yang baru kali ini melihat adegan mama dan anaknya itu tersenyum. Keluarga bahagia, batinnya.
"Kak, aku duluan yaa. Aku barengan sama Yasmin. Mama sama Maya barengan kakak aja" Bara pamitan.
"Pepet terus" ledek Mayong.
"Yeiii, emang kakak ke sini mau menjemput cinta pertama kakak" lanjutnya. Mayong merangkul bahu Mama Clara.
Mama Clara menimpuk bahu Mayong, "Ayo pulang!!!"
Mereka berlima beriringan ke lobi mall. Yasmin dan Bara sudah duluan. Mama dan Maya menunggu di lobi, sementara Mayong mengambil mobil.
Mama Clara duduk di belakang, ketika mobil berhenti di lobi. Maya menyusul Mama Clara.
"Wah aku berasa sopir pribadi lho Ma" celetuk Mayong.
"Duduk di depan aja May, kamu temani Mayong. Lagian mama agak capek ini"usir mama Clara halus. Padahal itu hanya akal-akalan Mama Clara biar Maya bisa dekat dengan Mayong.
"May, Minggu kita ke kota 'A' yukk" ajak Mayong ketika mobil sudah melaju.
"Lihat perkembangan pembangunan panti" ujar Mayong.
"Minggu kamu nggak standby jaga kan?" sela mama Clara di belakang.
"Nggak kok Ma, minggu ini gantian kak Bara yang standby?" jelas Maya.
"Jadi bisa yaa, nanti kujemput?" harap Mayong.
Maya mengangguk.
Mama Clara diantar duluan oleh Mayong. "Hati-hati kalian di jalan" pesan Mama. Maya pamitan, cium tangan tidak pernah terlupakan. "Maya pamit Ma, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" Mama Clara masuk, setelah mobil Mayong keluar gerbang mansion.
Tinggal mereka berdua di dalam mobil.
"Minggu nggak sibuk apa Kak, kok ngajak ke kota 'A' ? Maya memulai pembicaraan.
__ADS_1
Mayong menoleh dan tersenyum, "Kerjaku nggak kayak kerjamu May, tidak mengenal waktu..he..he..
"Maksudnya???" Maya masih belum ngeh sepenuhnya.
"Meski aku pimpinan, waktu rapat dan kerja yang lain masih bisa diatur sama Doni. Jadi bisa direncanakan. Kalau kamu?" Mayong balik tanya ke Maya.
Maya mulai paham. Memang diakuinya, dia harus siap dua puluh empat jam untuk menerima konsulan dan panggilan.
"Kalau itu mah sudah panggilan jiwa ku Kak..he..he..." Maya bangga dengan profesinya.
Mayong tersenyum, "Itu yang buat aku suka kamu May". Maya tersipu. Dalam hatinya sudah tersimpan rasa kagumnya ke Mayong sedari lama.
"Gimana kalau ke kota 'A'nya berangkat Sabtu aja? Jarak tempuhnya lumayan lho, biar kita bisa istirahat" usul Mayong.
"Aku ijin dulu sama Ayah ya Kak" ujar Maya. Mayong mengangguk.
Mayong langsung pamitan tanpa turun dari mobil ketika sudah sampai di pelataran kediaman Om Abraham.
"May, aku langsung yaa. Salam aja buat calon mertuaku he..he..." Mayong melaju, sekilas melihat ekspresi Maya yang nampak malu-malu.
Maya tersenyum-senyum sendiri. "Baru pulang Non?" Bi Inem menyapa. Maya terkaget, "Eh bibi, buat kaget aja?"
"Lagian masuk rumah, kok senyum-senyum sendiri" Bi Inem berlalu sambil membawa nampan air putih ke ruang kerja Abraham.
Maya hanya geleng-geleng kepala, merasa aneh dengan dirinya sendiri. Sindrom jatuh cinta itu namanya May, masak seorang dokter tidak tahu. (diagnosa nya Author itu...ha..ha..).
Sabtu sore Maya meluncur bersama Mayong ke kota 'A'. "Hati-hati Mayong, nggak usah ngebut. Lagian kenapa nggak ngajak Doni aja kalau jarak tempuhnya jauh?" ujar Ayah ketika Mayong dan Maya pamitan.
"Sekali-kali Doni biar libur Om. Akhir-akhir ini kuajak lembur terus" kilah Mayong.
"Maya pamit dulu ayah". Abraham mengangguk. Mobil melaju dengan kecepatan sedang.
"Nanti sesampai di sana, kita nginep aja di hotel yang ditempati anak-anak sama Pak Bowo dan bu Marsinah ya? Aku seneng lihat keceriaan adik-adikmu itu May. Mereka polos sekali" Mayong sebelumnya sudah dua kali mengunjungi panti yang proses rehap itu, jadi sedikit banyak sudah mengenal anak-anak di sana. Bahkan Mayong sebelumnya sudah menyampaikan ke Pak Bowo, kalau dia bersedia menjadi donatur tetap dan menjamin pendidikan anak sampai bangku kuliah. Maya hanya mengangguk, "Ternyata kakak seneng ama anak-anak juga yaa?"
"Anak-anak itu pribadi yang bersih May. Tanpa melihat kesalahan orang-orang yang mengesampingkannya, mereka juga berhak mendapat kasih sayang dan perhatian. Aku merasa bersyukur mendapat kasih sayang mama dan papa" Maya terharu mendengar penuturan Mayong.
Tiba-tiba ada sebuah sepeda motor menyalip mobil Mayong dari kiri dan memotong jalan di depan mobilnya. Mayong yang terkaget membanting mobilnya ke kiri. Tak dinyana ujung bamper depan menyenggol trotoar. Mobilpun jungkir balik beberapa kali.
Tragedi 2M (Tragedi Mayong Maya)
__ADS_1
To be contuined