Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 78


__ADS_3

Doni memasuki ruangan VVIP itu dalam hening. Tatapan Mayong tak lepas mangamati pergerakan Doni. Doni membungkuk hormat, "Maafkan saya Tuan, belum bisa maksimal menjaga anda dan keluarga" ucap Doni tulus.


"Makasih Don atas loyalitasmu selama ini


"Bagaimana dengan David?" lanjut Mayong. "Saya ke sini memang ingin menyampaikan hal itu Tuan" tutur Doni.


"Don, sambil duduk aja. Minumnya ada di meja tuh" seloroh Maya. "Sayang, aku ke poli dulu ya. Mau ketemu Nina bentar" pamit Maya. Maya tidak mau mengganggu percakapan serius Mayong dan asistennya itu. Mayong tersenyum tanda setuju. Maya keluar dari ruangan VVIP menuju poliklinik. Sementara Mayong masih serius dengan Doni.


"Sayang" panggil Mayong saat Maya mau keluar pintu. Maya menoleh. "Suruh nganter pengawal di depan ya" pesan Mayong. Maya hanya mengangguk. Kadang dirasa Maya sang suami sedikit lebay, tapi nggak apa-apalah semua juga demi kebaikannya, batin Maya. Maya datang ke ruang poliklinik seperti ibu negara yang dikawal dengan pria berdasi. Cakep lagi.


"Pagi semua" sapa Maya yang langsung masuk ruangan. Di sana sudah ada dokter Budi dan Nina. Pasien kebetulan masih sepi. "Hai dok, apa kabar? Sudah baikan? Tuan Mayong gimana?" serentetan pertanyaan dari dokter Budi. "Dokcan, pengawalnya cakep juga, boleh dong dikenalin" sela Nina. "Halah Nin, kamu itu. Tau aja kalau ada yang bening" sergah dokter Budi. Semua tertawa.


"Aku ke sini main aja kok dok. Suami juga lagi sibuk sama asistennya. Daripada dianggurin, mendingan ngobrol sama Nina" Maya tertawa. "Tuan Mayong sudah kerja aja" seloroh Nina. "Kalau nggak kerja kalian nggak gajian lho" gurau Maya. "Eh..iya..ya..." Nina baru nyadar. Dokter Budi memulai pelayanan dibantu Nina, sementara Maya masih di sana.


"Dok, gimana kongres ikut nggak?" saat jeda pasien. "Kayaknya aku absen kali ini, suami belum ngijinin. Ayah yang kayaknya hadir dokter" tutur Maya.


"Kalau prof. Abraham pasti hadirlah, beliau kan jadi pembicara" ucap dokter Budi.


"Eh..iya..ya...dosen favoritku ternyata ayahku" Maya tersenyum. Dokter Budi yang memang sudah tau kisah Maya, hanya berkata "Semua sudah ada jalannya masing-masing dokter". Maya mengangguk menanggapi.


"Terus, kalau pada kongres semua. Di sini yang stanby siapa dong???" sela Nina. "Aku juga berangkat dokter, nanti barengan ya" dokter Anita yang baru datang ikut nimbrung.


"Eh...eh...pasien rawat inap apa kabar. Kok sudah ke sini aja" tanya Maya ke dokter Anita.


"He...he...siap kakak senior. Semua aman" dokter Anita terkekeh. "Dokter Budi, tahun ini aku ikut kongres ya, maklumlah sebagai yunior baru pertama kali ikutan kongres" ijin dokter Anita.


"Aku juga mau liburan" sela Maya.


"Hah....dua kongres satu liburan. Terus kalau ada yang mau lahiran gimana?" seloroh Nina.


"Pending aja" seru ketiga dokter itu kompak. "Mana ada orang lahiran disuruh pending dok, ada-ada aja" Nina ngedumel. Ketiga dokter Obgyn itu tertawa bareng, melihat Nina yang suaranya seperti tawon.


"Halo pagi semua...."sapa seseorang yang baru nyusul masuk ke poliklinik.

__ADS_1


"Halo...pagi dokter" balas dokter Budi.


"Sini...sini...gabung. Apa kabar?" sapa dokter Anita juga.


"Kebetulan kamu datang dokter. Perkenalkan nih, kakak senior kita" ucap dokter Anita menunjuk Maya.


"Siap laksanakan kakak senior" ucapnya tersenyum ke dokter Anita. Kemudian uluran tangan diarahkan ke Maya, "Perkenalkan dokter, saya Alex. Yunior di bawah dokter Maya jauh. Sungkem buat senior" serunya dengan tersenyum paling manis. Maya menyambutnya dan menyebut nama.


"Lex, senyummu itu lho jangan sok dimanis-manisin. Kamu belum tau kan dokter Maya siapa?" sela Anita menatap yuniornya.


"Dokter Maya, kakak senior di kampus. Yang saat aku masuk, dokter Maya lulus. Jadi nggak pernah ketemu sebelumnya" jelas Alex panjang lebar dan tinggi..he..he...


Dokter Budi menyentil Alex, "Jangan sampai ucapanmu terdengar sama orang berdasi di luar. Habis kau". "Haa.....ha....ha....." dokter Anita dan Nina tertawa kompak.


"Emang ada apaan sih????" Alex garuk kepala.


"Siap siap aja dok, abis ini pasti ada perploncoan dari senior" sela Nina menambah kebingungan Alex.


"Tanya kakakmu, dokter Bagus. Biar dijelaskan sama dia siapa dokter Maya" ujar dokter Budi sambil tertawa.


"Lah...itulah namanya perploncoan dokter" ujar Nina menoel dokter Alex yang sedang garuk-garuk kepalanya. Nasib jadi yunior, batin Alex.


Ponsel Maya berdering, Ed Sheeran mengalun dengan tenangnya. "Iya, siap tuan besar sayang. Aku masih di poliklinik" jawab Maya. "Katanya bentar doang, ini sudah satu jam lho" suara Mayong kedengaran.


"Oke...oke..aku balik. Lagian kamu juga kan lagi sama Doni" ujar Maya sambil berdiri hendak meninggalkan poliklinik. Maya pamitan tetap dengan panggilan ponselnya.


"Buyar...buyar...ayo Nin kita mulai lagi" ajak dokter Budi memulai pelayanan poliklinik.


"Ayo lex, kita visite ke ruang rawat inap berjamaah aja" ajak dokter Anita ke dokter Alex.


Maya memasuki ruangan suaminya. "Kalau sudah ketemu sejawat gitu ya, suami dianggurin" Mayong pasang wajah ngambeknya.


"Waduh kayak Raja aja, sini cium" Maya mencubit pipi Mayong dan sedetik kemudian menciumnya.

__ADS_1


"Yang ini gimana, mau dianggurin juga" tunjuk Mayong ke arah bibir. "Kalau yang itu mah pending dulu. Nunggu jahitan kering dulu" sanggah Maya.


"Padahal sekarang akupun siap lho" Mayong terkekeh.


"Sayang, sudah kelar urusannya dengan Doni" tanya Maya.


"Sudah, kalau kita tuh bicara poinnya aja..Nggak seperti kamu sama sejawatmu itu, ngobrol pasti lupa waktu" ejek Mayong.


"Enak aja, ngobrolnya kita kan juga ngobrol berfaedah" elak Maya.


"Berfaedah apaan, boros waktu itu namanya" sergah Mayong. "Yank, kapan aku mulai kerja???" rayu Maya dan mendekati Mayong.


"Kalau aku sudah sembuh. Tugasmu sekarang merawatku dokter Maya, bukan pasien lainnya. Dan tidak ada bantahan" seru Mayong. Maya mencebik, "Mana ada dokter obgyn merawat pasien laki-laki" gerutu Maya.


"Ada, buktinya kamu sekarang" Mayong tertawa. Saat ini pendampingan Maya lah yang sangat diharapkan Mayong. Cukup dengan kehadiran istrinya beban pikirannya sedikit berkurang. Meski semua masalahnya tidak dibicarakan dengan sang istri, terutama hal-hal pekerjaan. Cukup Maya dengan bebannya sebagai obgyn saja sudah membuat Maya sedikit keteteran.


"Istirahat apa makan dulu sayang" tawar Maya memecah keheningan di antara mereka. "Lagi malas makan aku" ujar Mayong.


"Kalau nggak dipaksa, gimana mau sembuh. Ayo makan, kusuapin" Maya mendekat membawa seporsi makanan yang disediakan rumah sakit. Mayong pun terpaksa mengangguk daripada disuruh mendengarkan pidato sang istri. Maya menyuapi sang suami yang lagi mode manja itu.


Saat itulah Bara masuk. "Kayak pasien beneran aja, minta suap-suap segala" ledek Bara. Mayong menimpuk Bara dengan tisu segepok. "Tuh kan May, pasien kesayanganmu tuh" lanjut Bara.


"Manja sama istri emang ada yang nglarang" sarkas Mayong.


"Adalah...tuh si Raja. Yang posesifnya sama kayak kamu" jelas Bara.


"Makanya mumpung Raja sama opa dan omanya, kesempatan dong buatku" Mayong tak mau kalah.


Bara duduk selonjor, ngambil air putih kemasan di meja. Mulai dengan wajah datar dan serius.


"Kak, kudengar David meninggal" tanya Bara. Mayong mengangguk, "Doni juga bilang begitu".


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


to be continued, happy reading πŸ€—


__ADS_2