Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
DNA


__ADS_3

Di parkiran, entah kebetulan atau bagaimana ketemu lagi dengan tuan James yang juga sudah selesai makan. Tuan James mendekat, "Hei Abraham". Wah..wah...yang bersama Mayong tadi ternyata putrimu?" ujar tuan James sok akrab. Abraham dan Mayong saling menatap. Tuan James menutup mulutnya, keceplosan batin Tuan James.


Abraham paham arti tatapan Mayong. Mayong dan Maya segera berlalu masuk ke mobil. Demikian juga Abraham. Tanpa memperdulikan keberadaan tuan James. Tuan James bernafas lega, semoga mereka tidak menyadari ucapanku tadi. Batin tuan James.


Mayong dan Maya menuju rumah sakit, sesampai di rumah sakit Maya langsung turun. Maya buru-buru karena sudah beberapa kali ponselnya berdering. Panggilan dari kamar operasi. "Silahkan dibius, saya sudah di parkiran rumah sakit" jawab Maya di panggilan terakhir ponselnya.


"Permisi tuan Mayong, maaf saya buru-buru" Maya membuka pintu mobil. "Panggil kakak saja" Mayong tersenyum. "Jangan capek-capek May, raga pun perlu diistirahatkan sesekali" Mayong berlalu segera setelah Maya mentup pintu mobilnya.


Maya segera menuju ruang operasi. Maya sempatkan untuk lihat rekam medik pasien sebentar. Setelah berganti baju khusus ruang operasi. Maya segera melakukan cuci tangan bedah. Dia yang masuk belakangan, langsung kena ocehan Bara.."Cieee yang lagi kencan, kena gangguan" Bara tertawa. Maya tersipu, untung aja wajah kemerahannya tertutup masker bedah.


Maya mulai melakukan insisi perut bagian bawah. Step by step dilakukan tanpa hambatan berarti. Bayi lahir langsung menangis, meski ada caput di puncak kepala bayi. Dilanjutkan penjahitan lapis demi lapis. Operasi selesai tanpa hambatan berarti. Maya keluar kamar operasi, setelah melepas baju kebesarannya. Disusul Bara.


Maya melengkapi berkas rekam medik di ruang dokter. Bara datang menggoda Maya," Hayo barusan dari mana, naik mobil item dengan plat xxxx". Maya nepuk jidatnya, "Belum apa-apa sudah ketahuan..hadech".


"Sudah selesai nih kak, ayo pulang!!" ajak Maya. Yasmin sudah ada menjemputnya, Maya tau dari pesan masuk yang dibukanya barusan.


"Yasmin ada di parkiran, yuk barengan aja ke sana" Maya bersiap.


"Emang kenapa dengan Yasmin??" Bara menuju ruang ganti. Demikian juga Maya, berganti baju.


Maya dan Bara keluar barengan dari ruang operasi. Orang yang tidak mengenal mereka pasti mengira kalau mereka pacaran. Dari awal Bara memang tidak ingin punya pasangan dengan profesi yang sama. Jadwal operasi yang tidak menentu jadi alasan. Bara membayangkan, dia baru pulang operasi istrinya malah baru berangkat. Terus kapan ketemunya. (othor curhat juga ni...😊). Maka sekarang Bara coba mepet ke Yasmin..ha..ha...


Sementara Mayong, selepas mengantar Maya. Dia menelpon Doni sang asisten. "Don, aku tidak balik ke perusahaan ya, ada hal yang mau aku urus" ujar Mayong.


"Baik tuan, apa perlu bantuan?" jawab Doni di seberang.


"Iya Don, tolong kamu telusuri rumah sakit di mana Mama Gayatri melahirkan. Mungkin akan ada beberapa hambatan, karena kejadian sudah lebih seperempat abad" perintah Mayong.


"Baik tuan, akan kuusahakan" Doni siap menjalankan perintah. Mayong menutup telponnya.


Mayong segera meluncur ke tempat Om-nya, Abraham. Sebelum pergi dengan Maya, Mayong sudah menyelesaikan berkas-berkas yang perlu ditandatanganinya. Niat hati ingin berlama-lama dengan Maya, ternyata Maya malah ada operasi mendadak.

__ADS_1


Sesampai di kediaman Abraham, Mayong langsung masuk ke dalam rumah. Mayong sudah terbiasa ke kediaman Om-nya. Bahkan ART disana pun sangat mengenal Mayong. Mayong segera menemui Abraham di ruang kerjanya.


"Om, kayaknya ada yang aneh dengan tuan James" Mayong langsung ke intinya.


"Aku juga merasa begitu, bagaimana seorang James sudah tau kalau Maya putriku" Abraham bertanya-tanya.


"Apa ada yang dia lakukan tanpa Om tau, waktu mama Gayatri melahirkan?" sela Mayong.


"Tadi aku sudah merintahkan Doni Om, untuk menelusuri, sebaiknya Om konsen ke tes DNA besok aja" jelas Mayong.


Mereka menikmati kopi panas yang barusan diantar bi Inem, ARTnya Abraham. Bi Inem, sudah mengabdi semenjak mama Gayatri masih hidup.


"Istirahat sini aja Mayong, lagian Om juga ingin ngobrol banyak denganmu" pinta Abraham.


Abraham merasa sedikit penat akhir-akhir ini.


"Baiklah Om, malam ini aku nginap" Mayong merebahkan badannya di ruang kerja Abraham.


"Gak papa Mayong, lagian ambil samplingnya kan juga di RS Suryo Husada"


Mereka berangkat dengan mobil dan tujuan yang berbeda.


Sesampai di rumah sakit, Abraham segera ke instalasi laboratorium. Ternyata Maya sudah menunggunya. "Sudah siap prof?" Maya mencoba menutupi kegugupannya.


Abraham menepuk bahu Maya, "Tenang May, kamu nampak gugup. Apapun hasilnya, bagi saya ini hanya formalitas, kamu tetep akan kuanggap sebagai anakku. Kamu mau kan?" Maya mengangguk.


"Mulai sekarang jangan panggil prof.lagi, panggil ayah saja!!" pinta Abraham.


Mereka berdua masuk ke instalasi laborat.


Petugas laborat menyambut mereka berdua, karena sudah mengenal Maya. Setelah selesai prosesnya, diinfokan kalau hasilnya menyusul tiga hari kemudian.

__ADS_1


"May, sempatkan untuk mampir ke rumah.." tawar Abraham


"Saya usahakan prof....eh...ayah" Maya ragu-ragu. Abraham tersenyum.


Abraham pamit karena sudah selesai proses pengambilan sampling. Maya bergegas ke ruang poli kandungan, memulai rutinitas seperti biasanya.


Sementara Mayong, sesampai di kantornya segera memanggil Doni.


"Don, gimana?"


"Yaelah tuan, baru kemarin turun perintah sekarang sudah ditanya hasilnya" gurau Doni sambil nepuk jidatnya sendiri.


"Gajimu kupotong atau bonusmu kupending?" ujar Mayong serius.


Doni akhirnya menjelaskan, "Begini Tuan, saya mulai penelusuran beberapa bidan yang waktu nyonya Gayatri melahirkan berada di sana. Ada salah satu bidan yang memang mendampingi nyonya Gayatri sampai ke kamar operasi. Kalau dua bidan sudah saya temui, tapi waktu kejadian itu lagi menolong persalinan di sebelah nyonya Gayatri. Tinggal satu bidan yang mengantar nyonya Gayatri ke kamar operasi belum saya temui. Hari ini rencana saya mau meluncur ke sana, karena sekarang bidan itu tinggal di pedesaan.


"Oke, hari ini kegiatan kita apa saja?" Mayong menatap Doni.


"Hari ini jadwal tuan agak longgar, hanya ada satu rapat pagi ini" terang Doni.


"Baiklah, siang ini kita langsung aja meluncur ke tempat bidan itu" ajak Mayong.


Doni hanya mengangguk saja. Menolakpun juga tak kuasa.


#Ke Korea makan ramen, jangan lupa tuk komen#


#Ke pasar beli ketupat, kalau jelek jangan dihujat#


Makasih yang masih mengikuti cerita pertama othor, maapken kalau alur masih berbelit-belit.


Lope U semua.

__ADS_1


❤❤❤❤❤


__ADS_2