
Pangsa otomotif di Indo sangat menjanjikan untuk saat ini, itulah alasan tuan Akio antusias untuk membeli Samudera Group. Mayang masih memperhatikan dengan serius presentasi yang disampaikan tuan Akio.
"Begini Tuan Mayong, mengapa kita perlu bendera lain selain Dirgantara. Karena anak cabang Dirgantara yang sebelumnya sudah terkenal sebagai importir terbesar suku cadang. Bagaimana kalau kita jadikan Samudera sebagai pabrik perakitannya? Lagian Samudera juga sebelumnya juga punya anak perusahaan perakitan mobil. Jadi kita tidak perlu lagi menyediakan alat-alat perakitan. Selain itu mumpung Samudera sekarang sahamnya lagi anjlok-anjloknya. Menurut isu yang beredar, tuan James melarikan diri saat ini karena dikejar-kejar pihak bank" jelas panjang lebar tuan Akio. Tuan Akio juga merinci dana yang dibutuhkan untuk mengakuisisi Samudera Group. Mayong manggut-manggut. "Jadi saya tidak perlu mengeluarkan uang untuk mengakuisisi Samudera? Benar begitu tuan Akio?" Mayong memperjelas.
"Benar Tuan Mayong, keuntungan dari Nayaka selama setahun ini saya rasa cukup untuk mengakuisisi Samudera. Dengan presentasi saham anda sebesar lima puluh lima persen, mengikuti jumlah saham anda di Nayaka" lanjut tuan Akio.
"Untuk sementara saya menyetujuinya Tuan Akio, perjanjian kerjasama biar disiapkan sama asisten saya Doni. Tapi saya tetap tidak mau memakai bendera Dirgantara tuan Akio. Buat seolah-olah Nayaka lah yang mengakuisisi Samudera" tegas Mayong. Mayong tidak mau memperparah hubungan mama Clara dengan keluarga tuan James.
"Baik Tuan Mayong" ujar tuan Akio sambil membungkuk hormat.
"Baiklah kita akhiri pertemuan kali ini. Lain kali bisa kita bicarakan lagi" Mayong pun mengakhiri pembicaraan penting ini. Tuan Akio langsung pamit. "Hati-hati, semoga selamat sampai tujuan. Salam hangat untuk keluarga anda Tuan" ucap Mayong bersalaman dengan tuan Akio. Malah kalau liburan ke Jepang, Mayong diminta untuk mengabarinya.
__ADS_1
Selepas kepergian tuan Akio, Mayong masuk lift diikuti Doni. Mereka naik ke lantai paling atas, "Don, kamu siapkan perjanjian kerjasama dengan Nayaka. Besok aku minta sudah di mejaku. Biar bisa kuevaluasi" suruh Mayong. "Baik Tuan, berarti aku hari ini lembur lagi dong? Terus sore ini saya nggak usah ke mansion ya. Kan Tuan Mayong sudah ke perusahaan hari ini" Doni ngeles.
"Kalau kau mau lembur atau tidak itu urusan kamu. Yang penting berkas besok sudah ada di mejaku. Hari ini nggak usah ke mansion. Lagian bosen juga tiap sore dengar suara kamu" Mayong terkekeh.
"Kalau kukerjakan di rumah nggak papa ya Tuan? Tapi itungan lemburnya tetep?" nego Doni.
"Urusan bonus lemburan aja tetep nomer satu Don" gerutu Mayong.
Mayong yang memasuki ruangannya, melihat sang istri tertidur di sofa dengan ponsel menyala. Mayong lihat aplikasi berwarna hijau yang siaga. "Kamu itu lagi berkirim pesan dengan siapa, kok ponsel dibiarin menyala" gumam Mayong. Mayong sekilas melihatnya. Group Medis Suryo Husada, banyak sekali pesan yang masuk, batin Mayong. Ah, sudahlah. Istrinya juga perlu privasi. Mayong menaruh ponsel sang istri di meja. "Sayang, ayo bangun. Maaf kamu jadi melewatkan makan siang kamu" Mayong mencubit hidung mancung Maya karena gemas. Maya terbangun, "Sudah selesai ya, kok cepet?"
"Cepet gimana, dua jam lebih aku di ruang rapat. Kamu aja sampai nyenyak gitu tidurnya" urai Mayong.
__ADS_1
"He...he....maaf. Aku tadi sudah minta Sinta nyiapin makan siang, kutaruh di ruangan sebelah. Makan yuuk, aku lapar" ajaknya.
Maya memasuki ruangan privasi Mayong itu, hanya cleaning servis yang bisa masuk sana. Itupun saat Mayong memintanya dibersihkan. Ruangan itu benar-benar privat. "Sayang, habis makan satu ronde ya??" bisik Mayong. "Lah, kok ujungnya ke sana? Bukannya kalau lapar ujungnya makan?" Maya bukannya tak peka. Maya tidak ingin memperparah keadaan suaminya yang sedang berada di masa penyembuhan. Apalagi peluru yang dilesakkan hampir mengenai jantung Mayong. Semenjak kejadian dengan David itu, Mayong belum pernah menyentuhnya. Mungkin saat ini hasrat suaminya sudah sampai ubun-ubun. "Baiklah, tapi makan dulu ya" rengek Maya. Mayong mengangguk bahagia.
Selepas makan Maya menepati janjinya. Maya tidak membiarkan sang suami memimpin permainan. "Ini aja belum kering, sudah minta jatah" tunjuk Maya ke arah perban suaminya. "Ini memang belum kering yank, tapi yang di sini tiap pagi sudah berdemo" tunjuk Mayong ke sesuatu yang berada di balik celana. "Ini mulai sesak kayaknya sayang" Maya menggoda dengan menyentuh sesuatu yang dimaksud suaminya. Mayong hanya terkekeh. Maya tersenyum penuh arti, Maya yang sekarang bukanlah Maya yang dulu. Maya sudah pintar mengikuti ajaran sang suami. Maya mulai lincah mempermainkan bibirnya. Bibir sang suami dia arahkan ke buah ceri miliknya. "Sayang masih penuh aja, aku suka" ujar Mayong. Maya benar-benar menjadi pengendali permainan saat ini. Maya terjatuh di samping suaminya. "Istriku semakin pintar aja" puji Mayong sambil mencubit hidung istrinya. "Sapa dulu gurunya..he...he....Habis ini pulang ya yank, Raja sudah menunggu" ujar Maya menyusul Mayong ke kamar mandi. Tidak ada ulangan ya di kamar mandi. Maya berganti baju. Mayong memang sengaja menyediakan baju ganti untuk dirinya sendiri dan istri di kantornya. Jaga-jaga kalau hal seperti ini terulang, pikir Mayong.
Doni sama Sinta dipanggil Mayong selepas dirinya dan sang istri melakukan ritual. "Sinta, kamu bantu Doni untuk menyiapkan berkas kerjasama yang kupinta ya. Mau dikerjakan di sini atau di rumah kalian terserah. Untuk lemburan minta aja ke Doni" jelas Mayong. Sementara sang asisten dan sang sekretaris hanya menatap aneh sang majikan yang telah berganti baju dengan pakaian kasual dan rambut masing-masing masih basah. Maklumlah mereka berdua masih jomblowan dan jomblowati. Belum memahami apa yang telah terjadi di lantai teratas perusahaan Dirgantara. "Tuan, ngapain sama nyonya berganti baju" akhirnya Doni keceplosan juga karena penasaran. "Makanya nikah Don, biar tau dan pinter" ucap Mayong sumringah. "Apa hubungan nikah dengan ganti baju tuan?" Doni masih membeo. "Haduh tuan Doni. Nanti aja tanya rumput yang bergoyang" sela Sinta. Dia aja yang lebih muda sudah mulai paham, lha ini tuan Doni kenapa oon sekali. Batin Sinta. Mayong dan Maya hanya terkekeh. "Don, hari ini otakmu ngelag kah? Dari tadi loading terus?" ejek Mayong sambil menggandeng sang istri pulang. "Jangan lupa berkas sudah sampai di mejaku" tambah Mayong.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
happy reading, to be continued 😊
__ADS_1