
Untuk para readers tercinta terima kasih dukungannya atas karyaku ini. Dukungan kalianlah yang membuat aku bertambah semangat menulis. Semoga ke depannya, author tetep istiqomah untuk rajin menulis...he..he...
Salut untuk para author senior di aplikasi ini. Yang masih menyempatkan waktunya menulis di sela-sela kesibukannya. Ternyata memang tidak mudah.
Kenapa aku memilih nama Maya dan Mayong?
Maya adalah seorang dokter favorit othor dan kolega juga. Meski nama lanjutannya hanyalah imajinasi saja. Dunianya tidak jauh beda dengan dunia othor. Sementara nama Mayong, karena othor ngefans banget dengan wartawan senior itu. Jadilah nama mereka kusandingkan ke novelku ini.
Selamat menikmati secuil tulisan othor. Jika ada yang kurang berkenan, othor mohon maap.
Love You πππ
Kembali ke laptop...eh kembali ke Mayong dan Maya. π
Mayong menerima sodoran undangan dari sekretarisnya. Dan dilihatnya sekilas. Undangan pertunangan anak dari kolega bisnisnya.
"Sayang, Sabtu malam aku ajak ke undangan ini ya" seru Mayong sesaat setelah memasuki mobil.
"Undangan apa dan dari siapa?" tanya Maya.
__ADS_1
"Undangan dari keluarga Nasution, owner Graha Pusaka. Mereka mengadakan pesta pertunangan putrinya" Mayong menyerahkan undangan yamg diterimanya tadi.
"Oooooooo..." beo Maya membulat.
"Gimana mau apa nggak? Raja sebaiknya nggak usah diajak dulu. Daripada rewel di tempat yang belum di kenalnya" usul Mayong. Maya mengangguk menyetujuinya.
Maya memakai baju sedikit glamour daripada biasanya. Maya tidak ingin mempermalukan sang suami yang juga seorang pebisnis handal. Kalung berlian tersemat di lehernya. Hijab menjadi pemanisnya. Make up natural semakin mempercantik seorang Maya. Tas limited edition menyempurnakan tampilannya saat ini. Mayong yang sedang menggendong Raja bahkan terpana melihat penampilan sang istri, "Cantik" gumamnya. Maya yang ditatap sang suami seperti itu, menjadikan pipinya yang merah bertambah merah. Raja yang digendong papanya pun ikut merajuk dengan menunjuk-nunjuk Mamanya. Maya menggambil Raja dari gendongan Mayong, "Gantengnga mama ikut mba Rani dulu ya. Mama perginya nggak lama kok" pamit Maya sambil menciumi putranya. Raja tertawa kegelian. Maya menyerahkan Raja ke gendongan sang baby sitter. Dan meledaklah tangisannya. Raja semakin besar semakin posesif terhadap mamanya. Rani terus membujuk Raja supaya diam. Mengambilkan mainan, dan Raja pun terdiam.
Mayong dan Maya menuju tempat pesta pertunangan diadakan. Saat masuk ke tempat acara, Mayong menggandeng Maya dengan posesif seakan tak mau kehilangan istrinya. Tuan rumah menyambut hangat kedatangan CEO Dirgantara itu. Mayong mengajak berbaur ke tengah acara. Mayong mengenalkan Maya ke beberapa koleganya. "Nyonya Mayong ternyata sangat cantik, sungguh beruntung anda menjadi suaminya tuan Mayong" puji salah seorang kolega Mayong. Mayong semakin memperat tangan yanh berada di pinggang Maya. Maya bahkan sampai tersenyum kikuk melihat polah suaminya itu.
"Sayang, aku ke toilet sebentar ya" pamit Maya berbisik. "Perlu aku temani?" tanya Mayong. "Nggal usah, kamu di sini aja ya. Jangan kemana-mana dulu sebelum aku datang. Tempat pestanya luas sekali" gurau Maya. Maya berlalu menuju toilet. Mayong sibuk berbincang dengan para kolega yang lain.
"Tolong kau lacak keberadaan istriku lewat cincin yang dipakai istriku" seru Mayong selanjutnya.
"Cepat kabari aku begitu kau menemukannya. Lekaslah Don" suara Mayong terdengar sedikit panik. Mayong mencari sekeliling tempat pesta untuk mencari keberadaan sang istri.
Mayong menuju tempat server cctv yang ada di hotel tempat diadakannya pesta. Sempat terjadi salah paham antara Mayong dan security yang berjaga. "Hei, kau tau siapa aku? Akan kulaporkan kalian semua karena istriku hilang di tempat ini" ancam Mayong. Ponsel Mayong berdering," Tuan, sinyal yang aku dapatkan dari nyonya telah menjauh dari tempatmu tuan" teriak Doni di ujung ponsel. "Kira-kira perlu jarak tempuh tiga puluh menit dari tempat anda" lanjut Doni menjelaskan titik lokasi yang dimaksud.
"Siapkan orang-orangmu. Aku segera meluncur ke sana. Kamu juga langsung ke sana saja" Mayong berlari menuju mobilnya. "Kalau sampai terjadi sesuatu dengan istriku, kalian juga akan kena imbasnya" ancam Mayong kepada para security di sana sebelum berlari menuju mobil. Mayong menjalankan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Mayong sampai lokasi yang diberitahu Doni. Di belakangnya mobil Doni dan pasukannya juga berhenti. Tidak ada siapapun di situ. "Don, nggak salah sinyal yang kamu temukan itu?" Mayong mulai cemas. "Saya tidak salah Tuan. Sinyal terakhir keberadaan Nyonya berada di titik ini" ujar Doni jujur. Tempat itu hanya sebuah jalan sepi, samping kiri tebing. Sedangkan sisi kanan sebuah jurang. Apa mungkin Maya terjatuh ke sana?? batin Mayong. Mayong meninju pintu mobilnya, cemas dengan keadaan sang istri.
__ADS_1
Tak sengaja sepatunya menginjak sebuah benda mengkilap. Diambilnya karena merasa tak asing dengan benda itu. "Don, ini cincin Maya. Terus di mana dia sekarang?" oceh Mayong mulai kacau.
"Tenang tuan, dalam situasi ini jangan sampai kita ceroboh" ujar Doni.
"Tenang kau bilang Don. Istriku hilang" teriak Mayong. Doni pun menjumpai jalan buntu. Doni menelpon seseorang, "Cepat kau dapatkan rekaman cctv tempat pesta itu. Aku harus tau siapa yang berani membawa nyonya" perintah Doni ke seseorang. "Cepat kabari setelah kau dapat!!!" lanjut Doni.
Di tengah keheningan jalan itu, ponsel Mayong berdering. Bara calling. Mayong pun terpaksa mengangkat telpon sang adik.
"Lama amat ngangkat telponnya. Kak cepat ke sini. Aku share lok tempatku. Aku lagi membuntuti mobil yang kelihatannya membawa Maya" ujar Bara bagai oase di tengah kegersangan yang dirasa Mayong.
"Cepat kau share. Bagaimana bisa kamu tahu itu Maya???" seru Mayong.
"Ah kau, ceritanya nanti saja. Yang penting istrimu selamat. Cepat kau susul aku. Aku tak akan mampu sendirian menghadapi mereka" Bara menutup ponselnya dan langsung mengirimkan lokasinya ke Mayong.
Mayong menatap Doni sesaat setelah melihat pesan yang dikirimkan Bara. "Aku saja Tuan yang nyetir. Mobil saya biar dibawa yang lain" Doni seakan tahu tatapan Mayong. Dan tak akan membiarkan sang bos menyetir sendiri dalam keadaan kacau. Mayong menjelaskan titik lokasi yang diberikan Bara. Doni melajukan mobilnya menuju lokasi yang dikirimkan Bara. Iringan beberapa mobil mengikuti mobil sang tuan. "Maafkan aku May, aku sekali lagi nggak bisa menjagamu" batin Mayong kacau. Mayong bahkan berkali-kali mengusap wajahnya kasar.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
to be continued, happy reading π€
__ADS_1