Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 90


__ADS_3

Memang untuk saat ini Mayong masih keberatan jika istrinya ambil sub spesialisasi. Ritme kerja Maya tidak bisa disamakan dengan ritme kerja kantoran seperti dirinya. Berangkat teratur, pulangpun sudah ada jam pastinya. Walau kadang kerjaan nya masih dilanjut di rumah, tapi Mayong masih bisa mengatur waktunya. Tapi kalau Maya, tentu tidak bisa. Orang lain pada nyenyak-nyenyaknya tidur, Maya berangkat operasi. Kadang Mayong juga ikut-ikutan pola Maya. Malam begadang, siangnya tidur. Lama-lama kayak pola kelelawar..he..he..


"Sudah lah Yah, Pa...Suamiku sekarang memang belum mengijinkan aku kuliah lagi. Aku juga belum kepikiran ambil sub spesialisasi. Lagian aku juga masih keteteran membagi waktu. Jadi seorang SpOG aja sudah membuat aku bangga" bela Maya. "Tuh kan, dengar sendiri" celetuk Mayong. "Iya, bener tuh May. Lagian kalau kamu kuliah lagi. Kerjaan nambah terus kan. Kapan waktu menyenangkan diri. Kasihan tuh kartu di dompet kalau lama dianggurin" seloroh mama Clada. "Lama-lama karatan juga kalau nggak pernah digesek. Percuma dong Mayong banting tulang" tambah mama.


Menjelang keberangkatan ke Jepang. "Sayang, banyak juga ya yang kita bawa liburan" celetuk Maya melihat ada tiga koper besar di dalam ruang wardrobenya. "Itu belum koper punya Raja lho" ulas Mayong. Sementara Doni juga sudah menyiapkan semua amunisi yang diperlukan untuk ke Jepang. Rani dan bi Inem serta pak Amin diajak serta oleh Mayong. Para pengawal terlatih pun disiapkan oleh asisten Doni. Mayong menerima pesan yang dikirimkan oleh asisten, bahwa besok jam delapan semua sudah siap di bandara. "Sayang ayo kita istirahat. Bukankah Raja sudah tidur?" Mayong mendekati Raja yang tertidur pulas di box nya. "Sayang papa sudah tidur duluan ya" Mayong mencium kening Raja. "Raja sudah tidur sejam-an yang lalu. Besok berangkat jam berapa yank?" tanya Maya. "Jam delapan sampai bandara. Itu perintahnya Doni lho" jelas Mayong. "He...he...., aku mah manut aja apa kata Doni" Maya terkekeh. Maya merebahkan tubuhnya, Mayong pun menyusul. "Tidur yuuk" Maya memeluk sang suami. Mayong yang sedikit lelah hari ini karena harus mempersiapkan semua sebelum kepergiannya ke Jepang. Dalam beberapa hari ini, dia ingin meninggalkan Dirgantara untuk liburan. Semua berkas-berkas yang perlu ditandatangani sudah selesai semua . Mayong akhirnya ikut merebahkan dirinya di samping Maya. Semantara Maya sudah terdengar dengkuran halusnya. Mayong mengecup kening sang istri yang telah terlelap.

__ADS_1


Sesuai perintah dari Doni, Mayong dan rombongan sudah bersiap di bandara. Sebuah pesawat jet pribadi sudah siap menunggu sang bos untuk naik. Mayong dengan gagahnya menggendong Raja kecil dan menggandeng tangan sang istri. "Sayangnya papa, riang sekali hari ini???" Mayong menciumi Raja. Raja tertawa kegelian. Mereka menaiki tangga pesawat beriringan. "Pesawat sudah siap take off tuan" ujar sang kapten. Mayong mengangguk. Saat dipakaikan self belt Raja malah terkekeh. "Duh senangnya" Maya menoel-noel pipi Raja. Mayong tersenyum melihat kegembiraan istri bersama anaknya. Papa akan membahagiakan kalian, janji Mayong dalam hati.


Pesawat landing setelah melewati perjalanan di angkasa selama kurang lebih tujuh jam lebih. Raja tertidur nyenyak saat di pesawat. Tuan Akio bersama istri menyambut kedatangan Mayong. Ternyata tuan Akio juga mempunyai putra yang usianya hampir dua tahun. "Perkenalkan tuan Mayong, ini istriku dan putra terkecilku" tuan Akio memperkenalkan istrinya. Mereka bersalaman. Meski Maya dengan istri tuan Akio agak terkendala dalam bahasa tapi mereka terlihat akrab. Tuan Akio mempunyai dua putra, satu putri. Putra pertama dan putri keduanya sudah dewasa, tapi masih dapat bonus putra terkecilnya itu..he..he...


Rombongan Mayong tiba di hotel bintang lima di kota Tokyo. Doni memboking kamar satu lantai yang tepat berada di bawah lantai presidential suite tempat keluarga Mayong istirahat. Jangan tanya habis berapa duit, hanya Mayong dan Doni yang tahu (Author juga nggak dibisikin sama mereka). "Wooooooowwwww" kagum Maya melihat kota Tokyo dari kamar hotel. Mayong yang masih menggendong Raja berjalan mendekat. Raja yang berada dalam gendongan Mayong, merangkul leher sang mama dari belakang. "Tuh nak...indahnya Tokyo malam hari" Maya mengambil Raja dari gendongan Mayong. Bayi yang belum genap setahun itu menunjukkan deretan gigi seri yang belum tumbuh semua.

__ADS_1


Mayong dan Doni pergi ke perusahaan Nayaka untuk membicarakan proses akuisisi Samudera Group. Sementara Maya dan Raja bersama dengan nyonya Akio beserta putra terkecilnya pergi ke pusat perbelanjaan di Tokyo. Beberapa pengawal mengikuti mereka dengan ketat, meski tetap menjaga jarak agar sang bos. "Rani, bik kalian nggak mau belanja?? Panggi pak Amin juga" seru Maya. "Nggak nyonya, kami diajak ke Jepang sini aja sudah senang" Bik Inem terkekeh. Rani pun begitu. "Nggak apa-apa, ambil aja yang kalian butuhkan. Jarang-jarang lho kita seperti ini. Para pengawal juga tuh, bilangin ya Ran. Mereka juga butuh healing kali..ha..ha..." Maya tersenyum. "Waktunya kita gesek kartunya bos besar" seru Maya. Nyonya Akio melihat kagum Maya. Meski baru bertemu kali pertama, nyonya Akio begitu melihat kemurahan hati Maya. Setelah puas dengan kegiatan belanja-belanjaan, Maya beserta yang lain balik hotel. Sementara di ruang rapat, beberapa kali ponsel Mayong yang disilent menyala. Banyak notif M-Banking yang masuk. Mayong tersenyum dengan melihat sekilas ponselnya. Akhirnya berguna juga tuh kartu, batin Mayong.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻☕


To be continued, happy reading. Makasih yang sudah mampir ke sini. Banyak cinta untuk readers 💝

__ADS_1


Kasih saran dong, enaknya perlu dihadirkan pebinor pelakor nggak ya? Tapi kalau dihadirkan othor nggak rela ngerusak kebahagiaan mereka..he..he...


__ADS_2