
Maya terbangun karena tindihan kaki Mayong. Maya melihat sekeliling ruangan, sebuah tempat asing yang berbeda dengan sebelumnya. "Kenapa suamiku bisa tidur nyenyak di sini??" gumam Maya. Maya mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi.
Kilas balik Maya.
Maya keluar dari toilet menuju ke tempat suaminya berada. Karena sedang haus, Maya belok ke tempat minum. Seseorang menyodorkan sebuah minuman untuknya dan langsung Maya teguk minuman itu. Saat dekat dengan posisi Mayong yang membelakanginya, Maya ditarik oleh seseorang dengan membungkam mulut Maya. Saat tersadar Maya sudah berada di mobil yang melaju kencang. Sampai dengan kejar-kejaran itu Maya masih sadar penuh. Kejadian ditolong Mayong pun Maya masih bisa sedikit mengingatnya. Tapi kenapa aku bisa berada di sini???? batinnya.
Maya mencoba membangunkan suaminya, "Sayang, kita di mana? Ayo bangun!!!" panggil Maya sambil menggerakkan badan sang suami. "Kenapa dia nggak pakai baju???" Maya baru tersadar kalau dia pun masih polos. Bahkan badan Mayong pun terlihat banyak jejaknya. Maya mulai mengingat sedikit-sedikit bagaimana perilakunya semalam ke sang suami.
"Apa sayang, mau lagi" suara serak Mayong khas bangun tidur.
"Semalam kau benar-benar ganas sekali, rasanya remuk badanku" Mayong mendekat dan memeluk istrinya yang polos itu. Merahlah pipi Maya.
Mayong duduk hanya bertutupkan selimut, "Maafkan aku yang teledor, hampir saja kau jadi korban penculikan lagi" Mayong mengelus kepala Maya.
"Semua sudah terjadi, nggak perlu ada yang disesali. Smoga ke depan tidak ada kejadian buruk lagi" ujar Maya sabar.
"Ayo pulang sayang, aku kangen dengan Raja" ajak Maya, disambut anggukan Mayong.
Ponsel Mayong berdering, "Iya Pa" jawab Mayong begitu menggeser tombol hijau ponselnya.
"Bagaimana dengan Maya, lain kali hati-hatilah. Untung Tuhan masih berpihak ke kita" ucap Papa Suryo.
"Baik Pa, maafkan aku semua karena aku yang teledor" timpal Mayong.
"Jaga baik-baik istri dan keluargamu Mayong. Aku harap sudah tidak ada kejadian seperti ini lagi" tandas papa Suryo.
"Baik Pa" hanya itu yang bisa Mayong katakan. Papa Suryo menutup panggilannya.
__ADS_1
"Sayang kamu mandi duluan gih!!! Aku mau menghubungi Doni dulu. Biar sekalian Doni bawakan kita ganti" ujar Mayong. Maya pun melangkah ke kamar mandi dan berendam. Badannya serasa remuk semua.
"Don, bagaimana semalam? David sudah kau bereskan?" Mayong memulai ucapannya saat ponselnya tersambung dengan Doni.
"David sudah kita serahkan pihak berwajib Tuan. Semua bukti juga sudah kita siapkan" tegas Doni.
"Oke, sebaiknya kamu langsung meluncur ke sini. Jangan lupa kau bawakan baju ganti untukku dan istriku" perintah Mayong selanjutnya.
"Baik Tuan" jawab Doni. Serasa alih tugas jadi baby sitter, gumam Doni sambil menutup ponselnya.
Mayong dan Maya sudah berada di mobil yang dibawa oleh Doni. "Sebaiknya kamu istirahat di rumah, nggak usah kerja dulu dalam dua hari ini" perintah Mayong. Maya hanya mengangguk tanda mengerti. Kalau dibantah saat-saat seperti ini percuma. Sang suami pasti lebih mengutamakan keselamatannya saat ini.
Mama Clara dan Papa Suryo ternyata berada di mansion mereka. Mama Clara tergopoh mendekati menantunya, "May, kamu nggak apa-apa kan? Mana yang sakit?" Mama Clara menelusur tubuh Maya.
"Maya baik-baik Ma" ulas Maya. Mama Clara memeluknya. "Maafkan keluarga mama ya? Mereka bahkan telah menyakitimu" Mama Clara bersedih.
"Jangan sedih Ma, lagian Maya juga tidak kenapa-napa. David juga sudah diserahkan ke pihak berwajib" terang Mayong.
"Semoga dengan ini keluarga James menyadari kesalahannya" seru papa Suryo. Mayong pun mengangguk menyetujui ucapan papanya. Maya segara memeluk Raja, saat putranya itu mendekat dengan digendong Rani. Maya ciumi gemas sang putra, "Mama kangen Nak" Maya kembali memeluk putranya.
Setelah beristirahat selama seminggu di rumah, Maya kembali beraktivitas seperti biasa.
"Sayang, aku pagi ini mulai masuk ya? Lagian aku sudah istirahat melebihi yang kau suruh dulu lho" ujar Maya meminta ijin.
"Oke, tapi aku perketat penjagaanmu. Aku tidak mau kecolongan lagi" Mayong bangun dari tempat tidurnya.
"Sayang, kalau bisa aku akan mengawasimu sendiri dua puluh empat jam. Tapi mana bisa begitu, jelas-jelas kita punya kesibukan masing-masing. Padahal dari awal kita sudah berjaga, nyatanya masih kecolongan juga" lanjut Mayong.
__ADS_1
"Sayang, manusia hanya bisa berencana. Yang di atas lah penentunya. Semua kita pasrahkan ke Sang Pencipta. Semoga keluarga kita senantiasa terlindungi" Maya menimpali ucapan sang suami. Mayong mengaminkan ucapan Maya.
Saat sarapan pagi, "Sayang, kapan-kapan kita liburan yuk. Kamu sempatkan ya. Sejak honeymoon kita belum pergi kemana-mana" ajak Mayong.
"Lah, aku aja baru masuk. Malah diajak liburan. Yang ada aku malah nggak kerja sayang". Raja yang didudukkan sang mama berceloteh ria.
"Tuh, Raja aja pingin liburan. Ya kan Raja?" tanya Mayong sambil mencilukba Raja. Bukan jawaban yang diberikan, tapi suara tawa Raja meramaikan suasana pagi di meja makan itu.
"Lagian papa, mana ada anak belum genap setahun ditanya ingin liburan" Maya tertawa. Maya menyuapi Raja bubur susu dengan telaten. Raja terlihat lahap. "Ya sayang, sempatkan waktunya. Akhir bulan ini" Mayong masih berharap Maya mau diajak liburan. Mayong bisa saja memutuskan sepihak, tapi pasti Maya keberatan dengan hal itu.
Maya meluncur ke rumah sakit dengan pak Amin. "Pak, nanti nunggu saja ya di rumah sakit. Aku cuma jadwal poliklinik saja hari ini" pesan Maya saat turun dari mobil.
"Maaf nyonya, tadi tuan Mayong pesan siang ini mau ke rumah sakit. Nyonya disuruh menunggunya. Maaf nggak ngabari nyonya, tadi tuan Mayong buru-buru berangkat" jelas Pak Amin.
"Oke, baiklah pak. Kalau begitu sebaiknya pak Amin balik aja ke mansion. Anterin bi Inem belanja kebutuhan rumah tangga" Maya berlalu menuju ke poliklinik obgyn.
"Pagi dokter Maya" sapa seseorang di belakang Maya. Maya menoleh ke belakang, "Eh dokter Budi. Alhamdulillah baik dokter" Maya menyalami koleganya itu.
"Maaf ya akhir-akhir ini sedikit merepotkan teman-teman sejawat" Maya menangkupkan kedua tangannya.
"Biasa aja dokter, kita harus saling bantu. Ngomong-ngomong Juli nanti ada kongres organisasi profesi kita. Bisa hadir nggak?" dokter Budi mengingatkan.
"Waduh, kok bisa lupa ya. Yang pasti aku musti ijin big bos dulu dokter" Maya tertawa. Dokter Budi pun ikut terkekeh. Kalau dokter Maya sudah bilang big bos, tentu keputusan akhir berada di tangan bigbos-nya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
to be continued, happy reading.
__ADS_1