Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 39


__ADS_3

Setelah drama naik kemudi putar di pasar malam selesai. Mayong dan Maya menuju ke sebuah resto yang sebelumnya sudah dibookingkan Doni.


"Silahkan pesen yang kamu suka" ucap Mayong setelah mereka duduk.


"Kak, aku nggak begitu paham dengan menu western. Aku ngikut aja" bisik Maya dengan tersipu. Mayong yang pernah melihat Maya suka makanan pedas, memesan spicy tuna roll, chicken cordon bleu untuknya dan beberapa dessert, minumnya yang tidak awam bagi Maya aja lemon tea ice.


Ketika pesanan datang, "Ayo dimakan, keburu dingin" ujar Mayong.


"Emang nggak ada nasi kak?" Maya masih mengamati meja makan di depannya.


"Memang harus ada nasi ya?" tanya Mayong balik.


"Ya iya lah Kak, mana kenyang" sanggah Maya.


"Kamu itu dokter, tapi makananmu suka karbo. Nggak sehat tau" sela Mayong.


Mayong tetap memesankan nasi untuk Maya.


"Nah begitu dong, kakak baru the best" ujar Maya senang. Mereka makan dengan khidmat.


"Sabtu ini mulai belajar nyetir mobil yuuukkk, mumpung aku ada waktu setelah taekwondo" ajak Mayong sambil makan.


"Kalau kakak nggak sibuk, aku oke aja. Lagian aku off jaga" jawab Maya.


"Nanti kuajak ngajar latihan taekwondo dulu yaa, baru belajar nyetir".


"Siap bosss" dengan sikap hormat grakkkk Maya menjawab. Mayong terkekeh.


"Kamu suka olahraga apa May?"


"Aku mah senengnya olahraga sama bantal guling kak" jawab Maya asal.


"Yaelah malas sekali kau" ucap Mayong meniru logat Batak.


Maya terkekeh, "Walah Kak, kalau malam sudah streaming di meja operasi. Badan sudah lemes duluan Kak, boro-boro mau olahraga" elak Maya.


"Alesan aja kamu kalau dibilangin. Sempatkan biar badan sehat dan bugar. Kalau gitu, sebelum belajar nyetir ikut latihan taekwondo bersamaku" perintah Mayong.

__ADS_1


"Itu pemaksaan namanya Kak, belajar nyetir ajalah. Tetep kutungguin kok waktu kakak melatih...ya...ya...." Maya merengek.


Maya menjitak kening Maya, "harus mau". Maya manyun. Mayong tambah gemas melihatnya.


Gadis sederhana itu telah memikat hatinya. Entah ke mana kenangan tentang Jelita, yang sebelumnya membawa kenangan buruk buat Mayong.


Ponsel Mayong berdering, "Hati-hati di jalan" mengalun indah dari ponselnya, "Halo Don, iya aku bersama Maya ini. Ada apa?


"Di tunggu tuan Suryo dan tuan Abraham di mansion. Sebaiknya nona Maya diajak sekalian aja" suara Doni di seberang.


Papa Suryo dan Om Abraham ngumpul, pasti ada hal penting yang ingin dibicarakan.


"May, habis makan kita langsung ke mansion papa Suryo" ajak Mayong.


Maya menatap Mayong penuh tanya. "Aku juga belum tau ada apa" Mayong seakan mengerti jalan pikiran Maya.


"Baiklah, tuan besar pemaksa" Maya berdiri dari tempat duduknya.


"Panggilanku bertambah nih? Pemaksa????" Mayong mengikuti Maya.


Setelah membayar semuanya, mereka menuju mansion. Di sana sudah kumpul semuanya, Papa Suryo, Om Abraham, Mama Clara, Bara dan juga Doni.


"Ada apaan nih, serasa duduk di ruang interogasi????" gurau Mayong memecah keheningan.


Papa Suryo membuka pembicaraan, "Mulai sekarang kita semua harus hati-hati. Ada serangan musuh dibalik kecelakaanmu Mayong. Bahkan orang yang bawa sepeda motor yang menyalipmu itu sekarang sudah ditangkap polisi. Sudah cukup James dan David bermain dengan kita" ucap Papa Suryo serius yang langsung ke inti pertemuan ini.


Mayong sudah menduga sebelumnya, "Aku dan Doni sudah mulai bermain di perusahaan Tuan James Pa" Mayong menengok Doni. Donipun mengangguk. "Bahkan aku juga masuk ke usaha jual beli senjata ilegal mereka" tambah Mayong. Bahkan tuan James sudah memisahkan Om Abraham dan Maya. Suryo mengakui pergerakan Mayong dan Doni lebih cepat darinya.


"Dengan menyabotase pengiriman senjata mereka, perusahaan mereka akan kolaps dengan sendirinya. Karena aliran terbesar dana perusahaan tuan James berasal dari jual beli senjata itu" ungkap Mayong dengan gamblang.


"Hati-hati Mayong, mereka bagai belut yang pintar sekali meloloskan diri" ujar Abraham.


Tuan James, kakak dari Mama Clara. Mama Clara yang semenjak menikah dengan Papa Suryo, tidak pernah menginjakkan kakinya di keluarga besarnya menjadi ikut sedih mendengar obrolan itu. Kakak yang dulu sangat menyayanginya, sahabat dari suaminya itu sekarang bagai orang asing bagi Mama Clara. Kenapa kau terjerumus begitu dalam Kak, batin Mama Clara. Semenjak suaminya sukses, Mama Clara sudah beberapa kali mencoba menemui kakaknya itu. Ternyata kedatangannya tidak pernah dianggap. Mama Clara menikah mengikuti keyakinan Papa Suryo semakin menambah hubungan keluarga semakin renggang.


Papa Suryo yang merasakan kesedihan istrinya, duduk mendekat. "Sudah jangan dipikirkan, James memang kakak kandungmu. Tapi James sudah tak menganggapmu adiknya. Disinilah keluargamu sekarang Clara" Papa Suryo memeluk istrinya.


Maya baru mengetahui seluk beluk keluarga itu hari ini. Di balik keceriaan Mama Clara tersimpan banyak kesedihan. Maya juga baru tau kalau mamanya dulu adalah wanita yang dicintai Tuan James. Akar masalahnya ternyata dari kerenggangan persahabatan antara ayah Abraham, papa Suryo dan Tuan James.

__ADS_1


"Kak, apa langkah kakak selanjutnya?" Bara mulai bicara.


"Akan kubuat grup Samudera kolaps, baru aku akuisisi" ujar Mayong mantab.


Bara mengangguk mengakui kehebatan kakaknya itu, bahkan Doni yang ahli strategi dan ahli IT pun mengakui kehebatan Mayong.


"Maya, untuk saat ini Ayah akan suruh orang untuk selalu menjagamu kemanapun kamu pergi. Semua demi keselamatanmu" Abraham menatap Maya.


"Tidak hanya Maya Om, semua yang di sini sudah disiapkan pengawal bayangan. Benar kan Don?" Doni mengangguk, karena dialah koordinator pengawal-pemgawal itu. Maya mengangguk saja, mengikuti yang terbaik.


"Sudah malam Abraham, kenapa tidak tidur di sini saja" tawar Papa Suryo diiyakan Mama Clara.


"Sebaiknya semua istirahat di sini saja, biar mansion ini ramai" Mama Clara mencoba tersenyum. Akhirnya semua menginap di mansiom, termasuk Doni. Mereka melanjutkan obrolan serius mereka, menjadi obrolan receh.


"Ma, Maya pamit ke kamar boleh. Maya sedari pulang dari rumah sakit belum mandi"


"Ayo aku antar ke kamarmu" Mama Clara berdiri dan diikuti Maya.


Di kamar mandi, Maya lupa kalau tidak bawa baju ganti. Gimana ini. Maya mondar mandir di kamar mandi. Akhirnya Maya keluar hanya mengenakan bathrobe. Maya menelpon Bara yang lagi ngobrol di ruangan tadi, sungkan kalau menelpon Mayong.


"Halo May, ada apa? Serumah aja pake nelpon?" terdengar suara Bara.


"Kak jangan keras, malu aku" suara Maya berbisik.


"Ada apaan?" Bara penasaran. Semua yang di ruangan itu menoleh ke Bara. Bara menutup mulutnya, disuruh Maya pelan malah dia bicara ngegas.


"Kak, aku nggak bawa baju ganti. Gimana dong?" masih dengan suara bisik-bisik.


"Yaelah May kukira ada apa" Bara terkekeh. "Kak, pinjamin Maya kaosmu yang baru, dia nggak bawa baju ganti tuh. Kaosku kebesaran buat Maya" suara Bara masih terdengar di ponsel Maya. Maya menepuk jidatnya, suruh pelan malah bilang Kak Mayong.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


#sengaja tidak berjudul, tapi tetep tidak mengurangi isi# othor siap-siap...


siap siap duduk manis menunggu like, komen, vote 😊😊😊😊😊


Happy reading

__ADS_1


πŸŒΊπŸŒΊπŸŒΊπŸŒΊπŸŒΊπŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘Œ


__ADS_2