Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 70


__ADS_3

"Selamat siang nyonya. Tuan Mayong menunggu anda sedari tadi" sambut Sinta tersenyum ramah. Maya membalas dengan senyuman atas sambutan Sinta dan berdiri tepat di belakang wanita tadi. Bahkan wanita itu langsung berkata, " sedari tadi kek, sudah kubilang aku teman lama bosmu itu" suaranya ketus.


"Maaf bukan anda yang saya maksud, tapi nyonya Maya yang berdiri di belakang anda" Sinta menjelaskan maksudnya. Wanita itu membalik badan. Sinta tersenyum geli. Maya mengernyitkan alisnya melihat penampakan wanita itu. Bukankah wanita ini yang digandeng tuan David sewaktu ketemu di mall dulu. Bukankah wanita ini yang diceritakan suaminya dulu, pikir Maya. Terus ngapain dia datang ke kantor suamiku, batin Maya penasaran.


Maya berlalu melewati wanita itu hendak masuk ke ruangan suaminya. "Hei, kamu nyonya Mayong kan?" hadang wanita itu. Maya tersenyum elegan, "Benar nyonya, ada perlu denganku?" sapa Maya dibuat seramah mungkin.


"Perkenalkan nama saya Jelita" ulur tangan wanita itu.


"Maaf, untuk apa ya???? Saya merasa tidak ada kepentingan dengan anda" ulas Maya dengan wajah ramahnya.


"Apa kamu tidak tahu kalau aku sahabat lama suami kamu, bahkan kami pernah saling dekat????" tanyanya sinis.


"Oooo...begitu ya??? Tapi saya rasa suaminya tidak menganggap penting anda. Karena tidak sekalipun suami saya membahas tentang anda" tukas Maya tanpa melibatkan emosi.


"Mayong tidak akan membahas tentang aku, karena takut kamu cemburu" ejeknya.


"Itu berarti suami saya benar-benar cinta dengan istrinya. Karena tidak mau melukai perasaan dengan membuat istrinya cemburu" jawaban Maya sungguh mengena.


"Hari ini saya ingin ketemu dengan Mayong" ketus Jelita.


"Sinta, apa ada janji tuan Mayong dengan nyonya ini?" Maya menatap Sinta. "Maaf nyonya Maya, nyonya ini memang tidak membuat janji dengan tuan Mayong" jelas Sinta.


"Anda mengerti kan maksudnya? Tidak mungkin wanita terdidik seperti anda tidak mengerti ucapan sekretaris suami saya" Maya mengucapkan kata-katanya dengan tegas dan lugas. Jelita pergi dengan wajah bersungut marah.


Sepeninggal Jelita, Maya tersenyum ramah ke Sinta. "Sinta, apa memang wanita itu pernah ke sini sebelumnya?" Sinta hanya menggeleng. "Baru lihat kali ini nyonya. Tapi mana mungkin tuan Mayong kenal wanita itu, selera berpaikannya saja jauh dari selera tuan"

__ADS_1


"Emang kamu tahu dengan selera suamiku Sin??" Maya terkekeh.


"Maaf nyonya, bukan begitu maksudnya. Selera tuan Mayong yang pasti ya seperti anda.


Terdengar deheman di belakang Sinta dan Maya. Mereka pun menoleh. "Maaf tuan, bukan maksud membicarakan anda" ucap Sinta kalang kabut karena ketahuan membicarakan tuannya.


"Santai aja Sin, ngapain sampe keluar keringat dingin" goda Maya. "Ayo sayang, katanya aku disuruh ke sini?" Maya menggandeng lengan suaminya masuk ke ruangannya.


"Pasangan bucin" gumam Doni yang masih kedengaran Sinta. "Bucin...bucin...mereka itu pasangan teromantis di dunia nyata yang pernah kukenal" bela Sinta. Doni dan Sinta malah membicarakan sang bos.


Mereka sampai terkaget saat telepon di meja Sinta berbunyi, kring....kring.... "Baik Tuan, ada yang bisa dibantu??" Sinta jelas tau kalau telepon itu yang bunyi berarti telepon dari sang bos.


"Sin, tolong kamu pesankan menu makan siang untukku dan istriku. Kalau mau makan di luar, kamu barengan aja sama Doni. Tapi pesankan dulu makan siang untukku" perintah Mayong. "Baik Tuan, menunya?" tanya Sinta.


Sementara Mayong yang berada di ruangannya sedang bicara sedikit serius dengan istrinya.


"Sayang, ada sedikit yang ingin kutanyakan" Maya duduk di depan suaminya.


"Ada apa, serius amat?" tanya Mayong tak mengerti.


"Nggak serius-serius banget. Cuma pingin nanya aja. Tadi tu di depan Sinta aku ketemu wanita yang mengaku dari masa lalu mu sayang" jelas Maya.


"Semua masa laluku kan sudah aku ceritakan ke kamu sayang" tukas Mayong.


"Aku percaya sama kamu, tapi mau ngapain coba dia kesini. Pakai baju seksi dan make up tebal lagi???" ujar Maya. Mayong mendekati sang istri dan merangkulnya, "Cemburu?" Mayong pun tertawa, "Kalau cemburu ngaku saja sayang. Tapi aku suka, jawabanmu ke wanita itu cerdas juga" jelas Mayong.

__ADS_1


"Jadi kamu tahu kalau aku bertemu dengan wanita itu" Maya menatap suaminya minta penjelasan.


"He....he...ya jelas taulah. Kebetulan aku selesai rapat, dan melihatmu berbicara dengan seseorang. Aku belok aja ke ruangan Doni dan mendengarkan obrolanmu" Mayong terbahak. Maya meninju lengan suaminya. Gemas dengan tingkah Mayong.


Pintu diketuk dari luar, "Maaf tuan, makanan sudah datang" Sinta masuk ruangan setelah ada jawaban dari Mayong. "Makasih Sinta" ujar Maya.


"Oke, kamu makan siang aja sama Doni. Anggap saja aku ngasih kesempatan kalian buat berkencan" tatapan datar Mayong kembali seperti biasanya ke arah Sinta. "Siapa tuan, aku dan Doni kencan? Dengan manusia datar itu, mana mungkin" tolak Sinta. "Jangan bilang gitu Sin, ntar sapa tau jodohmu ternyata Doni" seru Maya. Sinta pamit undur diri.


"Habis makan siang aku pulang ya Sayang?" ijin Maya. "Pulangnya skalian aja nanti sore bareng denganku. Kalau capek istirahat di ruangan sebelah" pinta Mayong. Maya nampak berpikir, memang ada baiknya dia dan suami menyempatkan quality time. Meski hanya dengan menungguinya kerja. Dan untungnya Mayong adalah pemilik perusahaan yang waktunya lebih leluasa. Maya menyiapkan makan siang yang dipesan Sinta, "Sayang ayo makan dulu" ajaknya yang melihat Mayong masih serius dengan monitor di depannya. "He...he...baiklah" Mayong mendekati Maya.


Maya menunggu Mayong sambil tiduran, ternyata malah tidur beneran. Mayong memanggil Doni, "Don sudah balik belum? Tolong ke ruanganku!!!" panggil Mayong lewat telepon. Tidak ada dua menit terdengar ketukan pintu. "Masuk Don" seru Mayong tanpa beralih dari layar note booknya.


"Don, beneran ini Samudera dinyatakan pailit?" Doni mengangguk, "Nilai saham samudera di bursa juga merosot tajam tuan" seloroh Doni. "Ini aku juga mantengin bursa" Mayong menunjukkan layar note booknya. Berarti ini alasan Jelita tadi ke sini. Bisa saja mereka mau menjebakku dengan trik yang sama seperti waktu kuliah dulu. Dasar orang-orang licik, batin Mayong. Jangan harap aku akan jatuh dalam lubang yang sama. "Baiklah Don, terima kasih atas infomu". Doni keluar dari ruangan.


Mayong membangunkan istrinya. "Sayang, bangun. Ayo pulang" ajak Mayong.


"Jam berapa?" suara khas bangun tidur Maya. "Jam tiga sore, ayo buruan. Kangen aku sama my King" ajak Mayong.


"Sama aku nggak kangen lagi?" mode cemberutnya dikeluarkan oleh Maya.


"Ha....ha....kangenlah. Tapi sekarang nggak lagi. Kan sudah ditungguin. Makasih ya" Mayong mengedipkan mata genitnya.


"Lebay..." seru Maya. Maya pun menyambar tas nya, menyusul Mayong yang menunggu di ruangannya.


"Tuan Mayong" panggil Sinta sambil menyodorkan sebuah undangan pesta ke tuannya. Mayong dan Maya pun berlalu pulang.

__ADS_1


__ADS_2