Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 58


__ADS_3

Pertemuan yang diadakan Mayong dengan Tuan Akio berlangsung berjam-jam. Rencana Mayong untuk mengakuisisi Samudera Group milik David belum mendapat persetujuan sepenuhnya dari Tuan Akio. Mayong akan menggunakan perusahaan Nayaka untuk mengambil alih Samudera Group. Tuan Akio percaya dengan Mayong tapi tidak sepenuhnya dengan David.


Butuh dana triliunan rupiah untuk mengakuisisi Samudera Group. Apalagi Samudera Group bukanlah perusahaan yang baik rekam jejaknya. Tuan Akio mengingatkan Mayong untuk berhati-hati. Jangan hanya emosi sesaat tapi bisa menghancurkan semua. Akan sangat susah membangun kembali citra Samudera Group yang sudah terlanjur jelek di mata investor asing, begitu penuturan tuan Akio.


Pertemuan yang sedianya dilakukan selama empat hari. Mayong memadatkan menjadi dua hari. Karena setiap kali nelpon istrinya, pasti melihat istrinya itu muntah-muntah. Meski tidak ada keluhan langsung dari Maya, Mayong merasa kasihan. Setelah dua hari didapatkan keputusan untuk menunda mengakuisisi Samudera Group. Mayong dengan senang hati akan membantu mempercepat kolapsnya Samudera Group tanpa mengakuisisi.


Sesampai di Bandara Indo, Mayong melangkah cepat ke mobilnya. Doni hanya geleng-geleng melihat kebucinan tuannya itu. Mayong pulang tanpa mengabari istrinya.


Sementara di mansion, Maya menangis sesenggukan. Hormon kehamilan benar-benar mempengaruhi emosinya. Beberapa jam Maya tak bisa menghubungi Mayong.


"Kemana kak Mayong ya Ma?" Maya mengeluh ke Mama Clara.


"Mayong pasti sibuk May, doakanlah semoga lancar pertemuannya" ucap Mama Clara mengelus rambut menantunya.


"Ayo turun, Mama tadi ngupas apel lho" tawar Mama Clara. Mereka turun ke ruang makan. Maya makan buah apel yang disiapin mama Clara. Tak lama perutnya berontak. Maya lari ke kamar mandi dekat ruang makan.


"Hoek...hoek....." Maya muntah. Apel yang baru dikunyah keluar bersama cairan lambungnya. Sampai pahit rasa mulut Maya.


Mayong datang ke mansion, mencari keberadaan istrinya. Mama Clara menunjuk dengan arah matanya. Mayongpun menyusul ke kamar mandi. Mayong memijat tengkuk istrinya dengan lembut. Maya menoleh. Maya memeluk suaminya dan menangis, "Heiii, aku datang. Kenapa nangis?" Mayong menepuk pelan bahu Maya.


"Kami jahat, kenapa dari pagi tak hubungi nggak bisa? Aku cemas sayang" Maya memukul-mukul dada sang suami.


"Maaf...maaf..sampai lupa kasih kabar ke kamu sayang. Aku buru-buru pulang setelah rapat, hanya karena ingin segera bertemu dengan istri cantikku" goda Mayong.


Mayong menciumi pipi Maya yang basah oleh air mata. Tak lupa dia ciumi perut Maya yang masih rata. "Apa kabar nak, papa datang. Jangan lagi menyiksa mama ya. Kasihan mama muntah terus sepeninggal papa".


"Kalian berdua betah sekali di kamar mandi" celetuk Mama Clara dari ruang makan. Mayong dan Maya tertawa mendengar suara mama Clara.


Mual Maya seketika hilang dengan kedatangan Mayong. Maya mengambil sisa potongan apel yang ada di meja. Maya makan dengan lahap. Mama Clara menatap aneh" May, nggak mual lagi?" tanyanya. Maya menggeleng tetap meneruskan makan apel.


"Sayang, aku ingin sate tahu?"


"Hah...makanan apa tuh?" Mayong bengong mendengar permintaan istrinya.


"Sate tapi bahannya dari tahu. Ayolah" rengek Maya.

__ADS_1


"Belinya di mana?" Mayong yang belum pernah melihat rupa sate tahu bingung.


"Aku ikut, biasanya di alun-alun kota ada" sela Maya.


"Orang ngidam harus dituruti Mayong. Kalau nggak ntar anakmu ngeces lho" Papa Suryo yang barusan datang.


Mayong yang belum berganti baju pun mengiyakan kemauan istrinya. Maya tanpa sungkan dengan papa Suryo dan mama Clara mencium pipi Mayong. Berangkatlah mereka ke alun-alun kota. Maya sangat antusias turun dari mobil dan menggandeng lengan suami yang masih berjas dan berdasi. Semua memandang aneh kedua sejoli itu. Mayong hanya cuek saja.


"Mana sayang sate tahunya??" Seumur-umur baru kali ini Mayong berada di keramaian alun-alun kota.


"Itu sayang" binar bahagia tampak di mata Maya.


Mayong pun rela antri di tengah kebulan asap penjual sate tahu. Setelah dapat yang dimau, Mayong menyerahkan tiga porsi sate tahu ke Maya lengkap dengan lontongnya.


Di mobil Maya makan dengan lahap tiga porsi sate tahu itu. "Mau sayang??" tawarnya.


"Aneh nggak rasanya?" Mayong penasaran.


Maya menyuapi suaminya. "Kok ada bau gosong-gosongnya. Tapi enak sih".


"Sampai mansion awas saja kamu sayang" ancam Mayong. Maya hanya terkekeh, tak takut ancaman suaminya. Ancaman yang berujung enak-enak...he..he...


"Dapat sate tahunya??" tanya mama yang duduk di ruang tengah.


"Dapat Ma, tapi sudah ludes. Tiga porsi buat Maya semua" ledek Mayong.


Abraham yang baru mampir, "Jangan sering-sering makan makanan yang dibakar Nak".


"Sekali ini aja Yah, tadi tuh pingin banget" bela Maya. Abraham duduk di samping putrinya.


"Sayang mandi dulu sana" Maya mengekori Mayong ke kamar. Menyiapkan baju ganti suaminya yang baru datang tapi malah diajak ke mana-mana olehnya.


Maya kembali duduk ke ruang tengah bersama ayah, mama dan juga papa.


"Masih mual?" Abraham mendekat ke putrinya.

__ADS_1


"Kadang-kadang aja Yah, tapi tadi sore pas Kak Mayong datang langsung hilang mualnya" Maya terkekeh.


"Bayi apa mamanya tuh yang minta diperhatiin" gurau Abraham.


"Kedua-duanya ya May" Mama Clara menimpali.


"Malah waktu aku hamil suamimu May, maunya Mama dekat terus sama papa Suryo. Menciumi bau keteknya. Aneh kan? Kalau sudah dapat bau ketek, hilang tuh keluhan mual mama" lanjut mama Clara. Maya tertawa mendengar penuturan mamanya.


"Bener Ma, pasien banyak juga yang punya keluhan aneh-aneh. Masak ada yang ngidam bau tanah kering yang baru kesiram air hujan pertama kali. Apalagi ngidamnya pas musim kemarau lagi" cerita Maya.


"Lha terus suaminya nyari kemana dong?" Mama Clara ikut penasaran.


"Ya nggak keturutan Ma, alhasil suaminya didiemin seminggu..ha..ha..."


Papa Suryo dan Abraham berlalu ke ruang kerja. Mama Clara dan Maya tetap melanjutkan obrolannya. Mereka sampai terpingkal-pingkal karena cerita lucu Maya tentang kisah pasien-pasiennya. Mayong yang baru datang, nimbrung duduk dekat istrinya, menciumi Maya tanpa sungkan dengan mama Clara.


"Papa sama ayah kemana Ma?" sambil tetap menciumi pipi Maya saking gemasnya.


"Susul sana ke ruang kerja, gangguin orang lagi ngobrol aja" suruh Mama Clara.


"Mau kucium juga Ma?" Mayong mendekat dan langsung mencium pipi mamanya. Mayong lari ke ruang kerja, sebelum kena timpuk mama Clara.


"Apa di Apartemen, suamimu juga seperti itu May" tanya Mama Clara. "Mayong itu lebih pendiam, kekonyolannya masih kalah jauh dengan Bara" lanjut Mama.


"Wah, kalau di apartemen lebih parah Ma" jawab Maya.


"Kadang aku juga heran sama mereka, di rumah konyol sekali. Tapi kalau di luar, wajah datar dan dingin jadi andalan" curhat mama Clara.


"Itu namanya bunglon Ma" gurau Maya. Pecahlah tawa mertua dan menantu itu.


#jangan lupa untuk like, share, komen ya🤗🤗🤗#


Bagi yang sudah like, vote & dukungan othor ucapin makasih. Banyak cinta untuk semua.


To be continued, happy reading

__ADS_1


__ADS_2