
"Sayang, Sabtu Minggu ini kamu longgar kan?" tanya Maya saat menyiapkan baju kantor sang suami. "Bisa diatur, kan ada Doni" Mayong mengeringkan rambut dibantu istrinya. Sementara Raja bersama mba Rani baby sitter ditemani oma cantiknya. "Ya udah, kalau gitu kosongkan Sabtu Minggu besok. Jangan lupa bilang Doni" ucap Maya. "Mau ngajak honeymoon lagi kah?" goda Mayong. Maya memukul pelan bahu suaminya. "Oh iya sayang, umur Raja sudah empat puluh hari lho" lanjut Mayong.
"Kok hafal banget, malah sampe hari-harinya lagi? Biasanya yang diingat kan ulang bulan, ulang tahun" tanggap Maya.
"Nih" Mayong menyodorkan kalender duduk yang berada di atas meja. Kalender yang sudah dilingkari dan ditulisi huruf kecil di atas angka-angka yang tertera di kalender itu.
"Maksudnya apaan?" Maya belum nyadar sepenuhnya...he...he..
"Sayang, aku lingkari ini karena ada hubungannya dengan masa depanku" Mayong mulai tak bisa menahan tawa melihat istrinya yang belum paham.
"Tulalit amat sih" Mayong menyentil kening sang istri sambil menyodorkan dasi untuk dipasangkan Maya.
"Masa depan di mana aku bisa menghentikan puasa panjangku" bisik Mayong menunduk mendekatkan mukanya ke Maya. Blussssss, merah pipi Maya. "Sudah pahamkan..ha....ha....????" Mayong sukses menggoda istrinya. "Siapkah nanti malam?" ujar Mayong mau berlalu. Tak ada jawaban Maya.
"Sayang, kamu belum jawab pertanyaanku" cegah Maya saat suaminya mau turun ke ruang makan.
"Iya, nanti aku bilang Doni" ujarnya berjalan menuruti tangga diikuti Maya.
Saat duduk di ruang makan, Maya menyampaikan maksudnya untuk mengadakan syukuran akikah atas kelahiran Raja. Mayong sedikit terlupa karena kesibukannya. "Baiklah akan kukosongkan Sabtu Minggu. Maafkan aku sayang". Semua sudah berkumpul di meja makan. "Jangan lupa kau kabari ayahmu May" Papa Suryo menimpali.
"Baik Pa, pasti ayah aku kabari" Maya mengambilkan menu sarapan untuk sang suami.
Sesuai janjinya Mayong membuat acara akikahan buat putra semata wayangnya, "Raja Maysa Suryolaksono". Mayong bahkan mengundang Pak Bowo dan bu Warsinah dan semua adik Maya, anak-anak panti. Bu Hartini dan suami sekalian. Acara berlangsung khidmat, karena Mayong juga mengundang seorang ustadz untuk memberikan tausiyah di acaranya itu. Bu Warsinah berkaca-kaca saat menggendong cucunya. "Ganteng sekali cucuku ini" gumam bu Warsinah. Sewaktu Maya melahirkan pak Bowo dan bu Warsinah belum sempat menengok, karena ada tiga orang adik Maya yang sakit dan musti rawat inap. "Makasih sayang, atas semua yang kau berikan hari ini" ucap Maya saat acara sudah selesai dan mansion kembali seperti keadaan semula. Mayong mengecup istrinya, "Kan aku pernah bilang kalau kamu dan Raja adalah hidupku saat ini dan nanti".
Tiga bulan sudah Maya menikmati masa cuti. Meski menjadi seorang istri CEO perusahaan besar tidak menyurutkan niat awalnya. Menjadi seorang dokter obgyn adalah impiannya. Menjadi seorang dokter yang bermartabat dan bermanfaat bagi banyak orang adalah tujuannya.
Raja menjadi sosok bayi yang sangat menggemaskan. Senyum imut selalu menghiasi wajah Raja. Siapapun yang berada di dekatnya, pasti gemas ingin menciumnya. Papa Mayong lah yang sangat posesif menjaga sang putra. Seperti saat itu, Bara yang barusan datang langsung mencium pipi keponakannya. Raja malah tertawa senang.
"He..he...cuci tangan dulu. Main cium-cium aja" larang Mayong menjauhkan Bara. "Yang dicium aja tidak komplain kok" Bara melanjutkan aksinya. Raja malah tertawa senang. "Tuh lihat, keponakanku aja senangnya bukan main lihat om yang ganteng ini" Bara berlalu mencuci tangan sesuai saran Mayong.
__ADS_1
Di ruang keluarga, Maya duduk bersama Mama Clara. "May, kapan mulai kerja?" ucap Mama Clara. "Dua hari lagi deh Ma, cepat juga ya tiga bulan berlalu" Maya ngobrol sambil pumping.
"Smoga aja Raja mau ya Ma dikasih ASI lewat botol. Sebenarnya sudah aku latih mulai seminggu yang lalu sih Ma, tapi karena sering ASI langsung kadang Raja masih menolak" tutur Maya.
"Semua perlu latihan May, smoga aja Raja tidak rewel kau tinggal" Mama Clara mengambil cemilan.
"May, gimana kalau besok kita jalan-jalan. Ajak sekalian Yasmin???" usul Mama Clara membuka toples camilan.
"Raja gimana Ma?" Maya masih belum tega meninggalkan putranya di rumah.
"Ajak aja. Sudah lama juga akan kamu nggak nggesek kartunya Mayong. Percuma dia kerja keras..ha...ha...." saran Mama Clara.
"Aku ijin kak Mayong dulu ya Ma" tukas Maya.
"Apaan ini, pake ijin-ijin segala" Mayong menggendong Raja, menyusul Bara di belakang Mayong.
"Sini Raja kecilku, Om gendong" Bara membuka kedua lengannya siap menggendong keponakannya.
Mayong melanjutkan pertanyaannya, "Tadi bahas ijin apaan? Ijin proyek atau apa?" Mayong masih penasaran. "Iya, proyek menghabiskan uangmu bersama-sama. Iya kan May?" goda Mama Clara sambil tertawa.
Mayong menoleh ke istrinya minta penjelasan. "Jangan takut May, uang suamimu itu nolnya tidak terhitung" sela Mama Clara.
"Sayang, besok aku jalan-jalan sama Mama dan Yasmin yah?" Maya menggenggam tangan suaminya.
"Nggak ah, ntar gimana dengan Raja" tolak Mayong.
"Ya diajak dong, di mall kan juga ada pojok laktasi. Jadi gampang kalau Raja haus. Boleh ya Yang???" rayu Maya.
"Aku ikut" keputusan Mayong.
__ADS_1
"Bentar....bentar....Yasmin ikut, aku juga ikut dong" Bara menyela obrolan.
"Yeiiii....kamu ngikut aja" cibir mama Clara.
"Pada mau ke mana, Opa kok nggak diajak serta" papa Suryo ikutan nimbrung.
"Kalau pada ikut semua, yang ada kita kayak rombongan sirkus dong" seloroh Mama Clara diikuti tawa Maya.
"Sekali-kali lah yang punya mall datang sekeluarga, bagus juga tuh" ujar papa Suryo.
"Nggak lucu ah" Mama Clara menolak usulan para bapak-bapak..he..he...
"Pilih nggak pergi atau mengajak kita kaum lelaki?" Mayong tetap dengan keputusannya.
"Itu sih namanya pemaksaan" tukas Maya. Mayong, Bara, papa Suryo tersenyum puas.
Benar adanya, sekeluarga itu jadi datang ke mall keesokan harinya. Semua karyawan heboh menyambut anggota keluarga Dirgantara. Mayong menggendong Raja dan menggandeng tangan istrinya posesif. "Papa idaman" batin orang-orang yang melihat Mayong saat itu.
"Kak Bara, Yasmin mana?" Maya menoleh ke Bara. Sampai sekarang Maya masih terbiasa manggil kakak ke Bara.
"Kan tinggal mampir aja ke butiknya, mana ikhlas Yasmin ninggalin butiknya" sarkas Bara.
"Makanya cepat halalin, biar Yasmin nggak kejar setoran sendiri" mak jleb ucapan Mayong. Bara menyalakan ponselnya menghubungi Yasmin sang pujaan hati..cieeee. Dan tak lama kemudian Yasmin sudah menghampiri rombongan keluarga itu. Setelah basa basi dan cipika cipiki, mereka semua berjalan ke resto yang ada di mall itu.
"Tumben sepi" celetuk Maya.
"Ulah suami kamu tuh, mana rela anaknya dilihat orang banyak" ayah Abraham yang baru gabung.
"Hah..." Maya menatap suaminya minta penjelasan.
__ADS_1
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
to be continued π