Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Bab 102


__ADS_3

Papa Suryo dan mama Clara serta ayah Abraham duduk semeja dengan pengantin baru itu. "Bar, habis ini kau tetap nginap di sini atau ke rumah mertuamu? Papa sama yang lain mau balik. Habis ini kita mau bersiap" jelas papa Suryo. "Aku masih nunggu kondisi Maya membaik dulu" sela Ayah Abraham. "Lagian Bara, ngapain nginap di hotel kalau masih belum bisa enak-enak. Ya nggak Pa?" seloroh mama Clara. Papa Suryo terkekeh mendengar ujaran istrinya. "Betul, kelihatannya Bara masih suka main sabun Mam" ejek papa Suryo. "Ejek terus..ayo bee katanya mau nengokin Maya" ajak Bara segera berdiri. "Kenapa kok manggil bee" ujar mama Clara. "Ya suka-suka aku dong. Yasmin istriku" sergah Bara. "Cie....cie...yang sudah punya istri, tapi belum bisa belah duren" papa Suryo tergelak diikuti ayah Abraham dan mama Clara. Bara hanya bisa mencebik, membenarkan ucapan ketiga orang tua yang duduk semeja dengannya.


Bara berjalan menggandeng mesra sang istri, "Bee abis keluarga ku balik, kita pulang aja ke rumah keluarga kamu ya?" pinta Bara menunggu persetujuan. "Beneran mau tinggal di rumahku yang kecil" ucap Yasmin memperjelas. "Beneran, keluarga kamu kan sekarang keluargaku juga. Keluarga yang ikhlas memberikan putrinya untuk kuajak menua bersama" ujar Bara sok puitis. "Wah, bisa ngegombal juga sekarang" hardik Yasmin tapi tetap menggandeng mesra suaminya.


Tibalah mereka di depan kamar Mayong dan Maya, kamar yang berada tepat di samping kamar presidential suite mereka. Bara mengetuk pintu. Mayong membuka pintu sambil menggendong Raja yang hanya terlilit handuk. "Haisss, pengantin baru ngapain pagi-pagi sudah sampai sini. Bukannya ngendon di kamar sana aja. Rugi aku nyuruh si Doni booking kamar sebelah buatmu?" hardik Mayong. "Mau tengokin istrimu, emang kenapa?" sarkas Bara masuk melewati Mayong. "Eh...eh...sapa juga yang nyuruh masuk" Mayong mencegah mereka masuk. "Jangan lupa, aku juga dokter loh. Jelas aja mau lihat dan visite kakak iparku" Bara tak mengindahkan ucapan Mayong. Dengan tetap menggandeng tangan istrinya, Bara duduk di sofa kamar itu. Maya berada di ruang sebelah. "Siapa sih yank? Pagi-pagi sudah berisik. Raja mana biar kupakaikan baju" teriak Maya. Mayong mengajak Raja mendekat ke Maya. "Habis ini sarapan di kamar aja ya, aku tadi udah pesan " ucap Mayong menyerahkan Raja ke dekat Maya. Meski tangan masih infusan, Maya masih sigap memakaikan baju putranya. "Yank, siapa? Kayaknya aku tadi dengar suara kaka Bara" lanjut Maya.

__ADS_1


Bara yang sedang dibicarakan pun muncul di antara Mayong dan Maya. "Memang aku yang datang kak Maya. Aku juga bersama istriku" jelas Bara sedikit bergurau. "Semenjak kapan memanggilku kak? Berasa tua aku. Panggil Maya aja kenapa?" tolak Maya. "Sejak hari ini" Bara terkekeh. Yasmin mendekat, "Gimana keadaanmu May, emang segitunya ya kalau lagi hamil??" Yasmin penasaran. "Loh, tanya pak dokter dong. Percuma punya suami dokter" celetuk Maya. "Suruh pak dokter itu untuk membuahi, biar tahu rasanya hamil cin" bisik Maya. Blussss wajah Yasmin. Bara melototi Maya. "Ngapain melotot ke istriku" bela Mayong. "Lagian pengantin baru, pagi-pagi sudah sampai sini? Bukannya malah enak di kamar aja?" ulas Mayong. "Bar, jangan-jangan kau belum bisa belah durenmu ya....ha...ha...." tawa Mayong pecah. "Kalau lihat mereka sudah disini, kayaknya kak Bara belum on track yank" Maya ikut menggoda pengantin baru itu. "Iya...iya...kalian benar. Aku memang belum bisa membelahnya. Kalah duluan sama tamu rutin bulanan yang tak kuundang" Bara mencebik. Raja tertawa melihat ekspresi om-nya. Maya semakin keras tawanya, "Tuh kak, Raja aja menertawakanmu". "Terus aja ledekin aku. Tadi para orang tua di bawah juga menghabisiku. Sekarang kalian juga" Bara tambah manyun mukanya.


Mayong menyerahkan sesuatu ke Bara setelah puas menertawakan sang adik. "Kado buatmu dan Yasmin dari keluarga M2R". "Apaan nih?" tanya Bara penasaran. "Jangan dibuka di sini, buka sana di kamarmu" suruh Mayong sambil mengibaskan tangan tanda menyuruh Bara keluar. Bara tambah cemberut mukanya setelah mendapat pengusiran dari Mayong, tuan besar Dirgantara Group sekarang. Bara keluar menggandeng tangan Yasmin, "May cepet sembuh ya" ujar Yasmin bersamaan Bara menutup pintu. "Cepat sembuh???? Aku kan nggak sakit..he..he...hanya emesis berlebihan" celetuk Maya. Maya yang memberikan sendiri obat anti muntah di infusnya, akhirnya bisa menikmati sarapan bersama Mayong. Mayong dengan telaten menyuapi Raja, yang makan dengan belepotan.


Sebagai seorang istri, Yasmin menyadari kewajiban-kewajibannya. Sedikit banyak Yasmin telah ditraining Maya. Yasmin mengangguk mendengar permintaan Bara. "Tapi apa nggak nanggung bee. Lagi deres-deresnya loh ini?" ucap Yasmin. "Nggak lah, aku hanya ingin mencoba sedikit aja" Bara tersenyum nakal. Bara mendekati Yasmin yang duduk di tepian tempat tidur. Mulai memagut benda kenyal merah jambu itu. Yasmin dan Bara masih terlihat kaku untuk saling memulai pagutan. Bara mulai aktif menyusuri leher jenjang di depannya. Sambil tangannya bergerak aktif mengelus punggung istrinya. Pengait di punggung tak lupa Bara buka, sambil terus menyusuri jenjang. Tak sampai membuka atasan sang istri. Tapi dengan nakalnya kepalanya masuk ke piyama sang istri. Setelah menemukan yang dia maksud, Bara sesap buah ceri itu. Yasmin sedikit menggeliat kegelian. Tapi rasanya sungguh tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Bara yang masih berada di sana, bergantian menyesap kanan kiri. Sambil tangannya meremas benda kenyal yang sekarang menegak sempurna di depan matanya.

__ADS_1


Bara menghentikan aksinya. Melihat wajah penuh damba istrinya, Bara tertawa. "Sampai di sini dulu. Tunggu tamumu pergi" ujar Bara. Yasmin memberengut. Apa ini yang dikatakan Maya, baru begini aja rasanya aku tidak bisa menjabarkan, batin Yasmin. "Ngapain senyum-senyum?" Bara yang melihat istrinya. "Ingat Maya" ucap Yasmin singkat. "Kok bisa?" seloroh Bara. "Iya, Maya pernah cerita tentang malam pertama. Sakit-sakit tapi nikmatnya tiada tara. Begitu bilangnya" jelas Yasmin. "Tapi yang ini tadi nanggung" Yasmin ngedumel. Bara tertawa menanggapi, "Tunggu tanggal mainnya".


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


bersambung n' happy reading

__ADS_1


__ADS_2