
Sementara itu di ruang recovery rumah sakit Suryo Husada, Yasmin barusan tersadar dari biusnya. Terasa tangan yang menggenggam erat tangannya saat dirinya mulai membuka mata. Nampak wajah kelelahan di muka Bara suaminya. Yasmin menangis tersedu sesaat setelah tersadar. Pelukan Bara saat ini sedikit mengurangi bebannya, "Bee, apa aku nggak layak untuk menjadi seorang ibu????" curhat Yasmin meski matanya masih terasa berat akibat pembiusan. Jari telunjuk Bara dia tempelkan di bibir Yasmin. "Nggak boleh bilang begitu, itu artinya kita menolak takdir bee. Mungkin belum saatnya kita diberi amanat seorang putra atau putri. Allah masih memberi kesempatan kita untuk pacaran berdua lebih lama" Bara mencoba menghibur istrinya. "Kenapa terjadi pada kita bee?" Yasmin bertanya lagi, saat ini Yasmin masih denial terhadap takdir yang menimpa dirinya dan suami. Bara terus menenangkan istrinya itu. Karena masih terus histeris dan belum bisa menerima keadaan, Bara memberikan suntikan penenang dengan dosis terendah kepada istrinya itu. Tak lama kemudian Yasmin tertidur lagi. "Maafkan aku istriku" ucap Bara.
Bara keluar dari ruang recovery saat Yasmin sudah tertidur. Bara hendak menghirup udara segar di luar ruangan. Papa Suryo dan mama Clara ternyata masih menunggunya di rumah sakit. "Pah, Mah kok belum pulang?" tanya Bara mendekat ke papa dan mamanya. Bara menaruh pantatnya di kursi tunggu samping mama Clara. Bara menghela nafas panjang. Mama Clara nampak mengelus pundak putra keduanya. Meski biasanya kalau di rumah selalu selengekan, saat ini Bara terlihat sedih. "Bara, sedih boleh. Tapi tugasmu sekarang adalah menguatkan istrimu yang sedang rapuh. Istrimu lebih membutuhkanmu saat ini. Jadi kuatlah demi Yasmin" papa Suryo menasehati. Tampak mata Bara sedikit memerah menahan air mata yang mau jatuh. "Pah, Mah doakan semoga Yasmin kuat menghadapi. Dan semoga tidak perlu tindakan seperti ini lagi. Cukup sekali istriku mengalaminya" ucap Bara bergetar. "Papa dan Mama akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua" lanjut papa Suryo. Bara yang mulai luruh air matanya, memeluk sang mama yang berada di sampingnya. Bara butuh sumber kekuatan kali ini.
Kesedihan Bara bukan hanya meratapi keguguran yang dialami istrinya, tapi Bara juga ketakutan akan prognosa yang telah disampaikan om Abraham sebelumnya. Prognosa kehamilan mola hidatidosa atau kehamilan anggur yang diderita istrinya. "Bara, aku tau kamu memikirkan apa yang disampaikan Abraham sebelumnya. Tapi alangkah baiknya kamu juga memasrahkan semuanya ke sang Khalik" papa Suryo menasehati lagi. "Pergilah ke masjid rumah sakit, biar Yasmin mama tungguin" suruh mama Clara.
__ADS_1
Bara menuruti ucapan mama nya. Dan langsung beranjak menuju masjid. Setelah mengambil wudhu dan menunaikan kewajibannya. Bara benar-benar memasrahkan semuanya ke hadapanNya. Di keluarga Suryo memang bukan keluarga agamis, tapi papa Suryo selalu menekankan kewajiban yang harus ditaati dalam agama yang dianut oleh mereka. Bara sedikit lega setelah berdoa di masjid rumah sakit tersebut.
Bara kembali ke ruangan di mana Yasmin berada. Saat di koridor, Bara ketemu dengan Alex. "Dokter Bara, aku ikut prihatin ya. Semoga setelah ini dokter Bara dan keluarga selalu dilimpahi kebahagiaan dan segera dapat gantinya" ucap Alex sambil menepuk pelan bahu Bara. Bara mengaminkan doa yang disampaikan dokter kandungan di depannya itu. "Sudah malam kok masih di rumah sakit Lex?" Bara memang selalu menyebut yuniornya itu hanya dengan namanya aja. "Biasa lah kak, jemput istri yang lagi operasi" jawab Alex yang sudah merubah panggilannya untuk Bara. "He..he...selamat menunggu" tandas Bara berlalu pergi. Sementara Alex melangkah ke ruangan bedah sentral di mana istrinya sedang melakukan operasi. Lama-lama aku juga merasakan seperti yang dialami tuan Mayong. Jadi miss parkiran, batin Alex saat ini.
Di ruang recovery, Yasmin nampak gelisah dalam tidurnya. Yasmin mengigau memanggil nama anak kecil. Mama Clara yang terkaget, berusaha membangunkan Yasmin. "Yasmin, nak...bangun nak" ujarnya menggoyang-goyangkan badan Yasmin. Yasmin terjingkat kaget dan segera membuka mata saat merasakan tubuhnya diguncangkan. "Mama, mama kok ada di sini?" tanya Yasmin setelah tersadar dan melihat mama nya ada di sampingnya. "Suamiku di mana Mah?" Yasmin celingukan menatap seisi ruangan. "Bara sedang di masjid nak, paling bentar lagi datang" seloroh mama Clara. "Mah, kalau aku ada salah maafin Yasmin ya" ucap Yasmin tiba-tiba. "Kamu nggak ada salah Yasmin, kenapa tiba-tiba ngomong begitu??" Mama Clara memeluk menantunya itu untuk menguatkan. "Nggak ada yang perlu dimaafin sayang, semua takdir yang menimpa kita itu semua atas kuasaNya. Jadi jangan sedih lagi ya. Ada suamimu, ada papa, ada mama. Bahkan tadi Maya juga menungguimu selama proses tindakan. Jangan merasa sendiri. Bagi bebanmu itu, jangan kau tanggung sendiri" Mama Clara menasehati. Yasmin semakin memeluk erat sang mama.
__ADS_1
Sepeninggal papa Suryo dan juga mama Clara, Bara mencoba menghibur Yasmin. "Bee, aku tadi barusan dari masjid. Tadi juga ada yang bisikin, kalau sekarang nggak jadi katanya besok-besok suruh coba lagi" gurau Bara lagi. "Itu namanya undian jackpot dong, gagal coba lagi" seloroh Yasmin. Yasmin mulai banyak bicara tidak seperti pasca tindakan tadi. "Bee, kamu nggak ngantuk apa? Ngomong terus dari tadi" tukas Yasmin. "We, jangan salah. Ya mesthi ngantuk lah. Tapi demi ratuku ini apapun aku lakukan untuk menghiburnya..he..he..." celoteh Bara. "Bee, aku ingin kau peluk" ujar Yasmin berikutnya. "Wah, ternyata ratuku dalam mode manja nih" Bara langsung memeluk Yasmin. Yasmin tertidur lagi saat dalam pelukan sang suami. Tak lupa Bara mencium kening istrinya yang mulai terlelap. Sesungging senyum nampak di bibir Yasmin.
Esok hari, Yasmin telah dipindah ke kamar perawatan VVIP di rumah sakit Suryo Husada. Maya bahkan telah datang sebelum Yasmin pindah ruangan. "Hei, mama nya R3G nggak repot apa?? Pagi-pagi sudah menyusulku ke sini?" serobot tanya Yasmin yang melihat Maya memasuki ruangannya. Maya hanya terkekeh mendengarnya. "Semua aman terkendali cin" jawab Maya. Bara dan Mayong masih ngobrol di ruangan sebelah. Ruangan yang disediakan tersendiri untuk tamu pasien VVIP. "May, boleh nanya nggak?" ujar Yasmin dan Maya pun mengangguk. "May, emang benar ya. Kalau nantinya butuh proses curet beberapa kali?" tanya Yasmin penasaran. "Kemarin aku sayup mendengar kalau om Abraham bilang begitu ke suamiku" lanjut Yasmin. Maya masih terdiam berusaha merangkai kata agar Yasmin tidak syok mendengar penjelasannya. Merangkai kata seperti author menulis part demi part ini agar mudah dipahami...he...he...
😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊
__ADS_1
to be continued