
"Sayang, tolong ambilin minum. Air putih aja" pinta Maya ke suami saat sudah berada di ruangan VVIP. "Emang boleh minum sekarang?" setau Mayong, pasca operaai boleh minum jika sudah ada perintah dokter.
"Nggak usah nunggu advis dokter..he..he..., aku juga dokter" senyum Maya tahu apa yang dipikirkan sang suami. Semua tergelak. Giliran Bara menggoda kakaknya, "Kak, selamat ya atas lahirnya keponakanku. Siap-siap aja kalah saing" Bara tertawa puas.
"Kok keponakanku didulukan? Harusnya selamat atas kelahiran putramu, gitu yang benar ucapannya" tolak Mayong.
"Terserah aku dong, yang ngasih selamat kan aku" lanjut Bara.
"May, enam jam boleh duduk. Dua belas jam latihan jalan ya!!!" Bara mengingatkan Maya.
"Siap Om dokter" timpal Maya.
Giliran Yasmin mendekat, memberi ucapan selamat ke sahabatnya. "Selamat ya May, doa terbaik aunty. Semoga menjadi putra kebanggaan orang tuanya. Aamiin" Yasmin mencium pipi kanan kiri Maya.
"Makasih cin, semoga kamu lekas menyusul ya" kerling Maya ke sahabatnya itu.
"Pa, Ma cepat restuin itu Bara sama Yasmin. Biar cepat kasih cucu juga" sela Mayong. Yasmin bersemu merah pipinya.
"Jangan asal gandeng anak orang, halalin dulu" sindir Mayong untuk adik satu-satunya.
"Tunggu tanggal mainnya" Bara tak mau kalah.
Yasmin sebenarnya sudah pernah dikenalkan langsung ke papa Suryo dan Mama Clara. Bara siap-siap saja untuk melamar. Tapi Yasmin minta waktu setahun untuk fokus ke butiknya dulu.
"Emang kamu nggak mau yang kayak gini cin?" bisiknya di telinga Yasmin.
"Tuh, Bara aja sudah kebelet lho cin" seru Maya. Ditanggapi dengan senyuman oleh Yasmin.
"Ngomong-ngomong mau diberi nama siapa cucuku?" sela Abraham. "Cucumu juga cucuku!!!" papa Suryo tak mau kalah. Mama Clara yang menggendong, "Ini mah cucuku, anteng banget sama Oma". Mama Clara menoel-noel pipi gemas. Dan meledaklah tangis sang bayi, membuat suasana bertambah heboh. "Kayaknya haus deh May" seru Mama Clara.
__ADS_1
"Ayo kalian keluar dulu!!!" suruh Mayong. "Nggak sopan, orang tua tuh" jawab Bara. "Biarin" sarkas Mayong. Mayong mana rela istrinya menyusui dilihat orang sekampung. Nggak sekampung sih yang benar, tapi sekeluarga he...he..... Akhirnya ayah Abraham dan yang lain pindah ke ruang di depan kamar yang disediakan khusus untuk menerima tamu pasien VVIP. Mayong menerima bayi yang diserahkan sama mama Clara sebelum keluar.
Maya memiringkan tubuh, karena belum diperbolehkan duduk. Maya membuka baju atasannya. Mayong menempatkan putranya di sisi Maya. Maya memposisikan buah cerinya tepat di mulut sang putra. "Hisapannya kuat sekali sayang" Maya sampai meringis merasakan.
"Sama dong kayak aku" sindir Mayong. Benar apa kata Bara, batin Mayong.
"Dasar mesum" ujar Maya.
"Tapi kamu suka kan? Apalagi kalau lihat wajahmu yang merah padam, aku tambah semangat sayang" goda Mayong. Blusssss, nampak wajah Maya memerah kayak tomat.
"Tapi habis ini kamu puasa sayang, enam minggu" ejek Maya. Mayong melongo, enam minggu????.
"Ada juga yang sampai dua bulan lho, nifas baru selesai" Mayong menepuk jidatnya, syok mendengar ucapan sang istri. Maya merasa puas bisa menggoda suaminya.
"Tapi ngomong-ngomong ini bertambah berapa ukurannya, makin berisi?" Mayong menyentuh bukit sebelah yang tidak diisap putranya.
"He..he...sayang sudah tau sendiri kan" jawab Maya.
"Halo Raja, selamat datang di keluarga Suryolaksono dan Bimantara. Kamu akan menjadi raja yang sebenarnya di keluarga ini" seru Bara. Bara sudah membayangkan kedua opa dan oma yang saling berebut cucunya.
"Om sama aunty pamit dulu ya. Love you Raja" Bara mencium gemas pipi keponakannya.
"Jangan lama-lama menciumnya" cegah Mayong.
"Raja keponakanku lho" Bara masih menciumi Raja.
"Raja anakku" Mayong tak terima.
"Jangan berebut. Raja, cucu oma yang ganteng. Ikut Oma aja ya" Mama Clara tak mau kalah. Mayong dan Bara saling menatap jengah. Kalah lagi dengan sang permaisuri papa Suryo. Semua di ruangan itu tertawa. Sungguh kehadiran Raja menambah kehangatan keluarga Suryolaksono dan Bimantara.
__ADS_1
Dokter Anita visite saat Maya mulai latihan jalan. "Pagi Kak, wah salut nih buat kakak. Sudah jalan aja ternyata" puji Anita.
"Banyak baring, punggung terasa panas Nit" Maya jalan masih berpegangan tepi tempat tidur.
"Dokcan sudah siap operasi lagi nih kayaknya?" Gurau Nina di belakang dokter Anita. "Ha..ha...ayok aja" tawa Maya dan diakhiri pelototan sang suami.
"Pissss sayang...gurau aja" Maya yang melihat suaminya mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya. "ASInya lancar kan kak, keadaan luķa dan perdarahan bawah?" lanjut Anita.
"Semua aman. Siang ini aku balik ya??" Maya menunggu persetujuan Anita. Bagaimanapun Anita sekarang dokter penanggung jawabnya.
"Siap kakak senior. Siang ini aku ijinkan pulang" Anita dan Maya pun tertawa. Anita dibantu Nina mengganti perban luka operasi sebelum Maya pulang. "Makasih ya Nit, untuk bantuannya. Semoga Allah membalas budi baikmu" terang Maya. "Sama-sama Kak, malah aku bangga menjadi saksi pertama atas kelahiran putra kakak seniorku dan juga cucu prof. Abraham" tutur Anita. Dokter Anita dan juga Nina undur diri setelah menyelesaikan semuanya.
Siang itu Doni datang ke rumah sakit untuk menjemput tuannya dan istri. "Selamat tuan, atas kelahiran putra pertamanya, semoga menjadi anak soleh dan juga ganteng seperti asisten papanya" ucap Doni sesaat setelah tiba di ruangan VVIP itu. Alhasil timpukan sebuah bantal mendarat indah di kepalanya.
"Apa salahku tuan, aku kan memang ganteng???" lanjut Doni tanpa rasa bersalah.
"Ayo cepet beresin, mau kupotong bonusmu??" ancam Mayong.
"Endingnya pasti tidak indah buatku" gumam Doni pelan.
"Apa kau bilang?" Mayong minta penjelasan meski mendengar gumaman Doni.
"Baik tuan besar, akan kuberesi. Setelah ini barang-barang bersiap pindah sendiri ke mobil" seru Doni. Maya hanya tertawa menyaksikan ulah keduanya sambil menggendong Raja.
Mereka berempat sudah berada di mobil menuju mansion. Tak lupa sebelumnya Mayong mengucapkan terima kasih kepada Pak Bambang dan jajaran atas segala bantuan yang diberikan kepada keluarga kecilnya. Mayong memutuskan pulang ke mansion. Di sana Maya tidak akan kesepian saat ditinggal kerja olehnya. Dan yang pasti mama Clara siap membantu merawat cucu yang ditunggunya.
Sesampai di mansion, kedatangan Raja disambut antusias oleh Oma dan Opa-opanya. Sebuah pesta kejutan kecil diadakan untuk menyambut kedatangan sang cucu. Kamar untuk Raja bahkan di desain khas untuk anak laki-laki. "Kejutan" ujar Mayong saat membuka pintu kamar bayi.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
__ADS_1
happy reading 🤗 jangan lupa jejaknya ☕💝