Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 77


__ADS_3

Sudah tiga hari Mayong berada di ruang ICU. Maya masih setia menungguinya. "Sayang, cepatlah sadar. Raja menunggumu. Apa kau nggak kangen sama kita?" Maya memegang erat telapak tangan suaminya yang masih terkulai.


Bara memasuki ICU, "May makan dulu gih. Sudah tak bawain tuh, untuk kamu sarapan. Kakak biar bersamaku dulu" ujar Bara. Maya mengangguk dan segera keluar dari ruangan itu.


"Kak, jangan lama-lama tidurnya. Sudah tiga hari lho kakak nyenyak di sini. Kerasan banget" meski belum ada respon, Bara tetap mengajak bicara Mayong.


"Kamu nggak kasihan apa dengan Maya. Matanya sudah seperti mata panda, sembab sekali tuh mata istrimu" lanjut Bara.


"Dengar-dengar kalian mau liburan dan mau ndampingi Maya ikut kongresnya, sekarang ngapain kakak di sini?? Ayolah Kak" Bara mengomeli Mayong.


"Operasimu berjalan lancar, kehilangan darahmu juga sudah digantikan. Jantungmu juga aman. Tuh lihat, layar monitormu juga sudah menunjukkan hal normal. Ayo lekas bangun" Bara tetap mengoceh.


Maya masuk ruang ICU dengan wajah lebih segar. "Sabarlah May, tunggu sampai hari ini. Kalau kakak belum sadar juga, kita tinggal aja liburan. Kamu siap-siap" Bara sengaja sedikit mengeraskan suaranya. Maya mengernyitkan alisnya, memandang aneh Bara.


"May, kamu dokter kan? Mestinya tau arti angka-angka di monitor itu. Bisa mbedakan orang yang lagi tidur sama koma kan?" jelas Bara. Maya masih belum mengerti. Bara menjitak kening Maya. "Nggak mungkin lah kak, lagian kusentuh aja juga belum respon" Maya menyangkal.


"Belum respon apaan? Coba aja kelitikin suamimu itu, pasti ada respon" ejek Bara. Kalau dalam hal ini, Bara yang spesialis anesthesi lebih paham keadaan umum pasien yang berada di ICU. Karena memang ranahnya anesthesi.


Maya mencoba mendekati sang suami, dan menoel-noel pipi suaminya. "Kak, kok belum respon?" Maya dengan wajah herannya. Memang sih, kalau melihat tanda vital di monitor itu semuanya sudah baik dan dalam batas normal. Tapi kenapa suaminya masih belum sadar juga, batin Maya.


"Walah, dokter obgyn mau aja dikerjain suami..ha...ha....Harusnya dia tuh sudah pindah ruang rawat biasa, ICU banyak yang ngantri tuh. Tapi khusus kak Mayong, dia mah bebas mau tidur di kamar mana saja" Bara terbahak.


Sedikit senyuman tersungging di bibir Mayong, masih dengan mata terpejam. Hal itu tak luput dari pandangan Maya yang tak lepas mengamati sang suami. Maya mendekat dan mencubit lengan Mayong sedikit keras. "Aaawwwhhhh....sakit sayang" teriak Mayong akhirnya terdengar. Maya malah menangis terharu.

__ADS_1


"Eh...eh....kok malah menangis. Harusnya bahagia dong, aku sudah baikan" ucap Mayong sambil meringis menahan nyeri di luka operasinya.


"Kamu jahat, keadaan begini masih berniat ngerjain aku. Aku khawatir tau" Maya semakin tergugu dan menghambur ke pelukan suaminya. Mayong memeluk sang istri, "Maafkan aku" bisik Mayong. "Pelukannya bisa sedikit dilonggarkan? Luka ku kau tindih sayang" lanjut Mayong.


Maya mengurai pelukannya, malu. Karena terlalu bahagia, reflek dia memeluk sang suami.


"Sudah belum acara pelukannya? Yang di sini anggap aja nyamuk kali" ledek Bara. "May, habis ini pindah aja pasien ini ke rawat inap. Keadaannya nggak perlu ICU lagi. Bikin rugi rumah sakit aja" lanjut Bara.


"Benar Kak, nanti biar pindah sendiri. Lagian sudah bikin rugi rumah sakit, tega-teganya dia ngerjain istrinya" Maya ikutan Bara.


"Tega sekali kalian kepada orang tak berdaya ini" Mayong melihatkan wajah sendunya. "Sayang, kau ini sebenarnya tim ku atau timnya Bara sih??" lanjut Mayong.


"Aku ikut tim yang menguntungkan saja" Maya terkekeh gemas dengan sang suami.


"Apaan?" Maya menatap suamin serius.


"Tuh sudah ada Raja" Mayong terkekeh. "Apaan sih" Maya ikut malu dengan ucapan Mayong. Di situ Bara hanya menjadi saksi keabsurdan pasangan itu.


"La...la...la....mending keluar aja ah. Bener jadi nyamuk aku di sini" Bara hendak melangkah keluar ruangan. "Hei, mau kemana kau? Bantuin pindah kamar, atau bulan ini gajimu nggak keluar" ancam Mayong. Bara menggerutu, "kebiasaan, sukanya main ancam-ancam saja".


Bara memanggil perawat untuk membantu pindah ruangan. Oleh pak Bambang sang direktur, ruangan VVIP sudah disiapkan untuk tuan besarnya itu. Direksi juga sudah menyambut Mayong depan ruang VVIP. "Pak Bambang, biasa saja. Aku juga pasien di sini. Tidak usah menganggap berlebihan keberadaanku" bisik Mayong ke direkturnya. Pak Bambang mengangguk hormat dan pamit undur diri.


Tinggal lah Mayong dan Maya di ruang VVIP itu. Mayong meminta tolong Maya untuk menata bednya dengan posisi setengah duduk. "Sudah nyaman belum?" Maya mendongak ke arah Mayong. "Makasih sayangku" ucap Mayong. Maya tersenyum. Terdengar ketukan dari arah pintu, yang ternyata para Opa dan Oma Raja yang datang. Bahkan Raja diajaknya serta. Raja yang terlihat riang, membuat suasana ruang VVIP itu meriah. Maya yang beberapa hari semenjak kejadian itu belum ketemu putranya, saat ini melampiaskan kerinduan terhadap sang putra.

__ADS_1


Bara menyusul mereka, "Kak, kayaknya besok sudah bisa pulang. Tapi nunggu dokter Bagus visit aja, sebagai dokter penanggung jawab kakak sekarang" jelas Bara. Kebetulan dokter Bagus datang visite saat Bara masih ada di ruangan Mayong.


"Selamat siang tuan, bagaimana keadaannya?" suara dokter Bagus ramah. "Sudah baikan dok, lagian tuan ini juga sudah sukses ngerjain istrinya" sindir Maya. Semua yang di ruangan itu tertawa termasuk Mayong. "Aawwwhhh...." Mayong mengaduh menahan nyeri di dadanya, karena terlalu keras tertawa. Maya mendekat dengan cemas, "Mana yang sakit sayang???".


"Ya jelas luka operasinya to Maya...Maya..... Kakak kesakitan itu, karena terlalu keras menertawakanmu" Bara mencoba menghasut Maya. Maya menepuk keras bahu Mayong, sedikit jengkel. "Aaawwwwwhhh..." teriak Mayong lagi. "Sudah sakit malah kau tepuk lagi" Mayong benar-benar menahan sakitnya. Maya cemberut.


"Baiklah, hari ini kuganti perbannya ya tuan. Kalau sudah baikan besok rencana KRS" sela dokter Bagus.


"KRS???? Apaan?" tanya Mayong tak paham dengan bahasa rumah sakit.


"Keluar rumah sakit artinya boleh pulang" jelas Bara. Dokter Bagus mengganti perban luka operasi dengan cekatan. Luka sepanjang tujuh centimeter itu mulai mengering. Luka ditutup kembali dengan perban anti air.


"Baik tuan Mayong, karena sudah kuganti perbannya. Saya undur diri dulu" dokter Bagus bergegas keluar dari ruang VVIP itu.


"Makasih dokter" ucap Mayong.


Mayong memanggil Maya yang masih menggendong Raja, "Sini sayang, aku juga kangen sama Raja". "Jangan nggendong Raja dulu, biat sama aku saja" larang Maya. "Ayolah, aku cuma ingin nyium Mayong yunior ini" ciuman Mayong sudah mendarat ke pipi Raja. Raja tertawa lepas, mungkin merasa kegelian karena cambang Mayong yang sedikit tumbuh.


Opa dan Oma Raja masuk, "Ayo Raja kita pulang dulu, besok papa nyusul pulang ya" ajak mereka dan mengambil alih menggendong Raja. Terdengar tangisan Raja, yang belum mau berpisah dengan mamanya. Mama Clara memberi mainan kesukaannya, maka diamlah Raja.


Tiga puluh menit kemudian, Doni sang asisten datang.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


to be continued, happy readingπŸ‘ŒπŸ€—


__ADS_2