Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 72


__ADS_3

Doni yang melihat tuannya duduk dengan kecemasan cuma bisa terdiam di belakang kemudi. Doni semakin menambah kecepatannya. Dia mengambil jalan-jalan pintas yang bisa dilalui. Segenap pasukannya sudah terpusat di belakang mobil yang dikemudikan Doni.


Ketemulah mobil yang dikemudikan Bara. Mereka mengikutinya.


Mobil yang membawa Maya kelihatan mulai tersadar kalau ada yang mengikuti. Mobil mereka menambah kecepatannya. Anggota Doni berusaha menambah kecepatan. Dan mencoba menembakkan sesuatu ke bagian belakang mobil yang membawa Maya.


"Apa yang dilakukan mereka Don, jangan sampai membahayakan istriku???" ujar Mayong cemas saat melihat anggotanya melakukan sesuatu "Tidak akan tuan, bahkan itu akan sangat membantu kita melakukan penyelamatan nyonya Maya. Hampir setengah jam mereka terlibat kejar-kejaran. Mobil yang membawa Maya, membelok mendadak ke arah yang tak disangka-sangka saat mobil Bara mencoba mendahului. Mayong dan anggotanya bahkan kehilangan jejak.


"Doni......apa yang harus kita lakukan?" teriak Mayong bahkan sampai mengeluarkan air mata. "Maya, kamu dimana?" ratap Mayong. Doni yang mendengarnya ikut merasa pilu. Tuannya benar-benar merasa sedih kehilangan sang nyonya. Ponsel Doni berbunyi dan langsung diangkat olehnya "Kita mendapatkan sinyal yang berhenti di suatu tempat dari alat yang kita tembakkan di mobil penculik tadiTuan" suara anggota Doni.


"Oke, kita harus atur strategi. Kita gerebek tempat itu bersama-sama. Tapi jangan sampai ketahuan oleh kelompok mereka. Hati-hati ada nyonya Maya di tangan mereka" perintah Doni.


Doni mencoba mengecek ponselnya lagi, sudah ada pesan masuk yang berisi share lok. Mobil pun berjalan menuju lokasi itu. Mayong yang duduk di belakang mencoba menenangkan diri. Ponselnya berbunyi, "Kak, yang tenang. Aku di bekakangmu. Semoga Maya tidak kenapa-napa" suara Bara mencoba menenangkan sang kakak. Mayong hanya terdiam tanpa menjawab perkataan Bara.


Mobil-mobil terparkir agak berjauhan dari titik lokasi. Anggota Doni menemukan terlebih dahulu titik lokasi itu. Ternyata Maya dibawa ke sebuah vila yang lumayan mewah. Vila siapa ini, kenapa Maya dibawa ke sebuah Vila?" batin Mayong. Mayong mencoba datang dengan cara baik-baik lewat penjaga. "Pak, saya ada perlu dengan seseorang yang ada di vila ini" Mayong bertanya dengan setenang mungkin.


"Siapa anda?" penjaga itu dengan mode siaga.


"Tidak perlu tau siapa saya, tapi saya tau ada seseorang yang membawa istri saya ke sini" tandas Mayong. Penjaga itu menyerang Mayong dibantu oleh seorang temannya. Dengan sekali gerak, penjaga-penjaga itu terpental. Sementara anggota-anggota Doni menyusup untuk melumpuhkan anggota musuh yang berjumlah lumayan banyak.

__ADS_1


Mayong masuk saat terdengar suara seseorang dari dalam kamar. Mayong mencoba mendekatinya. Mayong mendengar suara Maya yang mengeluh kepanasan dan kelihatan menahan sesuatu. "Tolong, badanku panas. Aku ingin berendam" pinta Maya ke orang itu. Sementara Mayong mendengar dari balik pintu.


"Ha.....ha.....rupanya obat perangsang yang kau minum mulai beraksi?" gelegar suara orang itu sampai menggema ke seluruh vila.


Rahang Mayong mengeras mendengar suara orang di dalam. Amarah mulai menyelimuti dirinya, tapi Mayong masih terdiam di tempat. Menunggu apa yang akan dilakukan oleh orang itu.


"Apa kau tau apa yang dilakukan suamimu terhadapku?" suaranya kembali terdengar. Ternyata dia lawan bisnisku, batin Mayong. Mayong berusaha tenang di tempat. Dia ingin mendengar kelanjutan yang akan dikatakan orang yang menyiksa hasrat istrinya itu.


"Suamiku orang baik Tuan, tidak mungkin menjatuhkan seseorang tanpa alasan" bela Maya yang mulai kegerahan.


"Mau kubantu kamu melepas bajumu, kamu kepanasan bukan?" suara orang itu. "Tidak akan kubiarkan kau menyentuhku tuan" tepis Maya kuat. Orang itu terdengar mulai marah. "Kamu dengan suamimu sama saja, hanya membuatku muak. Bahkan suamimu telah menyabotase pengiriman senjata-senjataku. Kamu bahkan membuatku tambah muak. Akan kupuaskan kamu. Bukankah kamu sekarang berusaha menahan hasratmu...ha....ha....."


Ternyata kau lah orangnya. Akan kuhabisi kau saat ini. Mayong menendang pintu kamar itu. Pintu terbuka, dia melihat sang istri yang mulai menggeliat kepanasan.


"Ha....ha....umpan yang kulempar ternyata kena juga" David tertawa keras. David mendekati Maya dan mendekatkan selongsong senjata ke kening Maya. "Hei, apa yang kau lakukan?" suara Mayong berusaha setenang mungkin.


"Apa yang kulakukan? Aku akan membuat kau kehilangan istrimu" ancam David.


"Kau berani menghancurkan usahaku Mayong maka aku akan membalasnya dengan membunuh istrimu" teriak David.

__ADS_1


"Apa yang kulakukan setimpal dengan apa yang kau lakukan padaku David. Berapa kali kau mencoba menyabotase diriku? Bahkan dengan liciknya kau mengirim seorang Jelita ke perusahaanku akhir-akhir ini" sergah Mayong.


"Aku tidak pernah menyuruh Jelita datang ke perusahaanmu. Bahkan aku pun pernah dikhianatinya. Semua usahaku bahkan sempat hancur juga karenanya" terang David.


"Hei, Mayong saat ini kamu tidak berada di posisi menawar. Kalau ingin istrimu selamat, kau harus turuti apa perintahku" ancam David lagi semakin mendekatkan pucuk senjatanya ke kening Maya. Mayong mencoba mengulur waktu, menunggu bantuan datang. "Apa yang harus kulakukan?" seru Mayong.


"Berikan aku suntikan dana satu triliun untuk Samudera, maka istrimu selamat" ujar David. Bara meloncat tanpa menimbulkan suara lewat jendela yang sedikit terbuka. Posisi jendela yang berada di belakang David, sedikit menguntungkan Bara. Bara mendekat dan mendekat ke arah David. Tepat saat David akan bergerak, Bara menyuntikkan sesuatu di badan David. Tersungkurlah David dan hilang kesadaran.


"Makasih Bara" ucap Mayong.


"Cepat pergilah Kak. Hanya kau yang bisa menolong istrimu saat ini" Mayong menoleh ke Maya yang sudah mengeluarkan banyak keringat dan terlihat gelisah. Mayong segera menggendong istrinya dan pergi dari tempat itu. Semua menjadi urusan Doni sekarang. David dan para anggotanya.


Mayong membelokkan mobilnya ke sebuah hotel terdekat dari vila. Kebetulan Mayong mendapat hotel bintang 5. Mayong menggandeng lengan Maya menuju reseosionis. "Cepatlah, aku ingin chek in" seru Mayong tak sabar karena merasa kasihan dengan sang istri. Tatapan curiga dari sang resepsionis.


"Mba, dia istriku" Mayong menunjukkan identitasnya sendiri dan juga mengambil identitas Maya dari tasnya. Resepsionis melihat sekilas. "Baik Tuan, yang kosong hanya presidential suite" ujar resepsionis itu yang mambuat Mayong semakin tak sabar. "Apa mau ku booking semua kamar hotel ini" teriak Mayong. Manajer datang tergopoh-gopoh karena mengenal Mayong. "Mba cepat sediakan kamar untuk tuan Mayong, tidak usah banyak bertanya" perintah sang manajer.


Mayong dan Maya berada di kamar presudential suite. Sesampai kamar Maya segera melepas bajunya dengan wajah kemerahan. Maya segera menyergap Mayong dengan ciuman-ciuman yang bahkan sedikit brutal. Mayong membawa Maya ke kamar mandi, dan mendudukkan di bath up. "Maafkan aku sayang, dinginkan dulu badanmu" ucap Mayong. Tapi sebaliknya Maya semakin memuncak hasratnya. Dia tarik suaminya masuk ke bath up. Dia serang Mayong dengan membabi buta"


Suara indah Mayong pun terdengar.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


to be continued, happy reading 😊


__ADS_2