
Di lobi IGD, brankar dilarikan langsung ke ruang bedah central yang posisi ruangannya berada di belakang IGD. Dengan sigap mereka memindahkan ke meja operasi. Darah yang diminta Bara pun bersiap di proses oleh bank darah di rumah sakitnya.
Bara tetap mendampingi mama Clara di meja operasi. Bara tidak memasukkan obat anesthesi karena mama Clara sudah berada dalam kondisi syok. Ketika darah datang, Bara langsung memasang darah itu dan mengguyurnya. "Dokter Bagus cepat buka lah" teriak Bara mencoba tenang, melihat keadaan mama nya yang memutih bagai kapas. "Mah, ayolah. Semua nya menunggumu" bisik Bara di telinga mama Clara. Bara melirik layar monitor yang terpasang. Denyut nadi mama nya sangat jauh di atas normal. Itu merupakan reaksi tubuh untuk memompa jantung lebih cepat karena syok akibat perdarahan yang terjadi. Saturasi oksigen juga masih berkisar di angka delapan puluh delapan. Tapi sejauh ini keadaan sudah lebih baik daripada sebelumnya.
Saat dokter Bagus membuka bebat yang dipasang oleh Bara, nampak darah mengucur di perut mama Clara. Dokter Bagus segera mengeksplorasi sumber-sumber perdarahan dan mencoba secepat mungkin menghentikan. Dokter Bagus spesialis bedah, menghentikan perdarahan dengan memasang klem-klem terlebih dulu sebelum menjahitnya. "Hampir saja kena aorta abdominalis dokter Bara" celetuk dokter Bagus. "Tolong cari peluru yang bersarang dokter" ucap Bara. Dokter Bagus konsentrasi ke lapangan operasi. Sementara Bara meremas kantong darah ke empat yang masuk ke tubuh mama nya.
Jalannya operasi terasa lambat bagi Bara. "Gimana dokter? Sudah ketemu? Sumber perdarahan?" tanya Bara was-was. Dokter Bagus mengambil peluru yang ternyata menembus usus halus mama Clara dengan pinset. Selanjutnya dokter Bagus melakukan penjahitan di beberapa sumber perdarahan karena tertembus oleh peluru tadi. Keadaan mama Clara mulai membaik, saat perdarahan berhasil dihentikan. Bara menarik nafas panjang. Pikirannya yang kalut mulai tenang.
Sementara di depan ruang bedah sentral, Mayong dan juga papa Suryo hilir mudik bergantian. Tidak ada suara sedikitpun di antara mereka berdua. Masing-masing dengan pikirannya sendiri-sendiri. Mereka sangat cemas dengan keadaan istri dan mama nya. Sudah tiga jam lebih, Bara tidak memberi kabar. Tiba-tiba ponsel Mayong berdering. Panggilan dari Bara adiknya, "Kak, alhamdulillah keadaan mama sudah stabil, bentar lagi mama pindah ICU" ucap Bara memberi kabar. Mayong pun menghela nafas panjang penuh kelegaaan.
__ADS_1
Saat papa Suryo menatap tajam ke arahnya, "Mama sudah stabil Pah" ujar Mayong. Tampak airmata menetes di pelupuk laki-laki tegar itu. Mayong dan papa Suryo saling berpelukan, terharu. Wanita yang sangat dicintai oleh mereka bertiga, akhirnya selamat. Mama Clara dipindahkan ke ICU sesuai perintah dokter Bara. Bahkan Bara juga ikut mendorong brankar dengan masih memakai atribut kebesarannya. Meski wajahnya masih pias, setidaknya kondisinya lebih baik daripada saat datang tadi.
"Pah, papa di sini aja dulu nungguin mama. Kak pulanglah, Maya dan juga anak-anak menunggumu. Aku titip Yasmin, dia kutinggalkan di mansionmu tadi. Aku mau menemui dokter Bagus, untuk membicarakan perawatan Mama" ucap Bara. Mayong mengiyakan saja apa yang dikatakan Bara. Bara pun kembali ke kamar operasi, di mana dokter Bagus masih melengkapi berkas-berkas nyonya Clara.
Dokter Bara duduk di dekat dokter Bagus, "Dok, untuk perawatan selanjutnya?" tanya dokter Bara begitu menaruh pantatnya di sofa ruangan dokter itu. "Kalau dari bedah sih, tinggal perawatan luka pasca tindakan saja dokter. Ini nyonya Clara aku berikan antibiotik dosis tinggi, karena mempertimbangkan kondisi lukanya tadi. Juga aku tambahkan pereda nyeri. Untuk lain-lain terapi aku ngikut dokter Bara saja" jelasnya. Bara pun mengangguk. Kondisi pasca perdarahan, pasca transfusi yang banyak tentu saja akan menimbulkan efek yang tidak ringan bagi orang yang seusia mama nya. Batin Bara. "Baiklah dokter Bagus, terima kasih sekali atas bantuaanya. Maaf merepotkan" tukas Bara. "Sama-sama dokter, aku ikut senang ikut ambil bagian di operasi ini" sahut dokter Bagus.
Kembali ke ICU, Bara kaget melihat kondisi mamanya yang menggigil dengan mata masih terkatup. Papa Suryo nampak kebingungan melihat keadaan istrinya. "Bar, kenapa mama mu?" tanyanya cemas. Bara dengan cekatan memeriksa mama Clara. "Kayaknya efek pemberian transfusi yang terlalu cepat tadi" jelas Bara. Bara berlalu untuk mengambil obat untuk menurunkan demam mama nya.
Sementara di mansion Mayong, kedatangan Mayong dan Doni yang sedikit lusuh membuat Maya bisa menarik nafas lega. Maya menghambur ke pelukan suaminya dengan tetesan air mata mengalir di pipinya. "Eh, kenapa malah menangis. Suamimu ini nggak papa lho sayang" Mayong membalas pelukan istrinya. Maya tidak menjawab tapi malah mempererat pelukannya. Mayong sangat memahami bagaimana istrinya itu sangat mencemaskannya. Sudah beberapa kali Maya mengalami hal-hal seperti ini. Ayah Abraham yang sedang bersama Raja ikut menepuk bahu Mayong dari belakang.
__ADS_1
"Semoga setelah ini ada pelangi setelah hujan badai" ucap Ayah Abraham.
"Boleh suamimu ini membersihkan badan, bau lho yank ini" ujar Mayong sambil membau badannya sendiri. "Biarin" seru Maya. Mayong pun tertawa. "Eh, Yasmin tadi Bara berpesan. Untuk sementara dia menunggui mama bersama papa. Untuk sementara kamu disuruh di sini dulu" urai Mayong. Yasmin mengangguk, "Ini tadi juga barusan nelpon kasih kabar kok Kak" Yasmin menjawab.
Mayong pun meninggalkan ruang tengah untuk membersihkan diri. Diikuti oleh istrinya. Doni dipesan oleh Mayong untuk tinggal sementara di paviliun samping mansion. Maya menyiapkan baju ganti untuk suaminya yang sedang berendam. Saat keluar kamar mandi pun, Maya masih terduduk di sofa kamar menunggu suaminya selesai. "Kok masih disini? Anak-anak nggak rewel?" tanya Mayong dan dijawab gelengan istrinya. "Alhamdulillah, pak Amin bereaksi cepat yank saat kejadian tadi. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa di mansion. Cuma mendengarmu disandera oleh tuan James dan Tuan Akio lah yang membuatku cemas. Bisa-bisanya tuan Akio mengkhianatimu" urai Maya. "Itulah manusia Yank kalau belum merasa cukup" sahut Mayong sambil mengenakan baju di depan istrinya. "Yank, mau menggodaku???" celetuk Maya. "Kalau kamu tergoda, ayo..." Mayong tertawa menimpali.
Sementara di penjara sementara lapas, tuan James nampak tergugu karena menyesali perbuatannya yang telah menembak adik kandungnya. "Maafkan aku Clara. Aku tidak sengaja" sesalnya. Tuan Akio yang berada satu sel dengan tuan James hanya mengamati saja.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
__ADS_1
to be continued