Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 113


__ADS_3

"Don, lekaslah. Langsung Suryo Husada!!!!" perintah Mayong. Doni hanya bisa menelan ludah dan menjalankan mobil mewah itu sesuai perintah tuannya. Sementara mobil papa Suryo mengiringi laju mobil Doni. Ayah Abraham yang duduk di samping Doni menoleh ke belakang dan menanyakan sesuatu ke Maya "Nak, tambah pusing nggak? Ada keluhan lain?" Mayong semakin tak mengerti dengan alur pertanyaan ayah Abraham. "Hanya sedikit pusing kok Yah, juga agak mual tapi masih bisa kutahan" ulas Maya. Maya sedang bernegosiasi dengan dirinya sendiri. Benarkah dia mengalami keracunan kehamilan, batinnya. "Don, alihkan jalurmu ke rumah sakit universitas" perintah ayah Abraham tiba-tiba. Ayah Abraham menatap menantunya meminta persetujuan. Sementara Maya tiduran di pangkuan Mayong.


"Mayong, istrimu ini mengalami keracunan kehamilan" Ayah Abraham mulai berbicara serius. Mayong mengangkat sebelah alisnya, "Maksudnya??"


"Dengarkan ayah dulu. Mungkin sekarang kondisi istrimu sedang tidak baik-baik saja. Makanya aku minta langsung dialihkan ke rumah sakit universitas saja. Bukannya aku tak percaya dengan kemampuan rumah sakit Suryo Husada. Tapi kalau di rumah sakit universitas, akan banyak ahli-ahli yang akan mendampingi" ayah Abraham memberi penjelasan. "Ada apa dengan istriku" kejar Mayong bertanya.


"Istrimu mengalami keracunan kehamilan kalau istilah medis namanya pre eclampsia, tekanan darah mulai naik. Protein urine positif juga. Kaki Maya tak perhatikan juga sedikit bengkak. Sekarang bertambah ada keluhan pusing dan mual. Meski masih prematur, ketiga calon cucuku harus segera dilahirkan Mayong" imbuh ayah Abraham. "Seberapa bahaya yah?" Mayong mulai cemas. "Karena penyebab keracunan istrimu adalah kehamilannya, maka bayi harus segera dilahirkan agar tidak memperparah keadaan Maya" Ayah Abraham melanjutkan. "Bayinya??" Mayong harus berpikir tenang, karena tidak hanya nyawa istrinya tapi juga ketiga bayinya.

__ADS_1


Sesampai di IGD rumah sakit universitas, kedatangan prof. Abraham sudah disambut oleh staf berpengalaman kasus maternal. Karena dalam perjalanan tadi ayah Abraham sudah menelpon stafnya, dan menceritakan kasus yang dialami putrinya. "Prof, ijin. Dokter Maya langsung kita bawa masuk ya?" pamit dokter PPDS obgyn yang jaga pagi itu. Prof. Abraham mengangguk dan ikut mendorong brankar putrinya itu. Mayong mengikuti di belakang. "Tangani putriku dengan tata laksana pre eklampsia, siapkan operasi. Aku minta tiga dokter anak untuk menerima cucu-cucuku. Aku akan menangani sendiri kelahiran putriku" tegas Ayah Abraham. Maya yang masih tersadar memandang ayahnya. "Beneran Yah? Apa nggak minta tolong prof. Henri aja? Ayah sama papanya Raja mendampingiku saja" pinta Maya. Perasaan Ayah Abraham mulai tak enak, dia tau sekali prognose persalinan putrinya itu. Persalinan kembar tiga, kondisi pre eklampsia, jarak persalinan operasi sebelumnya juga belum dua tahun tentunya sangat beresiko untuk putrinya itu, batinnya. "Ayah nggak usah kuatir, aku akan berusaha Yah, demi ketiga calon buah hatiku" Maya menggengam erat tangan suaminya untuk mengurangi kecemasan yang melanda. "Aku akan selalu disampingmu yank. Smoga Allah memberikan jalan terbaik" doa Mayong dan diaminkan Maya.


Operasi akhirnya dikomando prof. Henri sesuai permintaan Maya. Dengan didampingi dokter Anesthesi handal, dan juga dokter spesialis anak tiga. Tak tanggung-tanggung memang. Prof. Abraham langsung yang meminta tolong ke kolega-koleganya tersebut. Maya yang masih tersadar, karena hanya dibius perut ke bawah. "Monitornya nggak ada yang aneh kan dok?" tanya Maya ke dokter Anethesi yang membiusnya. "He..he...yang tenang dokter Maya. Aman" timpal dokter Anethesi dengan mengangkat jempolnya. Bayi pertama telah lahir, disusul kedua dan ketiga. "Cantik semua seperti mamanya" ujar prof. Henry. Maya tersenyum lega. Mayong bahkan sampai meneteskan air mata bahagianya. "Makasih sayang" ucapnya sambil mengecup kening istrinya. Bayi-bayi yang sedang diresusitasi oleh dokter anak, menangis bergantian. Memecah kesunyian ruang operasi itu.


Segera setelah plasenta lahir, sesuai prediksi ayah Abraham. Maya mengalami perdarahan hebat. Tekanan darah turun drastis, bahkan Maya mengalami apnoe (periode henti nafas). "Dokter, cepat stabilkan kondisi putriku" ayah Abraham berteriak ke dokter anesthesi. Mayong mencoba bersikap tenang, di ambang tertinggi kecemasannya. Guyuran infus dimasukkan. Bahkan infus sudah bercabang dengan cairan darah yang disiapkan. "Prof. Henry cepat stop sumber perdarahannya" ayah Abraham mulai kalut melihat layar monitor di depannya. Jangan tinggalin ayah nak, batinnya mulai menangis.


Mayong berjalan ke ruang PICU. Ketiga bayinya yang lahir dengan berat di bawah normal, ditaruh di dalam inkubator. Mayong mendekati ketiga buah hatinya itu, dengan menyentuh tangan-tangan mungil mereka. "Doakan mama ya putri-putriku. Papa yakin, kalian putri-putri papa yang hebat dan kuat" Mayong semakin menitikkan air matanya.

__ADS_1


Melihat keadaan istrinya dan ketiga putri kecilnya membuat Mayong merasa terpuruk.


Sebuah tepukan di bahunya menyadarkan Mayong dari lamunannya. "Kamu harus kuat putraku. Kalau kamu sendiri seperti ini, siapa yang akan menguatkan menantu dan ketiga cucu cantikku" ujar papa Suryo yang ternyata sudah sedari tadi mengamati Mayong. Mayong memeluk mama Clara dan menitikkan air mata, sekarang istri dan ketiga putrinya sama-sama dirawat di ruang intensif. "Makanlah dulu Mayong, pulihkan tenagamu. Kamu juga harus sehat" tukas Mama Clara. "Don, bawa sini" perintah papa Suryo yang melihat Doni berdiri mematung tanpa berani menyela obrolan sendu bos besarnya. Mayong menatap makanan di depannya tanpa berselera. "Makanlah Mayong!!!!" ulang papa Suryo. Dengan sedikit malas Mayong tetap membuka nasi kotak yang dibelikan Doni.


Sementara di ruang ICU, ayah Abraham mengajak ngbrol putrinya yang belum sadar.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺♥️

__ADS_1


to be continued, happy reading


__ADS_2