Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 56


__ADS_3

Sekembalinya dari kediaman ayahnya, di perjalananan Maya meminta Mayong untuk berhenti di depan apotik tempatnya praktek.


"Hari ini jadwal praktekmu kah sayang? Bukankah masih lusa?" Mayong masih belum ngerti.


"Aku mau beli alat seperti yang disuruh ayah tadi" Maya turun dari mobil.


"Sore mba, tes pack satu ya" pinta Maya.


"Sore dokter, wah kayaknya ada yang sukses nih" goda mbaknya yang di apotik itu.


"Doanya ya mba" Maya undur diri setelah diberi alat yang dimaksud.


Maya tersenyum simpul ketika duduk di mobil. Mayong memegang kening istrinya dan bergumam, "tidak panas". Maya mencubit lengan suaminya, "enak aja, aku sehat tau" gerutu Maya. Maya menunjukkan alat tes yang dibelinya. "Sampai rumah, jangan lupa browsing ya tentang alat ini" pesan Maya. Mayong mengernyitkan alisnya, seumur-umur baru tau ada alat seperti itu.


Mayong benar-benar browsing alat yang dimaksud istrinya. Maya yang sudah duduk manis di samping suaminya tersenyum simpul. CEO nggak tau tes pack, batinnya. Maya mengupas buah dan memotongnya. Maya suapkan untuk suaminya yang serius memandang layar ponsel.


"Jadi alat itu tadi untuk tes kehamilan?" Mayong baru mengerti setelah browsing. "Waktu ngetesnya besok pagi, pas kamu kencing pertama kali?" Mayong menciumi istrinya tanpa jeda.


"Sayang, gembiranya kok sekarang? Kan alatnya baru dipakai besok pagi" gerutu Maya yang wajahnya disapu bersih oleh kecupan Mayong.


"Semoga hasilnya seperti yang kita harapkan. Aamiin" imbuh Mayong. Maya mengaminkannya.


Pagi sekali Mayong sudah prepare untuk membangunkan istrinya. Istri yang semalam telah diajak begadang sampai menjelang pagi. Maya terbangun dengan ogah-ogahan, badannya masih terasa lelah. "Ayo sayang, sekarang ambil air seninya" Mayong antusias. Melihat Maya yang masih malas-malasan, Mayong menggendong istrinya ke kamar mandi. "Keluarlah dulu sayang, mana bisa keluar kalau kamu nunggu di situ" suruh Maya. Mayongpun keluar menunggu di depan pintu.


Maya mengambil alat tesnya, dia celupkan alat itu ke tampungan urine-nya. Mayong yang belum mengerti cara kerjanya, "Gimana cara baca hasilnya?"


"Sabar sayang, tunggu beberapa menit". Dalam hati Maya juga berdebar. Apapun hasilnya semoga diberi yang terbaik, batin Maya.


Muncullah dua strip garis merah di stik alat itu. Gantian Maya yang antusias memeluk suaminya. Mayong dibuat terperangah oleh ulah istrinya. "Gimana hasilnya?" Mayong penasaran.


"Positif sayang, kamu akan menjadi seorang papa" Maya menciumi Mayong seperti yang dilakukan Mayong semalam.

__ADS_1


"Benarkah????? Alhamdulillah" Mayong sangat bahagia menerima kabar pagi ini.


Mayong dan Maya melakukan video call langsung ke ayah dan juga papanya.


"Assalamualaikum" sapa Mayong.


"Waalaikumsalam" jawab papa Suryo dan Mama Clara barengan, disusul ayah Abraham.


"Tumben, pagi-pagi nelpon. Kirain sibuk bikin adonan" gurau papa Suryo.


"Mau kukasih kabar baik apa nggak? Telpon salah nggak telpon malah salah" gumam Mayong tapi masih kelihatan di layar ponsel orang tuanya.


" Bentar-bentar kabar baik apaan" Mama Clara penasaran.


"Kabar baik kemarin kah May?" Ayah Abraham nimbrung.


Maya menampakkan hasil tes packnya di depan kamera ponsel suaminya.


"Kita akan jadi oma opa" seru Mama Gayatri gembira.


"Mayong, jangan biarkan Maya terlalu kecapekan. Jangan sering kau ajak buat adonan" pesan papa Suryo. Mayong hanya berdehem tak terima.


"Nanti kau ke praktekan ayah saja May, nanti ayah yang akan meriksa" saran Abraham. Maya mengangguk menerima saran ayahnya. Aku yang hamil masak mau di USG sendiri, batinnya.


" Jam berapa? Aku juga mau ikut" sela Mama Clara. Akhirnya disepakati jam tiga sore mereka bersama akan bertemu di praktekan ayah Abraham.


Hari ini Mayong berkerja dengan semangat. Hal itu tidak luput dari pandangan Doni dan Sinta. Mereka berdua saling pandang. "Ada apa dengan bos???" bisik Sinta. Doni menggeleng tanda tak tau.


"Don, ke sini kau?" panggil Mayong dari dalam ruangannya. Doni yang bersama Sinta langsung berlalu masuk ke ruangan bos.


"Siap Tuan" Doni berdiri di depan Mayong.

__ADS_1


"Samudera group gimana?" tanya Mayong.


"Pihak mereka masih mencari perusahaan besar yang mau diajak kerjasama Tuan" jawab Doni.


Ternyata David masih mencoba menutupi kolapsnya Samudera Group, batin Mayong.


"Don, dua hari lagi kamu siapkan rapat dengan direksi perusahaan Nayaka" perintah Mayong.


"Maaf Tuan, dua hari ke depan jadwal anda sudah penuh" jelas Doni.


"Tunda rapat yang kurang penting" jelas Mayong.


"Tapi semuanya penting Tuan". Mayong melotot ke arah Doni. "Baik Tuan, akan saya siapkan" Seenaknya merubah jadwal, gerutu Doni. Doni sangat memahami Mayong, yang tak akan merubah pertemuan-pertemuan penting tanpa alasan yang jelas. Doni segera menghubungi perwakilan dari Nayaka untuk mengatur pertemuan dua hari lagi. Perusahan Nayaka yang berada di Jepang adalah anak cabang dari Dirgantara. Dirgantara berhasil mengakuisisi saat perusahaan itu akan bangkrut dalam diam. Jadi tidak ada yang tau kalau pemilik saham terbesarnya adalah Dirgantara. Mayong tetap mempertahankan orang-orang yang berkompeten bertahan di perusahaan itu. Bahkan Mayong tidak berniat merubah nama perusahaan.


Jam dua siang, Mayong sudah menjadi mister parkiran. Menunggu istrinya yang sedang operasi. Maya mengabari saat istirahat siang bahwa dia mau operasi. Maya yang tidak mau dijemput oleh pak Amin, mau tak mau Mayong mesthi menyempatkan diri untuk lebih memperhatikan istrinya.


Lebih setengah jam Mayong di sana. Rasa lelahnya hilang ketika wajah istrinya tampak di koridor rumah sakit, melangkah ke arahnya. Senyum manis Maya pertama kali tampak saat masuk mobil. Tak lupa dia kecup tangan suaminya itu. Mayong pun mendaratkan ciuman di kening istrinya. Langsung meluncur ke tempat praktek ayahnya.


"Akhirnya kalian sampai juga" Mama Clara menyambut kedatangan Mayong dan Maya. Papa Suryo dan Mama Clara sangat antusias sekali. Mereka masuk ke ruangan Abraham. Bahkan papa Suryo pun ikut. Ruangan sudah ditata sedemikian rupa, sehingga privasi tetap terjaga. Mayong ikut kemana istrinya duduk.


"Sudah berapa minggu May? Bahkan seorang dokter kandungan kok malah tidak menyadari kalau hamil" Abraham terkekeh. Maya menggaruk kepala, malu sama ayahnya.


"Kayaknya umur kehamilannya lima-enam minggu Yah?" jawab Maya. Mayong hanya mendengarkan. Sementara papa Suryo dan mama Clara seakan tak sabar dan terus memandang monitor televisi yang akan menampakkan proses USG.


Saat ini ayah Abraham tanpa asisten, karena ingin memeriksa sendiri putrinya. Maya menyibak penutup perutnya. Mayong menahannya, "Ngapain buka-buka?". Abraham hanya geleng kepala melihat ulah menantunya, "Terus mau diperiksa model gimana? Ayah lho ini yang memeriksa, bukan orang lain". Mayong hanya terkekeh menyadari kesalahannya. Maya membantu ayahnya mengoleskan sendiri gel ke perutnya. Abraham mulai menggerakan probe USG ke perut putrinya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


to be continued#happy reading


hasil USG ntar nyusul aja πŸ€—

__ADS_1


__ADS_2