
Mayong mengacungkan dua jempol tangannya, "istriku memang the best".
Mayong packing baju dibantu Maya. Maya sudah tidak bertanya lagi mau diajak kemana, yang penting ikut. Maya ingin menikmati sisa-sisa cutinya.
"Sayang, baju yang waktu di hotel tidak jadi dipakai ditaruh mana?" Mayong sibuk membolak balik baju di ruang wardrobe nya.
"Baju yang mana?" Maya pura-pura tak tahu, padahal sudah dia sembunyikan di rak paling bawah bersama dalaman punyanya. Nggak mungkin Mayong akan mencari sampai ke sana, pikirnya. Tapi kenyataannya tidak demikian, Mayong merambah ke sana. Karena tidak menemukan di tempat lain. Maya menahannya, "Nggak ada di situ, isinya hanya dalaman punyaku. Ngapain juga dilihat". Ada seringai licik di wajah Mayong, "Hmmmm, bahkan ukuran dalaman serta warna-warnanya aku sudah hafal semua. Coba kulihat" Mayong memaksa.
"Jangan!!!" cegah Maya. Maya tetaplah kalah tenaga dengan suaminya. Karena aksi tarik menarik, semua isi rak itu malah berhamburan keluar. Maya menepuk jidatnya, merasa ketahuan.
"Akhirnya kutemukan juga baju keramat ini" Mayong tertawa puas, serta segera menyimpannya di koper. Maya sampai terdiam melihat kelakuan suaminya.
"Sayang, aku tinggal di ruang kerja sebentar ya" pamit Mayong setelah makan malam
"Iya, aku mau lihat drakor aja" Maya menuju kamar dan menyalakan televisi di kamar.
Mungkin karena efek kelelahan karena gempuran yang tak kenal waktu, tak sampai setengah jam Maya sudah terlelap. Di ruang kerja, Mayong tetap mengecek semua email masuk. Maju mundurnya Dirgantara tergantung tangan dinginnya. Mayong tetap menyempatkan waktu untuk mengecek perusahaan. Tanggung jawab terhadap puluhan ribu karyawan berada di tangan Mayong, maka dia tidak boleh lengah sedikitpun.
Tak terasa hampir dua jam Mayong berada di ruang kerjanya. Mayong senyum-senyum sendiri. Tak menyangka sudah menyandang status sebagi suami. Tanggung jawabnya semakin besar. Mayong melihat jam di dinding, "Astaga, hampir jam dua belas". Mayong segera beranjak dari kursi dan menyusul istrinya di kamar.
Mayong mencium kening Maya yang sudah pulas tidurnya. Maya pasti kelelahan, batin Mayong. Mayong menyusul Maya ke alam mimpi.
Maya terbangun ketika ada yang menindih paha, dan sebuah tangan yang menyusup di perutnya. Dalam tidurpun tanganmu tidak terkondisikan suamiku, batin Maya. Maya mempererat tangan Mayong untuk memeluknya. Ada rasa nyaman tersendiri ketika tangan itu merengkuhnya. Maya kembali tidur. Belum sampai terlelap, Mayong membalikkan tubuh Maya.
"Enak aja, sudah mengganggu tidurku. Sekarang kok mau tidur lagi" Mayong menatap Maya penuh arti. Maya sudah mulai paham arti tatapan itu, tatapan mesum.
"Yang, nggak capek?" wajah melas Maya mulai ditampilkan.
"Untuk yang itu nggak ada kata capek sayang, ayo kita lembur" Mayong terkekeh. "Tidur aja dulu sayang, kita himpun tenaga. Besok aja ya" elak Maya.
"Sekarang ya sekarang, untuk besok kan bisa diulang lagi" sanggah Mayong tersenyum.
Maya mencebik, "Mau kulumat sekarang?" ucap Mayong yang melihatnya.
__ADS_1
"Duduklah sini" Mayong menunjuk kedua pahanya untuk Maya duduki. Maya menuruti permintaan suaminya itu. Dengan dituntun Mayong, bertemulah kedua benda kenyal itu untuk saling memagut dan bertukar saliva. Tangan Mayong sudah berpindah haluan di punggung Maya untuk melepas kaitannya. Mayong mulai melepas atribut atasannya, serta menyibak atasan istrinya.
Dilepasnya semua yang menghalangi pandangannya. Terpaparlah pandangan indah di depan mata Mayong. Pandangan yang sudah menjadi candu baru bagi Mayong. Ukuran yang lebih dari ukuran biasanya, membuat dirinya semakin menyukainya.
Mayong mengambil posisi setengah duduk, dia segera ******* bukit kembar yang seakan menantangnya. Isapan demi isapan bergantian, sambil terus memilinnya. Maya mencengkeram punggung Mayong. Sensasi yang luar biasa baru dinikmatinya. Dia tenggelamkan kepala sang suami ke bukit kembar itu. Wajahnya sampai merah padam menahannya.
Mayong mengarahkan tangan istrinya, ke benda tumpul yang tegak berdiri. Membimbing tangan istrinya untuk menunjukkan kemana dia harus bermuara. Maya menggesernya ke posisi yang tepat, sehingga benda tumpul itu sukses masuk ke sarangnya.
Mayong membantu pergerakan istrinya, sambil tetap memagut di bukit kembar itu. Nampak Maya naik turun menggerakkan tubuhnya, sehinga kedua bukit itu bergerak sesuai irama tubuh tuannya. "Aahhhhh, sayang" teriak Maya.
"Tunggu aku sayang" Mayong membalik posisi. Semakin cepat dia menggerakkan pinggangnya..."Aaahhhhhhhh" teriak kedua insan itu berbarengan.
"Makasih" Mayong mengecup kening istrinya. Mereka akhirnya terlelap di bawah selimut setelah senam tengah malam.
Pagi-pagi panggilan masuk terdengar di ponsel Mayong. Ternyata panggilan dari Doni, " Tuan, aku menunggumi di bawah"
Mayong yang masih berada di bawah kungkungan selimut, tersenyum melihat istrinya yang masih terlelap.
Mayong membersihkan diri lagi, karena adegan mantab-mantabnya terulang setelah mereka berjamaah.
"Sayang, ayo bangun" Mayong menoel hidung istrinya. Maya masih susah bangun, "Ayo kita ulang lagi" seru Mayong di samping telinga istrinya. Bola mata Maya langsung membulat sempurna, "Haaaaaaaa" saking kagetnya.
"Ha..ha...ha...waktu diajak siaran ulang aja langsung bangun" tawa Mayong meledak. Mayong menggendong tubuh istrinya yang masih polos, dan sesekali mendusel ke area favoritnya. Gimana nggak mendusel, posisinya pas di depan mata. Maya sampai merasa geli. "Sudah ah, aku mau mandi".
"Lekas ya mandinya, Doni sudah menunggu di bawah" pesan Mayong.
"Baik Tuan besar" gurau Maya. Maya berendam air hangat, untuk menghilangkan rasa lelah yang mendera. Capek tapi nikmat...he..he...
Maya mengolesi roti tawar yang tinggal beberapa dengan selai nanas yang ada di meja dan juga menyeduh dua gelas susu. Sementara Mayong mengeluarkan koper yang sudah disiapkan kemarin.
"Sayang sarapan dulu" menyodorkan dua tangkup roti untuk suaminya dan juga segelas susu.
Setelah tandas, mereka turun menuju lobi apartemen. Satpam yang sudah sangat mengenal Mayong mengangguk dan mendekat untuk membantu.
__ADS_1
"Makasih mas" Mayong mengeluarkan tiga lembar uang soekarno hatta untuk satpam itu.
"Siap berangkat Tuan?" sapa Doni. Mayong mengangguk. Sedan mewah meluncur menuju bandara. "Sayang kita mau ke mana?" Maya masih penasaran.
"Tempat yang pasti kau suka" Mayong berteka-teku.
"Nggak seru ah" Maya menoleh ke kaca mobil.
"Jangan merajuk, beberapa jam lagi kamu juga akan tau" Mayong merengkuh Maya ke pelukannya. Sementara jomblowan yang di depan hanya bisa menelan ludah.
Doni hanya mengantar sampai bandara. Sebuah pesawat pribadi sudah menunggu tuannya. Mayong menggandeng tangan istrinya seakan tak mau lepas. Maya yang belum pernah naik pesawat pribadi memandang kagum interior pesawat mewah itu. Semua kru pesawat mangangguk hormat, ketika Mayong dan Maya duduk.
"Siap berangkat tuan?" sapa sang kapten. Mayong tersenyum dan mengangguk.
"Sayang, perjalanan kita kurang kebih memakan waktu 10-11 jam. Kalau kamu capek, istirahat aja di kamar"
"Emang ada kamarnya???" bisik Maya takut terdengar yang lainnya. Semua kru yang ada di pesawat itu juga orang-orang terpercaya Tuan Suryo dan Mayong tau itu.
Mayong menuntun istrinya ke kamar, "Tidurlah, aku tau kamu pasti capek"
"Nyuruh tidur, tapi ujung-ujungnya ada maunya" Maya mencebik. Secepat kilat Mayong mengulumnya. Maya sampai gelagapan.
"Mau mencoba sensasi di sini, di atas pesawat?" ajak Mayong. Maya membalikkan badan, dan berangkat tidur.
Maya terlelap tanpa menunggu lama. Mayong menyelimuti, dan keluar dari ruangan itu. Membiarkan istrinya terbuai mimpi.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
bersambung
masih mereka berdua ya, Two M (Mayong Maya) Yang lain menyingkir dulu π€π€π€
Happy reading
__ADS_1