
Maya yang nyelonong masuk duluan memanggil Yasmin. "Cin...cinta...I'm coming" teriak Maya. Yasmin yanh di dalam kamar menajamkan pendengarannya, "Kayak ada suara cewek, manggilnya kok cinta lagi" batin Yasmin bermonolog. Yasmin mendekati pintu kamar, dan terdengat jelas di pintu kamar panggilan itu. "Cintaaaaa...cepatlah keluar" teriak suara itu lagi. "Kayak Maya, tapi ngapain juga sore-sore gini ke sini???" gumam Yasmin dan hendak membuka pintu. Belum sempat memegang handle pintu, sudah terdengar ketukan pintu duluan. "Cintaaa, ayo lekaslah" teriak dari luar kamar sedikit tal sabar. Yasmin membuka pintu, terlihat bumil yang sedikit tak sabar. "Cin, aku ke sini mau ngajak kamu makan. Yuuk buruan!!!" sargah Maya sekaligus menggandeng tangan sahabatnya itu. Bahkan Maya tak tau kalau Yasmin sahabatnya agak kesulitan berjalan. "Lelet amat sih cin" barulah Maya menengok, mengamati sang sahabat yang berjalan tertatih. "Eh, ngapain jalannya begitu?" Maya memandangi langkah Yasmin. "Oooooooo....paham aku. Gawangmu sudah kebobolan ya Cin?" Maya tertawa. Pipi Yasmin sudah tak tau berwarna apa, pink atau ungu saking malu diolok sahabatnya itu.
Mayong dan Bara sudah menyusul ke meja makan, setelah berdebat di depan pintu apartemen tadi. Debat tentang kedatangan Mayong dan Maya yang tak tepat bagi Bara. Sementara di meja makan Maya sudah mulai membuka bungkusan nasi goreng yang diinginkannya. "Ini cin, aku tau kamu pasti lapar kan?" canda Maya. "He...he....baiklah. Rejeki tak boleh ditolak" ujar Yasmin. "Yank, ayo buruan duduk. Nih, nggak pedes. Kalian berdua kan bukan pengidola makanan pedas" Maya menyiapkan makan untuk suaminya, demikian juga Yasmin menyiapkan untuk Bara. Mereka makan tanpa suara, sampai terdengar sendawa bumil. Mayong memandang istrinya, "Sudah kenyang?" tanyanya. "Sudah yank, buruan kamu abisin ya. Habis ini kita pulang" ajak Maya setelahnya. Mayong hanya membego. Keinginan istri yang lagi ngidam kadang memang di luar nalar. Bara dan Yasmin saling tatap. "Hei, kenapa kalian saling pandang? Ada yang aneh dengan ucapanku ya?" Maya bersuara. "Jadi kalian berdua ke sini mau numpang tempat makan aja. Bukannya meja makan di mansion papa muat untuk dua puluh orang bahkan lebih?" sarkas Bara. "Memang iya, makan di sini bareng sahabatku buat aku tak mual" alasan Maya. Bara masih cemberut aja. "Cin, ntar habis ini lanjutin aja enak-enaknya. Lagian perut sudah diisi amunisi kan?" gurau Maya. "Ayo yank, aku sudah selesai. Buruan, kita juga mau enak-enak bukan???" ajak Mayong sambil memberi sindiran ke Bara.
Mayong beranjak berdiri, sebelum melangkah tak lupa dia membisiki Bara adiknya, "Gempur terus jangan kasih kendor. Fighting!!!!" bisik Mayong tersenyum. "Jangan lupa nih obat kuat" Mayong menaruh sesuatu di saku Bara. Mayong segera menyusul Maya yang sudah berada di ambang pintu apartemen. "Makasih ya Cin tumpangan tempat makannya, betewe sudah berapa kali kena gol hari ini?" Maya pamitan dengan tetap menggoda sahabatnya. "Jangan terlalu banyak golnya, ntar malah kocokannya nggak maksimal" Maya terkekeh. Hubungan gol dan kocokan apa ya? pikir Yasmin. Mayong dan Maya keluar apartemen dengan mesra. Bara dan Yasmin hanya bisa saling tatap setelah kepergian kakaknya itu dan tersenyum bersama. Sungguh usil memang Mayong dan Maya.
__ADS_1
Di akhir pekan, pagi itu Bara berjalan di lobi Dirgantara. Suasana nampak lengang karena para karyawan libur. "Week end masih aja ngajak rapat" gerutu Bara sendirian. Mayong dan Tuan Akio ternyata sudah menunggu kedatangan Bara di ruang rapat. "Wah, pengantin baru mesti telat bangunnya ya?" seloroh Mayong saat Bara mulai duduk di seberang kursinya. "Harap maklum tuan Mayong, kita pun dulu juga begitu..ha..ha.." tuan Akio menambahi. "Terus...terus...aja ngeledekin. Jadi rapat nggak nih?" ucap Bara lengkap dengan gerutuannya. "Ha...ha.....berhubung ada yang PMS, kita mulai aja tuan Akio" perintah Mayong.
Rapat kali ini memang sengaja diagendakan di akhir pekan. Situasi non resmi sengaja dihadirkan Doni asisten Mayong. Mereka yang rapat kali ini bahkan hanya pakai pakaian kasual aja. Bahkan Mayong hanya pakai celana pendek dan kaos, karena berangkat ke Dirgantara dengan bersepeda. Sambil minum air putih yang berada di depannya, Mayong memulai rapat hari ini. "Silahkan tuan Akio, jelaskan saja apa yang menjadi rencana Nayaka. Biar calon wakil direktur ini memperhatikan. Kalau tidak jelas jitak aja dia. Jangan merasa sungkan karena melihat dia adikku" jelas Mayong. Tuan Akio mengangguk, "Baik Tuan".
"Baik tuan Bara, Senin pagi sudah bisa dimulai. Tuan Akio yang akan membimbing langsung anda di Nayaka.Ind" ujar Doni menyerahkan jadwal yang harus dilakukan Bara. "Haiisssss, aku sudah seperti kak Mayong aja" Bara cemberut menerima lembaran jadwal dari Doni asisten Mayong. Mayong mengulum senyum, akhirnya sang adik bersedia membantunya meski dengan hati yang berat. Awalnya Mayong juga seperti itu, tidak mau menyandang beban yang diamanatkan papa Suryo untuknya. Terlalu berat bagi Mayong saat itu. Tapi setelah berjalan seiring waktu, Mayong menjalankan dengan enjoy. Malah dengan tangan dingin Mayong, Dirgantara menjadi perusahaan multinasional. Yang cabang-cabang bisnisnya menggurita. Bukan hanya level nasional, sekarang sudah mulai merambah pangsa internasional juga. Sedikitnya dengan bantuan Bara, beban Mayong akan sedikit berkurang terutama Nayaka.ind yang baru dimulai. Mayong sepenuhnya percaya dengan insting adiknya.
__ADS_1
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
**to be continued, happy reading
like, komen, vote, hadiah, kopi ditunggu author πππ**
__ADS_1