
Sesampai di parkiran rumah sakit Maya menelpon ruang bersalin "Halo mba, ini dengan dokter Maya. Pasien yang dikonsulkan tadi apa sudah dipindahkan ke IBS (Instalasi Bedah Sentral)?"
"Pasien dengan kala dua lama ya dok, yang dipimpin tidak turun kepalanya?" tanya balik di ujung telepon.
"Iya mba, emang ada pasien lagi?" Maya malah balik menanyakan.
"He...he....kok malah kita saling bertanya dok. Iya yang kala dua lama sudah dipindahkan ke IBS. Terus yang elektif dengan kista ovarium sekalian dikirim ke IBS atau bagaimana dokter?" jawab bidan jaga menunggu persetujuan sang operator operasi.
"Iya mba, sekalian aja. Selesai pasien pertama langsung dilanjut aja" advis Maya.
"Baik dokter" terdengar telepon ditutup.
"Operasinya nyambung sayang?" tanya Mayong. "Iya, sementara dua pasien" Maya terkekeh sambil menunjukkan dua jarinya.
"Kalau gitu aku ikut masuk kamar operasi, aku nggak mau jadi mister parkiran lagi" seru Mayong. Mayong gandeng sang istri berjalan di koridor rumah sakit. Banyak karyawan membungkuk hormat ke sang pemilik rumah sakit itu. "Sayang, semua pada ngelihat kita lho" Maya sedikit risih dengan pandangan orang-orang. "Cuek aja" Mayong tetap menggandeng sang istri.
Di depan pintu kamar operasi bertemulah mereka dengan sang adik, dokter Bara.
"Eh...eh...ngapain kalian? Pake acara bergandengan segala?" seru Bara tergelak.
"Biasa lah, nganter istri operasi" tandas Mayong.
"Mana ada seorang CEO punya waktu luang nganter istrinya operasi" oceh Bara.
"Lha ini buktinya, ada kan?" Mayong menunjuk dirinya sendiri.
"Halah, pede nya. Kakak tunggu di luar aja. Mana boleh bukan karyawan masuk kamar operasi" sergah Bara.
"Mau kupecat kamu. Siapa ownernya? Terserah aku dong" Mayong tak mau kalah.
"Sudah...sudah....ayo masuk. Kasihan pasienku nungguin" Maya berjalan mendahului kakak adik yang tak tahu tempat itu. Mayong mencibir mendahului sang adik. Bara garuk kepalanya.
"Sayang, nunggu di sini saja. Jadi nggak perlu ganti baju" Maya menunjuk seperangkat sofa di ruang dokter. "Maaf ya adanya air putih, kalau haus silahkan ambil sendiri Tuan" gurau Maya.
"Baik dokter Maya, terima kasih" Mayong menjawab konyol gurauan Maya.
__ADS_1
Kehadiran Mayong, membuat suasana sedikit hening. Operasi yang biasanya full musik, hari ini tidak ada yang menyalakan.
"Hening sekali operasiku hari ini? Musiknya trobel ya" seru Maya mulai menginsisi kulit pasien.
"Mana ada yang berani nyalakan" sergah Bara yang membetulkan tetesan infus pasien.
"Emangnya kenapa?" Maya mulai mengeluarkan bayi.
"Mana berani mereka, ada bigbos di balik tembok. Lanjutkan dulu, ambil bayinya keburu cyanosis" celoteh Bara.
"He..he...siap komandan" Maya terkekeh.
"Biasa aja kali kak. Mas, tolong nyalain musiknya" Maya memanggil mas perawat untuk menyalakan musik. Maya melanjutkan jahitan lapis demi lapisnya. Operasi selesai. Sambil menunggu pasien dibersihkan dan pasien selanjutnya disiapkan Maya menemui suaminya.
"Sudah selesai? Cepat sekali" tanggap Mayong.
"Biasanya juga segitu waktunya sayang, kalau tidak ada kesulitan" jelas Maya.
"Beneran mau nunggu, yang kedua ini pasien kista lho. Waktunya belum tentu sama kayak yang tadi" jelas Maya.
Maya melanjutkan operasi kiste ovariumnya. Suasana kamar operasi yang sedikit hening sudah kembali seperti sebelumnya. Lagunya Deny Caknan "Satru 2" pun berkumandang di kamar operasi. Bahkan asisten dan instrumen Maya pun ikut nyanyi diikuti yang lain. Kadang mereka yang di kamar operasi menyalakan musik untuk mengurangi ketegangan saat melakukan tindakan. Bahkan ada juga pasien yang ikutan reques lagu juga. Katanya biar nggak tegang.
Mayong diantar sekretaris pak Bambang masuk ke ruang direktur.
"Selamat pagi pak Bambang" Mayong menyalami direktur rumah sakitnya.
"Tumben tuan Mayong, silahkan duduk" pak Bambang menyilahkan Mayong.
"Iya pak Bambang, maksud dan tujuan saya ke sini tadi sebenarnya cuma ngantar istri karena ada panggilan operasi" jelas Mayong.
Pak Bambang mengangguk.
"Oh ya pak, saya amati pasien di bagian obgyn meningkat kunjungannya? Saya cuma evaluasi berdasarkan insting saya sebagai suami. Terlalu sering istriku dipanggil operasi pak" Mayong tetap dengan wajah datarnya.
Pak Bambang terkekeh. Bos nya lagi galau ternyata, batin pak Bambang.
__ADS_1
"Menurut Tuan Mayong gimana?" Pak Bambang masih dengan mode senyumnya.
"Kalau dengan menambah tenaga obgyn, keuangan rumah sakit aman?" tanya Mayong balik.
"Pendapatan dari bagian kebidanan dan kandungan saya rasa mampu menutupnya tuan. Laporan bulanan terakhir yang saya baca menjelaskan itu" jelas pak Bambang.
"Baiklah, lakukan rekrutmen secepatnya" perintah Mayong. Mayong bukannya tidak mau menutupi biaya penambahan tenaga dokter obgyn. Dalam bisnis memang harus benar-benar dihitung rinci cash flownya. Mayong pamit setelah mendapat panggilan dari sang istri yang memberitahukan kalau operasi sudah selesai.
"Sudah selesai urusannya dengan pak Bambang?" Mayong pun mengangguk. "Yuk jalan, kita ke resto langganan kita dulu ya?" ajak Mayong.
"Resto yang dulu aku kerja di sana?" dijawab anggukan Mayong. "Baiklah" seru Maya semangat. Maya menikmati makanan yang terhidang. "Tambah enak aja masakan di sini" suara Maya dengan mulut penuh.
"Telan dulu baru ngomong" Mayong mengambil nasi yang menempel di pipi Maya.
"Sayang, aku habis ini dijemput pak Amin atau bagaimana? Aku pulang aja ya?" Maya sudah menghabiskan makannya.
"Tetap aku yang ngantar pulang, lagian pak Amin mau jemput ayah ke kampus. Katanya ayah hari ini mau mampir mansion" Mayong menunjukkan pesan Ayah Abraham.
"Kok ayah nggak kabar ke aku" sungut Maya.
"Jangan marah dulu, lihat tuh ponselmu. Sapa suruh nggak buka HP" Mayong tergelak. Maya membuka ponselnya, ada lima panggilan tak terjawab dan beberapa pesan. "Hmmm...baiklah" gumam Maya.
Jadwal Mayong hari ini jadinya cuma ngantar dan nungguin istrinya. "Sayang, habis ngantar aku pulang. Kamu balik kantor?" Maya menoleh ke suaminya saat sang suami fokus menyetir.
"Nggak, semua sudah diatasi Doni. Kenapa? Mau ngajak enak-enak? Ayo aja" goda Mayong. Maya hanya menyebik, "Ujung-ujungnya mesthi ke sana". Mayong tertawa.
"Sayang, pas pindahan jangan lupa pak Bowo dan ibu suruh nginap di rumah kita yang baru ya. Mereka juga kakek nenek Raja lho?" usul Mayong.
"Iya sayang. Mereka bahkan belum sempat aku bahagiakan" ucap Maya sedih.
"Jangan sedih, kebahagiaan bapak dan ibu ya bersama-sama dengan adik panti. Mereka juga sangat bahagia bila anak-anaknya mendulang sukses sepertimu" tutur Mayong penuh kesabaran.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
to be continued n' happy reading π
__ADS_1