Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 74


__ADS_3

Sesuai yang dibilang pak Amin, siang itu Mayong datang ke rumah sakit. Mayong berjalan sedikit tergesa ke ruangan Maya. Sesampai depan poliklinik, ternyata pasien Maya masih belum tuntas. Masih sekitar lima pasien menunggu di luar. "Ternyata belum selesai pasiennya" gumam Mayong. Dia pun menaruh pantatnya di depan poli kandungan menunggu sang istri menyelesaikan pasiennya.


"Tuan, kok sendirian? Istrinya mana?" sapa seorang wanita yang datang tanpa didampingi suaminya. Malah terkesan genit ke Mayong. "Hm" deheman Mayong sedikit merasa tak nyaman dengan wanita itu. Wanita hamil dengan baju seksinya semakin agresif mendekati Mayong. Mayong menggeser pantatnya menjauhi wanita itu. Tapi wanita itu juga ikutan menggeser tempat duduknya. "Maaf nyonya saya sedang menunggu istri saya" jelas Mayong.


"Mana istri anda Tuan? Yang ada itu istrinya ngantri, suaminya datang menyusul" bantah wanita itu.


Laki-laki berperawakan gagah, tegap bermata biru, wajah ke bulean. Wanita mana yang tak tergoda dengan hanya sekilas memandang. Termasuk wanita yang saat ini mencoba mendekati Mayong. Mayong sampai jengah menghadapinya. "Maaf nyonya, saya sudah punya istri" jelas Mayong dengan sedikit menekan kata-kata yang diucapkannya.


"Lagian anda, mau periksa kandungan kok tidak didampingi juga oleh suami" tegas Mayong dengan sedikit menjauh.


"Aku tidak punya suami Tuan, suamiku menceraikanku semenjak dia tahu aku hamil. Suamiku tidak percaya anak yang kukandung adalah anaknya" ucapnya dengan wajah sok melas. Benar juga kalau suamimu meragukanmu. Tingkahmu kali ini aja sudah menyiratkan isi hatimu nyonya, batin Mayong.


"Nyonya Diana" terdengar suara Nina memanggil pasien terakhirnya. Nina yang melihat Mayong sudah duduk di depan poliklinik manghampiri Mayong. "Loh Tuan, sudah dari tadi?" sapa Diana. Mayong mengangguk dengan muka es baloknya.


"Loh mba, anda mengenalnya?" sapa wanita itu yang ternyata bernama nyonya Diana. Sesuai nama yang dipanggil Nina tadi.


"Ya jelas kenal nyonya, beliau kan suami dari dokter Maya" Nina menjelaskan.


"Oooooo....anda suami dokter Maya. Beruntung sekali dokter Maya mendapatkan anda" kata-kata Nyonya Diana terdengar sedikit kecewa.


Mayong menarik nafas lega saat wanita itu masuk ke dalam untuk diperiksa oleh Maya. Sementara di dalam ruang periksa. "Selamat siang nyonya Diana, silahkan" Maya mempersilahkan pasien tetakhirnya naik langsung ke meja pemeriksaan.


"Eh dokter, anda beruntung sekali mendapatkan suami yang tampan" celoteh nyonya Diana. Maya menatap Nina. "Iya dok, tuan Mayong sudah menunggu anda di luar" jelas Nina.


"Oooooo namanya Tuan Mayong, ganteng lho dok. Dijaga ya, sekarang banyak lho pelakor-pelakor berkeliaran" tandas nyonya Diana.


Termasuk anda yang punya bakat untuk menjadi bibit pelakor nyonya, hamil tapi statusnya janda. Nina membatin.


"Terima kasih nyonya atas peringatannya, suami saya memang tak ada duanya" Maya dengan sabar bahkan menyunggingkan sebuah senyuman ke nyonya Diana. Nina sampai gemas sendiri dengan kesabaran Maya terhadap sang pasien yang kegenitan itu.

__ADS_1


Pasien selesai, Maya mangambil tasnya dan melenggang keluar poli kandungan. "Nin, aku langsung pulang ya" pamit Maya.


"Hati-hati dok, jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi" seloroh Nina.


"Oke, kamu benar Nin. Bahkan aku sekarang di kawal pasukan berjas. Tuh salah satunya lagi setia duduk di depan poli kandungan" Maya terkekeh sambil menunjuk posisi Mayong. Nina ikut tertawa menanggapi.


"Sayang, sudah dari tadi?" tanya Maya menuju tempat Mayong tanpa merasa bersalah. "Nggak, barusan kok lima menit yang lalu" jelas Mayong. Maya hanya mencebik tak percaya. Mayong menggandeng lengan istrinya yang merajuk. "Makan dulu yuk, lapar nih" ajak Mayong.


"Tapi habis makan antar pulang ya, aku kangen Raja. Kalau ikut ke kantormu, bisa bosan aku" alasan Maya.


Sesampai di parkiran, mereka ketemu dengan Bara. "Wah...wah...semenjak kejadian kemarin tambah mesra aja kalian" seru Bara dari tempat agak jauh. Mayong tertawa mendengar ejekan sang adik. Tapi berkat Bara lah kali ini Maya selamat tanpa tergores.


"Bar, makan yuuk. Mumpung aku lagi baik nih" ajak Mayong.


"Tumben mengajakku. Apa ada yang salah dengan suamimu May?" Bara terkekeh. Maya sedikit menambahi, "Nggak tau nih kak, papa Raja agak senewen sejak ditempeli wanita genit di depan poliku". Maya pun tertawa lepas melihat Mayong. "Awas ya, berani-beraninya menertawakanku" ancam Mayong.


"Pasti nanti ujungnya begini kaka Bara. Tunggu hukumanmu Maya" Bara pun terbahak. Mayong semakin manyun saja.


"Yang pasti, Maya adalah istri tuan Mayong Saputra Suryolaksono" Maya tertawa lepas.


"Jadi makan nggak nih" Mayong mengakhiri gurauan Maya dan Bara.


"Dan kau Bara jadi nggak ikut denganku" Mayong mengulang ajakannya.


"Oke, nanti kirim aja lokasi di mana kalian makan. Aku nyusul sama Yasmin ya" pinta Bara.


"Iya kak, ajak Yasmin. Lagian aku sudah lama banget belum ketemu dia" sela Maya bersemangat.


Sampailah Mayong dan Maya di sebuah restoran Jepang. Sambil menunggu pesanan datang, Maya menyampaikan sesuatu. "Sayang jadi nggak ngajak liburannya?" tanya Maya. Dijawab anggukan Mayong.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita acarakan liburan berbarengan dengan acara kongres profesiku di Labuan Bajo. Acaranya pertengahan bulan depan" jelas Maya.


"Kongres ya kongres. Liburan ya liburan sayang" sergah Mayong.


"Begini saja akhir bulan ini kita liburan ke Jepang, pas lho di sana lagi musim semi. Atau ke Eropa?" lanjutan usul Mayong.


"Terus habis liburan, mbablas ke kongres? Begitu maksudmu sayang?" Maya minta penjelasan ke suaminya.


"Nanti kasihan Raja lho sayang, dia bisa kecapekan" lanjut Maya.


"Begini saja, kita liburan dulu aja. Untuk kongres bisa kan kamu ikut lewat linknya. Tidak usah ke Labuan Bajo" tandas Mayong.


"Nanti pas ada kongres lagi, Raja kan sudah besar. Nggak rewel lagi bila kau tinggal" ulas Mayong.


Lagu perfect mengalun siang itu, "Halo Yah" jawab Maya.


"Apa kabarmu nak? Ini Ayah nelpon cuma mau menanyakan, pertengahan bulan depan kamu ikut kongres apa tidak?" suara ayah Abraham juga didengarkan Mayong karena diloudspeaker oleh Maya. Maya menatap Mayong untuk membantu menjawab.


"Maya kabarnya baik ayah. Untuk kongres, Maya biar tidak ikut ya Yah. Karena akhir bulan ini kita sudah merencanakan liburan" jawab Mayong.


"Nggak apa-apa kalau nggak ikut, nanti biar ayah aja yang datang. Oh ya Mayong salam ya buat Raja. Kalau longgar datanglah kalian ke rumah ayah. Opa kangen nih sama cucunya" terdengar kekehan Abraham di ujung telpon.


"Baik Yah" Mayong menutup telpon ayah.


Berbarengan dengan itu, datanglah Bara bersama Yasmin. Bara langsung memanggil pelayan resto untuk memesan. "Bar, makasih ya atas semua pertolonganmu ke istriku. Berkat dirimu Maya bisa ditemukan tepat waktu" serius Mayong.


"Kak, Allah lah penolong kita. Aku hanya kebetulan melihat Maya saat itu. Mungkin kebaikan-kebaikan kakak dan Maya sebelumnya lah yang menolong Maya" jelas Bara


Ponsel Mayong muncul notifikasi pesan dari Doni, "Tuan, Tuan David berhasil lolos dari kantor polisi" bunyi pesan Doni.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


to be continued, happy reading 💝💝💝


__ADS_2