Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 85


__ADS_3

Suami nyonya B masuk saat Maya masih melakukan tindakan penghentian perdarahan karena rahim masih belum berkontraksi. "Mba, cepetan orderkan darah ke bank darah tidak pakai lama. Ini benar persalinan ke lima ya mba?" Dijawab anggukan oleh sang bidan. "Mba, tolong tambahkan infus, buat cabang dua infusnya. Pasien sudah syok ini" perintah Maya. "Pak permisi, ini saya beritahu kondisi istri anda. Perdarahan harus cepat ditangani, karena rahim sampai saat ini tidak mau berkontraksi. Istri anda harus segera dioperasi untuk pengangkatan rahimnya. Istri anda ini memang masuk kategori resiko tinggi awalnya. Hamil di usia empat puluh tahun, kehamilan ke lima, sewaktu masa persalinan tadi tekanan darah cenderung agak tinggi. Saya minta persetujuan anda secepatnya" tegas Maya dengan tangan masih di jalan lahir, untuk melakukan kompresi rahim. "Dok, mahal ya biayanya? Anak saya yang empat masih kecil-kecil dokter" ulas sang suami pasien. Nampak aura keraguan di wajahnya. "Apa anda ingin mengorbankan istri anda tuan, nyawanya bisa nggak tertolong kalau terlambat ditangani. Saya hanya minta persetujuan, untuk biaya bisa dibicarakan nanti" Maya mulai sedikit emosi melihat suami yang lamban memberi keputusan. Padahal saat ini Maya sedang mengejar waktu, karena perdarahan tidak bisa ditoleransi lagi. "Tuan..." Maya sedikit teriak. "Mba, cairan ganti hest aja" perintah Maya. Pasien mulai terkulai. "Baik dokter saya setuju" akhirnya suami itu menyetujui tindakan operasi. "Langsung pindah ke kamar operasi mba, saya tunggu di sana. Tidak pakai lama" seru Maya. Bidan-bidan mendorong pasien itu pindah ke ruang operasi dengan berlari. Maya dan tim sedang berburu waktu berusaha untuk menyelamatkan pasiennya itu.


Sementara di ruang operasi Bara sedang melakukan tindakan operasi dengan dokter Budi. Kasus hampir sama dengan yang dihadapi Maya. Tapi pasien sudah mulai stabil.


"Kak Bara, cepetan ke kamar operasi sebelah. Pasienku sedang tidak baik-baik saja" Maya tergopoh menghampiri Bara, sedang pasiennya sudah disiapkan. "Pasien dengan apa?" tanya dokter Bara. "Perdarahan pasca lahir, cepetan kak. Sudah syok ini pasien" tegas Maya. Bara meninggalkan ruang operasi itu diikuti Maya. Sementara pasien dokter Budi yang hanya tinggal penyelesaian akhir dititipkan Bara ke asisten anesthesinya.


"May, syok berat ini pasien. Berapa liter perdarahannya?" tanya Bara. "Hampir lima puluh persen kak" tandas Maya. Bara meminta darah yang untungnya tersedia dengan cepat. "Mas, darah langsung masuk aja. Guyur!!!" perintah Bara ke asistennya. "May, kok bengong, ayo cepat cuci tangan..Semangaaaatttt!!!" seru Bara sambil mengangkat lengan kanannya. Maya segera melakukan apa yang dipinta Bara. "Bismillah, semoga Allah memberikan yang terbaik untuk ibu ini", doa Maya dalam hati.


Maya mulai melakukan irisan di abdomen. Setelah melakukan irisan lapis demi lapis, memang didapatkan rahim yang masih membesar tanpa mau kontraksi. Dengan tidak adanya kontraksi, pembuluh darah di rahim terbuka semua, sehingga terjadilah perdarahan. Ibarat kran air dengan posisi membuka. "Kak, akan kulakukan histerektomi, tolong jaga kondisi umumnya ya" pinta Maya ke Bara. Bara mengangguk. Maya dengan cekatan melakukan prosedur total hysterectomy, prosedur pengangkatan rahim dan serviks tanpa mengangkat indung telur. "Kak, kayaknya terjadi DIC (Disseminated Intravasculer coagulation), dari tadi coba kujahit rembes terus darahnya" ujar Maya. "Iya, sebelum darah dalam pasien berganti baru May, perdarahan bisa saja berlanjut. Ini masih kucoba tranfusi fres whole blood, biar trombosit cepat terganti" jelas Bara. "Aku ngikut apa katamu Kak, akan kucoba menghentikan sumber perdarahannya" Maya melanjutkan jahitannya. Operasi selesai. "Itu tadi pasiennya tanpa kubius lho May?" jelas Bara. "Kok bisa!!!! Maya menatap tajam dokter anesthesi itu. "Kalau kubius, malah mempercepat kematiannya dong" Bara terkekeh mencoba menghibur Maya yang dari tadi tegang.


"Berapa kantong tadi darah yang sudah masuk kak?" Maya memang terlalu fokus dengan lapangan operasinya, sehingga tidak bisa memperhatikan apa yang sudah menjadi tanggung jawab Bara. "Baru masuk empat. Pasien ini sebaiknya pindah ke ICU aja. Bahaya masih mengancamnya. Karena terlalu banyak darah yang dimasukkan lewat transfusi, bisa berefek ke jantungnya" usul Bara.

__ADS_1


"Aku setuju, kita harus memikirkan terjadinya decompensasi cordis. Begitu kan?" tatap Maya. Bara mengangguk. "Semoga pasien selamat ya kak" harap Maya. "Yang penting kita sudah berusaha May, hasil kita pasrahkan yang di atas" nasehat Bara. Maya mengangguk.


Operasi selesai pasien pindah ICU seperti yang diperintahkan Bara. Maya mengambil minum saat duduk di ruang dokter instalasi bedah itu. Terlihat helaan nafas panjang Maya karena merasa lega. "Dok, maaf ya menganggu cutinya he...he..." dokter Budi yang nyusul gabung, karena baru menyelesaikan operasi keduanya. "Nggak apa-apa dok, anggap aja ini hadiahku pasca cuti" celetuk Maya sambil bergurau. "Biar jari-jari nggak kaku lagi he...he..." lanjut Maya.


"Kayak nya lagi musim perdarahan pasca partum ini dok, kemarin ada satu. Kemarinnya lagi juga ada" dokter Budi memijit pelipisnya.


"Musim kok musim perdarahan. Musim duren gitu lho enak...." sela Bara ikutan gabung di sana.


"Halo sayang, baru selesai ni tadi" sapa Maya begitu panggilannya tersambung. "Aku kan sudah ijin tadi" lanjutnya. "Alhamdulillah operasi berjalan lancar" Maya serasa diinterogasi oleh suaminya..he..he....


"Baiklah aku akan langsung pulang, lagian kamu sibuk kan. Kasihan Doni harus bolak balik minta tandatanganmu selama cuti...bye sayang. Love you. Assalamualaikum" Maya menutup panggilan telponnya.

__ADS_1


"Kak Bara makasih ya bantuannya. Dokter Budi nitip pasien yang tadi ya. Sampai ketemu besok" pamit Maya ke koleganya. Bara dengan dokter Budi masih melanjutkan obrolannya.


Maya bergegas ke arah mobil. "Pak Amin, dimana? Aku sudah selesai ni" ujar Maya menelpon pak Amin. Pak Amin datang tergopoh-gopoh, "Maaf nyonya, lagi pesan kopi tadi..he..he.." pak Amin membukakan pintu untuk sang bos. Di mobil Maya mencoba menghubungi Mayong lagi, kali ini juga langsung tersambung. "Maaf sayang, aku mengganggu nggak?" sapanya.


"Enggak, ini juga lagi sama Doni. Ada apaan? Kangen kah?" terdengar kekehan tawa Mayong. Doni pun hanya bisa menyengir kuda melihat sang bos. "Apaan sih..." ucap Maya malu. "Begini sayang, kalau seumpama pasien yang kutangani tadi tidak mampu bayar gimana? Suaminya tadi kelihatan galau, jadi agak lambat mengambil keputusan" keluh Maya.


"Serahkan aja ke pak Bambang, dia pasti tahu apa yang akan dilakukan. Yang penting kewajibanmu sudah kamu lakukan dengan baik dan pasien selamat. Nggak usah memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak kamu pikirkan. Cukup kau memikirkan aku dan Raja aja. Paham istriku sayang?????" Maya ikut lega mendengar penuturan Mayong. "Oke, baik bossss. Mau kusiapkan menu apa ntar sore?" basa basi Maya. Padahal sampai sekarang Maya masih belum pandai-pandai amat masak. Tapi demi Mayong, Maya sudah berusaha keras. Sekeras usahanya melakukan penyelamatan pasien-pasiennya, totalitas.


"He...he....yakin nih mau nyiapkan menu makan malam? Nanti yang ada malah mengantarmu jadi wanita panggilan lagi?" celetuk Mayong. Maya hanya bisa garuk kepala.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


to be continued, happy reading


__ADS_2