Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 41


__ADS_3

Maya masih bingung dengan kata-kata Mayong. Mayong yang berada di depannya masih menunggu jawaban Maya.


"Kak, aku bingung musti jawab apa? Bagiku kakak apa nggak terburu-buru? Sudah dipikirkan benar? Maya masih ragu dengan lamaran Mayong.


Mayong menatap Maya, "Aku serius May? Aku tidak butuh pacar, tapi butuh pendamping. Aku rasa umur kita berdua juga sudah siap untuk memulai hidup bersama. Malah mungkin umurku sudah mendekati ED" Mayong terkekeh.


Maya tersenyum, "Boleh aku kasih jawabannya ntar aja Kak? Tapi jangan diremidi kalau aku nggak lulus ya?" becanda Maya.


Mayong menyentil kening Maya. Adegan yang diharapkan romantis malah tidak sesuai ekspektasi Mayong. Mereka berdua tertawa bersama.


"Sudah sore Kak, pulang aja yuukkk" ajak Maya.


"Iya, lagian badan sudah lengker semua" imnuh Mayong.


Mereka berjalan berdampingan. Banyak pasang mata sepasang laki-laki dan perempuan yang serasi itu.


"Tuh Kak, cewek-cewek pada ngelihatin kamu tuh" Mayong hanya menanggapi celotehan Maya dengan senyumnya.


"Cowok-cowok juga ngeliatin kamu tuh May" Mayong menggandeng tangan Maya, sambil berbisik "Jangan dilepas biar mereka tau kalau kamu calonku" Mayong senyum penuh kemanangan.


"Pede amat" balas Maya. Mayong kembali tertawa.


Hari ini cukup menyenangkan bagi Mayong dan Maya. Setelah puas main di pantai, mereka pulang menuju kediaman Abraham.


Tidak banyak yang mereka bicarakan di perjalanan.


"May, mampir makan atau gimana?" Mayong menunggu jawaban Maya sambil fokus menyetir.


Mayong menoleh ketika tidak ada jawaban Maya.


"Yaaaaahhhhhhhh, ternyata sudah pulas", gumam Mayong. Gampang sekali tidurmu Maya, batin Mayong. Mayong menepi, membenahi posisi jok mobil agar Maya nyaman.


Sesampai di kediaman Maya, Mayong membangunkan Maya. Di novel ini belum ada cerita gendong menggendong ya..he..he...


"Sudah sampai ya Kak? Cepat sekali" ucap Maya ketika mulai membuka mata.


"Sudah, ayo turun. Om sudah menunggumu tuh.." ajak Mayong membukakan pintu mobil untuk Maya.


Maya sudah turun, Mayong mengiringi di belakangnya. "Malam Om" sapa Mayong.


"Iya Mayong, darimana aja kalian? Maya sampai lupa lho kalau punya Ayah" goda Abraham.


"He...he....maaf ayah, aku sayang ayah lho" Maya mendekat memeluk Abraham.

__ADS_1


"Wah..wah...ada maunya tuh Om" Mayong sudah tak melihat kecanggungan hubungan Omnya itu dengan Maya.


Abraham hanya terkekeh, "Bau ah, pasti dari pagi belum mandi kan? Mandi dulu sana!!!!" suruh Abraham.


Maya berlalu ke kamarnya, "Baik Prof, Maya pamit mandi dulu..he..he...". Setelah Maya berlalu, Mayong pun berpamitan.


"Om, aku juga pamit dulu. Badanku lengket semua ini" Mayong berdiri dan berpamitan ke Omnya itu.


Abraham dan Maya makan malam bersama.


"Mayong kayaknya serius sama kamu dech May" Abraham memulai obrolannya.


Kok ayah sudah tau, batin Maya.


"Ayah sudah tau semua May" kata Abraham yang mengerti jalan pikiran Maya.


"Jauh sebelum mengutarakan untuk melamarmu tadi sore, Mayong sudah meminta ijin ke ayah duluan" Abraham terkekeh melihat ekspresi Maya.


"Yah, kak Mayong curang" gerutu Maya.


Abraham melanjutkan, "Tapi keputusan tetap kuserahkan sepenuhnya ke kamu sendiri, pasti kamu juga tau yang terbaik. Cuma saran ayah, saat ini hanya Mayong yang terbaik untukmu".


"Itu sih sama aja Yah, sama saja kalau kak Mayong yang direkomendasikan untuk jadi menantu ayah"


Abraham terkekeh mendengarnya.


"Ternyata kamu di sini" Abraham duduk di ayunan yang ada di taman itu.


"Eh..iya Yah. Daripada nganggur he..he.." ujar Maya. Abraham teringat dengan mendiang istrinya yang rajin merawat bunga. Taman-taman di sekeliling rumah ide awalnya juga dari Gayatri istrinya.


Melihat ayahnya melamun, Maya mendekatinya. "Kok malah melamun?"


Abraham menoleh kaget, "Nggak melamun, ayah hanya teringat dengan mendiang mamamu. Dialah yang dulu rajin merawat taman bunga ini".


Maya duduk di samping Abraham, "Mama sudah tenang di sana yah, aku janji akan menemani ayah dan merawat taman yang ada di sini...he..he.."


"Emang kalau kamu menikah, masih sudi menemani ayah?" tanya Abraham.


"Jangan sok ada waktu, mau merawat taman bunga segala. Waktumu aja habis tuk cito operasi" ledek Abraham.


"Iya juga sih" Maya garuk-garuk kepala.


"Semalam Mayong telpon ayah" Abraham menunggu respon Maya ketika dirinya menyebut nama Mayong.

__ADS_1


"Kak Mayong????" nada suara penuh tanda tanya Maya.


Abraham terkekeh geli, "Iya dia bilang sudah dapat sopir untuk kamu. Mulai besok kamu diantar jemput sama sopirnya" ungkap ayah Abraham.


"Kirain ada apaan" kecewa ya May..he..he...


"Jangan..jangan...kamu nunggu dinikahin Mayong?????" selidik Abraham. Maya tersipu.


Pak Amin, sopir Maya sudah bersiap dari pagi di kediaman Abraham. Pak Amin datang Minggu sore. Oleh bi Inem, ditunjukkan kamar untuk pak Amin. Memang Abraham menghendaki sopir untuk Maya menginap di rumah. Kalau sewaktu-waktu ada operasi, pak Amin siap mengantar. Sabtu Minggu hari bebas untuk pak Amin. Sopir pilihan Mayong tentu bukan sembarangan.


"Pagi pak Amin, sudah siap???" sapa Maya sumringah.


"Iya Non, mari berangkat" Pak Amin membukakn pintu mobil untuk Maya.


Serasa seorang putri, batin Maya. Maya yang tidak terbiasa dengan itu, merasa aneh sendiri. Maya malah terbiasa naik angkot, ataupun taksi online.


Lagu perfect terdengar, "Halo, pagi Kak" Maya mengangkat ponselnya.


"Pagi May, pasti lagi sama pak Amin ya???" suara Mayong terdengar di seberang.


"Sudah tau pakai nanya lagi, betewe makasih ya kak sudah dikirimin pak Amin" kekeh Maya.


"Dikirimin, emang paketan. Kok nggak tidur May, biasanya kalau aku yang nyetir kamu pulas tidurnya????" ujar Mayong.


"Jangan mulai dech" Maya tau Mayong meledeknya.


"Ha..ha...ingat ya May. Kutunggu hari Rabu jawabanmu" Mayong mengingatkan.


"Yeiiii kok masih ingat aja sih?" dalam hatinya Maya sebenarnya merasa senang.


" Harusnya hari Selasa kamu ngasih jawabannya, tapi kukasih dispen tambahan sehari ha..ha.." suara tawa Manyong di seberang. Mayong sengaja menundanya, karena hari Selasa jadwal meetingnya penuh. Seperti yang disampaikan Doni sebelum Mayong duduk di kursi kebesarannya.


"Hati-hati di jalan. Kakak sudah sampai kantor ini" Mayong menutup telponnya.


Ditinggal ngobrol, ternyata mobil Maya sudah sampai di parkiran rumah sakit. "Pak Amin, mau balik atau nunggu di rumah sakit?" tanya Maya ketika turun dari mobil.


"Saya nungguin aja Non. Saya nggak berani membantah perintah tuan Mayong" ujar pak Amin membungkuk hormat.


"Baiklah terserah pak Amin saja. Kalau waktunya pulang nanti kuhubungi pak. Makasih" Maya berlalu menuju poli kandungan.


Keluar area parkir rumah sakit, Maya bertemu dengan Bara. Alamat kena ledekan lagi nih, batin Maya.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


Menunggu jawaban Maya, seperti menunggu tim thomas cup Indonesia menang....momen menulis ini othor didampingi Jojo lho 😊😊😊😊


#cinta banyak-banyak untuk readers#β™₯️β™₯️β™₯οΈπŸ’πŸ’πŸ’


__ADS_2