Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 114


__ADS_3

Ayah Abraham menggantikan Mayong. Sementara Mayong masih berada di depan ruangan PICU tempat ketiga putrinya dirawat.


Abraham menatap sendu putrinya yang terpasang berbagai macam alat di tubuhnya, "Nak, bertahanlah. Ayah menyayangimu. Sekarang saatnya kamu bahagia putriku" ucap Abraham mengelus punggung tangan Maya yang masih tertancap jarum transfusi.


Prof. Henri memasuki ruangan Maya dirawat. "Bagaimana keadaan Maya prof. Abraham?" Dokter Maya juga merupakan anak didik prof. Henri dulu waktu ambil spesialis. "Maafkan saya, tidak bisa mempertahankan rahim putri anda prof" prof. Henri memeriksa kondisi Maya. "Saya paham pak Henri, memang musti itu kan yang harus dilakukan. Apalagi kondisi rahim tidak berkontraksi sama sekali" ayah Abraham menimpali.


Di tengah obrolan, Mayong memasuki ruangan itu setelah berganti pakaian khusus di ruang ICU. "Selamat siang prof. Henri. Terima kasih atas bantuan terhadap istri saya" ujarnya. Mayong ikut memperhatikan apa yang dilakukan oleh prof. Henri. "Saya rasa tekanan dokter Maya sudah stabil, tapi tetep akan saya berikan terapi untuk mencegah kejang pasca partum (pasca melahirkan). Perdarahan juga sudah berhenti. Tetapi akan saya tambahkan terapi suport untuk mempercepat perbaikan kondisinya" jelas prof. Henri. Ayah Abraham menepuk punggung koleganya itu, "Oke makasih. Aku percaya padamu". Prof. Henri pamit undur diri. "Ayah, sudah ditunggu papa Suryo di depan. Istirahatlah dulu. Biar aku yang menemani Maya" ucap Mayong. "Sabar ya Mayong. Allah masih memberikan kado terindah, itu tandanya Allah masih sayang sama kita" ujar Ayah Abraham saat hendak keluar ruangan. Mayong hanya bisa menatap kepergian ayah Abraham dengan tatapan sedih. Perdarahan yang dialami Maya begitu hebatnya. Bahkan transfusi yang dimasukkan demikian banyak juga. Mayong sekarang hanya bisa pasrah, mendoakan yang terbaik untuk istrinya. Karena menurut penjelasan prof. Henri tadi masih ada kemungkinan komplikasi gagal jantung, gagal ginjal ataupun pembengkakan paru ataupun komplikasi lainnya.


Sementara di alam bawah sadar Maya. Maya seperti berada di ruangan serba putih, tapi sekelilingnya gelap. Tampak seorang wanita dengan posisi membelakangi duduk di depannya. Wanita dengan rambut lurus agak panjang. Aku berada di mana ini sunyi sekali, batin Maya. Maya terus berjalan ke depan mendekat ke posisi wanita itu. Wanita itu berbalik dan menghadap ke arah Maya. Wanita yang ternyata sangat dikenali oleh Maya. "Ma...mama" panggil Maya sedikit terbata. Wanita dengan mata coklat teduh itu tersenyum. "Iya putriku, aku mamamu" ucapnya. "Mama, akhirnya aku bisa bertemu denganmu Ma" Maya mulai menitikkan air mata. Maya hendak berhambur memeluk wanita yang sangat dirindukannya. Bahkan untuk bermimpi pun, Maya tak berani. Karena tak ingin bersedih nantinya. "Stop, kamu disitu saja anakku. Jangan mendekat, memeluk ataupun ikut mama" larang mama Gayatri. "Sekali saja Mah, sekali saja" Maya mulai menangis dengan tetap berjalan mendekati tempat duduk mama Gayatri. "Belum saatnya kamu bersamaku nak. Masih ada suami, putra dan ketiga putrimu di sana. Juga ayahmu yang begitu menyayangimu. Tolong kamu jaga ayahmu untuk mama ya???" ucap Mama Gayatri.

__ADS_1


Maya berhenti berjalan, saat tubuh Mama Gayatri berangsur-angsur menghilang. "Ma..mama...." teriak Maya hendak berlari. Tapi kedua kakinya serasa berat melangkah untuk mengejar bayangan mama Gayatri. Maya terduduk saat bayangan itu benar-benar menghilang. Setelah duduk sekian lama, Maya mencoba berdiri dan mengikuti kemana arah kaki melangkah. Terlihat sebuah titik kecil cahaya di depannya. Maya menuju ke sana.


Maya membuka tirai untuk melihat di balik titik cahaya itu. Kedua matanya silau oleh cahaya yang terang benderang. "Dimana ini?" gumamnya membuka mata sedikit demi sedikit. "Sayang, kamu sudah sadar????" suara Mayong di sampingnya. Maya menoleh dan melihat suaminya yang meneteskan air mata. "Apa yang terjadi???" suara Maya masih terdengar lirih. Mayong menekan tombol merah di samping bed tempat tidur Maya. Sesaat kemudian terdengar ketukan pintu dari luar. "Masuk" perintah Mayong. Terlihat prof. Henri yang kebetulan mau visite pagi itu masuk ruangan Maya. "Gimana dokter Maya tuan, ada perkembangan??" tanyanya. "Istriku barusan sadar pak Henri" jelas Mayong. Prof. Henri menoleh ke arah Maya, yang terlihat sudah membuka matanya.


"Selamat pagi nyonya" ucap ramah prof. Henri. Maya tersenyum tipis dengan dosennya itu. "Pagi juga prof" kata Maya lirih. "Anda betah sekali tidurnya nyonya. Bahkan hampir tujuh hari loh anda di sini" ujar prof. Henri sambil memeriksa kondisi pasien VVIP nya itu. Ayah Abraham masuk. Saat melihat Maya yang sudah membuka mata, "Alhamdulillah" ucap ayah Abraham.


"Masih ada keluhan nyonya?" tanya prof. Henri hendak keluar ruangan. "Keadaan organ dalamnya gimana pak Henri?" sela Mayong. "Ini sementara cukup kita koreksi dengan obat-obatan dulu" jelas prof. Henri. Sepeninggal prof. Henri, Maya dipindahkan ke ruangan rawat inap VVIP.


Bara dan Yasmin pun muncul. Sampai sekarang Yasmin belum menunjukkan tanda-tanda telat haid. "Hai, May...lekas sehat ya" ujar Bara menyalami Maya. "Siap Kak" Maya tersenyum meski dengan wajah pucat.

__ADS_1


Beberapa perawat masuk ruangan Maya dengan mendorong tiga inkubator bayi. "Selamat pagi nyonya, kami ditugaskan oleh dokter anak dan juga prof. Henri untuk mengantar ketiga putri nyonya ke ruangan ini" ucap salah satu perawat yang paling depan.


Maya menatap berbinar putri-putrinya. "Sayang, bisa tolong didekatin" Mayong, Bara dan papa Suryo sigap mendorong ketiga inkubator ke sisi samping tempat tidur Maya. Bayi-bayi cantik yang masih terpasang selang minum di bibirnya.


"Boleh dicoba ASInya belum ini?" tanya mama Clara. "Kalau kondisimu masih lemas, jangan kau paksakan. Perbaiki dulu kondisimu Nak" sela Ayah Abraham.


Yasmin yang melihat binar kebahagiaan kakak ipar sekaligus sahabatnya itu pun ikut bahagia. Tapi dalam hati kecilnya Yasmin juga sedih, karena sudah beberapa bulan menikah dengan Bara belum juga ada tanda-tanda telat haid. "Sudah jangan sedih, mungkin belum waktunya aja kita dikasih" Bara mengelus puncak kepala istrinya dengan lembut. "Kalau belum sukses, tetep hajar terus" bisik Bara pelan. Yasmin hanya bisa tersenyum kikuk.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


***to be continued, happy reading πŸ€—


tetep like, vote, komennya ya. Kopi juga boleh he..he...πŸ‘πŸ‘πŸ‘***


__ADS_2