
"Sayang, minggu depan aku mulai kerja ya" ijin Maya memulai pembicaraan saat perjalanan menuju mansion. "Sudah kangen dengan group medismu itu kah?" toleh Mayong.
"Loh...loh....mesthi tadi lihat ponselku ya?" sela Maya. "Sapa suruh tidur ponsel tetep menyala, coba kamu lihat berapa ribu pesan yang masuk" titah Mayong. Maya mengambil ponsel dan mulai membukanya, "he...he....baru seribuan kok yang masuk" Maya terkekeh. "Ya yank, boleh ya. Sekarang kan dokter obgynnya ada empat, dokter Budi juga sudah ngasih kabar jadwal jaganya" rayu Maya merangkul sang suami. Pak Amin hanya berani curi pandang melihat kelakuan sang majikan. "Pak Amin, nikah aja. Bi Inem juga nganggur tuh" ucap Mayong saat menangkap basah pak Amin yang mencuri pandang. "He...he...." pak Amin salah tingkah. "Iya pak Amin, kalian pasangan yang cocok lho. Ngapain pak Amin nge-duda lama-lama" ujar Maya sambil terus merangkul lengan sang suami. Semenjak istrinya meninggal delapan tahun yang lalu karena kanker, pak Amin memang belum berniat menikah lagi. Tapi semenjak ketemu dengan bi Inem, sebenarnya pak Amin sudah mulai memepetnya. Tapi baru ada sinyal kuning dari bi Inem. Smoga aja habis ini sinyal hijau segera menyala, harap pak Amin dalam hati. "Menikah itu pahala lho pak Amin, ya nggak yank?" seloroh Mayong mempererat pelukan. "Betul" Maya mengacungkan jempolnya. Pak Amin hanya garuk-garuk kepala.
"Ya yank, boleh ya. Minggu depan???" ulang Maya minta ijin. "Hadeh kok ingat aja yaaa" Mayong terkekeh. "Baiklah, kuijinkan. Tapi harus dengan pengawal-pengawal itu. Kalau nggak mau, ya sama Raja aja di mansion" titah sang suami.
"Tapi pengawalnya biar dengan mobil lain ya, aku sama pak Amin aja" rajuk Maya. "Ya nggak apa-apa, nanti biar diatur Doni" seru Mayong.
"Nanti kita ajak Raja ke mansion papa Suryo yuk yank, aku kangen sama mama Clara. Nanti ayah kuhubungi, biar sekalian ke mansion. Biar ramai" ajak Maya lagi. "Banyak kali permintaan nyonya dokter ini, apa yang enggak sih buat nyonya Mayong ini" Mayong mengecup kening sang istri.
Mereka berdua hanya mampir ke mansion untuk menjemput Raja. "Rani, Raja sudah mandi kan?" tanya Maya saat memasuki mansion. "Eh...anak Mama ternyata sudah ganteng" rayuk Maya ke sang putra. Raja merangkak cepat ke arah mamanya. "Barusan mandi nyonya. Ini juga mau mengambilkan tim saring buat adik" ujar Rani.
"Iya Ran, kamu siapin aja bekalnya. Nanti Raja biar aku yang suapin. Raja mau kuajak ke oma opanya" pinta Maya. "Baik nyonya, saya siapin" Rani berjalan ke dapur. Mayong malah menggoda Raja dan memeluk erat Maya dari belakang. Raja berhenti merangkak dan menangis. "Tuh, si posesif mulai beraksi" ujar Mayong tertawa, merasa puas menggoda Raja. Maya menyentil lengan sang suami, "Seneng amat menggoda Raja-ku". Mayong segera mengambil Raja di gendongannya. "Hati-hati jahitanmu yank" Maya mengingatkan. "Iya, sudah enakan kok" Raja tertawa di gendongan papanya. Maya segera berlalu ke dapur, "Yank aku nyiapin bekal buat Raja dulu". Mayong menciumi Raja, seakan tak pernah puas. Bau bayi memang memabukkan..he..he...
Sesampai di mansion papa Suryo, Bara kebetulan berada di sana bersama Yasmin. Yasmin yang melihat Raja berada di gendongan Mayong segera menyambutnya, "Wah...wah...ponakan aunty tambah ganteng aja. Biar kugendong kak" ijin Yasmin. Mayong hendak menyerahkan Raja ke Yasmin, tapi Raja malah memeluk erat sang papa. "Loh, nggak mau ikut aunty yaaa?" seloroh Yasmin. "Lama nggak ketemu ya sama aunty" lanjut Yasmin.
__ADS_1
Mama Clara mendekat dan merentangkan tangannya menyambut Raja, "cucu oma paling ganteng, yuukkk sama oma" rayu mama Clara mendekati Raja. Raja tersenyum lebar. Mama Clara segera menggendong Raja, "Yuk Yasmin ke taman belakang, main di sana aja sama Raja" ajaknya. "Iya Mah, skalian aja Raja kusuapin di sana. Belum makan dia" sela Maya. "Baiklah, kalau gitu kita para wanita ke teman belakang aja" ajak nelli satu ini. Mereka bertiga berjalan ke taman belakang.
Sementara papa Suryo, Mayong serta Bara masih pada duduk di ruang keluarga. "Oh ya Bar, jadi tanggal berapa?" Mayong mengawali bicara. "Tanggal apaan kak?" Bara pura-pura tak paham. "Haissss kau ini?" Mayong meninju lengan sang adik satu-satunya itu. "Iya...iya...gitu aja sewot. Tanggal lima belas bulan depan" ujar Bara.
"Katanya kau mau liburan Mayong?" sela papa Suryo. "Tapi usahakanlah, saat Bara lamaran kamu juga bisa mendampingi" pinta papa Suryo.
"Akan kuusahakan Pa, aku rencana ke Jepang nya juga awal bulan. Sekalian ketemu tuan Akio di sana. Sekali mengayuh dayung, dua tiga pulau terlampui he..he..." kekeh Mayong.
"Liburan ya liburan...jangan kerja sambil liburan atau sebaliknya liburan sambil kerja" sarkas Bara.
"James gimana Mayong, sudah tau keberadaannya???? Jadi kamu mengambil alih perusahaannya????" serentetan tanya terucap dari papa Suryo.
"Tuan James melarikan diri. Semenjak kematian David, utang piutang perusahaan yang ditinggalkan David tidak mampu dibayar oleh tuan James. Info yang aku dapat, tuan James terakhir masih di Singapura. Samudera ditinggalkan begitu saja, dewan direksi yang di sana memang berniat menjual perusahaan itu sebelum gulung tikar. Nayaka yang berminat mengambil alih Pa" jelas Mayong. Papa Suryo mengangguk mengerti.
Saat itulah ayah Abraham muncul dan bergabung dengan mereka. "Jadi kau bawa bendera Nayaka untuk mengambil alih?" ujar ayah Abraham. Mayong mengangguk, "Nanti kalau aku berhasil mendapatkan Samudera, akan kusuruh adikku ini yang pegang". Mayong menepuk bahu Bara sedikit keras. "Lah, kok aku Kak?" Bara menunjuk dirinya sendiri. "Iya Bar, sebaiknya kamu juga mulai membantu kakakmu. Nggak tiap hari juga kamu ke perusahaan" papa Suryo menyetujui usul Mayong.
__ADS_1
"Pa, aku kan mau menikah. Terus waktu untuk istriku kapan?" Bara ngeles.
"Halah, lamaran aja belum. Sudah mikirin mbagi waktu segala" sergah Mayong.
"Lihatlah keluarga Mayong Bar, Maya juga sibuk. Jam kerjanya juga tidak jelas sepertimu. Sampai saat ini Maya masih bisa membagi waktunya dengan baik. Apalagi kamu nanti akan menjadi kepala keluarga. Tanggung jawabmu semakin besar" nasehat ayah Abraham disusul anggukan papa Suryo.
"Ayolah Bar, bantu kakakmu ini" Mayong sok melas.
"Baiklah...baiklah....lagian tiga lawan satu. Mana bisa aku menang. Ini namanya PEMAKSAAN KOMPAK" gerutu Bara.
"Ha...ha....ha.." tawa Mayong, papa Suryo dan ayah Abraham bersamaan. Mayong lega karena sang adik sudah bersedia. Ponsel Mayong berbunyi, "Tuan Akio????" gumamnya.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
to be continued, happy reading
__ADS_1