Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Kebersamaan


__ADS_3

Sementara di lain tempat, seseorang menunggu balasan pesan yang dikirimnya sejam yang lalu. Online tapi kenapa tidak ada balasan, pikirnya.


Ya, yang ngechat Maya adalah Bara. Bara akhirnya tertidur sendiri sambil membawa buku tebal di pelukannya. Anggap saja guling.


Sampai beberapa hari Maya tidak menyadari kalau seorang Bara ngechat dirinya. Bara pun demikian, dia juga sudah lupa kalau ngechat Maya. Dia beranggapan kalau sudah tidak ada respon ya sudahlah. Bara jarang sekali mendahului ngechat cewek, sekalinya ngechat dikacangin..ha..ha...


Beberapa bulan setelahnya Bara sudah selesai dengan dokter mudanya, dilanjut untuk mengambil profesi. Otomatis malah sama sekali tidak ketemu Maya. Bara sibuk di Rumah Sakit, Maya masih tetap dengan kegiatan perkuliahan.


Dua tahun terlampui dengan baik, Bara lulus cumlaude. Dengan nilai baik, ada kesempatan ambil langsung spesialistik. Dan disinilah Bara sekarang, di ruang Operasi. Karena Bara ambil spesialis anesthesi.


Tidak sengaja mereka bertemu, karena Maya juga lagi menempuh pendidikan profesi. Sekarang Maya kebagian stage bedah.


Bara lupa, tentu saja tidak. Bara masih ingat wajah rupawan dengan binar netra coklat teduh itu, apalagi sekarang dengan hijabnya yang menambah kesan anggun Maya.


"May, lupa?" sapa Bara


"Eh May, kamu kenal sama kakak PPDS itu?" tanya Anton teman Maya.


"Hmmmm" Maya kaget tentunya. Beberapa tahun tak bertemu, meski satu kampus ternyata kakak seniornya masih inget dengannya. Maya melamun.


Bara menyentil kening Maya, "ilermu tuch" Bara tertawa. Teman-teman Bara sampai memandang heran, gunung es bisa melumer juga. Batin mereka.


"Eh, iya kakak senior" Maya mengelap mulutnya. Tambah riuh ruangan itu dengan suara tawa. Maya yang disituasi cewek sendiri jadi serba kikuk.

__ADS_1


"Santai May, di kamar operasi mesthi begini situasinya. Serius tapi santai, buat enjoy aja" Bara menjelaskan ke yuniornya.


Sejam kemudian ada kabar dari kamar bersalin, kalau ada pasien gawat darurat. Advis cito sectio cesaria dari dokter penanggung jawab kebidanan. Tiga puluh menit kamar operasi sudah harus siap. Semua kru kamar operasi sudah siap di posisi masing-masing.


Salah satu kamar operasi membacakan nama pasien, indikasi, kru kamar bedah yang bertugas. Disitu Maya mendengar kalau indikasi pasien itu dioperasi adalah hamil kedua, posisi plasenta di bawah, letak bayi melintang dan sudah pembukaan empat. Tidak lupa Maya memperhatikan step by step tindakan yang dilakukan. Dan kalau dirasa perlu Maya mencatatnya.


Dokter penanggung jawab memimpin doa untuk memulai operasi. Bayi lahir dengan selamat. Dilanjutkan dengan menutup lapangan operasi lapis demi lapis. Ternyata di tengah-tengah ibu mengalami perdarahan hebat..."hati-hati syok hipovolemik" dokter operator operasi mengingatkan. "Siapkan darah secepatnya" pinta dokter anesthesi.


Karena kesigapan dan kekompakan tim, akhirnya selesai juga operasi itu. Maya yang baru pertama kali mengikuti jalannya operasi itu, kagum akan keterampilan dokter obgyn itu. Suatu saat semoga Allah mengabulkan, semoga aku bisa pegang pisau kayak beliau.


Di kebidanan kayaknya menyenangkan, ada dua nyawa yang dipertaruhkan oleh seorang dokter. Kalau pulang mereka akan tersenyum bahagia, karena dianugerahi para malaikat kecil.


"Gimana May, lihat operasi" tanya Bara setelah selesai operasi. "Hebat Kak, itu kesan pertamaku. Walaupun di tengah-tengah operasi ngeri juga lihat darah begitu banyaknya" jawab Maya.


"May, ngomong-ngomong ada yang mau kutanyakan"


"Apaan kak?" Maya mulai akrab dengan Bara.


"Waktu itu, abis kita kenalan. Malamnya aku ngechat kamu, kok tidak dibalas?" Bara ternyata masih ingat dengan hal itu.


"Eh, iya kah?" Maya tidak tahu kalau Bara kirim pesan.


"Maaf ya kak, aku memang tidak tau kalau kakak ngechat Maya" imbuh Maya.

__ADS_1


"Abis ini kalau aku chat balas yaa" perintah Bara.


"Siap kakak senior" balas Maya sambil berdiri tegak.


Bara tersenyum,"panggil kak Bara aja, biar akrab".


Bara dan Maya melalui hari-hari bersama. Tentunya dengan kesibukan di rumah sakit. Maya menganggap Bara seperti kakaknya, Bara pun demikian menganggap seperti seorang adik yang perlu dilindungi. Profesi dokter sudah diselesaikan Maya. Dan disinilah Maya sekarang, melanjutkan ke spesialis obstetri dan gynekologi. Bara sudah lulus dengan program spesialisasinya. Tapi masih sering mengunjungi Maya. Bara sudah bekerja di rumah sakit "Suryo Husada" yang masih bagian dari usaha Dirgantara Grub.


Bukan Bara tidak tahu masa lalu Maya, tanpa disuruhpun Bara sudah menyelidikinya. Bara sudah tau kalau Maya seorang anak, yang dari bayi sudah ditaruh di sebuah panti asuhan. Bara malah pernah menanyakan ke Bu Marsinah dan Pak Bowo langsung tentang masa lalu Maya, tapi masih menemui jalan buntu. Karena pak Bowo dan bu Marsinah memang tidak tahu asal usul Maya. Bara memang pernah mengunjungi panti "Asih" tanpa diketahui Maya. Bara pun sekarang sudah menjadi donatur tetap di panti asuhan itu.


Maya mengingatkan Bara ke seorang wanita di masa kecilnya. Seseorang yang sudah dianggap seperti mama keduanya, setelah mama Clara. Seseorang yang menyayangi Bara dengan tulus dan kesabaran yang dimilikinya. Seseorang itu juga sahabat dari mamanya. Dia adalah mama Gayatri, istri dari Prof. Abraham.


Prof. Abraham bukan tidak mengenali wajah Maya. Cuma beliau menepis ingatannya tentang sosok istrinya, karena beliau menganggap kalau bayi perempuan yang dilahirkan istrinya itu meninggal sejam setelah dilahirkan. Karena dokter anak yang merawat bayinya waktu itu menjelaskan, kalau bayinya mengalami respirasi distress syndrome, yang meninggal setelah dilakukan pertolongan pertama pasca lahir. Prof. Abraham hanya menganggap Maya seseorang yang kebetulan mempunyai bentuk wajah dan sinar mata mirip istrinya. Iya, Gayatri istri Prof. Abraham. Gayatri meninggal karena emboli air ketuban. Sejam pasca bayi yang dilahirkan meninggal, istrinya juga dinyatakan meninggal. Sampai sekarang pun, Prof. Abraham tidak menikah lagi, karena sangat mencintai mendiang istrinya. Perusahaan yang didirikannya pun memakai nama istrinya.


Maya sudah berada di tingkat akhir program spesialisasinya. Pagi itu di ruang IGD, masuklah pasien wanita dengan kondisi pucat, keringat dingin, oleh petugas lobi langsung ditaruh brankar. Begitu naik brankar, pasien wanita itu pingsan. Pasien itu hanya didampingi oleh ibunya yang sudah tua, dan anak kecilnya. Sementara suaminya, bekerja di luar kota.


Setelah dilakukan pemeriksaan lengkap, ternyata pasien itu mengalami kehamilan ektopik terganggu.


Maya meminta tolong bidan untuk memberi kabar ke ruang operasi kalau dia memerlukan operasi cito, Maya juga mengingatkan kepada bidan jaga untuk order persiapan darah.


Maya melakukan operasi dengan cekatan. Perdarahan internal ternyata banyak sekali di rongga perut. Setelah dilakukan pengamatan mendetail, ditemukan saluran tuba kanan pecah, dan itu merupakan sumber perdarahan. Maya mengikatnya untuk menghentikan sumber perdarahan. Perdarahan teratasi. Operasi selesai.


Maya lega sekali, pasien tertolong. Pasien sudah dipindah ke ruang recovery, Maya berpesan ke perawat jaga "Mas, nanti transfusinya dilanjut 2 kantong yaa, untuk lebih jelasnya sudah saya catat di rekam medik pasien" perintah Maya. "Baik dokter" jawab mas perawat sambil membenahi infus dan selang kateter pasien. Tidak lupa Maya mengabari dokter penanggung jawab pasien itu, kalau operasi sukses.

__ADS_1


Tinggal beberapa bulan lagi Maya menyelesaikan pendidikan spesialisasinya.


__ADS_2