Obgyn Kesayangan CEO

Obgyn Kesayangan CEO
Part 119


__ADS_3

Pintu diketuk dari luar. Mayong menyuruh masuk, dan mengendurkan pelukannya. Saat turun dari tempat tidur, ternyata perawat yang datang. "Iya kan bener?" urai Maya. "Jadwalnya injeksi ya mba?" tanya Maya. "Iya nyonya, ada dua macam injeksi yang akan diberikan. Maaf mengganggu istirahatnya" ujar perawat itu. "Silahkan, lewat infus kan?" imbuh Maya. "Benar nyonya" perawat itu menyiapkan obat injeksi dan mulai menyuntikkannya lewat infus. Mayong hanya memperhatikan tanpa bersuara.


Selepas kepergian perawat itu, Mayong kembali ke sisi Maya berbaring di tempat tidur. "Semoga keluarga kecil kita akan selalu begini ya yank, rukun dan damai selalu. Bisa membersamai anak-anak sampai mereka dewasa" harap Mayong. "Aamiin, semoga terkabul" tukas Maya. "Yank, dengan keadaanku yang tak sempurna ini. Apa kamu akan tetap setia di sampingku?" lanjut Maya. Mayong mengelus lembut punggung tangan istrinya. "Sudah begitu banyak yang kau korbankan untuk keluarga kecil kita, tidak ada alasan bagiku untuk meninggalkanmu" ucap Mayong dengan suara sedikit bergetar. Maya berbalik dan memeluk erat sang suami. "Love you, papa R3G" ucap Maya spontan. "Love you too so much mama R3G" tukas Mayong tertawa.


Maya terlelap dalam dekapan sang suami. Pikiran Mayong masih menerawang jauh. Banyak harapan dan angan dalam pikirannya. Masih ada keinginan Mayong untuk menyatukan mama Clara dengan keluarganya. Entah itu tercapai kapan. Mayong akhirnya menyusul Maya tidur di bed yang sama..he...he...


Pagi-pagi ayah Abraham memasuki kamar rawat inap Maya. Dilihatnya sepasang suami istri yang masih terlelap itu. Ada pancaran kebahagiaan, melihat anak dan menantunya senantiasa rukun. "Mayong, ayo lekas bangun" ayah Abraham sedikit menggoyangkan badan menantunya. Mayong membuka mata malas, "Ayah kok sudah sampai sini lagi? Bukannya masih malam Yah. Ada apaan?" seloroh Mayong.


"Ini sudah pagi, ayo sana cuci muka" celetuk ayah Abraham. "Abis, kalau lagi sama putri ayah. Waktu berasa cepat sekali" seloroh Mayong. Sebuah jitakan mendarat tepat di lengannya. "Iya...iya..Mayong cuci muka" Mayong bangkit dan menuju ke kamar mandi. Maya menggeliat, dan baru membuka mata. "Kok ayah sudah di sini, mana suamiku?" tanya Maya. Pandangan mata ayahnya mengarah ke pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong kapan istri dan anakku bisa pulang Yah?" ucap Mayong sesaat keluar dari kamar mandi. "Tunggu aja prof. Henri visite hari ini. Kalau Maya hari ini mungkin sudah bisa keluar. Kalau putri-putrimu ayah belum tau. Info terakhir kan nunggu berat masing-masing mencapai dua kilogram" jelas ayah Abraham. "Gimana kalau diajak pulang aja Yah, nanti kusiapin semua kebutuhan untuk mereka" usul Mayong. "Kalau dokter anaknya membolehkan kenapa nggak. Kita tunggu aja hasil visite hari ini" jawab ayah Abraham.


Setelah menunggu, ternyata Maya dan ketiga putri-putrinya diperbolehkan pulang. Meski berat masing-masing belum mencapai dua kilo, tapi dari segi reflek minum dan keaktifan ketiga putri Mayong dan Maya dinyatakan sehat. "Sayang, kita pulang ke mana ini. Mansion papa?" tanya Maya. "Nggak lah, kita pulang ke kediaman kita sendiri. Nggak kangen dengan mansion?" tutur Mayong. "Ya kangen lah, tapi kamar anak-anak?" Maya menatap suaminya itu. Belum sempat siap-siap untuk kebutuhan calon bayinya tapi si kidos triplet udah buruan lounching..he..he...


Tapi semua itu tidak menjadikan masalah bagi seorang Mayong,


"Aman, selama ada Doni tidak ada masalah tanpa penyelesaian" ujar Mayong enteng. Ayah Abraham hanya duduk sambil menikmati kopi pahitnya.


"Kenapa nggak langsung ke mansion saja, kayak iring-iringan pejabat aja" gurau Mayong.

__ADS_1


"Emang kita pejabat loh Mayong, pejabatnya Dirgantara dan Gayatri group" ayah Abraham ikutan bergurau. Tapi memang benar adanya kalau mereka itu benar-benar orang penting.


Mayong dan Maya sedang konsultasi dengan dokter anak selepas prof. Henri visite dan memperbolehkan Maya pulang. "Apa ketiga putriku akan aman dok kalau diajak pulang sekarang?" tanya Mayong. "Sebenarnya sudah aman tuan, meski ketiganya prematur mereka cukup sehat untuk dibawa pulang. Tapi jauhkan dulu dari sumber-sumber infeksi, karena mereka masih rentan" jelas dokter anak bernama Anas yang juga merupakan seorang guru besar di fakultas kedokteran itu, kolega ayah Abraham juga. "Bagus nggak sih prof untuk mencegah mereka kedinginan kita pakai metode kanguru itu?" Maya ikut bertanya. "Bagus itu nyonya, itu juga bisa meningkatkan bonding antara putri-putri anda dengan papa mamanya. Kalau kurang jelas, bisalah konsul sewaktu-waktu" ujar prof.Anas. "Terima kasih atas bantuannya prof. Mohon ijin kami pulang beserta putri-putri kami" pamit Maya. Mayong pun ikut menyalami prof.Anas. "Kalau butuh bantuan untuk penelitian bisa calling prof." tawar Mayong. "Ha...ha.....ayah aja nggak pernah kau tawari Mayong" sela ayah Abraham yang mendengar Mayong berbisik ke prof. Anas. Prof. Anas pun ikut tertawa mendengarnya. "Kapan-kapan kita adakan penelitian bareng-bareng aja prof. Tuan Mayong yang jadi backingnya" tukas prof. Anas.


Mayong menuju ruang bayi untuk menjemput ketiga putri mungilnya sambil mendorong sang istri di kursi roda. Sesampai di ruang bayi, papa Suryo dan mama Clara sudah bersama Raja. "Halo sayang mama. Sini dulu peluk mama" ujar Maya sumringah ketemu dengan tambatan hati keduanya, Raja Maysa Suryolaksono itu. Raja pun turun dari gendongan opa Suryo dan berlari menuju Maya. "Ma..ma...Aja angen Mah" celotehnya. "Kalau kangen, peluk mama dong" Maya membentangkan kedua tangannya. Raja berhambur memeluk mamanya. "Kita jemput adik ya sekarang" Raja duduk di pangkuan Maya. "Hati-hati sayang, jahitanmu kan belum kering. Raja gendong papa aja ya, mama kasihan lho abis sakit" jelas Mayong. Raja pun menurut. "Anak pintar" Mayong menciumi Raja yang sekarang berada di gendongannya.


Ternyata papa Suryo dan mama Clara sudah menyiapkan tiga orang perawat bayi berpengalaman untuk membantu Maya merawat ketiga cucunya itu. "Mayong, sudah kucarikan tiga orang terpercaya yang bisa membantu istrimu merawat cucu-cucu ku" ujar papa Suryo. "Hei, mereka semua juga cucuku loh" sela Ayah Abraham tak mau kalah. Semua wibawa yang selalu ditampakkan papa Suryo dan ayah Abraham di hadapan kolega-kolega bisnisnya, hilang sudah kalau mereka berdua berada di lingkungan keluarga.


🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


to be continued, happy reading πŸ’


__ADS_2